Review Film: NOAH




Bukaan, ini bukan soal vokalis band yang mengganti warna rambutnya itu. Ini soal film yang disutradarai oleh Darren Aronofsky. Buat yang belum tahu siapa Aronofsky, jangan kuatir, saya juga baru tahu, mhehe. Darren Aronofsky adalah seorang sutradara, penulis, dan produser dengan karya-karya yang kerenlah, bisa dibilang begitu. Mungkin kawan-kawan sudah akrab dengan The Black Swan (2010), film tentang penari yang terobsesi menjadi sempurna itu yang mengantarkan Natalie Portman meraih oscar sebagai aktris terbaik tahun 2011. Nah, film tersebut dibuat oleh Aronofsky.

Tapi saya jadi tahu Aronofsky setelah secara random menonton sebuah film berjudul Requiem For A Dream (2000). Yup, film yang dibikin 14 tahun lalu ini menurut saya sangat bagus dan setelah googling, baru saya tahu kalau film yang dibuat Aronofsky antara lain, Pi (1998), The Fountain (2006), The Black Swan (2010), dan tentu saja Noah (2014) juga tak kalah keren!!!

Noah termasuk film yang kontroversial. Di beberapa negara termasuk negara kita tercinta ini dan negara tetangga yang tidak terlalu kita cintai itu (baca: Malaysia) melarang film ini. Alasannya, film Noah tidak sesuai dengan ajaran agama/kitab suci. Kalau saja yang bikin bukan Darren Aronofsky, saya mungkin akan mengira film ini paling-paling juga semacam film Kiamat 2012--yang nonton sepuluh menit pun sudah bikin bosan. Tapi begitulah, takdir berkata lain #tsaah. Berhubung filmnya tidak diputar di bioskop, maka saya pun sangat pura-pura terpaksa menonton hasil unduhannya.

Terinspirasi
Satu cara yang dipakai untuk menepis kontroversi, adalah dengan menegaskan kalau film ini terinspirasi dari kisah Nabi Nuh. Kisah tentang banjir besar memang termasuk kisah dari kitab suci yang paling pupuler. Setidaknya bagi saya, kisah Nabi Nuh termasuk salah satu kisah nabi yang paling saya ingat.

Alkisah, dalam film ini, Bumi menjadi tempat yang sangat tandus dan manusia yang hidup saling membantai sesamanya (tidak terdengar asing bukan?). Kemudian Noah, saat sedang mengumpulkan makan bersama anaknya Ham dan Shem melihat satu mukjizat; setetes air jatuh dari langit dan tumbuhlah semak. Saat Noah dan keluarganya mengembara, mereka mendapati sebuah keluarga yang baru saja dibantai. Seorang gadis, Ila, ternyata selamat dari pembantaian tersebut, dan Noah pun akhirnya mengadopsi Ila.

Mereka lalu membangun tenda di dekat sebuah gunung yang dilihat Noah dalam mimpinya. Di dekat tenda ini nantinya muncul mata air, kemudian tumbuhlah hutan lebat yang dari kayu-kayunya Noah akan membangun bahtera, seperti yang dititahkan Tuhan lewat mimpinya.  Hutan yang lebat dan hewan-hewan dari seluruh penjuru bumi yang datang, tentunya menarik perhatian Tubal Cain, anak turunan Cain yang menjadi perusak sejak zaman Adam dan Hawa. Tubal Cain pun menuntut ikut bersama di dalam bahtera yang dibangun Noah. Dan yah... terjadilah perseteruan




Ciri Khas Aronofski
Dalam mimpinya, Noah melihat semua umat manusia mati tenggelam, termasuk dirinya. Ia yakin bahwa tugasnya adalah menyelamatkan mahluk hidup lain, selain manusia, karena manusia yang sudah kelewat perusak sudah saatnya punah. Karena tugasnya ini, ia tak hanya mendapat tentangan dari Tubal Cain dan pasukannya, namun juga dari keluarganya. Dari Istrinya, Naameh yang ingin melihat anaknya bahagia dan punya cucu, dari anaknya Shem dan Ila yang ingin punya keturunan, serta dari Ham yang ingin mengambil istri dari salah satu pengikut Tubal Cain.

