Gairah Untuk Hidup dan Untuk Mati



Judul: Gairah Untuk Hidup dan Untuk Mati
Penulis: Nasjah Djamin
Penerbit: Balai Pustaka
277 Halaman
Cetakan pertama--1994

Mungkin sudah bukan rahasia lagi ya, kalau di Jepang angka bunuh dirinya sangat tinggi. Apalagi kalau dilihat dari segi budaya, bunuh diri di sana sudah mengakar dan bahkan menjadi tema-tema drama untuk Kabuki atau Bunraku.

Bagi Taribu Sang, mahasiswa Indonesia (yang aslinya bernama Talib), berita-berita bunuh diri yang menghiasi koran tiap pagi di Jepang tetap saja mengusik pikirannya. Sampai kemudian ada sebuah berita bunuh diri yang cukup menghebohkan. Berita bunuh diri ganda yang melibatkan seorang perempuan Jepang dan pengusaha asal Singapura. Taribu Sang yang tidak bisa menahan keheranannya ini lalu membahasnya sepintas lalu, sambil minum sake,dengan salah satu karibnya di Jepang, Shimada Sang. Namun tiba-tiba Shimada sang malah terlihat murung. Perempuan yang menjadi kehebohan di media itu ternyata kakak perempuannya sendiri, Yuko Chiang.

Shimada Sang kemudian memperlihatkan surat-surat Yuko Chiang kepada Taribu Sang. Lalu lewat surat-surat inilah kita akan mengenal Yuko Chiang, tokoh yang menjadi pusat cerita dalam novel ini.


Yuko Chiang

Rasanya, mudah sekali jatuh cinta pada sosok Yuko Chiang. Dari reaksi orang-orang di sekitarnya, kita tahu bahwa dia sangat cantik. Ia bekerja di sebuah cafe kecil untuk menghidupi dirinya dan membantu biaya kuliah Shimada Sang. Sama seperti tokoh-tokoh lainnya, Yuko Chiang adalah anak-anak Jepang yang tumbuh setelah Perang Dunia II, pasca bom atom yang meluluhlantakkan Jepang. Ayah mereka. yang menjadi serdadu Jepang, mati—harakiri di Indonesia. Karena tidak pernah mengenal ayahnya inilah, yang kemudian membuat Yuko Chiang dengan mudah jatuh cinta pada seorang pengusaha asal Singapura yang sudah berumur, Husen Sang, suatu kali saat ia berkunjung ke cafe tempat Yuko Chiang bekerja.

Perkenalan dengan Husen Sang membawa perubahan pada kehidupan Yuko Chiang. Tarik ulur hubungan antara Yuko dan Husen inilah, serta benturan-benturan keinginan diantara keduanya, menurut saya, yang membuat perubahan pada diri Yuko Chiang. Dari hubungan yang awalnya terlihat mulus dan membahagiakan, kemudian bergerak dingin dan bermuara pada tragedi.

Selain Yuko Chiang, kita akan bertemu dengan Masako Chiang, Fukuda Sang, dan Yun-Chiang.


Gairah Untuk Mati dan Untuk Hidup

Magnet utama dari novel ini saya rasa adalah drama kemanusiaannya. Di negara yang sudah mapan seperti Jepang, manusia-manusia bekerja seperti mesin. Yuko Chiang dan Masako Chiang adalah contoh manusia yang harus bekerja banting tulang untuk tetap hidup. Fukuda sang, mewakili orang Jepang yang sudah mapan, berkedudukan tinggi, hidup berkecukupan namun hampa. Sementara Yun Chiang, adalah mahasiswa miskin yang sebenarnya ingin melawan, bohemian, tapi tidak berdaya.

Magnet lainnya adalah dialog-dialog 'berbudaya' antara si Yuko Chiang dan Fukada sang. Saya suka bagian saat mereka membicarakan Modigliani, Van Gogh, dan Gauguin. Di sisi lain agak janggal juga kenapa Yuko Chiang bisa tahu begitu banyak soal lukisan dan hidup pelukis ya? --tapi ini bisa dimaafkan, karena Yuko Chiang, meskipun hanya pegawai di cafe kecil, digambarkan sebagai perempuan yang suka membaca dan mencintai seni dan budaya.

Ada bagian yang menurut saya agak aneh, sewaktu Shimada Sang berkata, “dia, mbakyuku..”. Ehm, 'mbakyu' itu kan bahasa Jawa ya? Rasanya janggal saja ketika disodorkan setting Jepang tahu-tahu ada kata 'mbakyu' yang terselip. Tapi ini tak seberapa dibanding ceritanya secara keseluruhan. Dialog antara Masako Chiang dengan Taribu Sang di akhir-akhir cerita, menurut saya ada yang kelewat mirip ceramah juga sih. Tapi lagi-lagi, ini tak seberapa lah dibanding ceritanya secara keseluruhan.

Di atas semua itu, Novel ini sangat keren. Kalau kamu suka Norwegian Wood, mungkin kamu juga bakalan suka dengan novel yang satu ini. Bintangnya, 4,8 dah (hampir lima).


