Penguasa Lalat


Judul: Penguasa Lalat
Penulis: William Golding
Penerbit: Penerbit BACA!
Alih Bahasa: Dhewiberta Harjono
Cetakan I, 2011

Saya lupa kapan persisnya, waktu itu saya sedang menonton sebua film drama komedi—yang menurut saya lumayan. Dalam salah satu adegan, seorang janda dalam film tersebut dengan marah membanting sebuah buku. Buku itu disorot sejenak. Mungkin tak sampai satu menit, tapi saya punya cukup waktu untuk membaca judulnya.

Saya merasa akrab dengan nama penulis buku itu. Begitu selesai menonton film, saya membongkar lagi buku-buku lama yang masih berada di dalam kotak, di ruang tamu (belum pernah dikeluarkan sejak pindahan). Dan, syukurnya, buku itu masih dalam keadaan baik. Pertanyaannya, film apakah yang saya tonton saat itu? #lupakan!

Ternyata saya mempunyai buku ini dari tahun 2011. Baru membaca beberapa halaman, tapi kemudian saya lupa meneruskan membacanya.

Sekelompok Anak Kecil di Pulau Terpencil

Cerita dibuka dengan seorang anak laki-laki berambut pirang yang berjalan sendirian di tengah hutan. Pesawat yang ia tumpangi mengalami kecelakaan—semua penumpang pesawat ini adalah anak-anak sekolah. Sejurus kemudian ia bertemu dengan anak laki-laki lainnya, gendut, pendek, berkaca mata dan mengidap asma.

Anak berambut pirang tadi bernama Ralph, sementara si gendut ini dipanggil dengan nama julukan yang tidak dia sukai, Piggy.

Saat duduk-duduk di sebuah laguna, Piggy menemukan sebuah kerang. Ia menyuruh Ralph meniupnya. Suara dari kerang ini kemudian memanggil anak-anak yang lain. Piggy mendapat ide untuk mendata setiap anak, untuk mengetahui jumlah mereka. Di antara anak-anak yang berkumpul ini, ada grup paduan suara yang dipimpin oleh seorang anak laki-laki yang congkak, Jack Merridew.

Mereka pun kemudian memilih siapa yang berhak memimpin di antara mereka. Kemudian menetapkan aturan-aturan, salah satunya: hanya yang memegang kerang yang boleh bicara saat mengadakan pertemuan. Mereka juga membagi-bagi tugas. Sebagian berburu, sebagian membangun tempat tinggal, serta secara bergiliran menjaga api unggun agar tetap menyala.

Ketertiban & Kekacauan

Anak-anak yang berjuang hidup di pulau terpencil ini pada akhirnya terpecah menjadi dua kelompok. Konflik antara pemimpin terpilih, Ralph dan Jack sering terjadi. Ralph, bisa dikatakan mewakili ketertiban. Sebagai pemimpin ia ingin semua orang melakukan tugasnya. Sementara jack sebaliknya. Sebagai pemimpin kelompok pemburu, Jack tidak begitu peduli apakah mereka akhirnya terselamatkan atau tidak. Jack hanya ingin berburu, ia menikmatinya dan—mungkin karena ego—tidak ingin patuh pada kesepakatan. Sementara Piggy adalah simbol kecerdasan. Hampir semua ide muncul darinya. Meski oleh anak-anak lain ia selalu menjadi bahan olok-olokan. Dan meskipun cerdas, sebenarnya Piggy lebih suka mengusulkan ide, tapi malas melaksanakannya.

Mengikuti petualangan anak-anak di pulau terpencil ini cukup seru. Ada 'si buas' yang mengintai mereka. Sebagian anak menghilang, dan ada juga yang mati dengan cara yang mengenaskan--dan agak menjengkelkan sebenarnya. Sebagian karakter bisa begitu 'gelap' dan kejam.

Novel ini dilengkapi sebuah catatan di bagian belakang. Saya lebih suka catatan di akhir novel/buku, daripada pengantar yang diletakkan di depan (entah oleh penulis, penerbit, atau penerjemah). Catatan ini cukup membantu kita dalam memahami apa yang disampaikan oleh novelnya. Sebenarnya, tanpa catatan ini, saya menikmati ceritanya. Namun ternyata, terdapat simbol-simbol lain yang bertebaran. Semisal, sewaktu mereka berburu dan membunuh seekor induk babi. Saya tidak menyangka bagian ini menyimbolkan sesuatu yang bersifat seksual.

Gaya bercerita William Golding cukup sederhana. Bisa dipahami dengan mudah. Novel ini disebut-sebut sebagai novel yang “mengisahkan petualangan dalam bentuk yang paling murni”. Beberapa dialog, terutama saat mereka mengadakan pertemuan, seperti tersendat. Saya rasa untuk menggambarkan bagaimana anak-anak ini berusaha mengutarakan pikiran mereka seperti orang dewasa, namun belum cukup mampu menyusun kalimat mereka sendiri (bukan karena terjemahan yang buruk). Ah ya, menurut saya terjemahannya cukup baik. Masih ada beberapa salah ketik, tapi saya tidak mencatat di halaman berapa saja.

Istilah “Penguasa lalat”, yang menjadi judul untuk novel ini adalah terjemahan dari kata Ba'alzevuv atau Beelzebub. Terus terang, saat membacanya, saya menanti-nanti saat munculnya si Penguasa Lalat atau si Beelzebub ini dan memangsa bocah-bocah itu satu per satu. Tapi ternyata..... baca aja sendiri :p

Best Quote

“... Aku katakan di sini dan sekarang ini aku tidak percaya hantu. Atau aku tidak berpikir aku percaya hal itu. Akan tetapi, aku tidak menyukai pikiran mengenainya. Tidak untuk sekarang ini dalam kegelapan. Akan tetapi, kita akan memutuskan apa yang sebenarnya menjadi masalah kita.” 
(Ralph, halaman 131)


Buku ini diterjemahkan dari Lord of the Flies karya William Golding, pemenang nobel sastra pada tahun 1983. Banyak juga penghargaan lainnya, baik untuk Lord of the Flies maupun bagi penulisnya. *Tadi sewaktu saya googling cover bukunya, untuk postingan ini, rupanya novel ini sudah difilmkan


Komentar

  1. bikin penasaran :D
    jadi pengen baca, tapi entah kapan aku akan membaca buku itu
    beli aja belum

    BalasHapus
  2. hehehe, cari di perpus terdekat aja. siapa tahu ada

    BalasHapus
  3. Reviewnya bagus... dan spertinya itu buku yang menarik deh.

    BalasHapus
  4. jadi sebenernya film apa yang sampeyan tonton waktu itu? *penasaran

    BalasHapus
  5. Terbit di sini 2011? Berarti kemungkinan masih ada di toko buku. Cari ah. :D

    BalasHapus
  6. YeN@
    hayoo tebak

    Nuel@
    yp, selamat mencari

    BalasHapus
  7. Wow ngga kebanyang gimana rasanya dapat nobel sastra seperti karya ini ya, bukunya pasti banyak mengadung makna yang mendalam. Salam Kenal :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sepertinya begitu, meski Golding sewaktu nulis juga mungkin ga terlalu memusingkan nobel. Yang terpenting karyanya bagus.
      salam kenal juga

      Hapus

Posting Komentar