A Life Force: Daya Hidup



Judul: Trilogi Kontrak Dengan Tuhan Kehidupan Di Jalan Raya Dropsie
Penulis: Will Eisner
Penerbit Nalar
Penerjemah: Asha Fortuna
Cetakan I, 2010

Mungkin kalian sendiri sering bertanya mengapa mahluk hidup mesti berjuang mempertahankan hidupnya? Mengapa mahluk hidup terus berkembang biak dan memperbanyak diri? Seakan ada daya misterius yang mendorong kita untuk terus hidup pada situasi paling sulit sekalipun.

Pertanyaan yang di telinga beberapa orang akan terdengar basi, atau terlalu membosankan untuk dibicarakan. Mungkin karena tak ada yang tahu secara pasti jawabannya, dan karenanya sering ditanyakan berulang-ulang dan membosankan kita. Namun di tangan orang-orang tertentu, pertanyaan ini bisa melahirkan karya yang menarik. Salah satunya adalah novel grafis dari Will Eisner ini. Selain Daya Hidup, dua karya lainnya adalah; A Contract With God (Kontrak Dengan Tuhan), dan Dropsie Avenue (Jalan Raya Dropsie).

Kontrak Dengan Tuhan adalah buku pertama (paling tebal dan disertai pengantar penulis), disusul Daya Hidup dan Jalan Raya Dropsie. Namun sebenarnya novel grafis ini bisa dibaca secara terpisah. Masing-masing bisa berdiri sendiri, dan cerita dalam tiap serinya ditulis sampai selesai. Apa yang mengikat cerita dari ketiga serinya adalah setting tempat, yakni sebuah pemukiman bernama Dropsie. Setting ini sebenarnya diambil dari kehidupan penulisnya sendiri ketika masih bermukim di daerah kumuh, Bronx, kota New York. Kenangan menyakitkan dan menyenangkan ketika bertahan hidup di daerah inilah yang menjadi sumber insprirasi bagi si Eisner dalam menulis trilogi ini.

Kontrak Dengan Tuhan
Kontrak Dengan Tuhan adalah cerita pertama yang disuguhkan Eisner dibuku ini. Berkisah tentang seorang pemuda bernama Frimme Hersh yang sangat religius dan banyak melakukan kebaikan di usia mudanya. Pada masa mudanya ini pula ia mengadakan sebuah kontrak dengan Tuhan. Namun kelak, ketika putrinya yang bernama Rachele meninggal, Frimme Hersh kehilangan kepercayaannya dan menuntut Tuhan yang dia anggap telah melanggar kontrak. Dari pengakuan Eisner, kisah ini sebenarnya didasari atas kehidupan pribadinya, di mana putrinya Alice, meninggal karena leukimia. Jujur saja, cerita pertama yang menjadi judul untuk trilogi ini malah tidak terlalu mengesankan buat saya.

Cerita ke 2, yang berjudul Penyanyi Jalanan mulai menarik. Cerita ke 3 juga tidak kalah bagus; Sang Pengawas. Lewat rangkaian gambar dan teks yang minim, Eisner bisa menghadirkan cerita tentang seorang pengawas bangunan yang ditakuti sekaligus dibenci, seorang pervert, yang kemudian dijebak oleh gadis kecil untuk mencuri uangnya. Cerita ke 4, Cookalein adalah cerita yang paling rumit dan paling panjang dan karenanya menurut saya paling menarik.

Daya Hidup
Dari ketiga seri buku ini, Daya Hidup adalah yang paling saya sukai (makanya saya gunakan sebagai judul postingan ini). Meskipun kadang, terdapat beberapa teks panjang dengan font berukuran mini yang membuat mata minus saya mesti melotot ekstra untuk membacanya. Teks-teks ini berisi informasi tambahan yang menggambarkan kondisi Amerika pada masa depresi ekonomi di tahun 1920-1930-an. Ternyata membaca teks super mini ini belakangan pun tidak menjadi masalah :P.

Di seri ini kita akan berjumpa dengan banyak karakter dengan kisahnya yang saling menjalin. Tokoh utamanya bernama Jacob Starkah, seorang tukang kayu yang kehilangan pekerjaannya. Setelah lima tahun mempersembahkan dirinya pada satu pekerjaan, kini pekerjaan itu telah selesai dan seakan-akan hubungannya selama ini terputus begitu saja dengan pekerjaannya itu. Ia bertemu kecoak dalam perjalananya pulang dan merasa hidupnya tak jauh beda dengan kecoak tersebut. Di sini dia sendiri bertanya, apa sih arti keberadaan sebenarnya? Seakan-seakan antara manusia dan kecoak ada kesepakatan bersama untuk mempertahankan hidupnya masing-masing.

Dan cerita pun akan berjalan semakin rumit dengan hadirnya tokoh-tokoh lain seperti Aaron, Angelo (yang menjadi partner Jacob mendirikan pabrik kayu nantinya), Elton, dan tentu saja Frieda. Salah satu fakta menarik yang disajikan dalam buku ini adalah, pada masa depresi ekonomi di Amerika tahun 1930-an, angka kematian justru menurun drastis.

Seri ini menjadi seri yang paling tipis sekaligus paling puitis. Tidak hanya itu, cerita dalam seri ini juga berlapis. Eisner menerapkan kembali gaya bercerita yang dia gunakan dalam Cookalein dalam seri ini. Dibandingkan Daya Hidup, seri Kontrak Dengan Tuhan malah lebih mirip kumpulan cerpen grafis.

