Fiksi#1: Tentang Mawar



I
            Sal tiba di rumah saat muadzin di kampung mulai mengumandangkan azan magribh. Gang sempit yang menjadi jalan masuk mulai gelap. Lampu belum dinyalakan. Ia menarik nafas dalam-dalam dan menahannya, berharap tubuhnya menjadi lebih ramping, perutnya jadi lebih kempis, sehingga dengan dua buntalan besar berisi pakaian kotor di kedua tangannya ia akhirnya bisa menyusuri gang sempit itu
Ini kali pertama ia terpaksa membawa cucian pelanggan ke rumah. Ia menyesali Nurul, anak baru yang belum bisa mengoperasikan mesin cuci itu. Nurul, karena gugup, membuat mesin cuci tua yang sudah dua kali masuk bengkel menggelembungkan busa sampai membanjiri lantai kios binatu. Pakaian-pakaian yang sudah bersih dan siap disetrika juga ikut terendam gelembung sabun. Semua pekerjaan terpaksa dilakukan dua kali. Demi melihat wajah pucat Nurul, karena berpikir telah merusak mesin cuci di hari pertamanya, Sal menawarkan diri untuk membawa sebagian cucian yang tak sempat dicuci hari itu. Sebagai gantinya Nurul akan membayar Sal dengan setengah gaji pertamanya. Separuh yang lain, akan dipotong untuk membayar biaya reparasi.
Nurul tidak mendapat gaji untuk bulan pertama ini. Salah sendiri, dungu! Sal mengumpat sambil meyakinkan diri bahwa bayaran yang didapat dari anak baru itu cukup sepadan.
Satu hal yang terlupa, dan kini mulai diingatnya, sementara ia meraba-raba di belakang mesin air tempat ia biasanya menyelipkan kunci rumah, rumah ini tak memiliki halaman yang cukup luas untuk menjemur semua cucian ini. Yang mereka miliki hanya petak sempit tempat ia berusaha menanam rumpun mawar. Sepanjang tahun ini, belum juga ia berhasil membuat mawar-mawar yang ia tanam di bawah jendela itu berbunga. Jika akarnya yang tak membusuk, daun-daunnya yang digerogoti hama. Sekarang ia khawatir, rembesan air cucian nantinya akan membunuh mawarnya yang kali ini sudah mulai berkuncup.
Ia tak juga menemukan kunci di balik mesin air. Saat meraih gagang pintu, pintu itu terbuka begitu saja. Apakah suaminya sudah pulang? Tidak mungkin ada maling yang begitu putus asa mencoba masuk ke rumah ini. Jika suaminya yang sudah pulang, siapa yang mengantarnya? Sal memasuki rumah didera was-was.
Di dalam gelap. Semua lampu belum dinyalakan. Ia memijit saklar lampu di belakang pintu dan seketika lorong sempit jalannya masuk dibanjiri cahaya remang-remang dari lampu lima watt.
“Sayang?” suaranya merayap di ruang-ruang gelap. Sal menyalakan lampu demi lampu. Saat menyalakan lampu di dapur, yakinlah ia bahwa suaminya sudah pulang. Meja makan mereka berantakan. Berlembar-lembar kertas penuh coretan. Remasan-remasan yang berbentuk bola berceceran di lantai dapur. “Sayang? Kamu sudah pulang?”
Sal memeriksa kamar, tak ada siapa-siapa.
Ia menghempaskan tubuhnya di atas kasur. Bau busuk cucian kotor menyerbunya, bercampur dengan bau apak kasur. Barulah ia sadar, ia masih membawa dua buntalan cucian itu dari tadi. Susah payah ia bangkit kembali dan beranjak ke kamar mandi. Ia berniat merendam semua cucian ini barang dua atau tiga jam dulu, kemudian istirahat sebentar. Nyeri di punggungnya langsung menyengat ketika ia masuk ke jeding. Suaminya tengah berendam di dalam bak mandi.
Kepala laki-laki itu menyembul dari bak. Ia duduk melipat kaki dan, hanya Tuhan yang tahu sudah berapa lama ia merendam diri di situ. “Aku harus menyelamatkan Nirmala,” suaminya bersuara. Tatapannya tertuju pada bibir bak mandi yang sudah mulai berlumut.
Sal tidak berusaha menanggapi. Ia menghampiri ember besar di bawah keran dan memasukkan satu buntalan cucian kotor ke dalamnya. Masih ada satu buntalan lagi, namun ruang yang tersisa dalam ember itu dalamnya tinggal sejengkal saja. Ia memasukkan satu per satu pakaian dari buntalan yang satunya sambil menekan-nekan jejalan pakaian kotor ke dalam ember. Bau busuk bercampur bau rokok dan asam keringat menerpa wajahnya.
“Tadi diantar sama siapa?” akhirnya ia menanyai suaminya. Sambil menyalakan leding, ia memijit-mijit bagian bawah tulang belakangnya yang makin ngilu.  
“Nirmala terancam. Dari dulu terancam, kasihan Nirmala. Semestinya ia tak usah bertemu dengan Labibah. Kasihan Nirmala....”
Sal meninggalkan suaminya yang masih menceracau di kamar mandi. Ia menyalakan mesin air dan dengung mesin air itu menenggelamkan suara suaminya. Kemudian ia beranjak ke dapur dan membuat segelas teh untuk dirinya sendiri. Lembar-lembar kertas di atas meja semuanya bertuliskan Nirmala, Nirmala, Nirmala. Ia yakin, gumpalan-gumpalan kertas yang berserakan di lantai itu juga bertuliskan Nirmala.
II

