Rafilus



Judul: Rafilus
Penulis: Budi Darma
Penerbit: Balai Pustaka
198 halaman.
Cetakan Pertama 1988

Rafilus dalam novel ini diceritakan sebagai sosok yang unik, atau mungkin lebih tepatnya aneh. Ia berkali-kali digambarkan lebih mirip patung besi berjalan daripada manusia. Sosok yang kuat, menarik, namun kosong. Tiwar, si tokoh utama bertemu dengan Rafilus pada sebuah pesta yang juga tidak kalah absurd. Sebuah pesta khitanan yang diselenggarakan oleh seorang kaya-raya bernama Jumarup. Namun saat pestanya berlangsung si tuan rumah berikut keluarganya tidak hadir dalam pesta tersebut. Belakangan di akhir cerita, berdasarkan pengakuan keponakan si Jumarup di sebuah surat kabar—yang entah benar entah tidak, kita jadi tahu kenapa si tuan rumah tidak ada dalam pesta itu.

Tentu saja novel ini tidak melulu bercerita soal pesta yang diadakan oleh si Jumarup. Pesta ini cuma semacam titik awal cerita ini dimulai, titik dimana Tiwar dan Rafilus bertemu. Sosok Rafilus yang aneh, mirip patung besi, langsung menarik perhatian si Tiwar. Dalam perjalanan pulang, lewat cerita-cerita si Rafilus sendiri kepada Tiwar, kita jadi mulai mengenal lebih banyak mengenai si Rafilus.  Well, novel ini juga tidak melulu soal si Rafilus. Di bagian pembuka novel, exordium, penulis sudah memberi ancang-ancang bahwa novel ini berisi pengakuan-pengakuan para tokohnya. Maka, selain Rafilus kita juga akan bertemu dengan Pawestri, seorang perempuan yang berkenalan dengan Tiwar saat ia ke kantor sebuah surat kabar. Kita akan mengenal Pawestri lewat surat-surat  yang dikirimnya kepada Tiwar belakangan. Kemudian ada juga tukang pos yang sudah uzur, Munandir, yang sangat banyak bercerita; baik tentang orang-orang aneh di kota mereka—termasuk Rafilus, maupun tentang kehidupannya  dia sendiri.

Bisa dibilang, semua tokoh dalam novel ini sebenarnya merasa hampa. Mereka seperti terjebak dalam kehidupan mereka dan tidak punya pilihan lain selain memperhatikan detil-detil di keseharian mereka. Dan hal ini, lagi-lagi, sudah ditegaskan terlebih dahulu oleh penulisnya di bagian pembuka.

Berkali-kali saat bertemu dengan suatu kejadian, si Tiwar berkata, saya merasa kosong, atau saya tidak merasakan apa-apa. Bahkan saat ia menantang dirinya sendiri untuk datang ke rumah Pawestri. Begitu juga dengan hubungan yang dingin antara Pawestri dan keluarganya, terutama dengan ayah dan ibunya. Ia menganggap ayah dan ibunya cuma hadir sebagai tubuh saja. Mereka tidak hadir sebagai sosok. Akhirnya si Pawestri pun merasa hidup sebatang kara. Sementara Rafilus sendiri, meskipun secara fisik ia mampu menghipnotis banyak orang khususnya perempuan. sebenarnya ia juga merasa kosong. Selain sangat ingin mempunyai anak, ia juga sangat ingin mempunyai gagasan. Namun demikian, ia mandul dan tidak mungkin punya anak, sementara gagasan-gagasannya tak pernah menarik bagi orang-orang.

Meskipun si Penulisnya sendiri mengatakan bahwa novel ini bertempo lambat, novel ini sama sekali tidak membosankan. Atau mungkin, lambat atau tidaknya tempo sebuah cerita memang bukan ukuran menarik tidaknya cerita tersebut. Bersama novel ini, saya juga tengah membaca novelnya Mario Puzo: Omerta, yang jelas-jelas menawarkan ketegangan dan pembunuhan dalam ceritanya. Tapi pada akhirnya novel ini memikat saya lebih dulu. Mungkin juga karena gaya bercerita si Budi Darma yang memang unik dan mengikat pembacanya. Tokoh-tokohnya absurd dan kejadian-kejadiannya juga absurd.

Saya sendiri pertama kali mendengar nama Budi Darma saat duduk di bangku SMA. Tapi namanya cuma sayup-sayup terdengar sebagai salah satu sastrawan Indonesia.  Saya benar-benar membaca novelnya ya baru sekarang ini. Mudah-mudahan bukunya beliau yang lain juga ada di perpus kota. Amiin.  '-.-'


Sangat jarang saya menemukan novel yang disertai pembuka dan penutup dari penulisnya sendiri. Pembukanya diberi judul; exordium, dan penutupnya: abstraksi. Baik di bagian exordium maupun abstraksi, si penulis membantu pembacanya untuk lebih memahami apa yang tengah ia sampaikan. Bahkan bagaimana novel ini sebenarnya bermula dari sebuah obesesi, yaitu kata-kata “Rafilus telah mati dua kali” juga diceritakan di bagian abstraksi oleh penulisnya. Selain itu juga novel ini disertai catatan/end note. Menurut saya pribadi ketiga hal itu sama sekali tidak mengganggu. Terakhir kali saya membaca fiksi dengan pelengkap seperti ini sewaktu membaca kumpulan cerpen Bibir dalam Pispotnya Hamsad Rangkuti. Buku itu dilengkapi proses kreatif dari Hamsad Rangkuti sendiri. Dan sebagai pembaca, saya mendapat kesenangan tersendiri sewaktu membaca bagian pelengkap semacam ini.

