You Know?

You know, tadinya saya mau memosting review film dan buku, tapi karena dari tadi ga bisa mengupload gambar--mungkin karena sinyalnya jelek--akhirnya saya urungkan niat ini. Di lain waktu saja. Mungkin.

Agak aneh juga sih kalau review buku atau filmnya tidak disertai gambar.

Ah ya, kembali ke judul posting ini: you know. Beberapa waktu lalu, secara tidak sengaja saya membaca sebuah cerpen di sebuah majalah yang sebenarnya tidak terlalu familiar. Paling tidak majalah itu tidak familiar bagi saya. Cerpen di majalah itu sendiri bercerita tentang seorang DJ, hidup di apartemen mewah, punya hubungan dilematis dengan dua wanita sekaligus. Sementara oleh ibunya dia dituntut untuk segera menikah.

Bukan alur, ide cerita, karakter, atau apalah namanya yang membuat saya bergidik membaca cerita itu. Saya bergidik dengan banyaknya bahasa inggris yang bertebaran di sekujur cerpen. Misal, ketika dia terbangun, dia beranjak ke dapur, and make his own breakfast, terus dia minum secangkir kopi yang entah apa namanya, membuat saya justru tidak bisa membayangkan sama sekali kopi yang tengah diminumnya itu wujudnya seperti apa. Dan banyak potongan-potongan bahasa inggris lainnya yang, kalau diperhatikan seeh, padanan dalam bahasa Indonesianya sudah ada. Kesannya, ceritanya seperti terjadi di dunia antah berantah. Kurang natural. Rasanya seperti membaca sebuah cerpen dan potongan-potongan dialog dari film hollywood sekaligus.

Tapi saya tidak ingin berprasangka buruk sama si penulis. Mungkin kenyataannya kita memang sudah terlalu banyak mengobral bahasa Inggris dalam kehidupan sehari-hari. Saya sendiri pun, seingat saya, sering sekali menulis status dalam bahasa inggris--ngutip dari manaa gitu. Atau dalam postingan saya di blog ini, dengan royal saya menyisip kata seperti well, atau anyway, atau by the way (yang dalam pendapat saya pribadi sih belum overdosis). Tapi kalau saya dengar-dengar lagi potongan kata itu di kepala saya, saya mendengar suara orang lain. Saya tidak pernah menggunakan kata well, atau by the way... dalam dialog sehari-hari.

Mulai sekarang saya ingin meminimalisir penggunaan bahasa inggris yang tidak perlu. Tanpa sisipan bahasa Inggris saya rasa gaya bertutur kita tidak akan mendadak kaku. Sejak kapan pula bahasa inggris membuat gaya berbahasa lebih cair?

Saya juga menulis ini bukan karena alergi sama bahasa Inggris. Bagaimanapun juga mempelajari bahasa Inggris itu penting. Agar kita tidak terpencil di tengah persaingan global#halah. Tag english posts pun akan tetap saya pertahankan. Kalau-kalau suatu hari saya mendapat hidayah untuk menulis dalam bahasa Inggris lagi. Apa yang sebenarnya dari tadi ingin saya ungkapkan lewat tulisan bertele-tele ini adalah, alangkah baiknya menjadi total dalam berbahasa #tsaaah. Ketika menggunakan bahasa indonesia, sebisa mungkin gunakan bahasa Indonesia secara keseluruhan. Bahasa yang baik, kata dosen saya, adalah bahasa yang mengikuti konteksnya. Kalau lagi di angkringan, gunakan bahasa angkringan. Kalau lagi ngerumpi, jangan pakai bahasa Undang-undang Dasar 45.

Yang menjadi masalah adalah, bahasa Indonesia saat ini mulai kehilangan konteksnya. Ia mulai tergusur oleh bahasa asing. Apalagi ketika bicara soal bahasa sehari-hari, Bahasa Indonesia mulai kehilangan tempat. Kita sering keliru menganggap bahasa yang baik melulu soal tata bahasa. Jenis bahasa yang membosankan dan kaku. Akhirnya, dengan serampangan kita mengimpor kata-kata dari bahasa asing untuk membuat dialog kita terasa lebih cair, atau terdengar lebih shopisticated, lebih urban, atau apalah istilahnya. Sementara, perlahan tapi pasti kita merasa asing dengan bahasa kita sendiri.

Ayo... gunakan bahasa Indonesia! Tunjukkan bahwa bahasa kita adalah bahasa yang berwibawa.


----------
*lagi kesambet.