Setiap kali Nirmala sibuk dengan pikirannya sendiri, selalu saja ada kekuatan ganjil yang menggerakkan tubuhnya yang mungil dan membuatnya beranjak ke hutan. Ia terlalu anggun dan  terlalu ringkih untuk menjadi pengumpul kayu bakar. Namun kuasa ganjil yang menyeretnya hampir-hampir tak bisa dilawan. Ia akan memungut kayu dan ranting lalu memikulnya dengan punggungnya yang mulus seperti porselen. Setiap orang yang berpapasan dan melihatnya memikul begitu banyak kayu, pasti akan mengira punggung itu akan pecah. Tubuh itu akan retak kemudian berhamburan menjadi pecahan-pecahan beling bening yang berceceran di sepanjang setapak sunyi di tengah hutan.
Jika hari hujan, Nirmala akan berteduh di sebuah gedung tua yang sudah lama tak terpakai. Konon dulunya gedung itu adalah pabrik gula. Mengapa gedung itu kini terbengkalai berada di luar pengetahuan Nirmala. Bau manis yang samar-samar, kadang mengambang di udara sementara Nirmala menunggu hujan reda. Bau dari masa lalu ketika pabrik itu masih beroperasi. Aromanya yang seperti karamel disukai Nirmala. Tapi kadang baunya jauh lebih asam, seperti bau spiritus atau bau alkohol. Ini membuat Nirmala berharap hujan cepat-cepat reda. Ia tak ingin terjebak lebih lama, apalagi dengan kemungkinan datangnya Labibah.

