Soal Nenek-nenek Yang Tadi Malam Melintas Di Belakang Saya

Semalam, sewaktu beli makan sekitar jam dua pagi atau lebih atau mungkin menjelang jam tiga, seorang nenek-nenek melintas di belakang saya. Saya tidak akan menyadari keberadaan nenek-nenek itu kalau teman saya yang kebetulan duduk di depan saya dan menghadap jalan tidak memberi tahu. Setelah dikasih tahu, saya spontan nengok. Karena mata burem #baca: banyak dosa, malam pula dan sudah beberapa bulan terakahir saya mulai menikmati hidup tanpa kaca mata, jadi saya tidak terlalu melihat jelas si nenek itu. Cuma sekilas saja terlihat melintas.

Memangnya kenapa dengan nenek itu? Tanya saya. Teman saya mengira kalau dia sudah pernah menceritakan saya sebelumnya soal si nenek. Tapi saya yakin belum pernah. Akhirnya dia pun bercerita, kalau nenek itu sering muncul di fakultasnya. Munculnya pun tidak tentu. Dia bisa saja berkeliaran sampai jam lima sore, atau  kadang pas jam kuliah berlangsung. Apa yang dilakukannya? Dia akan menyambut siapa saja yang ditemuinya di fakultas itu. Dengan bahasa Jawa halus dia menyapa setiap orang dengan ramah. Memberitahu setiap orang di sini tempat duduk-duduk, toiletnya di sana, dan sebagainya-dan sebagainya. Singkat cerita si nenek ini berlaku layaknya seorang tuan rumah yang menyambut tamunya. Orang-orang yang tidak mengerti apa-apa, tidak jarang ketakutan dan mengira si nenek ini penampakan di siang bolong.

Kenapa dia melakukannya?

Menurut cerita, di tempat fakultas itu sekarang berdiri, dulunya adalah rumah si nenek. Dan sampai sekarang, dia masih mengira kalau fakultas ** adalah rumahnya. Tidak ada yang tahu di mana rumah si nenek itu sekarang. At least, teman saya itu juga tidak tahu, dan katanya si nenek tiap hari memang cuma mondar-mandir tak tentu.

hm...
Semoga hari-hari kalian menyenangkan....

Komentar

  1. hmm, mungkin ga kalo nenek tadi tinggal di sekitar situ?

    BalasHapus
  2. hem...nenek yg lucu :) #noOffense

    smoga msh ttp bsa bhagia dg itu.

    BalasHapus
  3. jadi inget Donna yang suka nongkrong di kampus ku dulu, ya kira2 mirip lah sama nenek itu. apa setiap kampus ada "penunggu"nya ya?

    BalasHapus
  4. yang dikatakan mbak ajeng itu paling masuk akal mas,
    okelah kita asumsikan kalo nenek2 itu pikun, tapi kepikunannya kan gak mungkin membawa dia ke tempat itu kalau dia bertempat tinggal jauh dari fakultas itu kan..

    yah, semoga harinya menyenangkan..
    (diplomatis banget)

    BalasHapus
  5. kalo nenek itu pikun trus ngira fakultas itu rumahnya sih imposible, secara denah rumahnya yg lama dan fakultasnya pasti beda, tapi dia bisa tahu semuanya tuh

    mungkin nenek itu emg cuma suka sama suasana daerah situ, jadi suka gaul dan nongkrong disitu deh :P

    BalasHapus
  6. Ajeng@
    ya kemungkinan besar si emang rumahnya yang sekarang di sekitar kampus. aku juga ga tahu.

    Ika@
    iya, semoga masih tetap bahagia..

    Mila Said@
    hmm mungkin...

    Yudi Darmawan@
    iya juga. jawaban paling masuk akalnya si itu.

    YeN@
    hmmm.. bisa aja kan dia ngerasa gedung fakultas yang sekarang itu adalah rumahnya yang sudah direnovasi.

    jadi... mungkin dulu sewaktu rumahnya mau dieksekusi, dia ngotot menolak. kemudian ada oknum yang ngibulin kalau dia mau dibangunin rumah yang lebih bagus. setelah gedung fakultasnya jadi dia pun merasa kalau gedung fakultas itu jadi rumahnya yang baru #mengarang indah.

    atau mungkin kamu punya versi lain?

    BalasHapus
  7. wah kasian juga ya...
    tapi masih untung bukan nenek gayung tuh
    hehe

    BalasHapus
  8. nah tapi kan ga mungkin rumah barunya ada ruangan kelas atau lab atau hal2 yg berhubungan sama perkuliahan..
    selain itu juga ga ada satu sudut fakultas pun yang menjadi tempat tinggal si nenek, jd dr sisi mananya nenek itu merasa itu adalah benar2 rumahnya? kecuali saat dia menunjukkan arah dan tempat saja

    jd seperti yg saya bilang, mungkin nenek itu emg cuma suka sama suasana daerah situ, karena dia emg udah sangat terikat dgn tempat itu. feels like home gitu lah istilahnya #soktau

    BalasHapus
  9. rawins@
    iya, untung bukan nenek gayung. bisa-bisa anak sefakultas punah, hehehe

    YeN@
    mungkin dia emang merasa feels like home, ya? sebenarnya gedung fakultas yang itu memang masih ada hubungannya sama desain rumah loh. jadi begitu masuk lobi, banyak banget kursi-kursi nyentrik yang menyambut. kalau lab si ga ada...

    BalasHapus

Posting Komentar