2




II

Setiap kali Nirmala sibuk dengan pikirannya sendiri, selalu saja ada kekuatan ganjil yang menggerakkan tubuhnya yang mungil dan membuatnya beranjak ke hutan. Ia terlalu anggun dan  terlalu ringkih untuk menjadi pengumpul kayu bakar. Namun kuasa ganjil yang menyeretnya hampir-hampir tak bisa dilawan. Ia akan memungut kayu dan ranting lalu memikulnya dengan punggungnya yang mulus seperti porselen. Setiap orang yang berpapasan dan melihatnya memikul begitu banyak kayu, pasti akan mengira punggung itu akan pecah. Tubuh itu akan retak kemudian berhamburan menjadi pecahan-pecahan beling bening yang berceceran di sepanjang setapak sunyi di tengah hutan.
Jika hari hujan, Nirmala akan berteduh di sebuah gedung tua yang sudah lama tak terpakai. Konon dulunya gedung itu adalah pabrik gula. Mengapa gedung itu kini terbengkalai berada di luar pengetahuan Nirmala. Bau manis yang samar-samar, kadang mengambang di udara sementara Nirmala menunggu hujan reda. Bau dari masa lalu ketika pabrik itu masih beroperasi. Aromanya yang seperti karamel disukai Nirmala. Tapi kadang baunya jauh lebih asam, seperti bau spiritus atau bau alkohol. Ini membuat Nirmala berharap hujan cepat-cepat reda. Ia tak ingin terjebak lebih lama, apalagi dengan kemungkinan datangnya Labibah.

III
Sal dibangunkan suara kecipak air. Ia ketiduran di antara berlembar-lembar kertas yang bertuliskan Nirmala. Semula ia mengira kecipak air itu suara hujan. Rupanya berasal dari bak penampungan yang sudah penuh. Ia buru-buru mematikan mesin air. Gang kecil yang menjadi jalan masuk ke rumahnya sudah tergenang, seakan baru saja hujan lebat. Dinding rumah tetangganya yang tinggi dan memunggungi rumah mereka juga basah tersiram luapan air. Pasti ia ketiduran lama sekali. Sal menyesali diri. Spontan ia memeriksa angka yang tertera di kilowatt. Pulsa listriknya tinggal dua digit. Ia mendesah, kesal pada dirinya sendiri yang telah menghamburkan banyak listrik hanya untuk menggenangi gang.
Kini gang itu seperti lorong keemasan. Cahaya lampu lima watt meleleh di sekujur tubuh gang yang basah. Ia teringat ketika jalan masuknya dulu tak seperti lorong tikus begini. Dinding yang membatasi rumahnya dengan rumah tetangga tak sampai setinggi dada. Lalu ia teringat akan gadis cantik bernama Lastri, tetangga mereka, yang akan berteriak memberitahu kalau air sudah penuh. Kadang Lastri sendiri yang memijit saklar mematikan mesin. Teringat pula ia akan waktu-waktu sore yang mereka habiskan bergosip, atau saling meminjami gula, atau bumbu, atau kadang duit, melalui tembok yang saat itu tak seberapa tinggi.
Kemudian Lastri pindah. Ia diboyong Rusli ke luar pulau.
Tetangga baru yang hanya dikenalnya lewat senyum dingin membangun rumah tiga lantai. Memunggungi rumah mereka dengan dinding yang dibangun seperti tebing. Tiap kali Sal berjalan masuk ke rumahnya, ia merasa seperti hewan purba yang melata di dasar jurang. Kemudian suaminya mulai gila.
Adakah semua ini berhubungan? Sal bergegas ke kamar mandi karena teringat suaminya. Ia lega mendapati bak mandi itu sudah kosong. Mungkin suaminya sudah keluar. Mungkin ke warung kopi, mungkin ke pos ronda, menceracau dan membuat para pemuda yang jam segini bermain kartu itu terhibur. Tak apalah.
Ember yang berisi cucian dari binatu masih bergeming di bawah leding. Air rendamannya sudah mulai kecoklatan. Ia mengambil dengklek kemudian duduk mengucek cuciannya.
Adakah semua ini berhubungan? Tak lama setelah Lastri menikah, suaminya mulai gila? Tangan Sal yang mengucek cucian bergerak terlalu cepat. Sampai suara krek menyadarkannya. Ia telah merobek bagian leher sebuah kemeja. Jantungnya seketika dingin dijilati es. Ia bayangkan kalau gajinya bulan ini akan dipotong juga. Tapi ia bisa melimpahkan kesalahan ini pada Nurul nantinya. Sal menelan ludah yang tersangkut di kerongkongan. Pahit.
Biar si lugu itu tahu kepahitan hidup, batinnya. Biar ia mendapat pelajaran.
Selanjutnya, ia memeras satu per satu cuciannya dengan tenang seperti memelintir leher ratusan ekor kelinci.

IV
Nirmala memiliki kebiasaan menghabiskan waktu berlama-lama di depan tungku. Ada atau tidak yang perlu dijerang, ia akan menyusun kayu bakar di dalam tungku dan mulai membakarnya. Kehangatan yang menerpa lutut dan wajahnya membuat dirinya tenang. Kayu-kayu yang meretih dilalap api akan membuatnya berpikir. Menggembungkan satu pertanyaan yang sering menyeretnya ke tepian pengetahuannya sendiri. Pertanyaan tentang dirinya, tentang api; apa gerangan api itu sebenarnya? Mengapa benda jingga yang menjilat-jilat kayu itu menari kemudian menyisakan abu?
Atau tentang apa saja.
Kemudian pertanyaan itu akan terus tumbuh seperti belukar yang menjulurkan sulur-sulur, yang akan menyeret tubuhnya ke dalam belantara. Ia butuh lebih banyak kayu bakar. Maka ia pun bangkit dari depan tungku dan pergi menyusuri hutan. Memungut kayu dan ranting, memilah yang basah dan kering. Tersesat seharian di dalam hutan dan tersesat seharian di dalam pikirannya.
Kadang pikiran-pikirannya itu demikian nyata. Setiap pertanyaan-pertanyaan itu memiliki suaranya sendiri. Nirmala akan berbaring di antara rimbunan pakis, matanya nanap menatap jauh ke atas, ke langit-langit hutan, sementara pikirannya berterbangan seperti ribuan ekor serangga yang gelisah. Pikiran-pikiran itu saling bicara. Berbisik-bisik dalam bisikan angin dan dedaunan. Adakah suara-suara ini cuma hayalannya saja? Dan dari manakah semua hayalan ini berasal?
Jikalau suara-suara itu ia biarkan, kian lama mereka akan bertambah riuh. Mengalahkan derik serangga di rawa-rawa. Mengalahkan kebisingan kawanan babun yang berebut teritori. Nirmala akan menarik nafas teratur, menenangkan diri sebelum keributan di dalam kepalanya membuatnya terguncang.
Dalam ketenangan, Nirmala berusaha mengenali kata-kata yang dibisikkan oleh pikiran-pikiran itu. Sayup-sayup, yang bisa ia kenali dari bisikan itu adalah namanya. Seperti ada yang berusaha menggapainya lewat bisikan-bisikan itu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

10 Film Asia yang Tak Terlupakan

Sandikala

Film Korea Yang Layak Kamu Tonton