3



V
Sal selesai dengan cucian itu lebih cepat dari yang ia kira. Mungkin karena ia tak begitu peduli apakah ia mencuci sampai benar-benar bersih atau tidak. Yang ia inginkan hanya melihat pekerjaannya selesai secepat mungkin. Sekarang ia tinggal memikirkan di mana menjemur semua cucian itu besok pagi.
Di ruang tamu, di atas kursi panjang dari bambu, ia telungkup meluruskan punggung. Kepalanya ia telengkan ke arah bangku kecil yang bersandar di samping pintu masuk. Dulu di atas bangku itu pernah ada sebuah televisi. Sekarang, hanya taplaknya saja yang sudah diselimuti debu.
Matanya menelusuri taplak yang ia rajut sendiri itu. Bermotif kembang mawar yang kini sudah tak merah lagi. Di dalam laci, di bangku itu, masih ada bergulung-gulung benang yang siap dirajut. Ada juga kaos kaki bayi dan sweater mungil yang tak pernah ia selesaikan karena—akhirnya ia tahu—tak akan ada yang memakainya.
Nyeri di punggungnya sudah mulai reda saat ia mendengar suara dari arah gang berulang-ulang memanggil Nirmala. Suaminya tak sendirian. Di belakangnya ada suara orang yang mengikuti, menggerutu. Dahulu, Sal akan cepat-cepat bangkit dan membukakan pintu buat mereka. Menunduk-nunduk berterima kasih pada orang kampung yang telah mengantar suaminya. Tapi kini, ia diam saja. Telungkup dengan nyeri di punggung ia menanti drama yang akan muncul dari balik pintu.
“Aku harus menyelamatkan Nirmala,” terdengar suaminya menangis. Saat pintu itu dibuka, suaminya berhambur ke arahnya seperti anak kecil yang akhirnya menemukan ibunya. “Nirmala dalam bahaya,” ia menyusupkan kepalanya ke ketiak Sal.
Wajah orang kampung yang mengantar suaminya ditauti kemarahan.
“Suami kayak gini dibiarin lepas!” Sunar berkata ketus dari pintu masuk. “Dari tadi mondar-mandir telanjang. Kirain ada tuyul besar. Untung saya kasih sarung.”
Sal tidak bisa menahan senyum melihat bagaimana sarung itu dipasangkan pada suaminya.
“Kenapa tidak dibiarkan saja dulu di rumah sakit? Sampai sembuh betul, baru diajak pulang. Kalau kayak begini, kasihan kamunya juga.”
Sal mengelus kepala suaminya dengan tangannya yang masih kisut karena terlalu lama menyentuh air.
“Sarung itu buat dia saja! Tak usah dikembalikan,” Sunar mengiklaskan sarungnya sebagai upaya terakhir untuk mendapat ucapan terima kasih. Namun sampai kemudian ia menghilang dengan kedua temannya di ujung gang, Sal tidak mengucapkan apapun.
 “Siapa tadi yang mengantar ke sini?” Sal menanyai suaminya seperti bertanya kepada anak kecil. Yang ditanya cuma termenung, dengan mata menatap kosong ke bangku kecil yang pernah dihuni televisi.
“Anwar? Ya? Anwar? Tadi dikasih obat belum?”
Tidak mendapat jawaban, Sal bergerak ke kamarnya. Mengambil ponsel kemudian menghubungi Anwar. Suara di seberang terdengar serak karena kantuk. Sal lupa kalau ini sudah tengah malam.
“Dia mogok makan lagi dan minta diantar pulang. Besok sore, atau kalau sudah lebih tenang kami jemput lagi.” Anwar kemudian meminta maaf dan memberitahu kalau obat penenang untuk suaminya ia taruh di meja makan.  
Obat itu ternyata tertimbun di bawah berlembar-lembar kertas yang bertuliskan Nirmala. Sal mencuci gelas bekasnya minum teh, kemudian menuangkan air ke dalamnya.
Belum sempat ia berbalik dan membawakan obat itu untuk suaminya, ia merasakan jari-jari yang kasar menelusuri pinggangnya. Kemudian nafas suaminya memburu di tengkuknya. Dari balik sarung yang diberikan Sunar kepada suaminya itu, Sal bisa merasakan kehangatan yang sudah lama terlupa olehnya.

