Orang-Orang Bloomington



Judul: Orang-Orang Bloomington
Penulis: Budi Darma
Penerbit: Noura Books
Cetakan I 2016

Setelah membaca Rafilus, saya jadi penasaran untuk membaca karya-karya Budi Darma yang lain. Beberapa mudah ditemukan. Di perpustakaan ataupun di toko buku. Yang satu ini lumayan sulit. Adanya malah di perpustakaan yang saya tidak bisa membuat kartu anggota di sana. Well, setidaknya Orang-Orang Bloomington diterbitkan lagi (terbitkan yang Olenka juga dong).

Apa yang membuat saya tertarik dengan tulisan Budi Darma adalah keanehannya. Orang-orang Bloomington memang tidak seaneh Rafilus, tapi yah, tetap saja aneh. Buku kumpulan cerita ini berisi tujuh buah cerpen yang berlatar kota Bloomington. Tempat Budi Darma pernah menempuh pendidikan.

Laki-laki Tua Tanpa Nama
Kumpulan ini dibuka oleh sebuah cerpen berjudul Laki-laki Tua Tanpa Nama. Dibuka dengan si narator yang bercerita tentang dua orang tetangganya, Nyonya Nolan dan Nyonya Casper. Sementara memerinci pengamatannya terhadap kehidupan dua tetangganya ini, si ‘saya’ menuntun perhatian kita pada seorang laki-laki misterius yang tinggal di loteng Nyonya Casper. Laki-laki ini sering mengacung-ngacungkan senjata dan mengancam akan menembak si ‘saya’.

Belakangan kita tahu laki-laki tersebut adalah veteran perang dengan masa lalu teragis. Ia kemudian sering muncul di tengah kota dan mengacung-ngacungkan senjatanya kepada setiap orang dan sempat menjadi berita karena dianggap mengganggu ketertiban. Yang paling menarik dari cerita ini tentu saja akhirnya yang tidak terduga dan meninggalkan si ‘saya’ dalam keadaan bingung. Sepanjang cerita kita dibuat tertipu oleh salah satu janda (naratornya sendiri juga tertipu). Sayangnya cerita-cerita yang lain juga  meninggalkan naratornya dalam situasi kikuk semacam ini. Mungkin karena itu, cerita yang paling saya sukai adalah cerita yang disajikan pertama.


Tokoh-tokoh Yang Paranoid dan Sakit
Banyak karakter dalam kumpulan cerpen ini menderita penyakit tertentu. Sementara yang lainnya menderita paranoid dan tersiksa oleh paranoia tersebut. Kadang karakter utamanya terlalu ingin ikut campur urusan orang lain. Penulisnya bisa dengan dingin mencela karakter-karakter dalam cerita ini habis-habisan. Bisa dibilang, yang ditampilkan lewat cerita ini adalah sisi-sisi gelap karakternya (dan mungkin sisi-sisi gelap kita juga).


Best Quote
“Janganlah mengurusi kepentingan orang lain dan janganlah mempunyai keinginan tahu tentang orang lain,”
(Pesan Ny Mc Millan di halaman 2)


.

Komentar

  1. Wah pasti perpustakaan luar kota ya. kota mana tuh?
    Surabaya kapan? Hhaha

    Tau ironi komen ini terhadap postingan sampeyan ini?

    BalasHapus
  2. Ironi sama best quote-nya ya? Hahaha
    Di Surabaya ada perpustakaan Bank Indonesia ya? Hasil dari Googling, tempatnya keren :)

    BalasHapus
  3. Haha iya
    Iya, ada mas. Deket kebun binatang surabaya itu. Tempatnya keren sih keliatannya tp jam buka nya cuma hari kerja rasanya, aku pernah kesana tp tutup jadi cuma nongkrong di cafe sebelahnya situ

    BalasHapus
  4. Baru beli buku ini bulan kemarin.
    Belum baca. Masih segel 🙈

    BalasHapus

Posting Komentar