Amphibi; chapter 4


chapter 4

Aku dibangunkan oleh denting keras dari ujung ruangan. Denting yang sama yang membuat Lagne bergegas menutup semua jendela kemarin sore. Profesor itu tidak terlihat di tempat tidurnya. Dipan yang berada di dekat jendela sudah rapi. Dari jendela itu pula aku melihat tubuh bungkuknya tengah beraktifitas di halaman yang mulai terang.

Lagne tengah berjongkok di depan sebuah kotak kayu dan terlihat sibuk mencatat sesuatu.

“Aku sedang mempertimbangkan untuk menanam lontar,” terangnya.

“Andai saja Anda menceritakan itu dalam surat Anda. Di Area 12 tanaman itu tergolong melimpah.”

“Atau tanaman palem. Apa saja yang berdaun cukup lebar untuk ditulisi. Aku perlu menghemat stok kertas yang kumiliki. Namun pertama-tama aku harus meyakinkan tanaman itu tak akan membawa racun.”

Aku nyaris mengatakan kalau mencari tanaman yang tidak terinfeksi sama saja mencari seekor burung yang masih hidup. Sekarang aku teringat akan Filo yang berjanji akan mengirimiku surat untuk menceritakan perkembangannya. Sudah sampai di mana dia sekarang? “Apakah pengantar pesan mengetahui rumah ini dengan baik?”

“Apa yang kamu maksud sebenarnya?”

“Saya memberitahukan alamat Anda kepada Filo. Kalau-kalau Anda mendapati surat untuk saya. Semoga Anda tidak keberatan.”

Lagne terlihat lega. “Selama yang dikirimnya bukan barang-barang yang membuatku berurusan dengan Kilma. Aku sudah terlalu tua untuk itu.” Ia menutup kembali kotak kayu di depannya. “Kuharap temanmu itu akhirnya menemukan sebuah gudang ilmu. Sebuah ruang baca, atau apa saja yang penuh dengan sumber pengetahuan.”

Ia kemudian menyodorkan sebuah masker kepadaku dan mengajakku menumbuk arang yang tersimpan di dalam sebuah drum. “Jauh lebih mudah membuat tinta daripada kertas,” katanya.

“Kalau punya sebuah mesin cetak pasti jauh lebih mudah.”

“Atau sebuah mesin semacam komputer,” balasnya. “Semuanya dapat disimpan dalam bentuk digital. Tanpa kertas dan tinta, semua dapat tersimpan tanpa menghabiskan banyak ruang. Kita bisa menyimpan sebuah kota berserta isinya dalam sebuah kotak kecil seukuran kelingking.”

“Kedengarannya seperti dongeng.”

“Itu benar-benar pernah terjadi,” Lagne menatap ke arah langit yang mendung. Matanya terlihat berkaca-kaca.

“Saya pernah menemukan sebuah bangkai komputer. Hanya berupa kotak berongga dan sulur-sulur tembaga yang berlapis plastik. Kami menjualnya di pasar gelap kemudian hidup cukup nyaman selama satu tahun dan mendapat sobekan sebuah peta kota yang tertimbun di gurun Garbi. Sayangnya kami tidak bisa menemukan kota itu.”

Lagne cuma mengangguk mahfum.

“Apakah menurut Anda yang dikatakan orang-orang itu benar?”

Ia menghentikan tumbukannya, “soal yang mana?”

“Kalau kita semua yang tertinggal di sini sebenarnya terkutuk?”
Ia menggeleng sambil kembali menumbuk. Kali ini lebih cepat. “Tidak, tentu saja tidak. Kita cuma kurang beruntung. Itu saja.”

“Tidak sedikitpun Anda pernah terpikir kalau kita memang dikutuk?”

“Tidak, tidak, sama sekali tidak,” balasnya cepat. “Kamu tahu apa buktinya? Buktinya adalah limp itu. Mereka mewariskannya agar kita punya waktu untuk memperbaiki semuanya. Sepertinya kamu mendapat gagasan itu dari pertunjukan-pertunjukan yang diadakan oleh Kav dan kawan-kawannya.”

“Saya merasa lebih lega menjalani hidup ini setelah mendengar salah satu ceramah mereka.” Seandainya benar, menurutku tak ada gunanya menyembunyikan kenyataan itu. Di beberapa kota acara yang mereka adakan masih dianggap terlarang. “Jauh lebih mudah untuk membenarkan apa yang mereka katakan. Jadi yah, setelah itu, kami cuma hidup dan mencari kesenangan-kesenangan untuk mengisinya. Mereka membawa sebuah benda yang terlihat sangat menakjubkan.” Sebisa mungkin aku menggambarkan bentuk benda itu dengan tanganku. Lagne sama sekali tidak terlihat terkesan dan terus menumbuk.

“Sedikit lebih luas dari halaman ini. Benda itu dulunya merupakan bagian kecil dari sebuah tempat yang jauh lebih luas. Semacam kapal yang pernah dihuni oleh para pendahulu. Pil-pil yang diwariskan itu adalah makanan yang harus mereka konsumsi selama dalam perjalanan. Menurut saya itu masuk akal. Daripada membawa makanan utuh, tentu mereka menyimpan makanan dalam bentuk kapsul. Mereka mungkin sudah sampai pada teknologi seperti itu.”

“Kemudian mereka memberitahumu kalau bumi yang sebenarnya jutaan tahun cahaya jaraknya dari sini,” sahut Lagne. “Lalu keesokan harinya sejumlah orang yang kamu kenal bunuh diri setelah mendengar ceramah mereka.”

“Yah, sangat disayangkan.”

“Atau memang itulah tujuan sebenarnya. Mereka ingin mematikan harapanmu.” Lagne berhenti menumbuk. Membawa bubuk arang ke dalam ruangan dan memindahkannya ke dalam mangkok. Menumbuknya sekali lagi dengan air dan campuran perekat dari getah pohon. “Ini satu-satunya racun yang bisa kutoleransi,” katanya. Melepas masker yang dari tadi terpasang kemudian menuangkan hasil tumbukannya ke dalam botol tinta.

Usai membantunya membuat tinta, aku memohon izin kembali ke penginapan. Aku lupa kalau aku tak menginginkan arloji sebagai ganti amphibi kering itu.