Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2017

Amphibi; chapter 4

chapter 4
Aku dibangunkan oleh denting keras dari ujung ruangan. Denting yang sama yang membuat Lagne bergegas menutup semua jendela kemarin sore. Profesor itu tidak terlihat di tempat tidurnya. Dipan yang berada di dekat jendela sudah rapi. Dari jendela itu pula aku melihat tubuh bungkuknya tengah beraktifitas di halaman yang mulai terang.
Lagne tengah berjongkok di depan sebuah kotak kayu dan terlihat sibuk mencatat sesuatu.
“Aku sedang mempertimbangkan untuk menanam lontar,” terangnya.
“Andai saja Anda menceritakan itu dalam surat Anda. Di Area 12 tanaman itu tergolong melimpah.”
“Atau tanaman palem. Apa saja yang berdaun cukup lebar untuk ditulisi. Aku perlu menghemat stok kertas yang kumiliki. Namun pertama-tama aku harus meyakinkan tanaman itu tak akan membawa racun.”
Aku nyaris mengatakan kalau mencari tanaman yang tidak terinfeksi sama saja mencari seekor burung yang masih hidup. Sekarang aku teringat akan Filo yang berjanji akan mengirimiku surat untuk menceritakan perkemban…

Amphibi; Chapter 3

chapter 3

Malam itu Lagne mencegahku keluar dan memberiku sejumlah pekerjaan agar bisa mengisi waktu.
Untuk makan malam ia kembali menghidangkan limp. Melihat dari usianya kupikir cukup wajar jika ia mengalami ketakutan berlebihan mengkonsumsi makanan.
“Pasti kamu mengira hidup kami yang panjang ini membosankan,” Lagne seperti membaca pikiranku. “Kalau diukur dari makanan, memang. Namun kami merasa wajib menjalani hidup yang cukup panjang. Mencari tahu bagaimana mengembalikan tempat ini seperti semula.”
Aku menunggu ia bercerita tentang sejarah pil-pil itu, namun ia sepertinya terlalu asik dengan pekerjaannya. Yang kutahu, dunia lama dulunya merupakan dunia yang jauh lebih kaya dengan sumber daya alam. Semangkuk sup sama sekali bukan sebuah kemewahan.
“Aku dan temanku pernah mencari lokasi sebuah perpustakaan,” aku mencoba mengisi kekosongan yang membuat suasana terasa kikuk.
“Hmm,” balasnya singkat. “Aku pun dulu begitu. Semacam jalan pintas untuk memahami bumi ini. Meneruskan …

Amphibi; Chapter 2

Chapter 2
Tuan Krol menunjukkan jam di atas pintu masuk sebelum aku menuju rumah professor Lagne. Jam empat sore. 
“Sebaiknya kamu menyewa sebuah arloji,” pesannya.
Kota Q termasuk kota yang paling lembab. Beratap mendung hampir sepanjang tahun membuat penduduk di sini kesulitan memastikan waktu. Aku pernah mendengar sekilas sejarah tentang kota ini. Dulunya daratan tempat kota ini dibangun adalah dasar sebuah bendungan raksasa. Sebagian besar air itu menguap dan menjadi awan berkepanjangan yang mengatapi kota Q. Di masa-masa awal kota ini dibangun terdapat hewan amphibi yang melimpah sebagai sumber makanan bagi para penduduk pertama. Namun keberlimpahan itu kemudian disusul wabah penyakit yang mematikan. Pemerintah kota mencurigai hewan-hewan yang hidup di dua tempat itu sebagai sumber petaka. Mereka memusnahkan semua jenis hewan amphibi dan mengadakan diet ketat dengan makan tanpa asupan protein. Lalu kurang dari satu tahun, mereka semua musnah oleh serangan wabah serangga.
Setiap p…

PUING

chapter 1

Aku tengah berdiri di antara lemari dan pintu kamar mandi. Membayangkan waktu semacam api yang tak terlihat di dalam tubuh. Membakar usia yang kita punya sampai jatah nafas itu habis dan tubuh kita menjadi sesuatu yang kering dan keriput. Namun jika benar seperti itu, mestinya ada yang menjadi abu saat manusia mati. Aku tak mendapatkan pengandaian yang lebih tepat dan kupikir aku terlalu muda untuk memikirkannya. Jadi kugeser lemari itu dari depan pintu kamar mandi. Kuletakkan persis di samping jendela agar udara dari luar membunuh jamur yang mulai tumbuh pada sisi belakang lemari. Suatu hari aku akan membuat rumusan yang bagus pikirku. Saat itu aku belum sadar kalau aku tengah mengacaukan pengertian antara waktu dengan kematian. 
Setelah lemari dipindah, dengan cara tertentu kamarku terasa lebih lapang. Buku-buku yang berantakan kujejalkan di bawah meja. Selimut yang semula membentuk gundukan di ujung tempat tidur itu kulipat. Pakaian-pakaian yang tergantung di belakang pin…

Amphibi

chapter 1
Aku lupa memeriksa jam saat tiba di kota Q. Mestinya seseorang mengingatkanku kalau waktu sangat dihargai di sini. Berhari-hari sesudahnya aku sangat direpotkan oleh pertanyaan yang nyaris sama, "jam berapa kamu tiba di sini?”

Tuan Krol, si pemilik penginapan adalah orang pertama yang menanyaiku. Aku tidak siap ketika diberondong pertanyaan yang lebih menyerupai introgasi daripada basa-basi selamat datang itu. Setelah mengingatkan agar selalu memeriksa waktu, Krol mempersilahkanku menyusuri koridor di lantai satu dan dua dan memilih sendiri kamar yang ingin kutempati.

Pintu-pintu kamar yang belum ditempati dibiarkan terbuka. Setiap jendela di dalam kamar masih tertutup. Ketika dibuka memang tak ada pemandangan yang menarik selain dinding dari bangunan di sebelah yang lebih tinggi. Aku memilih kamar di lantai satu yang paling dekat dengan pintu keluar-masuk. Barang-barangku kuletakkan di ujung tempat tidur dan masih terlalu lelah untuk memasukkannya ke dalam lemari. Jend…