Sejarah Kecil "petite histoire" Indonesia Jilid 1


Judul Buku: Sejarah Kecil "petite histoire" Indonesia Jilid 1
Penulis: Rosihan Anwar
Penerbit Buku Kompas
318 halaman
Cetakan ke 4, September 2009

Sejarah kecil atau petite histoire adalah peristiwa-peristiwa 'kecil' yang luput dari catatan sejarah 'besar'. Berbagai peristiwa masa lampau di Indonesia yang disajikan dalam buku ini mungkin belum pernah kita dengar atau baca lewat buku teks sejarah. Meskipun tidak tercatat atau dianggap kecil saja, bukan berarti sejarah-sejarah kecil ini tidak menarik. Sebaliknya—setidaknya bagi saya—kisah-kisah kecil yang mengiringi peritiwa “besar” ini malah lebih menarik. Kita mendapat informasi tambahan, atau gambaran yang lebih besar mengenai suatu peristiwa.

Untuk jilid pertama ini, Rosihan Anwar membaginya ke dalam 13 bab. Setiap bab berisi kisah-kisah kecil, yang beberapa di antaranya berkaitan langsung dengan sejarah 'besar'. Mulai dari cerita mengenai Timor-Timur yang pernah menjadi provinsi ke 27 Indonesia, tapi kemudian menjadi negara berdaulat pada tahun 2002. Pergolakan di Maluku, perjuangan rakyat Aceh, Kudeta Nazi Jerman di Pulau Nias tahun 1942 (ternyata ada ya?), sahabat Prof Snouck Hurgronje di Banten, atau keterlibatan CIA dalam menggulingkan presiden Soekarno (sudah sering dengar sih), dan banyak lagi.

Kisah-kisah yang tidak kalah menarik adalah kehidupan orang-orang Belanda dan Indo tempo dulu. Atau tentang seorang petualang Inggris Michael Hare yang tinggal di Kepulauan Kokos dan mempunyai harem. Catatan-catatan mengenai mereka berasal dari buku sejarah yang ditulis orang Belanda, memoar, atau potongan berita dalam surat kabar yang beredar saat itu; misal, berita mengenai kematian seorang dosen, atau pembunuhan terhadap seorang pekerja seks komersil bernama Fientje de Feniks. Bahkan Pengeluaran sebuah keluarga Indo-Belanda yang bekerja sebagai Staats Spoorwegen (Jawatan Kereta Api) bisa ditelusuri melalui buku catatan pengeluaran keluarga.


Bahasa Ringan

Salah satu kelebihan buku ini adalah penggunaan bahasa yang ringan dan menarik, bukan bahasa buku teks yang, ehm, bikin ngantuk. Terlebih lagi dengan pengalaman Rosihan Anwar sebagai wartawan yang sudah malang melintang dalam dunia jurnalistik sejak zaman pendudukan Jepang, bahasa tuturnya tidak perlu diragukan lagi. Tidak membosankan. Jangan kaget juga kalau nanti mendapati dalam catatan-catatan ini, ia menjadi saksi langsung dalam peritiwa besar yang sudah kita kenal yakni “Perundingan Linggar Jati”. Kadang, orang-orang yang dibicarakan di sini pun ia kenal secara pribadi.

Rosihan Anwar (1922—2011), sudah menjadi reporter sejak tahun 1943. Beliau juga memiliki banyak pengalaman sebagai responden untuk harian berita asing. Ia juga pernah menjadi produser, sutradara, dan script-writer sekaligus aktor untuk film-film dokumenter sejarah di TVRI. Sejumlah tulisan dalam buku ini diambil langsung dari narasi yang ia tulis untuk film-film dokumenter tersebut. Saya jadi penasaran ingin menonton film dokumenternya. Bolehlah dikatakan bahwa buku ini adalah buku yang ringan dan  bergizi.

Best Quote

“Terpikir oleh saya Sidik sang bayi. Akan jadi apakah dia kelak? Seorang tani yang suka damai seperti bapaknya? Seorang agitator politik yang dapat nama harum? Atau manusia bagaikan salah satu dari pepohonan di hutan itu, yang di tengah kehidupannya ditebang untuk memberikan tempat kepada....ya, untuk apa?”

(Mr. H.W.J.Sonius, Juni 1927, mantan pegawai bestuur Hindia Belanda, di halaman 217)

.

Komentar

  1. salah satu buku yang wajib punya... sudah pernah baca resensinya sepertinya bagus

    BalasHapus
  2. Kayaknya seru tuh karena ada embel-embel "ringan" nya , hehehe...
    *catet di list

    BalasHapus
  3. Hai mas Huda, lama tak berkunjunga, sehat kah?

    Dulu sy g suka mengikuti pelajaran sejarah, karena harus mengingat tahun2, namun sekarang saya sadar bahwa sejarah itu adalah tempat refleksi yang baik karena rasanya kehidupan ini hanya pengulangan-pengulangan dalam waktu yang berbeda

    BalasHapus
  4. sepertinya, buku itu bisa saya jadikan teman ngedate di sabtu senja, di waktu sore,di depan akuarium :3

    apa kabar eniwei?

    BalasHapus
  5. kurang suka sama buku2 yg menceritakan tentang sejarah..tapi kalau meliat dari ulasan Huda di atas sepertinya buku ini layak buat dibaca. .

    BalasHapus
  6. Never heard anything about this books before

    ini sebenarnya fiksi atau non-fiksi kah, kak?

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

10 Film Asia yang Tak Terlupakan

Sandikala

Film Korea Yang Layak Kamu Tonton