Fiksi#1: Tentang Mawar



I
            Sal tiba di rumah saat muadzin di kampung mulai mengumandangkan azan magribh. Gang sempit yang menjadi jalan masuk mulai gelap. Lampu belum dinyalakan. Ia menarik nafas dalam-dalam dan menahannya, berharap tubuhnya menjadi lebih ramping, perutnya jadi lebih kempis, sehingga dengan dua buntalan besar berisi pakaian kotor di kedua tangannya ia akhirnya bisa menyusuri gang sempit itu
Ini kali pertama ia terpaksa membawa cucian pelanggan ke rumah. Ia menyesali Nurul, anak baru yang belum bisa mengoperasikan mesin cuci itu. Nurul, karena gugup, membuat mesin cuci tua yang sudah dua kali masuk bengkel menggelembungkan busa sampai membanjiri lantai kios binatu. Pakaian-pakaian yang sudah bersih dan siap disetrika juga ikut terendam gelembung sabun. Semua pekerjaan terpaksa dilakukan dua kali. Demi melihat wajah pucat Nurul, karena berpikir telah merusak mesin cuci di hari pertamanya, Sal menawarkan diri untuk membawa sebagian cucian yang tak sempat dicuci hari itu. Sebagai gantinya Nurul akan membayar Sal dengan setengah gaji pertamanya. Separuh yang lain, akan dipotong untuk membayar biaya reparasi.
Nurul tidak mendapat gaji untuk bulan pertama ini. Salah sendiri, dungu! Sal mengumpat sambil meyakinkan diri bahwa bayaran yang didapat dari anak baru itu cukup sepadan.
Satu hal yang terlupa, dan kini mulai diingatnya, sementara ia meraba-raba di belakang mesin air tempat ia biasanya menyelipkan kunci rumah, rumah ini tak memiliki halaman yang cukup luas untuk menjemur semua cucian ini. Yang mereka miliki hanya petak sempit tempat ia berusaha menanam rumpun mawar. Sepanjang tahun ini, belum juga ia berhasil membuat mawar-mawar yang ia tanam di bawah jendela itu berbunga. Jika akarnya yang tak membusuk, daun-daunnya yang digerogoti hama. Sekarang ia khawatir, rembesan air cucian nantinya akan membunuh mawarnya yang kali ini sudah mulai berkuncup.
Ia tak juga menemukan kunci di balik mesin air. Saat meraih gagang pintu, pintu itu terbuka begitu saja. Apakah suaminya sudah pulang? Tidak mungkin ada maling yang begitu putus asa mencoba masuk ke rumah ini. Jika suaminya yang sudah pulang, siapa yang mengantarnya? Sal memasuki rumah didera was-was.
Di dalam gelap. Semua lampu belum dinyalakan. Ia memijit saklar lampu di belakang pintu dan seketika lorong sempit jalannya masuk dibanjiri cahaya remang-remang dari lampu lima watt.
“Sayang?” suaranya merayap di ruang-ruang gelap. Sal menyalakan lampu demi lampu. Saat menyalakan lampu di dapur, yakinlah ia bahwa suaminya sudah pulang. Meja makan mereka berantakan. Berlembar-lembar kertas penuh coretan. Remasan-remasan yang berbentuk bola berceceran di lantai dapur. “Sayang? Kamu sudah pulang?”
Sal memeriksa kamar, tak ada siapa-siapa.
Ia menghempaskan tubuhnya di atas kasur. Bau busuk cucian kotor menyerbunya, bercampur dengan bau apak kasur. Barulah ia sadar, ia masih membawa dua buntalan cucian itu dari tadi. Susah payah ia bangkit kembali dan beranjak ke kamar mandi. Ia berniat merendam semua cucian ini barang dua atau tiga jam dulu, kemudian istirahat sebentar. Nyeri di punggungnya langsung menyengat ketika ia masuk ke jeding. Suaminya tengah berendam di dalam bak mandi.
Kepala laki-laki itu menyembul dari bak. Ia duduk melipat kaki dan, hanya Tuhan yang tahu sudah berapa lama ia merendam diri di situ. “Aku harus menyelamatkan Nirmala,” suaminya bersuara. Tatapannya tertuju pada bibir bak mandi yang sudah mulai berlumut.
Sal tidak berusaha menanggapi. Ia menghampiri ember besar di bawah keran dan memasukkan satu buntalan cucian kotor ke dalamnya. Masih ada satu buntalan lagi, namun ruang yang tersisa dalam ember itu dalamnya tinggal sejengkal saja. Ia memasukkan satu per satu pakaian dari buntalan yang satunya sambil menekan-nekan jejalan pakaian kotor ke dalam ember. Bau busuk bercampur bau rokok dan asam keringat menerpa wajahnya.
“Tadi diantar sama siapa?” akhirnya ia menanyai suaminya. Sambil menyalakan leding, ia memijit-mijit bagian bawah tulang belakangnya yang makin ngilu.  
“Nirmala terancam. Dari dulu terancam, kasihan Nirmala. Semestinya ia tak usah bertemu dengan Labibah. Kasihan Nirmala....”
Sal meninggalkan suaminya yang masih menceracau di kamar mandi. Ia menyalakan mesin air dan dengung mesin air itu menenggelamkan suara suaminya. Kemudian ia beranjak ke dapur dan membuat segelas teh untuk dirinya sendiri. Lembar-lembar kertas di atas meja semuanya bertuliskan Nirmala, Nirmala, Nirmala. Ia yakin, gumpalan-gumpalan kertas yang berserakan di lantai itu juga bertuliskan Nirmala.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

10 Film Asia yang Tak Terlupakan

Sandikala

Film Korea Yang Layak Kamu Tonton