VI
            “Kasihan sekali kau Nirmala.” Labibah berdiri di samping Nirmala yang tengah berteduh. Ia selalu menikmati rasa puas yang ia dapat jika berhasil mengungkapkan rasa kasihannya kepada Nirmala. “Betapa tanganmu yang lentik itu lebih pantas buat menari. Seharusnya kamu menikah saja dengan pejabat kelurahan, atau priyai, tentu kamu tidak akan terjebak denganku siang begini, saat hujan di gedung berlumut ini.” Kemudian ia menggeleng-geleng kasihan ke arah hujan. “Dari dulu aku selalu ingin cantik. Aku kira kalau aku secantik kamu aku  akan bahagia. Tapi di sini kita sekarang. Ai, sekarang apa bedanya? Malah kayu-kayu bakar itu menyiksa tubuh kurusmu itu.”
            “Aku menyukainya,” tegas Nirmala.
            Labibah tertawa. Tawa berderai menyaingi derai hujan di hadapan mereka. “Mana ada perempuan secantik kamu yang suka mengumpulkan kayu bakar? Pasti karena belum bersuami kamu melakukannya? Kamu jadi punya banyak waktu untuk sendirian. Terlalu banyak sendiri.” Labibah menggeleng perihatin namun bibirnya mengembangkan senyum. “Sepantasnya kamu bersuamikan bupati."
            “Kamu sendiri, mengapa terus mengumpulkan kayu bakar? Kamu sudah bersuami tapi tetap saja kamu mengumpulkan kayu? Memangnya, suamimu tak menghiraukanmu lagi?”
            Labibah yang tak menduga kata-kata setajam itu keluar dari mulut Nirmala, terpana.
            “Nirmala? Masihkah kau Nirmala? Kenapa bicaramu jadi seperti ini? Terlalu sering ke hutan telah membuatmu gila. Siapa yang kamu temui di hutan sebenarnya? Orang-orang berbicara mengenai kebiasaanmu yang aneh ini. Ada yang bilang, kamu tak sendirian. Mereka yang berpapasan denganmu mendengarmu bicara.”
            Nirmala hanya menanggapinya dengan senyum samar.
            “Aku mendengar bisikan,” kata-kata ini langsung disesalinya.
            “Bisikan?”
            Nirmala melemparkan pandangannya ke arah langit. Hujan masih deras, namun matahari mulai menyembul dari celah awan. Hujan yang masih tercurah berkilat seperti butiran-butiran cahaya yang tumpah ruah dari langit. “Ya, bisikan-bisikan. Kurasa aku mendengar jiwa hutan memanggil-manggil namaku.” Nirmala memejamkan mata. Ia tahu kalau kata-katanya ini akan menyeretnya dalam bahaya. Namun tak lagi ia merasa menyesal telah mengucapkannya. Seolah-olah ini telah menjadi takdirnya. Saat ia membuka mata, hujan mulai reda.
            “Jiwa hutan? Tapi Nirmala, tahukah kamu apa yang akan dilakukan orang-orang jika mengetahui hal ini?”      

VII
            Sal berdiri telanjang di depan cermin. Tubuhnya tak seramping dulu lagi. Ia mengelus perutnya yang mulai buncit seolah-olah dirinya perempuan hamil. Andai saja ia benar-benar bisa hamil. Dari cermin ia memerhatikan wajah suaminya yang terlelap. Melihat wajah yang damai itu, ia tak melihat adanya jejak kegilaan. Ia bisa berpura-pura begini, seolah mereka pasangan suami istri yang normal. Suaminya masih waras dan kini terlelap. Dirinya, perempuan subur yang kini tengah hamil.
            Dalam versi yang lebih baik itu, tentu kamar mereka tak sebusuk ini. Ada kosmetik yang berjejer di depan cermin. Kasur mereka akan ditutupi kelambu biru, dan tubuh suaminya tak akan berbaring di atas seprai kumal itu. Rasanya seperti kemarin, mereka berbaring di sana dan suaminya membacakan naskah cerita tentang seorang perempuan bernama Nirmala. Setiap kali ia menggambarkan kecantikan Nirmala, mata suaminya menelusuri tubuhnya. Saat itu tangannya masih lentik. Punggungnya mulus seperti porselen.
            “Naskahku ini,” kata suaminya, “pasti akan mengguncang.”
            “Dan kamu akan membawaku pergi dari rumah yang sempit ini?”
            “Dan aku akan membawamu pergi dari rumah yang sempit ini. Kita beli rumah yang lebih besar dengan taman luas tempat kamu nanti menanam kembang mawar.”
            “Jangan lupa, ada kamar-kamar juga untuk anak-anak kita nanti.”
            “Ya, pastinya mereka akan punya kamar sendiri-sendiri.”
            “Terus rumah ini?”
            “Rumah ini kita sewakan saja.”
            “Atau kita percayakan kepada Lastri?”
            Suaminya memilin-milin helai rambutnya. “Ya, kita percayakan kepada Lastri. Sekali seminggu kita bisa ke sini menengoknya.”
            Namun kemudian Lastri yang lebih dulu pergi. Ia menikah dengan Rusli, yang jauh lebih kaya dari suaminya. Memboyong Lastri beserta keluarganya ke luar pulau, tinggal di rumah yang lebih besar. Saat itu Sal sudah lebih jarang merajut. Suaminya tak lagi meneruskan naskahnya. Nirmala terjebak di tengah-tengah cerita yang tak selesai. Sal merenungi nasib perempuan itu dalam kepala suaminya yang kini sudah porak-poranda. Jika Nirmala itu benar-benar ada, mungkin ia kini seperti dirinya. Tangan kapalan dan tubuh bergelambir.
            Kasihan kau Nirmala, Sal meratapi nasib Nirmala pada bayangannya sendiri di cermin.

Komentar