Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2012

Ronggeng Dukuh Paruk

Gambar
Judul: Ronggeng Dukuh Paruk
Penulis: Ahmad Tohari
Penerbit: Gramedia
404 halaman
Cetakan ke lima: November 2009


Dukuh Paruk dalam novel ini diceritakan sebagai kampung yang sangat miskin dan gersang. Penduduknya buta huruf semua. Begitu miskinnya sampai-sampai anak-anak di desa ini berebut serangga untuk dimakan. Namun demikian, kampung yang bersahaja ini memiliki sesuatu untuk dibanggakan, yakni Ronggeng. Orang-orang di Dukuh Paruk yakin kalau penari ronggeng tidak bisa diajarkan. Hanya perempuan tertentu yang dihinggapi inang (mungkin semacam spirit) yang bisa menjadi ronggeng. Dalam novel ini perempuan terpilih tersebut bernama Srintil. Semenjak kecil si Srintil ini sudah cakap menari meski belum pernah sama sekali melihat tarian ronggeng. Apalagi sudah cukup lama ronggeng absen dari dukuh yang miskin ini.

Srintil juga fasih mendendangkan syair-syair yang biasanya didendangkan oleh ronggeng-ronggeng terdahulu. Hingga sampai suatu hari, Sakarya, kamitua (pemimpin) di Dukuh Paruk yang …

Rafilus

Gambar
Judul: Rafilus
Penulis: Budi Darma
Penerbit: Balai Pustaka
198 halaman.
Cetakan Pertama 1988

Rafilus dalam novel ini diceritakan sebagai sosok yang unik, atau mungkin lebih tepatnya aneh. Ia berkali-kali digambarkan lebih mirip patung besi berjalan daripada manusia. Sosok yang kuat, menarik, namun kosong. Tiwar, si tokoh utama bertemu dengan Rafilus pada sebuah pesta yang juga tidak kalah absurd. Sebuah pesta khitanan yang diselenggarakan oleh seorang kaya-raya bernama Jumarup. Namun saat pestanya berlangsung si tuan rumah berikut keluarganya tidak hadir dalam pesta tersebut. Belakangan di akhir cerita, berdasarkan pengakuan keponakan si Jumarup di sebuah surat kabar—yang entah benar entah tidak, kita jadi tahu kenapa si tuan rumah tidak ada dalam pesta itu.

Tentu saja novel ini tidak melulu bercerita soal pesta yang diadakan oleh si Jumarup. Pesta ini cuma semacam titik awal cerita ini dimulai, titik dimana Tiwar dan Rafilus bertemu. Sosok Rafilus yang aneh, mirip patung besi, langs…

24 hours Library

Is it just me, or anyone out there, ever wonder how nice it would be to have a 24 hours public library in his/her town? I was thinking about this about two days ago, while circling around with my bike (wait a minute, it wasn't my bike!). I was confused, don't know how to spend the night. If boredom bumped me at noon, it would be easy, there still many places to go. But when it happened at night, and I had enough with the movies, with the drawing, with friends, or with books, I just wish I could go somewhere else.

You know it when you feel sick of any kind of interaction. There's a time when I feel like the less I interact with friends, the better it would be XD.

So I imagine if there was a library in my town that open for 24 hours. It would be a lot more fun (for me) than just going to the nearest cafe. Beside, you could still have a cup of coffee in the library too (lets say, the library has a small cafe too). Also a lot more economic than going to 24 hours mart to buy …