Best Quote

...harus ada sesuatu diketemukan untuk membunuh kebosanan paksaan itu! Yang tidak bisa diusir dengan bernyanyi, mabuk, keluar masuk bar, mendekapi hostes-hostes atau main pacingko! Harus ada sesuatu! Untuk mendapatkan keindahan isi hidup!”

(Shimada Sang di halaman 108)


.

Komentar

  1. budaya bunuh diri sepertinya mantap dimana orang tak mau bermuka tembok sebagaimana halnya orang indonesia. melakukan kesalahan boro boro mengakui atau merasa malu. yang ada malah kabur dan menyerang balik

    BalasHapus
  2. Rawins@
    yep, bunuh dirinya belum tentu karena putus asa, tapi karena harga diri. Mereka sangat menjunjung tinggi harga diri.

    BalasHapus
  3. Tapi kog cover nya begitu amat yak? Kurang menarik gitu hahahahaa.... Mulai men judge buku darimcovernya deh

    BalasHapus
  4. Coba kalo orang2 Indo punya harga diri selangit kayak orang2 Jepun. Pasti udah banyak yg melakukan harakiri. Korupsi dimana2, dan mereka nggak ada malu2nya.

    Yuko Chiang yg tahu ttg pelukis2 terkenal hanya dari buku? Kalo menurutku, itu bukan hanya hal yg bisa dimaafkan bang. Tapi suatu hal yg sangat-sangat-sangat masuk akal. Karena dari buku, kita bisa tahu segala hal. :D

    BalasHapus
  5. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus
  6. Tula, bohemian itu apa?

    Ngeri ya, kalo demi harga diri saja sampai bunuh diri-ngerinya lagi bunuh diri "membudaya" di Jepang sana ckckck

    Sayangnya Tula nggak nyritain penyebab Yuko Chiang ama Husen Sang bunuh diri tu apa-harga dirikah?

    BalasHapus
  7. WAAAAA

    Aku suka bgt baca novel-novel lama di perpustakaan daerah. Tapi rasanya belum pernah ketemu yang ini...

    Bahasanya kayaknya agak berat ya kak?

    BalasHapus
  8. Taribu sang, Shimada sang..itu maksudnya san ato gimana?

    BalasHapus
  9. Penamaan tokohnya juga aneh.... Itu setting di Jepang, tapi kenapa nama belakangnya lebih berbau China yah? Chiang dan Sang.. Aneh... Nama depannya sih oke, pas...

    Pengarangnya gak begitu tenar yah?

    BalasHapus
  10. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus
  11. Mila Said@ hahaha, setuju kalo soal yang ini. kurang menarik

    Enha@ iya juga ding. Love your comment. wink!

    Ajeng@ sebenarnya arti Bohemian itu banyak ya. nama tempat juga. tapi kalo yang dimaksud di sini tuh, bohemian adalah seseorang yang menolak hidup sesuai rule di masyarakat, biasanya si seniman.

    Aul Howler@ TOSS! enggak, bahasanya ga berat kok. asik-asik aja...

    YeN dan Nuel@
    Sang maksudnya San, Chiang--Chan. kayaknya si. aku penasarannya, kalo di Jepang apa kata San dibaca Sang? dan Chang dibaca Chiang? ada yang bisa bahasa Jepang? anyone? Nasjah Djamin, selain penulis juga pelukis, dan pernah tinggal di Jepang.

    Nasjah Djamin cukup terkenal kok (baik di dunia seni rupa maupun di dunia sastra). tapi baru buku yang satu ini yang sudah kubaca.

    BalasHapus
  12. sejauh yg saya lihat dari nonton film jepang sih rasanya engga tuh bang

    BalasHapus
  13. mungkin, akhiran 'N' dibaca agak sengau Yen. terdengar antara 'ng' dan 'n'.

    BalasHapus
  14. walau penamaan tokoh mirip cina, atau setting yg rada abu2, tapi kalo udah diterbitin ama balai pustaka, pasti punya nilai sastra yg tinggi. balai pustaka loh. atau kata "mbakyuku" emang dari jepang ya, atau penerjemahnya yg salah menerjemahkan

    BalasHapus
  15. rusydi himawan@
    iya, ya? jangan-jangan kata 'mbakyu' memang disadur dari bahasa jepang, hehehe. untungnya cuma disebut dua kali. selain 'mbakyu' ada juga 'tresno' disebut satu kali (kalau saya tidak salah ingat).

    yang pasti novel ini keren, recomended. terima kasih atas kunjungannya :)

    BalasHapus
  16. Sepertinya saya harus sering main2 ke sini klo mau tau buku2 bagus itu seperti apa :D

    BalasHapus
  17. trimakasih,,
    infonya sangat menarik,,
    mantap,,,

    BalasHapus
  18. 24 Oktober 2017, Inshaa Allah akan ada pameran dan peluncuran buku Retrospeksi Nasjah Djamin di Galeri Nasional Indonesia (seberang stasiun gambir Jakarta).

    BalasHapus
    Balasan
    1. oh ya? mudah-mudahan bisa nonton, terima kasih atas informasinya

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

10 Film Asia yang Tak Terlupakan

Sandikala

Film Korea Yang Layak Kamu Tonton