Komentar

  1. aku juga belajar mengurangi
    sayangnya sok ngegantinya bukan pake bahasa indonesia yang baik dan benar
    suka maen sebut semaunya
    website jadi webset, upload jadi aplut..
    hehe

    BalasHapus
  2. Aku juga sering banget tuh begitu. Nulis dalam bahasa Indonesia, tapi sering ditambahi dengan bahasa Inggris. Padahal mah niatnya ingin menulis bahasa Indonesia sesuai EYD *kaya' bisa aja*. Yah, minimal bahasa Indonesia-nya yang rapi dan tidak belepotan deh. Hehehehe...

    BalasHapus
  3. Mungkin karena cerpennya itu ceritanya tentang kehhidupan kosmopolitan yang bergaya ke western2-an jd ga murni gaya hidup orang indonesia, tokohnya aja profesinya DJ. Jadi supaya cocok gitu sama jiwa dari cerpennya getoh mungkyin yah wkwkwkwk...

    BalasHapus
  4. Rawins@ Tapi boleh juga tuh. siapa tahu bisa jadi ejaan baru ysng disempurnakan.

    Kimi@ yep, minimal si kalau bisa kaya gitu. Karena di blog, untuk EYD kadang aku abaikan. Misal, menulis kata sebenarnya jadi, 'sebenernya'. Tapi bisa jadi, ini termasuk kebiasaan buruk.

    Mila Said@
    Aku juga berpikirnya seperti itu. belum tentu salah penulisnya. Beberapa waktu lalu aku juga sempat nonton film yang "menyindir kehidupan para sosialita". Di situ juga dialognya bercampur-campur bahasa inggris. Filmnya sama sekali tidak jelek. Malah sukses menunjukkan betapa konyolnya gaya bicara orang-orang tersebut.

    BalasHapus
  5. lebih cair, atau terdengar lebih shopisticated, lebih urban...loh kok masih ada bahasa asingnya sobat..., tapi bahasa Indonesia memang wajib kita cintai karena itulah salah identitas nasionalisme kita :)

    BalasHapus
  6. menurutku, mengingat-ingat kembali pelajaran bahasa Indonesia jauh lebih rumit ketimbang belajar grammar #halah

    BalasHapus
  7. "Kalau lagi di angkringan, gunakan bahasa angkringan. Kalau lagi ngerumpi, jangan pakai bahasa Undang-undang Dasar 45."

    Suka bagian ini, mungkin org yg ga ngerti konteks ini ingin terlihat pintar, tapi malah jd sok pintar..

    BalasHapus
  8. Pemikiranmu ini sama persis kayak diriku waktu baca novel Infamous... Aneh abis... -_-

    BalasHapus
  9. Soal cerpennya, oke-oke saja kalau celetukan2 (dalam kalimat langsung) pake istilah Enggres. Tapi kalau dalam tuturan cerita, si penulis make ungkapan Enggres, ya keknya nggak nyaman dibaca. Nah kalo sampe lolos dimuat di majalah, ketauan deh selera editornya pegimane :)

    BalasHapus
  10. ehm, tergantung majalahnya juga sih .. biasanya tiap majalah kan punya segmen pembaca masing2, jadi gaya bahasanya juga disesuai'in sama yang biasa baca itu majalah.

    tapi setuju deh sama kamu soal make bahasa Indonesia yang baik dan benar sesuai konteks. aku juga sampai detik ini masih berusaha, hehe. biar ga kalah sama bule yg lagi belajar bahasa kita.

    mohon maaf lahir batin ya, huda..

    BalasHapus
  11. hihihi

    aku sih nggak masalah mau pake bahasa inggris atau bahasa indonesia.

    yang penting paham gimana dan dimana memakainya. itu aja sih. soooo kita enggak akan kehilangan jati diri.

    hehehe

    *Edisi sok tau*

    *Digampar warga*

    BalasHapus
  12. saya ngga pake bahasa inggris, tapi bahasa Indonesia saya masih belum bagus juga. huehuehue

    BalasHapus
  13. Kalo soal percakapannya sih, mungkin wajar aja terselip penggunaan bahasa inggris. Apalagi kan memang latar belakang tokohnya memang seperti itu. Tapi, kalo penceritaannya pake bahasa inggris sih, memang rasanya aneh. Menurutku begitu.

    Hem...tapi buatku sih, nulis itu yang penting pesannya tersampaikan, dan gak bikin stress bacanya. Soal penggunaan bahaasa sih, aku nggak terlalu meributkan itu. Soalnya aku sendiri bukan tipe orang yang pandai menjelaskan dan bercerita sih, baik melalui tulisan ataupun lisan. Malah, biasanya bikin istilah dan ada kamus istilah sendiri dalam obrolanku. Jadi, ya, begitulah pokoknya (kalimat andalan)

    BalasHapus
  14. setuju, sering banget liat tulisan yang harusnya formal malah ditulis informal...hmmm...sependapat dengan kalimat menggunakan bahasa sesuai konteks :)

    BalasHapus

Posting Komentar