Ila (Emma Watson) yang tadinya mandul, kemudian hamil karena campur tangan Naameh, yang meminta mukjizat ke Methuselah. Mudah-mudahan ini tidak terdengar rumit. Tapi, salah satu ciri khas dalam karya Aronofsky adalah setiap karakter punya obsesi sendiri dan tersiksa oleh obsesi tersebut. Masih ingatkan kalau di The Black Swan, Nina Sayers yang terobsesi menjadi sempurna itu berakhir tragis? Dalam Requiem For A Dream juga tak kalah rumit. Lewat The Fountain, Seorang ilmuwan yang ingin menemukan penawar kangker untuk menyembuhkan istrinya. Dalam Pi, kita disuguhi kisah Max, seorang ilmuwan matematika yang nyaris gila mencari pola yang membentuk alam semesta.

Terlepas dari kontroversi dan tidak lolos sensornya film ini di Indonesia, sebenarnya NOAH adalah sebuah karya yang sangat menarik. Film-film dengan bobot yang lebih rendah malah banyak yang lolos sensor dan ditayangkan begitu saja, haha. Untuk saat ini, saya masih lebih suka Requiem For A Dream dan Pi. Tapi penampilan Emma Watson sebagai Ila di sini, bolehlah...



Best Quote

"This time, there will be no man..."

(Noah)




Komentar

  1. aku kah komentator yang pertama? :D

    selamat datang, ngeblog lagi

    btw, dari review yang kamu tulis, aku bener2 masih belum paham :D

    BalasHapus
  2. Baru ngopi -dengan sengaja, dan tanpa rasa bersalah, tapi belum sempet nonton.

    Ada emmma watsonnya ya, bolehlah nati diprioritaskan untuk ditonton duluan. Halah.

    BalasHapus
  3. jadi inget aku sudah donlot pilem ini agak lama tapi belum sempat nonton, heheh

    BalasHapus
  4. @Iskandar Dzulkarnain
    yep, anda komentator pertama.
    oke lain kali saya coba ngepost lebih jelas dan tidak belibet (efek lama ga ngeblog mungkin).

    @Enha
    Buruan nonton. Lumayan kalau menurutku. pesannya juga bagus

    @rawins
    Asal filenya sudah ada, amaan. bisa ditonton kapan-kapan tanpa harus beli tiket lagi


    @all, terima kasih atas kunjungannya :)

    BalasHapus
  5. Agree

    Entah kenapa film-film semi porno bisa tayang di bioskop

    Tapi ya..
    Indonesia dan beberapa negara lainnya memang rada-rada sensitif sama karya yang udah berbeda sedikit atau menyinggung perihal agama.

    terlalu sensitif.

    Positifnya, dari sanalah para bajak laut DVD dan master upload website lokal memperoleh penghasilan wkwkwk

    BalasHapus
  6. aku nonton ini di DVD bajakan, lg seru2nya DVD nya ngadat. Jadi sampe skrg msh ga tau endingnya kyk gimana, nggantung gitu hiks :'(

    BalasHapus
  7. ada Emma Watson-nya yah :O baru tahu saya, jadi bisa dibilang malah ini kaya genre post-apocalypse yaa

    BalasHapus
  8. hmm, mungkin jauh lebih nyeremin dari film The Road ya? kurang lebih inti ceritanya samaan dikit lah, tentang kepunahan manusia karena satu bencana besar. yang berujung pada kanibalan. jadi penasaran juga pen nonton ni film :)

    apa kabar kuliah? masih kuliah ya? #hoammmzz #gatau tiba-tiba ngantuk :D

    BalasHapus
  9. udah nonton. yg bikin kontroversi itu cerita awalnya yang tentang iblis-iblis gitu. tapi pas nontonnya kog kayaknya boring ya sampe nyaris ketiduran

    BalasHapus
  10. Gue nggak terlalu memperhatikan karya si Aronofsky. Yang gue suka itu sinematografinya. Keren! Jarang2 ada film berbasis agama, pake special effect dan CGI yang lumayan

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

10 Film Asia yang Tak Terlupakan

Sandikala

Film Korea Yang Layak Kamu Tonton