Amphibi



 chapter 1

Aku lupa memeriksa jam saat tiba di kota Q. Mestinya seseorang mengingatkanku kalau waktu sangat dihargai di sini. Berhari-hari sesudahnya aku sangat direpotkan oleh pertanyaan yang nyaris sama, "jam berapa kamu tiba di sini?”

Tuan Krol, si pemilik penginapan adalah orang pertama yang menanyaiku. Aku tidak siap ketika diberondong pertanyaan yang lebih menyerupai introgasi daripada basa-basi selamat datang itu. Setelah mengingatkan agar selalu memeriksa waktu, Krol mempersilahkanku menyusuri koridor di lantai satu dan dua dan memilih sendiri kamar yang ingin kutempati.

Pintu-pintu kamar yang belum ditempati dibiarkan terbuka. Setiap jendela di dalam kamar masih tertutup. Ketika dibuka memang tak ada pemandangan yang menarik selain dinding dari bangunan di sebelah yang lebih tinggi. Aku memilih kamar di lantai satu yang paling dekat dengan pintu keluar-masuk. Barang-barangku kuletakkan di ujung tempat tidur dan masih terlalu lelah untuk memasukkannya ke dalam lemari. Jendela yang tadi kubuka kututup kembali. Kotak berisi hewan amphibi kering yang telah diawetkan kuletakkan di samping dipan.

Aku berencana istirahat sekitar dua atau tiga jam, lalu keluar dan mencari tempat tinggal Profesor Lagne. Berjanji setelah istirahat aku tak akan mengeluh lagi dan melupakan sama sekali soal introgasi panjang lebar dari Tuan Krol.

Seingatku dalam surat-suratnya Profesor itu tidak terlalu cerewet. Dia ingin tahu lebih banyak soal hewan-hewan yang hidup di dua tempat sekaligus. Dalam banyak surat-suratnya ia menjelaskan kalau amphibi dan aves berasal dari jenis yang sama sekali lain. Juga menerangkan kalau hewan yang bisa terbang bukan berarti ia hidup di langit. Aku meragukan penjelasannya yang terakhir ini. Aku bahkan sudah mempertimbangkan untuk memberitahu Lagne kalau aku pernah melihat seekor burung hidup-hidup. Jenis hewan yang dikira telah punah itu ternyata masih benar-benar hidup.

Aku dan temanku Filo melihat burung itu hinggap di atas batu karang. Hewan yang sangat anggun. Ia mengepakkan sayapnya sesaat sebelum kemudian menekuk tungkainya yang seperti pegas itu. Tubuhnya terdorong ke udara. Ia merentangkan kedua lengannya dan seumur hidupku baru saat itulah aku melihat lengkung sempurna bernama sayap. Kami menyaksikannya terbang berputar di atas kami. Ia mengepakkan sayapnya sekali lagi dan mengeluarkan bunyi kuak lalu menghilang di kejauhan.

Filo menangkupkan jemarinya seperti berdoa dan selama berhari-hari setelahnya ia bersumpah kalau apa yang kami lihat saat itu cuma halusinasi.

Kami sudah terbiasa untuk percaya kalau semua hewan seindah itu telah bermigrasi ke surga. Mungkin Lagne akan langsung melupakan penelitiannya soal amphibi jika aku berhasil meyakinkannya soal burung yang telah kami lihat. Bagaimanapun juga burung kemungkinan dulunya suatu jenis yang mengalami lompatan evolusi tersendiri. Sekarang ini tidak banyak yang bisa dipahami dari sobekan-sobekan kertas yang masih selamat.

Di salah satu lembaran yang berhasil kami temukan, digambarkan seekor burung hinggap di sebuah ranting dan sedang bernyanyi. Kami tak bisa mengenali huruf yang menyertai deskripsi gambar itu. Namun kami yakin betul kalau beberapa lambang berupa bulatan hitam kecil dengan sebuah bendera itu menggambarkan musik.

“Mereka pasti jenis hewan yang sangat maju sekali,” ujar Filo.
“Mungkin ini semacam lembar intruksi yang ditulis langsung oleh mereka.”
“Mereka? Maksudmu burung?”
“Mungkin.”
“Dengan jari-jari seperti ini aku tidak yakin mereka yang membuat huruf-huruf ini.”

