Amphibi; Chapter 2

Chapter 2

Tuan Krol menunjukkan jam di atas pintu masuk sebelum aku menuju rumah professor Lagne. Jam empat sore. 

“Sebaiknya kamu menyewa sebuah arloji,” pesannya.

Kota Q termasuk kota yang paling lembab. Beratap mendung hampir sepanjang tahun membuat penduduk di sini kesulitan memastikan waktu. Aku pernah mendengar sekilas sejarah tentang kota ini. Dulunya daratan tempat kota ini dibangun adalah dasar sebuah bendungan raksasa. Sebagian besar air itu menguap dan menjadi awan berkepanjangan yang mengatapi kota Q. Di masa-masa awal kota ini dibangun terdapat hewan amphibi yang melimpah sebagai sumber makanan bagi para penduduk pertama. Namun keberlimpahan itu kemudian disusul wabah penyakit yang mematikan. Pemerintah kota mencurigai hewan-hewan yang hidup di dua tempat itu sebagai sumber petaka. Mereka memusnahkan semua jenis hewan amphibi dan mengadakan diet ketat dengan makan tanpa asupan protein. Lalu kurang dari satu tahun, mereka semua musnah oleh serangan wabah serangga.

Setiap penduduk di kota Q saat ini adalah keturunan penduduk gelombang ke dua. Yang datang lebih belakangan setelah semua serangga yang mendiami tempat ini surut. Mendapati kota Q sebagai kumpulan puing dan tulang belulang. Setiap jengkal tanah di kota ini merupakan kuburan penghuni pertama. Jika seseorang menggali secara acak, kurang dari tiga meter mereka akan menemukan tengkorak para pemakan amphibi itu. Sebagai bonus para penduduk gelombang ke dua mendapat lahan yang subur untuk bercocok tanam. 

Satu-satunya kendala mereka adalah minimnya sinar matahari. 

Seorang laki-laki tua agak bungkuk terlihat sedang memeriksa arlojinya di depan sebuah rumah. Dari cirinya aku yakin dialah Profesor Lagne. “Kenapa kamu memilih datang sesore ini?” tanyanya was-was. “Waktumu tidak banyak. Sepertinya malam ini kamu terpaksa menginap di sini.”

Rumahnya terdiri dari satu buah ruangan yang cukup luas. Aku menduga tempat ini dulunya semacam gudang. “Jam berapa kamu tiba di sini kemarin?” ia mengajukan pertanyaan yang membuatku kembali gelagapan. 

“Sekitar jam tujuh,” jawabku. Usai introgasi panjang dengan Tuan Krol kemarin, kami pun sepakat kalau aku tiba sekitar jam tujuh. 

“Sekitar?” tanyanya ragu sambil mengitariku. “Silahkan duduk.”

Di atas meja terdapat sebuah limp. “Makanan zaman sekarang tidak bisa dipercaya,” terang Lagne. “Aku hanya mengkonsumsi makanan yang telah diwariskan. Kalau sudah kenyang kamu boleh menyimpan limp itu untuk sarapanmu besok.” Ia kemudian datang membawa segelas air. Di kota yang lembab seperti kota Q segelas air putih bukanlah barang mewah. Aku mengambil benda hijau di atas meja itu dan menyimpannya untuk sarapanku besok. “Sebaiknya dari sekarang kamu menjaga makananmu. Sebisa mungkin steril dari hasil bercocok tanam kota ini. Mereka benar-benar sinting bercocok tanam di atas jasad orang mati.”

“Saya kira penelitian berhubungan dengan pertanian di sini?” tanyaku tak bisa menyimpan rasa kecewa. Aku sudah membayangkan Lagne akan menjamuku dengan semangkuk sup hangat. 

“Tujuan utama penelitianku adalah mencari tahu apa yang membuat penduduk gelombang pertama kota ini terserang wabah. Aku tidak yakin penyakit yang mereka derita saat itu ada hubungannya dengan amphibi. Yang kedua agak klise; amphibi adalah satu mata rantai terpenting dalam evolusi. Jadi kamu bilang kamu mendapat sepuluh ekor di area 12? Kamu belum memberitahuku dari jenis apa.”

Aku mengambil kotak berisi hewan kering itu. “Saya mendapatkan yang dari jenis ini,” kataku.

“Kodok?” Lagne terdengar kecewa.
“Saya membawa dari jenis yang sangat langka. Sebagian bahkan berbulu seperti seekor musang.”

Lagne memperbaiki posisi kaca matanya dan membolak-balik hewan-hewan yang sudah kering itu. “Yang ini jelas bukan seekor amphibi,” ia mengangkat salah satu hewan kering yang kusebut berbulu itu. 

“Tidak mungkin! Saya benar-benar melihatnya hidup di air. Bentuknya memang mirip tikus, tapi mereka membangun sarang di dalam air.”

Lagne mendekatkan amphibi itu sampai ke depan hidungnya. “Ini jelas-jelas mamalia. Ia tidak punya insang yang bisa digunakan untuk bernafas di dalam air.” Lagne kembali membolak-balik hewan itu. “Kecuali kalau pembedahanmu yang kurang hati-hati telah membuat insangnya luput. Makanya aku lebih suka hewan yang diawetkan di dalam cairan,” ia meletakkan kembali hewan itu di atas meja. “Dulu mereka mengawetkan hewan seperti ini untuk mengawetkan ikan kering, tahu.”

Denting keras terdengar dari ujung ruangan. Profesor Lagne bergegas bangkit kemudian menutup semua jendela. “Kamu punya arloji?” tanyanya setelah ia selesai menutup jendela-jendela itu. Melihatku menggeleng ia pun meneruskan, “kalau begitu hewan-hewan ini kutukar semua dengan sebuah arloji.”


Komentar

Postingan populer dari blog ini

10 Film Asia yang Tak Terlupakan

Sandikala

Film Korea Yang Layak Kamu Tonton