Kisah Hidup Michael K


Judul: Life & Times of Michael K
Penulis: J.M. Coetzee
Penerbit: Jalasutra
Cetakan I Desember 2007
246 halaman


Micahel K adalah seorang pria yang terlahir dengan bibir sumbing dan dianggap idiot. Ibunya, Anna K, adalah seorang pembantu rumah tangga di rumah Tuan Bruhmann. Karena si Michael K termasuk 'lambat', maka ia dititipkan di sebuah rumah penampungan khusus orang-orang cacat bernama Huis Norenuis. Di rumah penampungan ini ia diajari berbagai keterampilan. Saat usianya lima belas tahun Michael K keluar dari rumah penampungan tersebut dan bekerja di Dinas Pertamanan. 

Lima belas tahun lamanya dia bekerja di situ, Michael K akhirnya dipanggil lagi oleh ibunya yang sakit-sakitan. Ibunya yang sudah tak bisa bekerja lagi merasa terlalu merepotkan untuk keluarga majikannya. Apalagi biaya pengobatan ditanggung oleh keluarga Bruhmann. Maka, ia meminta anaknya untuk membawanya pulang ke desa tempat ia dulu tumbuh, Prince Albert.

Sayangnya perang sipil berkecamuk sebelum mereka sempat keluar dari Cape Town. Keluarga Bruhmann yang menampung mereka kabur. Kota juga dalam keadaan carut-marut. Untuk keluar dari kota tersebut, orang-orang harus mendapat surat ijin resmi. Entah karena tampangnya yang idiot atau karena birokrasi yang berbelit-belit, mereka tak kunjung mendapat surat ijin. Micahel K kemudian memutuskan untuk membawa sendiri ibunya meski tanpa surat izin. Dia membuat sebuah gerobak untuk membawa ibunya. Namun belum sampai tujuan, ibunya yang sudah sakit-sakitan itu keburu meninggal.

Jasad ibunya dikremasi oleh pihak rumah sakit lalu abunya diserahkan kepada Micahel K. Dia pun bertekad untuk tetap melanjutkan perjalanannya ke Prince Albert dan menguburkan abu ibunya di situ.Perjalanan yang harus ditempuh tak semudah yang dikira. Di tengah perang yang berkecamuk orang-orang lebih mudah curiga. Apalagi kalau seseorang itu tak memiliki surat identitas untuk mejelaskan siapa dirinya. 

Nomaden dan Rumah Penampungan

Sejatinya, Michael K lebih suka hidup nomaden. Setelah ibunya meninggal, ia hidup mengembara seorang diri, hidup seadanya dari hasil berkebun. Di lain pihak, 'negara'  tak menginginkan orang-orang menjalani kehidupan macam itu. Orang-orang yang mengembara, terutama mereka yang kehilangan tempat tinggal dan pekerjaan setelah meletusnya perang sipil, dianggap 'ancaman' dan menganggu keindahan. Sebagian bisa menjalani kehidupan mereka di kamp dengan ikhlas, sebagian yang lain kabur dan menjadi pemberontak. Sementara itu penguasa yang menampung mereka merasa sangat berjasa dengan menampung orang-orang yang kehilangan rumah ini. Bagi orang-orang yang hidupnya mapan ini, rumah penampungan tak lebih dari parasit yang mengganggu keindahan kota.

Saya rasa Michael K membenci rumah penampungan karena sejak kecil ia sudah hidup seperti itu. Sewaktu masih anak-anak dia sudah dititipkan di Huis Norenuis. Fakta lainnya, sejak kecil ia dan ibunya tak pernah memiliki rumah. Ibunya hidup di sebuah kamar kecil tanpa jendela yang disediakan oleh Tuan Bruhmann. Sewaktu akhirnya dia ditampung di sebuah rumah sakit pun--menjelang akhir cerita--Michael K menolak bekerja sama. Diperlakukan sebaik apapun oleh dokter-dokter di sana, keinginannya untuk hidup bebas dan mengembara tak tergantikan. 


Sebenarnya novel ini punya banyaaak sekali sisi yang bisa dibahas. Mulai dari orang-orang militer yang kadang bebal, tahu apa yang mereka lakukan tak manusiawi namun dengan slogan 'memang begitu aturannya', toh mereka tetap saja melakukannya. Terlepas dari banyaknya orang-orang 'jahat' dalam novel ini, tetap saja ada karakter baik yang bersimpati terhadap Michael K. Namun demikian, lewat kebaikannya ia tetap gagal (terlambat) memahami Michael. 