Kakinya yang mencengkeram ranting itu memang terlihat mustahil untuk digunakan menulis. “Mungkin saja di balik lengan berbulu ini mereka juga punya jari-jari kecil seperti kita. Seperti kuku-kuku mini pada kelelawar.”

“Menyamakan hewan seindah ini dengan kelelawar adalah suatu penghinaan,” balas Filo seakan ikut terhina oleh persamaan yang kubuat. “Lagipula kelelawar tidak memiliki sayap kecuali selaput yang membentang dari lengan ke tulang rusuknya.”

“Menurutmu, apa yang mereka nyanyikan?"
“Mungkin mereka menyanyikan tentang keindahan masa-masa itu.”

Untuk sesaat kami kembali takjub mengamati gambar seekor burung yang tengah menyanyi itu. Membayangkan kata-kata indah yang mungkin mengalun dari paruhnya yang separuh terbuka. Membayangkan sebuah dunia yang saat itu pasti sangat hijau. Kini di hadapan kami hanya hamparan gurun dan kerikil kemerahan.

“Kudengar jalur ke area 12 sudah mulai dibuka. Kamu bisa menebak apa yang bisa kita temukan di sana?”
“Perjalanan ke sana memakan waktu.”
“Sudah hampir satu tahun kita di sini dan tak ada apa-apa kecuali selembar kertas. Hanya Tuhan yang tahu angin mana yang menerbangkan kertas ini ke sini.”

Filo masih saja yakin kalau di bawah hamparan pasir ini terkubur sebuah kota dengan sebuah perpustakaan besar. Setidaknya itu yang kami simpulkan dari potongan sebuah peta. Itupun kalau pembacaan kami akan peta itu memang benar. “Bayangkan kalau di rawa-rawa itu kamu menemukan sebuah buku? Atau sebuah mikroskop? Bisa kamu bayangkan berapa harganya?”

“Sebuah buku tak ada apa-apanya dengan sebuah perpustakaan.”
“Kalau tidak bisa menemukan harta karun, kita bisa menangkap beberapa ekor kadal untuk kita jual ke Baba Hasim. Berjalan kaki selama satu tahun tidaklah buruk. Lagipula masih banyak jalur yang masih teduh menuju area 12,” bujukku. “Kita juga bisa mendapatkan peta bawah tanah yang dijual para pencari harta karun ke sana di pasar gelap.”

“Pasar gelap? Kamu mau membayar mereka dengan organmu?”
Aku melambaikan kertas bergambar burung itu di depan hidungnya. “Aku tidak bilang kalau kita bisa membelinya. Namun kita bisa mendapatkannya.”

Kenyataannya kami tidak bisa membeli dan juga tidak bisa mendapatkan satupun peta. Filo menyarankan agar aku menukarkan salah satu ginjalku. Aku meyakinkannya untuk menukar bola mata kirinya. Seseorang menyarankan kami mengambil jalur yang biasa saja ke sana. Kemudian melepas kepergian kami dengan mengatakan kalau kami tidak akan hidup lebih dari satu minggu setelah tiba di area 12.

Sekarang aku berada di kota Q dengan sepuluh amphibi kering yang akan kujual ke profesor Lagne. Sebenarnya dia lebih menyukai amphibi yang diawetkan dengan cairan. Namun aku terlalu miskin untuk mengawetkan sepuluh ekor kodok dengan cara itu. Aku juga membawa beberapa sketsa yang sudah dibuat Filo sebagai pelengkap.

Filo sendiri terus bergerak ke timur. Ia menemukan sebuah buku seperti yang didambakannya. Benar-benar sebuah harta karun. Berisi sketsa-sketsa yang memungkinkan Filo melacak tempat hidup manusia yang meninggalkan buku itu. Sangat minim tulisan dan simbol-simbol yang sulit dimengerti. Buku itu tersimpan di dalam sebuah wadah kedap udara. Diikatkan dengan sebuah batu sebagai pemberat dan terbenam di dalam rawa. Kami membayangkan bagaimana orang-orang itu pada menit-menit terakhir menjelang pemusnahan melempar barang-barang berharga ke dalam lautan. Pesan terakhir yang ingin mereka sampaikan agar tetap dikenang.

Komentar