Dalam Jalan Raya Dropsie kita disuguhkan bagaimana Bronx pertama kali lahir di atas sebuah lahan pertanian (1870), lalu menjadi kompleks perumahan mewah untuk sementara, hingga akhirnya menjadi pemukiman yang kumuh dan mati. Dropsie Avenue seperti menegaskan kelebihan novel grafis dibandingkan novel biasa. Saya membayangkan kalau kisah ini diceritakan dalam bentuk teks, pasti akan dibutuhkan berlembar-lembar kertas yang jauh lebih banyak untuk menggambarkan bagaimana sebuah kota tumbuh dan mati, berikut kehidupan manusia di dalamnya. Dari seri ini juga saya baru tahu kalau sebuah kota atau pemukiman tak ubahnya seperti mahluk hidup. 

Dalam Dropsie Avenue ini, Eisner juga sudah tidak lagi menyertakan halaman informasi yang mengganggu seperti dalam A Life Force.

Novel Grafis
Mungkin sebagian dari kalian sudah akrab dengan istilah ini. Saya dulunya mengira tak ada bedanya dengan komik—hanya saja ceritanya lebih serius. Will Eisner ketika pertama kali mempromosikan novel grafisnya ke penerbit bersikeras kalau Trilogi ini bukanlah komik. Ia mendapat banyak penolakan karena dianggap tak akan mendapat pasar. Kini, Novel Grafis menjadi genre tersendiri, dan Will Eisner tentu saja dinobatkan sebagai pelopor. Saya sebenarnya tak akan mempermasalahkan apa pun sebutannya. Saya menganggapnya sebagai sebuah karya yang bagus dan berbobot.

Sebagai orang Yahudi, Will Eisner banyak menampilkan karakter dengan latar belakang agama Yahudi. Cukup banyak istilah dari bahasa Ibrani yang dipakai di sini—untungnya disertai catatan kaki. Beberapa karakternya mesti menghadapi persoalan seperti pernikahan yang tidak direstui karena berbeda agama (antara katolik dan Yahudi). Will Eisner, secara halus memberi pandangan bahwa pernikahan semacam itu mestinya oke-oke saja.


Best Quote

Freida: Entahlah..apakah ada tujuan? Alasan? Apa sebenarnya yang diinginkan Tuhan dariku?
Jacob: Siapa yang tahu? Sejak awal para pendeta, rabbi, guru atau gonif, berusaha mencari tahu.
Mereka menulis buku dan kitab. Membuat doa-doa permohonan, mungkin untuk mendapat satu jawaban yang membuat mereka mengerti
Dan sementara itu, manusia dan kecoak hanya menjalani hidup hari demi hari. Bila aku telah
menemukan jawabannya aku akan memberitahumu.
Freida: lalu apa yang sebaiknya kita lakukan?
Jacob: Sementara itu, kita makan, tidur, menghindari rasa sakit, menikmati sedikit keindahan,
dan bercinta!


(Freida dan Jacob di halaman 128;Daya Hidup)




Komentar

  1. Grafisnya mirip sama komik amerika gg ? tapi beda ya, kan beda genre juga seperti udah dibilang. Tapi judul masing-masing bukunya bagus ya. agak kelam ya kalau background zaman-nya masa resesi, makanya orang jadi banyak berpikir

    BalasHapus
    Balasan
    1. Agak kelam memang, tapi tiap karakternya berusaha untuk bertahan hidup.
      Jujur saja, aku malah melihatnya sama seperti komik. Untuk gambarnya Eisner punya gaya sendiri--namun masih ga beda jauh sama komik-komik amerika. Yang bikin bagus adalah tema dan gaya bercerita si Eisner. Bagaimana dia menyusun plot dan alur lewat teks dan gambar. Kelebihannya di situ.

      Hapus
  2. Halo, terima kasih sudah berkunjung ke blogku. Untuk Aerosmith aku sudah bertemu mereka kok tahun kemarin: http://duniakecilindi.blogspot.com/2013/06/20-tahun-dan-tidak-lagi-menunggu.html :)
    Belum pernah coba baca novel grafis, kayanya keren juga, ya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. coba deh yang satu ini
      dibacanya ringan tapi berisi
      :)

      Hapus
  3. wow pake grafis!

    Aku juga punya novel yg mirip. judulnya the kingdom of beast
    soal petualangan ke amazon nyari makhluk langka gitu

    tapi sayang nggak ada gambarnya :/

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalau dari judulnya kaya menarik tuh, The Kingdom Of Beast

      Hapus
  4. kamu dapet buku2 begini beli dimana sih?

    BalasHapus
    Balasan
    1. psst, dapat minjem dari teman yang juga dapat minjem

      Hapus
  5. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  6. Bukunya keren-keren banget, saya pengen juga, kamu dapet dari mana sih gan :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. rata-rata buku yang kubaca dapat minjem, hahaha
      kalau tidak minjem di perpus ya minjem ke teman

      Hapus
  7. Novel grafis? G pernah baca, duh skrg udh hampir g pernah baca novel. Pinjem dong

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ajeng apa kabar?
      Blogmu diupdate dong
      yep novel grafis (tapi menurutku sama saja kaya komik). rrr, yang ini kebetulan dapat minjem sih.

      Hapus
  8. lumayan lah, setidaknya kecoak jadi salah satu aktor pendukung yang tidak punya peran dalam novel grafis itu. haha #kecoak, hewan yang sepertinya tidak punya manfaat sama sekali, padahal......#

    sudah baca buku(yang spertinya novel grafis, deh..) judulnya TO BEE OR NOT TO BEE(penulis John Penberthy). awalnya tertarik beli karena judulnya keren(ceritanya juga ternyata)

    oh, kamu minus ya? semoga kembali plus, yak! :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. TO BEE OR NOT TO BEE, itu tentang lebah kah?

      jangan plus juga laah...

      Hapus
  9. Hello bang...masih inget aku gak?

    BalasHapus
  10. font nama pengarangnya mirip font disney ya hehe

    BalasHapus

Posting Komentar