Novel ini memenangkan pernghargaan bergengsi Man Booker Prize 1983. Penulisnya  J.M. Coetzee dianugerahi nobel sastra tahun 2003


Best Quote

bisakah kau ingatkan aku mengapa kita memperjuangkan perang ini? Aku dulu pernah diberi tahu, tapi itu sudah lama sekali dan sepertinya aku sudah lupa.”

(Seorang dokter /aku/ yang tidak disebutkan namanya, halaman 214)


Buku ini, saya kasih skor 5. Enak dibaca, dan menurut saya buku ini lebih dari sekedar bacaan.




----------
*Nb: Karakter Si Michael juga mengingatkan saya dengan Forrest Gump yang dimainkan oleh Tom Hanks dalam film Forrest Gump (1994). Saya jadi curiga yang bikin film itu sepertinya terinspirasi dari novel ini. APA? Kalian belum nonton film Forrest Gump? Itu adalah salah satu film terbaik yang pernah dibuat umat manusia...

Komentar

  1. hahaha.. aku belum nonton forrest gump. :D

    eh mas, aku kok nggak mudeng kalimat ini yo. "tahu apa yang mereka lakukan tak manusiawi namun dengan slogan 'memang begitu aturannya' toh tetap saja melakukannya".. rodo wagu apa akunya aja kali yak? hehehe

    BalasHapus
  2. @rabest

    iya sih, kalimatnya wagu hahaha.

    Jadi, ada kalanya si Michael K ini diciduk oleh militer. terus disuruh kerja paksa. atau kadang diintrogasi karena dianggap membantu pemberontak. Terus, karena bingung si Michael K mau diapain, dia disuruh ikut baris berbaris, serta kegiatan militer lainnya. padahal selain agak idiot, Michael k ini sangat kurus, kekurangan gizi.

    terus suatu hari dokter yang merawat Michael K bertanya, kenapa dia disuruh melakukan itu? jawabannya cuma 'memang begitu aturannya'.

    BalasHapus
  3. bener tuh...
    kadangkala kita berperang - dalam berbagai makna - tanpa kita tahu alasan yang sesungguhnya. namun kita tak pernah mempertanyakan kenapa kita ikhlas berjuang mengorbankan segalanya...

    BalasHapus
  4. Hmm...kalau Man Booker Prize, kaya'nya perlu dibaca.

    BalasHapus
  5. Rawins@
    kadang saking lamanya perang sampai lupa alasan perangnya apa

    Kim@
    absolutely...

    BalasHapus
  6. ini kayaknya seru yah.. beli aaahhh

    BalasHapus
  7. Lhah, bukannya Forrest Gump itu asalnya juga dari novel ya. Novel Forrest Gump ditulis Winston Groom. Terbit pertama kali pada 1986, tapi nyampai Indonesia dalam versi terjemahan pada 1990-an. Itu pun setelah filmnya heboh.

    Secara ide, si Michael K mungkin memang mirip dengan Forrest Gump.

    BalasHapus
  8. Mila Said@
    beli beli beli...

    hoeda Manis@
    loh iya ya? saya baru tahu kalau forrest gump itu dari novel.

    semalam nonton lagi forrest gump, dan... setelah dipikir-pikir, cerita di novel ini dengan forrest gump sangat berbeda :)). Kalau karakternya yang agak 'lambat' sih emang mirip.

    BalasHapus
  9. alur ceritanya nya bagus.
    Kayaknya juga penuh pesan moral.

    jadi penasaran bgt pengen baca.
    ini buku lama ya kak?

    Btw rasanya aku juga blm pernah nonton forrest gump..

    #KuperAbis

    BalasHapus
  10. Cerita seperti ini memang selalu menggugah rasa semangat kita. Dari mulanya diejek karena keterbatasan fisik dan mental, bisa bangkit dengan segala upaya yang dipunya.
    Latar belakangnya waktu jaman perang ya?
    Oh iya, film Forest Gump itu juaraaaaaaa.. Ruuun fooreeessttt ruuuuunnnn.. :D

    BalasHapus
  11. Waduh uda lamaaa g ke sini mas Hudaaaa, makin keren aja blognya :D

    Aku udah tonton mas Huda, sejak nnton itu aku jadi suka ngeliat si Tom Hanks akting, efek cerita filmnya yg bener2 mengesankan sama aktornya juga, mewek juga.

    iya sebaik2 apa pun orang terhadap seseorang tetap saja si Mikael yg menentukan dia mau mengembara. aku nangkepnya, emang kita g bisa menentukan apa yang terbaik utk org lain, karena hrs orang itu sendiri

    Salam mas Hudaaa, duh bener2 kangen main ke sini :D

    BalasHapus
  12. Penerbitnya jalasutra. XD
    kalo buku2 terjemahan, aku agak2 gimanaaa gitu sama terbitannya jalasutra. Bahasanya aduhai...
    #itu buat buku2 teori sih.

    si karakter baik terlambat memahami maksud Michael, artinya apa bang? Akankah ada tragedi ato semacamnya?