III
Sal dibangunkan suara kecipak air. Ia ketiduran di antara berlembar-lembar kertas yang bertuliskan Nirmala. Semula ia mengira kecipak air itu suara hujan. Rupanya berasal dari bak penampungan yang sudah penuh. Ia buru-buru mematikan mesin air. Gang kecil yang menjadi jalan masuk ke rumahnya sudah tergenang, seakan baru saja hujan lebat. Dinding rumah tetangganya yang tinggi dan memunggungi rumah mereka juga basah tersiram luapan air. Pasti ia ketiduran lama sekali. Sal menyesali diri. Spontan ia memeriksa angka yang tertera di kilowatt. Pulsa listriknya tinggal dua digit. Ia mendesah, kesal pada dirinya sendiri yang telah menghamburkan banyak listrik hanya untuk menggenangi gang.
Kini gang itu seperti lorong keemasan. Cahaya lampu lima watt meleleh di sekujur tubuh gang yang basah. Ia teringat ketika jalan masuknya dulu tak seperti lorong tikus begini. Dinding yang membatasi rumahnya dengan rumah tetangga tak sampai setinggi dada. Lalu ia teringat akan gadis cantik bernama Lastri, tetangga mereka, yang akan berteriak memberitahu kalau air sudah penuh. Kadang Lastri sendiri yang memijit saklar mematikan mesin. Teringat pula ia akan waktu-waktu sore yang mereka habiskan bergosip, atau saling meminjami gula, atau bumbu, atau kadang duit, melalui tembok yang saat itu tak seberapa tinggi.
Kemudian Lastri pindah. Ia diboyong Rusli ke luar pulau.
Tetangga baru yang hanya dikenalnya lewat senyum dingin membangun rumah tiga lantai. Memunggungi rumah mereka dengan dinding yang dibangun seperti tebing. Tiap kali Sal berjalan masuk ke rumahnya, ia merasa seperti hewan purba yang melata di dasar jurang. Kemudian suaminya mulai gila.
Adakah semua ini berhubungan? Sal bergegas ke kamar mandi karena teringat suaminya. Ia lega mendapati bak mandi itu sudah kosong. Mungkin suaminya sudah keluar. Mungkin ke warung kopi, mungkin ke pos ronda, menceracau dan membuat para pemuda yang jam segini bermain kartu itu terhibur. Tak apalah.
Ember yang berisi cucian dari binatu masih bergeming di bawah leding. Air rendamannya sudah mulai kecoklatan. Ia mengambil dengklek kemudian duduk mengucek cuciannya.
Adakah semua ini berhubungan? Tak lama setelah Lastri menikah, suaminya mulai gila? Tangan Sal yang mengucek cucian bergerak terlalu cepat. Sampai suara krek menyadarkannya. Ia telah merobek bagian leher sebuah kemeja. Jantungnya seketika dingin dijilati es. Ia bayangkan kalau gajinya bulan ini akan dipotong juga. Tapi ia bisa melimpahkan kesalahan ini pada Nurul nantinya. Sal menelan ludah yang tersangkut di kerongkongan. Pahit.
Biar si lugu itu tahu kepahitan hidup, batinnya. Biar ia mendapat pelajaran.
Selanjutnya, ia memeras satu per satu cuciannya dengan tenang seperti memelintir leher ratusan ekor kelinci.

