4



VIII
            Nirmala terbangun oleh suara lain. Bukan suara yang selama ini memanggilnya. Namun ia pun mengenal suara yang satu ini. Ia tahu. Ia kenal perempuan yang meratapinya ini. Ia beranjak ke dapur untuk mendapati tungku yang tinggal abu. Aku perlu mencari kayu bakar lagi.
            Kali ini ia akan menyusuri setapak lebih dalam lagi. Bila perlu, ia akan membuka jalan baru. Merabas belukar pekat yang mengitari jantung hutan. Ia tahu tempat itu mengerikan. Bukan hanya apa yang dikatakan orang-orang mengenai tempat itu. Bukan hanya apa yang terus diulang-ulang oleh orang-orang berjubah itu. Suara yang terus memanggilnya selama ini juga memperingatkannya. Di situ, mungkin tumbuh sesuatu yang tak akan sanggup ia hadapi sendiri. Namun suara yang satu ini. Perempuan ini. Ia tahu suara ini mengundangnya ke tempat itu. Perempuan ini membutuhkannya.
            “Nirmala!” Labibah berdiri di tengah setapak. “Kau melakukannya lagi!”
            “Aku membutuhkan lebih banyak kayu.”
            “Kau bisa memakai yang telah kukumpulkan. Demi Tuhan, kembalilah ke rumah.”
            “Ke manapun aku pergi bukan urusanmu.”
            “Tentu saja ini urusanku. Ini urusan kita semua. Apa yang terus kau katakan sangat mengkhawatirkan.”
            “Jika kau merasa khawatir, itu urusanmu.”
            Labibah tak mengatakan apa-apa lagi. Ia memutar tubuhnya dan Nirmala melihatnya menghilang di kejauhan.
            Kasihan kau Nirmala, suara itu terdengar lagi. Kali ini, lebih mirip dengan suaranya sendiri. Tapi aku tak sudi dikasihani, Nirmala menebas belukar pertama yang memagari jantung hutan. Daun-daun dan reranting yang terhempas ke tanah menggelepar.    
           
IX
            Tidak mungkin karena Lastri, Sal meyakinkan dirinya sementara ia bergerak ke dapur dan membuka jendela. Petak sempit mereka masih gelap. Pukul lima pagi. Langit masih abu-abu keunguan. Dua kawat yang terbentang di tengah halaman sudah pasti tak akan cukup untuk menjemur semua cuciannya.
Rumpun mawar yang ditanamnya di bawah jendela sudah berkuncup. Kuncup itu sudah semakin besar. Sal merasakan matahari sudah terbit lebih dulu di hatinya, sekalipun di luar masih remang-remang.
Tidak mungkin karena Lastri. Mungkin karena suatu kecelakaan, mungkin kepalanya pernah terbentur dan tak sempat ia ceritakan. Ia memeriksa rak dapur dan menemukan masih ada dua bungkus mie instan dan sebutir telur untuk mereka sarapan. Tupperware plastik tak perlu dibuka, karena dari luar sudah terlihat kalau isinya kosong. Tak ada beras di dalamnya. Mungkin juga karena aku tak bisa memberinya anak? Sal meremas perutnya. Halaman di luar masih juga gelap.       
            Setelah menjerang air, ia pun beranjak ke kamar mandi dan membilas semua cucian untuk yang terakhir kali.
            “Kamu pernah mendengar cerita tentang Mawar?”
            Suaminya sudah terbangun dan kini sudah duduk di dapur, di hadapan kertas yang berserakan. Sal diam saja. Suara suaminya hanya ditimpali dengung teratur dari api kompor. Ia mengangkut ember yang penuh berisi cucian itu ke halaman sempit mereka. Dahulu, ia akan tersipu tiap kali suaminya mengajukan pertanyaan ini. Karena setelahnya, ia akan menjawab, “aku pernah mendengar cerita tentang hal itu. Tapi mungkin cerita yang kamu dengar berbeda.”
            Lalu suaminya akan menyambutnya dengan sebuah cerita. Dengan sebuah pembukaan yang akan membuatnya jatuh cinta. Kini tanpa jawaban apapun darinya, laki-laki itu cuma termenung menatap kertas yang berhamburan bertuliskan Nirmala berulang-ulang. 
            Sal memeras pakaian itu satu demi satu. Menyaksikan tangan kisutnya dan air yang merembes menghujani tanah yang masih lembab oleh embun. Menjemur baju-baju yang bukan bajunya. Sebagian dari pakaian-pakaian ini adalah milik orang-orang yang ia kenal. Sungguh ganjil, melihat bagaimana pakaian-pakaian ini menjadi bagian dari orang lain ketika mereka memakainya, sementara di tangannya kini ia memeras mereka satu per satu dan menjemurnya di halaman belakang rumahnya sendiri.
           