    Kalo ceritanya Forrest Gump masih ada sisi lucunya, di novel ini tragedi bisa jadi lucu nggak ya? Satire...

    BalasHapus
  13. Anyway nggak tertarik bikin giveaway kak?
    buku ini kalau dijadiin hadiah giveaway kayaknya seru juga..

    hehehe

    *Muka pengen*

    BalasHapus
  14. Aul@
    Buku lama banget, kalo dilihat dari tahun terbitnya. tapi diterbitkan di Indonesia baru kemarin2 kok.

    Coba aja tonton filmnya. pasti ga nyesel.

    Irma Devi Santika@
    Sebenarnya sepanjang cerita si Michael K diremehkan terus sih. Tapi dari situ kita melihat kalau orang-orang yang 'waras' sebenarnya lebih kebingungan dengan hidup yang dijalani.

    Rosa@
    Yep, kita memang belum tentu bisa menentukan apa yang terbaik bagi orang lain. Makasi sudah mampir.

    kangen juga sama kehadirannya rosa. lagi sibuk jadi juri x factor ya? ahiihihihi

    Enha@
    hmmm... kalo diceritakan di sini jadi spoiler dong. apalagi itu ada di bagian penutup. Sama Rosa (komen di atas) disimpulkan dengan cukup paik sih.

    Kayanya sepanjang cerita ga ada lucunya... XD

    BalasHapus
  15. Aul@ give-away? sampai sekarang belum tergerak bikin give-away, hehehehe.


    Suatu hari, mungkin.. kalo buku saya terbit. hihihihi, ga tahu kapan.

    BalasHapus
  16. Waaah, terima kasih atas review bukunya mas. Jadi pengen baca langsung ^^

    Saya juga belum pernah nonton film Forrest Gump :) Kalau ternyata itu film terbaik yang pernah dibuat umat manusia, bisa jadi daftar list film yang akan ditonton nih bulan ini

    BalasHapus
  17. Sri Efrianti@
    terima kasih juga sudah berkunjung
    ^^

    BalasHapus
  18. Ada kata 'life' di judulnya, ini kisah nyata?

    BTW, bingung aja selama ini.. Apa sih kriteria pemenang Nobel itu? Soalnya kebanyakan lihat yang menang (selainn Novel Perdamaian) suka bingung mereka menang karena apa? palagi khususnya sastra...

    BalasHapus
  19. Nuel@
    ini novel, bukan kisah nyata.

    Untuk pemenang nobel, kalo aku ga salah ingat, wasiat si Alfred Nobel sebelum ia meninggal, dia ingin hartanya dihadiahkan kepada orang-orang yang mendedikasikan dirinya bagi kemanusiaan (melalui bidang fisika, kimia, sastra, perdamaian, fisiologi dan ekonomi).

    soal penulis mana yang menang nobel sastra, kayanya itu ditentukan oleh panitia nobelnya/swedish academy--mereka pastinya punya pertimbangan2 yang ketat soal siapa yang layak memenangkan nobel.

    Dari Indonesia, Pramodya Ananta Toer pernah dipertimbangkan sebagai penerima nobel prize bidang sastra.


    YeN@
    Suram sih engga'

    BalasHapus
  20. Nuel@
    oh ya tambahan, soal kriteria pemenang nobel, yang pasti kembali lagi ke wasiat si Alfred Nobel: dihadiahkan kepada mereka yang mendedikasikan dirinya pada kemanusiaan.

    Kenapa sastra termasuk di dalamnya? Karena sastra memang salah satu jalan untuk memperjuangkan kemanusiaan. Sastra yang baik biasanya lebih dari sekedar hiburan--bahkan kadang berisi perlawanan. Kadang tidak terang-terangan melawan; cuma menampilkan realitas yang bobrok dan pembaca sendirilah yang memutuskan pelajaran apa yang bisa dia ambil atau dia lihat. Makanya ada juga yang bilang kalau karya sastra itu bukan produk khayalan, melainkan produk intelektual.

    tapi kalau kamu tanya saya mana yang novel sastra dan mana yang novel hiburan, tentu saja saya bukan orang yang tepat untuk ditanyai, wkwkwkwk.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

10 Film Asia yang Tak Terlupakan

Sandikala

Film Korea Yang Layak Kamu Tonton