IV
Nirmala memiliki kebiasaan menghabiskan waktu berlama-lama di depan tungku. Ada atau tidak yang perlu dijerang, ia akan menyusun kayu bakar di dalam tungku dan mulai membakarnya. Kehangatan yang menerpa lutut dan wajahnya membuat dirinya tenang. Kayu-kayu yang meretih dilalap api akan membuatnya berpikir. Menggembungkan satu pertanyaan yang sering menyeretnya ke tepian pengetahuannya sendiri. Pertanyaan tentang dirinya, tentang api; apa gerangan api itu sebenarnya? Mengapa benda jingga yang menjilat-jilat kayu itu menari kemudian menyisakan abu?
Atau tentang apa saja.
Kemudian pertanyaan itu akan terus tumbuh seperti belukar yang menjulurkan sulur-sulur, yang akan menyeret tubuhnya ke dalam belantara. Ia butuh lebih banyak kayu bakar. Maka ia pun bangkit dari depan tungku dan pergi menyusuri hutan. Memungut kayu dan ranting, memilah yang basah dan kering. Tersesat seharian di dalam hutan dan tersesat seharian di dalam pikirannya.
Kadang pikiran-pikirannya itu demikian nyata. Setiap pertanyaan-pertanyaan itu memiliki suaranya sendiri. Nirmala akan berbaring di antara rimbunan pakis, matanya nanap menatap jauh ke atas, ke langit-langit hutan, sementara pikirannya berterbangan seperti ribuan ekor serangga yang gelisah. Pikiran-pikiran itu saling bicara. Berbisik-bisik dalam bisikan angin dan dedaunan. Adakah suara-suara ini cuma hayalannya saja? Dan dari manakah semua hayalan ini berasal?
Jikalau suara-suara itu ia biarkan, kian lama mereka akan bertambah riuh. Mengalahkan derik serangga di rawa-rawa. Mengalahkan kebisingan kawanan babun yang berebut teritori. Nirmala akan menarik nafas teratur, menenangkan diri sebelum keributan di dalam kepalanya membuatnya terguncang.
Dalam ketenangan, Nirmala berusaha mengenali kata-kata yang dibisikkan oleh pikiran-pikiran itu. Sayup-sayup, yang bisa ia kenali dari bisikan itu adalah namanya. Seperti ada yang berusaha menggapainya lewat bisikan-bisikan itu.
V
Sal selesai dengan cucian itu lebih cepat dari yang ia kira. Mungkin karena ia tak begitu peduli apakah ia mencuci sampai benar-benar bersih atau tidak. Yang ia inginkan hanya melihat pekerjaannya selesai secepat mungkin. Sekarang ia tinggal memikirkan di mana menjemur semua cucian itu besok pagi.
Di ruang tamu, di atas kursi panjang dari bambu, ia telungkup meluruskan punggung. Kepalanya ia telengkan ke arah bangku kecil yang bersandar di samping pintu masuk. Dulu di atas bangku itu pernah ada sebuah televisi. Sekarang, hanya taplaknya saja yang sudah diselimuti debu.
Matanya menelusuri taplak yang ia rajut sendiri itu. Bermotif kembang mawar yang kini sudah tak merah lagi. Di dalam laci, di bangku itu, masih ada bergulung-gulung benang yang siap dirajut. Ada juga kaos kaki bayi dan sweater mungil yang tak pernah ia selesaikan karena—akhirnya ia tahu—tak akan ada yang memakainya.
Nyeri di punggungnya sudah mulai reda saat ia mendengar suara dari arah gang berulang-ulang memanggil Nirmala. Suaminya tak sendirian. Di belakangnya ada suara orang yang mengikuti, menggerutu. Dahulu, Sal akan cepat-cepat bangkit dan membukakan pintu buat mereka. Menunduk-nunduk berterima kasih pada orang kampung yang telah mengantar suaminya. Tapi kini, ia diam saja. Telungkup dengan nyeri di punggung ia menanti drama yang akan muncul dari balik pintu.
“Aku harus menyelamatkan Nirmala,” terdengar suaminya menangis. Saat pintu itu dibuka, suaminya berhambur ke arahnya seperti anak kecil yang akhirnya menemukan ibunya. “Nirmala dalam bahaya,” ia menyusupkan kepalanya ke ketiak Sal.
Wajah orang kampung yang mengantar suaminya ditauti kemarahan.
“Suami kayak gini dibiarin lepas!” Sunar berkata ketus dari pintu masuk. “Dari tadi mondar-mandir telanjang. Kirain ada tuyul besar. Untung saya kasih sarung.”
Sal tidak bisa menahan senyum melihat bagaimana sarung itu dipasangkan pada suaminya.
“Kenapa tidak dibiarkan saja dulu di rumah sakit? Sampai sembuh betul, baru diajak pulang. Kalau kayak begini, kasihan kamunya juga.”
Sal mengelus kepala suaminya dengan tangannya yang masih kisut karena terlalu lama menyentuh air.
“Sarung itu buat dia saja! Tak usah dikembalikan,” Sunar mengiklaskan sarungnya sebagai upaya terakhir untuk mendapat ucapan terima kasih. Namun sampai kemudian ia menghilang dengan kedua temannya di ujung gang, Sal tidak mengucapkan apapun.
 “Siapa tadi yang mengantar ke sini?” Sal menanyai suaminya seperti bertanya kepada anak kecil. Yang ditanya cuma termenung, dengan mata menatap kosong ke bangku kecil yang pernah dihuni televisi.
“Anwar? Ya? Anwar? Tadi dikasih obat belum?”
Tidak mendapat jawaban, Sal bergerak ke kamarnya. Mengambil ponsel kemudian menghubungi Anwar. Suara di seberang terdengar serak karena kantuk. Sal lupa kalau ini sudah tengah malam.
“Dia mogok makan lagi dan minta diantar pulang. Besok sore, atau kalau sudah lebih tenang kami jemput lagi.” Anwar kemudian meminta maaf dan memberitahu kalau obat penenang untuk suaminya ia taruh di meja makan.  
Obat itu ternyata tertimbun di bawah berlembar-lembar kertas yang bertuliskan Nirmala. Sal mencuci gelas bekasnya minum teh, kemudian menuangkan air ke dalamnya.
Belum sempat ia berbalik dan membawakan obat itu untuk suaminya, ia merasakan jari-jari yang kasar menelusuri pinggangnya. Kemudian nafas suaminya memburu di tengkuknya. Dari balik sarung yang diberikan Sunar kepada suaminya itu, Sal bisa merasakan kehangatan yang sudah lama terlupa olehnya.