Dari skala 1 sampai 5, novel Rafilus ini saya kasih skor 5!
Sangat mengesankan.

Best Quote:

“Takdir hanya mempunyai selera. Dan selera sangat mungkin diliputi kesesatan, kemuliaan, cmooh dan teka-teki. Selera tidak memperjuangkan kebenaran.” (Dari salah satu surat Pawestri, halaman 94-95)

.


Komentar

  1. wew ... menakutkan banget quote nya :P
    padahal takdir itu indah, jika kita baik sangka ^_^

    BalasHapus
  2. takdir tidak lagi memperjuangkan kebenaran
    melainkan kebetulan...

    BalasHapus
  3. kalo di komik jepang sepertinya lumayan banyak yg memasang pelengkap seperti itu(proses kreatif/kisah penulisnya), kalo ga salah disebutnya omake, dan saya salah seorang yg sering iseng membaca semua omake pada tiap bab sebuah komik :))

    sepertinya komentar ini agak OOT :P

    BalasHapus
  4. wah, sepertinya semua tokoh dibuku ini suram ya... :D

    BalasHapus
  5. cara nulis resensi nya ini juga bagus hehehee

    BalasHapus
  6. membingungkan, tp bgmn crny sosok yg kosong malah mndpt bgtu bynk prhtyn dr wanita?

    BalasHapus
  7. Iskandar Dzulkarnain@
    waah, yang baru nikah nih.. selamat ya.

    Rawins@
    hmm.. bisa jadi begitu. Mas rawins kayanya bisa nulis buku juga nih.

    YeN@
    kadang kalo iseng buka komik, yang kubaca cuman omake-nya doang. wkwkk

    iya, aku juga OOT :P

    Yus Yulianto@
    yaa.. bisa dibilang begitu

    Mila Said@
    heee... tumben :P

    Ajeng@
    Jadi si Rafilus ini secara fisik terlihat gagah, kuat, maskulin gitulah. Akhirnya para perempuan cuma tertarik sama dia secara fisik doang, terus dijadikan sebagai pemuas nafsu doang gitu. Mungkin itu juga yang menyebabkan si Rafilus kosong.


    BTW ini novel agak 'dewasa'. :))

    BalasHapus
  8. hemm kalo diliat-liatr covernya, judulnya, mungkin orang tak terlalu tertarik buat beli yah..

    tapi gak tau juga kalo para fanatik sastra yang menilai.

    terkadang, memang dont judge a book by its cover berlaku juga :)

    BalasHapus
  9. gaphe@
    kalo dari covernya memang terlihat kurang menarik. kebetulan buku yang kubaca ini cetakan pertama, terbit tahun 1988 #belum pada lahir tuh.

    tapi aku tertarik setelah baca exordiumnya. apalagi penulisnya budi darma.

    BalasHapus
  10. hm ... hanya meluruskan persepsi ...
    saya belum menikah om Huda :P

    BalasHapus
  11. owh, gitu. Mungkin buku ini selevel ama The Firm 'dewasa'. Tula hari ini ultah ya?! bener ga..."

    BalasHapus
  12. Jadi pengen baca juga Sob,,, hehe
    Thanks atas review sinopsis bukunya...
    Kapan2 kalo duitnya udah mencukupi mau cari dah... hehee
    Salam bLogger,

    BalasHapus
  13. I met Budi Darma last time in Surabaya. he's nice and humble. we talked and talked abt sastra and Soerabaja. Seandainya bisa 'nyeret' kamu ikut serta. that would be more than nice.

    BalasHapus
  14. Iskandar Dzulkarnain@
    loh, salah ya? hehehehe

    Ajeng@
    aku malah ga tahu The Firm. coba nanti aku cari deh.

    hehehe, ultah dah lama tuh :))

    Sang Pembelajar@
    salam blogger juga!

    kim@
    really? I envy you..
    tapi kalau ketemu juga ga tahu mau ngomong apa. hehehe

    BalasHapus
  15. Dalem banget ini novelnya. Tapi, memang kalo diliat dari cover-nya kurang menarik. Ternyata ga juga.

    Jadi nge fans ama Budi Darma ya mas?

    BalasHapus
  16. Ika@
    iya, Gaya bahasanya Budi Darma khas banget. surrealis gimanaa gitu.

    BalasHapus
  17. cuma salah satu novel dari genre-genre absurd yg tidak perlu utk dipahami atau dimengerti

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

10 Film Asia yang Tak Terlupakan

Sandikala

Film Korea Yang Layak Kamu Tonton