Tuesdays With Morie


Judul: Tuesdays With Morie
Penulis: Mitch Albom
Anchor Books, 2006
192 Halaman

Morrie Scwartz adalah seorang profesor pengidap Amyotrophic Lateral Sclerosis (ALS). Penyakit ini membuatnya lumpuh dan harus berbaring sepanjang hari. Bahkan untuk aktifitas-aktifitas yang sangat pribadi pun dia membutuhkan bantuan orang lain.

Singkat Cerita, Mitch Albom (penulis buku ini) adalah salah satu mahasiswa Morie semasa kuliah dulu. Bertahun-tahun kemudian, setelah Mitch hidup mapan dan bekerja sebagai jurnalis olahraga, ia mendapat kabar bahwa profesor kesayangannya itu mengidap penyakit dan lumpuh. Maka, berangkatlah Mitch mengunjungi profesornya.

Sesuai judulnya, Tuesdays Withs Morie, Mitch dan Morie bertemu setiap hari selasa. Lewat sebuah kesepakatan—yang rasanya tak perlu dijelaskan di sini—Mitch akan datang menjenguk Morie tiap hari selasa. Menghabiskan waktu selama beberapa jam untuk berbincang-bincang. Bukan hanya berbincang-bincang sebenarnya. Morie menyebutnya sebagai proyek kematian. Ia ingin hari-hari terakhir hidupnya menjadi pelajaran—atau menjadi semacam mata kuliah bagi Mitch. Mata kuliah kehidupan. Lewat 'kuliahnya' ini, Morie sebenarnya ingin menanyakan lagi apa saja yang benar-benar penting. Dia memberi kita sudut pandang yang berbeda atas kehidupan. Dari sudut pandang orang yang sudah menjalani hidupnya sekian tahun kemudian sebentar lagi meninggal. Bagaimana ia melihat dunia, keluarga, uang, penuaan, dan sebagainya. Kita diajak untuk merenung kembali.

Saya suka karakter Morie. Selain karena dia memang benar-benar nyata, pernah hidup, (buku ini berdasarakan kisah nyata), dia juga seseorang yang tidak berusaha untuk sempurna. Si penulis juga menggambarkan Morie sebagai orang yang agak ringkih, tubuhnya kecil, periang, suka menari dan suka makanan. Serta agak ceroboh. Dia juga bisa menjadikan dirinya sendiri sebagai humor.

Menurut saya buku ini jenis buku yang harus dibaca pelan-pelan. Satu bab demi satu bab. Bukunya sendiri tidak begitu tebal dan bab dalam buku ini juga tidak terlalu panjang-panjang. Saya rasa buku ini juga jenis buku yang bisa dibaca lagi sewaktu-waktu. Sangat padat akan pelajaran. Mengajak kita untuk lebih menghargai kebersamaan, menghargai manusia lain.

Best Quote

Sebenarnya banyak, tapi saya pilih yang satu ini saja:

“We think, because we are human, we are something above nature”
(Morie on the thirteenth tuesday, hlm 173)

.

Komentar

  1. profesor ini salah satu orang yang melihat mati bukan sebagai tragedi,
    tapi sebagai batas waktunya untuk memberikan kuliah,
    dedikasi dan apresiasi hidup macam itu tentunya sedikit sekali yang menjalani..

    BalasHapus
  2. Sepertinya dia tipe orang yang tidak takut mati.

    BalasHapus
  3. ehm mitch albom, saya suka yg five people we meet in heaven
    agak2 lupa juga, udah pernah baca ini ato belum hehhe

    BalasHapus
  4. Another story about life yah... Gw suka nih baca2 buku begini

    BalasHapus
  5. Yudi Darmawan@
    yak betul!

    Ajeng Sari Rahayu@
    Bisa dibilang begitu. Dia kaya santai-santai aja.

    YeN@
    Five people we meet in heaven bagus kah? dulu pernah lihat versi terjemahannya. tapi ga saya baca

    Mila Said@
    toss!

    BalasHapus
  6. menurutku sih bagus agak banget
    malah sepertinya saya bakalan lebih suka yg itu daripada yg ini, karena saya orangnya agak gimana gitu sama cerita yg berdasarkan kisah nyata :p

    BalasHapus
  7. @YeN
    emang si, kisah nyata yang ditulis tidak akan mampu menandingi realitas dalam dunia fiksi

    #lupa pernah baca ini di mana

    BalasHapus

Posting Komentar