VI
            “Kasihan sekali kau Nirmala.” Labibah berdiri di samping Nirmala yang tengah berteduh. Ia selalu menikmati rasa puas yang ia dapat jika berhasil mengungkapkan rasa kasihannya kepada Nirmala. “Betapa tanganmu yang lentik itu lebih pantas buat menari. Seharusnya kamu menikah saja dengan pejabat kelurahan, atau priyai, tentu kamu tidak akan terjebak denganku siang begini, saat hujan di gedung berlumut ini.” Kemudian ia menggeleng-geleng kasihan ke arah hujan. “Dari dulu aku selalu ingin cantik. Aku kira kalau aku secantik kamu aku  akan bahagia. Tapi di sini kita sekarang. Ai, sekarang apa bedanya? Malah kayu-kayu bakar itu menyiksa tubuh kurusmu itu.”
            “Aku menyukainya,” tegas Nirmala.
            Labibah tertawa. Tawa berderai menyaingi derai hujan di hadapan mereka. “Mana ada perempuan secantik kamu yang suka mengumpulkan kayu bakar? Pasti karena belum bersuami kamu melakukannya? Kamu jadi punya banyak waktu untuk sendirian. Terlalu banyak sendiri.” Labibah menggeleng perihatin namun bibirnya mengembangkan senyum. “Sepantasnya kamu bersuamikan bupati."
            “Kamu sendiri, mengapa terus mengumpulkan kayu bakar? Kamu sudah bersuami tapi tetap saja kamu mengumpulkan kayu? Memangnya, suamimu tak menghiraukanmu lagi?”
            Labibah yang tak menduga kata-kata setajam itu keluar dari mulut Nirmala, terpana.
            “Nirmala? Masihkah kau Nirmala? Kenapa bicaramu jadi seperti ini? Terlalu sering ke hutan telah membuatmu gila. Siapa yang kamu temui di hutan sebenarnya? Orang-orang berbicara mengenai kebiasaanmu yang aneh ini. Ada yang bilang, kamu tak sendirian. Mereka yang berpapasan denganmu mendengarmu bicara.”
            Nirmala hanya menanggapinya dengan senyum samar.
            “Aku mendengar bisikan,” kata-kata ini langsung disesalinya.
            “Bisikan?”
            Nirmala melemparkan pandangannya ke arah langit. Hujan masih deras, namun matahari mulai menyembul dari celah awan. Hujan yang masih tercurah berkilat seperti butiran-butiran cahaya yang tumpah ruah dari langit. “Ya, bisikan-bisikan. Kurasa aku mendengar jiwa hutan memanggil-manggil namaku.” Nirmala memejamkan mata. Ia tahu kalau kata-katanya ini akan menyeretnya dalam bahaya. Namun tak lagi ia merasa menyesal telah mengucapkannya. Seolah-olah ini telah menjadi takdirnya. Saat ia membuka mata, hujan mulai reda.
            “Jiwa hutan? Tapi Nirmala, tahukah kamu apa yang akan dilakukan orang-orang jika mengetahui hal ini?”      