X
            Nirmala terus menebas belukar yang membelit jantung hutan tanpa menoleh sedikit pun. Sulur-sulur menggelepar dan teriakan yang memanggil namanya semakin nyaring. Satu teriakan membuatnya berhenti, seketika.

XI
            Cucian itu belum semuanya selesai dijemur. Sal, berhenti begitu saja karena mendengar suara teriakan. Teriakan dari suaminya yang memanggil namanya. Untuk pertama kali, setelah sekian lama, laki-laki itu meneriakkan namanya dan bukan Nirmala.
            “Kurasa airnya sudah mendidih,” kata suaminya.
            Sal terpaku. Laki-laki itu bangkit dengan tenang dan membuka rak. Mendapati tupperware penyimpan beras mereka masih kosong, dan hanya menemukan dua bungkus mie instan dan sebutir telur. “Kita sangat miskin,” laki-laki itu tertawa, lalu menyobek bungkus mie. Meremas mie sebagaimana ia biasa melakukannya dan mencelupkannya ke dalam air yang mendidih. 
            “Aku bisa keluar sebentar untuk sekedar membeli beras?” Sal beranjak pelan ke jendela, tak yakin dengan apa yang disaksikannya.
            “Ini masih terlalu pagi. Mana ada kios yang buka,” ujar suaminya santai.
            “Aku bisa menggedor pintu kios mereka?” jawab Sal.
            “Seperti yang dilakukan Nirmala ketika bayi itu direngut darinya?”
            “Ya, seperti itu,” jawabnya, khawatir. “Bagaimana kabarnya sekarang?” Sal meremas kusen jendela.
            “Siapa? Nirmala?” laki-laki itu menatap kosong ke langit-langit sejenak, mengangkat bahu, kemudian berkata, “Dia akan baik-baik saja. Kamu pernah mendengar cerita tentang mawar?”
            Sal menelan ludah. Tak yakin apakah kali ini ia mesti menjawab dengan jawaban seperti biasanya. “Aku menanam beberapa di sini,” katanya kemudian, gugup. Suaminya melirik ke arah rumpun mawar di bawah jendela, di antara Sal dan kusen jendela. “Mereka sudah mulai berbunga,” tambah Sal cepat-cepat.
             Suaminya mengangguk melihat ke arah kuncup mawar yang semakin besar. Sal melihat senyumnya mekar.
            
<><><>
           

Komentar

  1. ini kok ga ada yang komentar sih? saya curiga..

    BalasHapus
  2. ini cuma sedikit pendapat tentang detilnya.

    kenapa sih harus pake tupperware?!? secara tupperware kan mahal, agak gak masuk kalo Sal yg diceritakan miskin malah punya. mending pake toples plastik transparan atau apalah gitu..

    yaa cuma pendapat sih.. hal kecil juga sih..hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih. Tadinya kupikir tupperware tidak terlalu mahal. Mereka membelinya sewaktu suami Sal masih waras dan bisa bekerja sampingan selain menulis. Hmm, tapi usulmu bagus juga. Mestinya mareka memakai kaleng bekas khong guan.

      Terima kasih

      Hapus

Posting Komentar