Amphibi; Chapter 3


chapter 3


Malam itu Lagne mencegahku keluar dan memberiku sejumlah pekerjaan agar bisa mengisi waktu.

Untuk makan malam ia kembali menghidangkan limp. Melihat dari usianya kupikir cukup wajar jika ia mengalami ketakutan berlebihan mengkonsumsi makanan.

“Pasti kamu mengira hidup kami yang panjang ini membosankan,” Lagne seperti membaca pikiranku. “Kalau diukur dari makanan, memang. Namun kami merasa wajib menjalani hidup yang cukup panjang. Mencari tahu bagaimana mengembalikan tempat ini seperti semula.”

Aku menunggu ia bercerita tentang sejarah pil-pil itu, namun ia sepertinya terlalu asik dengan pekerjaannya. Yang kutahu, dunia lama dulunya merupakan dunia yang jauh lebih kaya dengan sumber daya alam. Semangkuk sup sama sekali bukan sebuah kemewahan.

“Aku dan temanku pernah mencari lokasi sebuah perpustakaan,” aku mencoba mengisi kekosongan yang membuat suasana terasa kikuk.

“Hmm,” balasnya singkat. “Aku pun dulu begitu. Semacam jalan pintas untuk memahami bumi ini. Meneruskan apa yang telah mereka capai,” ujarnya.

“Semuanya pasti jauh lebih mudah.”

“Mungkin,” sahut Lagne cepat. “Mungkin juga sebaliknya. Kita akan mengulang kesalahan yang sama. Kalau aku menemukan sebuah perpustakaan, aku akan menyimpannya rapat-rapat. Semua orang mendambakan sumber pengetahuan.”

“Menurutku jauh lebih baik untuk membiarkannya terbuka. Semua orang bisa mengakses dan kita bisa mencari tahu bersama-sama.”

“Jika saja semua orang di luar sana berpikir seperti itu. Begitu mereka menemukan sebuah buku yang bagus, mereka akan menjualnya kepada Kilma dan menukarnya dengan kematian bagi orang-orang yang ingin mereka singkirkan.” Secara sekilas dalam suratnya ia pernah mengatakan ruang baca yang dimiliki oleh Kilma sangat bersih dan dingin.

“Mengapa Anda berhenti bekerja kepada Kilma?”

Lagne mengabaikan pertanyaanku. “Kita harus menghemat bahan bakar,” ia bangkit dan memadamkan lampu minyak yang terletak di ujung meja. Lagne juga menunjuk lampu minyak di dekatku agar aku segera memadamkannya. Seketika ruangan menjadi gelap. Aku merasa telah mengajukan pertanyaan yang sangat lancang di hari pertamaku bertemu dengannya.

Berkas cahaya dari luar membuat ruangan ini remang-remang. Derik ratusan ekor serangga dari luar sana membanjir masuk.

“Siapa orang yang paling bisa kau percaya dalam hidupmu?” tiba-tiba suara Lagne mengapung di antara derik-derik serangga itu. Dalam keremangan aku melihatnya beranjak ke sebuah dipan yang terletak tak jauh dari meja kerjanya. Benda-benda yang menjadi gelap di sekitar terlihat seperti mahluk-mahluk asing yang menjaga tempat ini.

Aku mencoba mengingat semua orang yang pernah kukenal. “Tidak ada,” kataku.

“Bagus,” jawabnya. Ia terlihat membalik tubuhnya dan tidur menghadap cahaya yang memberkas melalui jendela.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

10 Film Asia yang Tak Terlupakan

Sandikala

Film Korea Yang Layak Kamu Tonton