VII
            Sal berdiri telanjang di depan cermin. Tubuhnya tak seramping dulu lagi. Ia mengelus perutnya yang mulai buncit seolah-olah dirinya perempuan hamil. Andai saja ia benar-benar bisa hamil. Dari cermin ia memerhatikan wajah suaminya yang terlelap. Melihat wajah yang damai itu, ia tak melihat adanya jejak kegilaan. Ia bisa berpura-pura begini, seolah mereka pasangan suami istri yang normal. Suaminya masih waras dan kini terlelap. Dirinya, perempuan subur yang kini tengah hamil.
            Dalam versi yang lebih baik itu, tentu kamar mereka tak sebusuk ini. Ada kosmetik yang berjejer di depan cermin. Kasur mereka akan ditutupi kelambu biru, dan tubuh suaminya tak akan berbaring di atas seprai kumal itu. Rasanya seperti kemarin, mereka berbaring di sana dan suaminya membacakan naskah cerita tentang seorang perempuan bernama Nirmala. Setiap kali ia menggambarkan kecantikan Nirmala, mata suaminya menelusuri tubuhnya. Saat itu tangannya masih lentik. Punggungnya mulus seperti porselen.
            “Naskahku ini,” kata suaminya, “pasti akan mengguncang.”
            “Dan kamu akan membawaku pergi dari rumah yang sempit ini?”
            “Dan aku akan membawamu pergi dari rumah yang sempit ini. Kita beli rumah yang lebih besar dengan taman luas tempat kamu nanti menanam kembang mawar.”
            “Jangan lupa, ada kamar-kamar juga untuk anak-anak kita nanti.”
            “Ya, pastinya mereka akan punya kamar sendiri-sendiri.”
            “Terus rumah ini?”
            “Rumah ini kita sewakan saja.”
            “Atau kita percayakan kepada Lastri?”
            Suaminya memilin-milin helai rambutnya. “Ya, kita percayakan kepada Lastri. Sekali seminggu kita bisa ke sini menengoknya.”
            Namun kemudian Lastri yang lebih dulu pergi. Ia menikah dengan Rusli, yang jauh lebih kaya dari suaminya. Memboyong Lastri beserta keluarganya ke luar pulau, tinggal di rumah yang lebih besar. Saat itu Sal sudah lebih jarang merajut. Suaminya tak lagi meneruskan naskahnya. Nirmala terjebak di tengah-tengah cerita yang tak selesai. Sal merenungi nasib perempuan itu dalam kepala suaminya yang kini sudah porak-poranda. Jika Nirmala itu benar-benar ada, mungkin ia kini seperti dirinya. Tangan kapalan dan tubuh bergelambir.
            Kasihan kau Nirmala, Sal meratapi nasib Nirmala pada bayangannya sendiri di cermin.
VIII
            Nirmala terbangun oleh suara lain. Bukan suara yang selama ini memanggilnya. Namun ia pun mengenal suara yang satu ini. Ia tahu. Ia kenal perempuan yang meratapinya ini. Ia beranjak ke dapur untuk mendapati tungku yang tinggal abu. Aku perlu mencari kayu bakar lagi.
            Kali ini ia akan menyusuri setapak lebih dalam lagi. Bila perlu, ia akan membuka jalan baru. Merabas belukar pekat yang mengitari jantung hutan. Ia tahu tempat itu mengerikan. Bukan hanya apa yang dikatakan orang-orang mengenai tempat itu. Bukan hanya apa yang terus diulang-ulang oleh orang-orang berjubah itu. Suara yang terus memanggilnya selama ini juga memperingatkannya. Di situ, mungkin tumbuh sesuatu yang tak akan sanggup ia hadapi sendiri. Namun suara yang satu ini. Perempuan ini. Ia tahu suara ini mengundangnya ke tempat itu. Perempuan ini membutuhkannya.
            “Nirmala!” Labibah berdiri di tengah setapak. “Kau melakukannya lagi!”
            “Aku membutuhkan lebih banyak kayu.”
            “Kau bisa memakai yang telah kukumpulkan. Demi Tuhan, kembalilah ke rumah.”
            “Ke manapun aku pergi bukan urusanmu.”
            “Tentu saja ini urusanku. Ini urusan kita semua. Apa yang terus kau katakan sangat mengkhawatirkan.”
            “Jika kau merasa khawatir, itu urusanmu.”
            Labibah tak mengatakan apa-apa lagi. Ia memutar tubuhnya dan Nirmala melihatnya menghilang di kejauhan.
            Kasihan kau Nirmala, suara itu terdengar lagi. Kali ini, lebih mirip dengan suaranya sendiri. Tapi aku tak sudi dikasihani, Nirmala menebas belukar pertama yang memagari jantung hutan. Daun-daun dan reranting yang terhempas ke tanah menggelepar.    
           
IX
            Tidak mungkin karena Lastri, Sal meyakinkan dirinya sementara ia bergerak ke dapur dan membuka jendela. Petak sempit mereka masih gelap. Pukul lima pagi. Langit masih abu-abu keunguan. Dua kawat yang terbentang di tengah halaman sudah pasti tak akan cukup untuk menjemur semua cuciannya.
Rumpun mawar yang ditanamnya di bawah jendela sudah berkuncup. Kuncup itu sudah semakin besar. Sal merasakan matahari sudah terbit lebih dulu di hatinya, sekalipun di luar masih remang-remang.
Tidak mungkin karena Lastri. Mungkin karena suatu kecelakaan, mungkin kepalanya pernah terbentur dan tak sempat ia ceritakan. Ia memeriksa rak dapur dan menemukan masih ada dua bungkus mie instan dan sebutir telur untuk mereka sarapan. Tupperware plastik tak perlu dibuka, karena dari luar sudah terlihat kalau isinya kosong. Tak ada beras di dalamnya. Mungkin juga karena aku tak bisa memberinya anak? Sal meremas perutnya. Halaman di luar masih juga gelap.       
            Setelah menjerang air, ia pun beranjak ke kamar mandi dan membilas semua cucian untuk yang terakhir kali.
            “Kamu pernah mendengar cerita tentang Mawar?”
            Suaminya sudah terbangun dan kini sudah duduk di dapur, di hadapan kertas yang berserakan. Sal diam saja. Suara suaminya hanya ditimpali dengung teratur dari api kompor. Ia mengangkut ember yang penuh berisi cucian itu ke halaman sempit mereka. Dahulu, ia akan tersipu tiap kali suaminya mengajukan pertanyaan ini. Karena setelahnya, ia akan menjawab, “aku pernah mendengar cerita tentang hal itu. Tapi mungkin cerita yang kamu dengar berbeda.”
            Lalu suaminya akan menyambutnya dengan sebuah cerita. Dengan sebuah pembukaan yang akan membuatnya jatuh cinta. Kini tanpa jawaban apapun darinya, laki-laki itu cuma termenung menatap kertas yang berhamburan bertuliskan Nirmala berulang-ulang. 
            Sal memeras pakaian itu satu demi satu. Menyaksikan tangan kisutnya dan air yang merembes menghujani tanah yang masih lembab oleh embun. Menjemur baju-baju yang bukan bajunya. Sebagian dari pakaian-pakaian ini adalah milik orang-orang yang ia kenal. Sungguh ganjil, melihat bagaimana pakaian-pakaian ini menjadi bagian dari orang lain ketika mereka memakainya, sementara di tangannya kini ia memeras mereka satu per satu dan menjemurnya di halaman belakang rumahnya sendiri.
           
X
            Nirmala terus menebas belukar yang membelit jantung hutan tanpa menoleh sedikit pun. Sulur-sulur menggelepar dan teriakan yang memanggil namanya semakin nyaring. Satu teriakan membuatnya berhenti, seketika.

XI
            Cucian itu belum semuanya selesai dijemur. Sal, berhenti begitu saja karena mendengar suara teriakan. Teriakan dari suaminya yang memanggil namanya. Untuk pertama kali, setelah sekian lama, laki-laki itu meneriakkan namanya dan bukan Nirmala.
            “Kurasa airnya sudah mendidih,” kata suaminya.
            Sal terpaku. Laki-laki itu bangkit dengan tenang dan membuka rak. Mendapati tupperware penyimpan beras mereka masih kosong, dan hanya menemukan dua bungkus mie instan dan sebutir telur. “Kita sangat miskin,” laki-laki itu tertawa, lalu menyobek bungkus mie. Meremas mie sebagaimana ia biasa melakukannya dan mencelupkannya ke dalam air yang mendidih. 
            “Aku bisa keluar sebentar untuk sekedar membeli beras?” Sal beranjak pelan ke jendela, tak yakin dengan apa yang disaksikannya.
            “Ini masih terlalu pagi. Mana ada kios yang buka,” ujar suaminya santai.
            “Aku bisa menggedor pintu kios mereka?” jawab Sal.
            “Seperti yang dilakukan Nirmala ketika bayi itu direngut darinya?”
            “Ya, seperti itu,” jawabnya, khawatir. “Bagaimana kabarnya sekarang?” Sal meremas kusen jendela.
            “Siapa? Nirmala?” laki-laki itu menatap kosong ke langit-langit sejenak, mengangkat bahu, kemudian berkata, “Dia akan baik-baik saja. Kamu pernah mendengar cerita tentang mawar?”
            Sal menelan ludah. Tak yakin apakah kali ini ia mesti menjawab dengan jawaban seperti biasanya. “Aku menanam beberapa di sini,” katanya kemudian, gugup. Suaminya melirik ke arah rumpun mawar di bawah jendela, di antara Sal dan kusen jendela. “Mereka sudah mulai berbunga,” tambah Sal cepat-cepat.
             Suaminya mengangguk melihat ke arah kuncup mawar yang semakin besar. Sal melihat senyumnya mekar.
            
<><><>

Komentar

Postingan populer dari blog ini

10 Film Asia yang Tak Terlupakan

Sandikala

Film Korea Yang Layak Kamu Tonton