Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2017

Random #1

Sewaktu saya masih kanak-anak (dalam artian jiwa dan raga), lebaran sangat identik dengan es krim. Di masa itu jajanan ini termasuk mewah. Sampai-sampai harus nunggu punya uang saku lebaran untuk membelinya. Juga dengan bakso. Meskipun di rumah, ibu saya (dan ibu-ibu lainnya di seluruh dunia yang merayakan lebaran) sudah mengerahkan usaha terbaiknya membuat makanan terbaik, selalu saja saya (dan anak-anak lainnya di masa itu) mendapat dorongan untuk menghampiri warung tenda yang menjual bakso tak jauh dari masjid. Dari mana para penjual ini tahu kalau kami masih menginginkan makanan yang tidak dimasak oleh ibu kami?

Misteri terbesarnya adalah, kalau seandainya ibu-ibu rumah tangga memasak bakso sebagai menu spesial saat lebaran, apakah warung-warung yang tetap buka pada hari raya akan menjual opor ayam?

Sekarang ini lebaran identik dengan pertanyaan-pertanyaan :P.

Saya selamat dari pertanyaan-pertanyaan itu, namun tidak dengan bakso. Di mana-mana di Jogja hingga hari ke dua lebaran, s…

Amphibi; chapter 8

chapter 8 Begitu masuk, kami langsung mengerti mengapa Krol terlihat panik. Darah merembes di tangga. Semua orang terlihat pucat dan merapat ke dinding. Terlalu takut untuk mengunci diri di dalam kamar, juga terlalu takut untuk mendekati tangga. India menutup mulutnya dan berlari ke kamar. Suaranya yang tengah muntah terdengar sampai ke lobi. Beberapa saat kemudian tercium bau karbol dari aktifitas Majia mengepel tangga. Perempuan lima puluh tahunan itu terlihat tak terpengaruh sama sekali dengan darah yang mengucur dari kain pel.  Salah satu utusan dari pemerintah kota muncul sekitar jam empat. Setelah sibuk mencatat semua yang telah ia lihat, utusan itu menyuruh kami semua berkumpul di lobi. Membuat semua orang yang mendengarnya semakin pucat. Meskipun mempunyai alibi, aku tak bisa menyembunyikan kecemasanku. Aku pernah mendengar banyaknya orang-orang yang dihukum untuk kejahatan yang tak mereka lakukan. Bahkan hingga detik ini, kami tidak tahu siapa yang mati di lantai atas. India t…

Amphibi; chapter 7

chapter 7
Aku berpapasan dengan India dalam perjalanan kembali ke penginapan. Gadis itu tengah mengikuti garis besi yang melintang setengah terbenam di tanah. 
“Sudah menemukan petunjuk untuk sampai ke istanamu?” tanyaku.
India mengangkat bahu. “Aku tak terlalu berharap banyak di sini. Istana itu tidak terlihat seperti di dalam sebuah lembah. Coba kamu lihat ini,” dengan kakinya ia mengetuk-ngetuk garis yang terbuat dari besi itu. “Sudah cukup lama aku memperhatikan benda ini.”
“Mungkin ini bekas rangka bangunan,” aku ikut mengetuk garis besi itu. “Dulunya tempat ini bekas bendungan. Setelah dinding penahan airnya runtuh, bisa jadi besi-besi dan material yang lebih padat bertahan lebih lama.”
“Oh ya, tentu saja! Aku bodoh sekali tak terpikirkan sampai ke situ,” India terlihat kecewa. “Aku sudah menghabiskan banyak waktu menyusuri garis-garis ini. Sempat juga mengira kalau garis-garis ini garis yang sama dengan yang kita temukan di jalur bawah tanah.”
“Itu cuma dugaanku. Kalau kamu in…

Amphibi; chapter 6

chapter 6

Aku urung menunjukkan lembaran itu kepada India karena sampai jam makan siang selesai ia tak juga muncul. Kertas ini kubawa saat pergi ke rumah Profesor Lagne. Kuharap dengan pengetahuannya Lagne bisa memberitahuku apa yang dikatakan tulisan di bawah ilustrasi ini. Selama lebih dari dua tahun sejak kami mendapatkannya, gambar burung yang bertengger di ranting ini sudah menjadi semacam obsesi. Filo dapat dengan mudah melupakannya begitu menemukan sebuah buku penuh sketsa. Ia mendapatkan sebuah tempat untuk ditemukan. Seperti India yang telah menemukan sebuah bangunan untuk dicari.
Pintu rumah Lagne sedikit terbuka saat aku tiba. Ia tengah menunduk menyayat salah satu amphibi berbulu yang kuberikan kemarin. “Aku semakin yakin kalau hewan ini dari jenis mamalia. Selaput di kakinya memang sangat mirip pada kaki-kaki yang dimiliki amphibi. Namun hewan-hewan dari jenis aves yang hidup di lingkungan berair pun setahuku juga punya selaput macam ini,” ujarnya. “Berita baiknya, aku be…

Amphibi; chapter 5

Chapter 5

Tuan Krol tidak terlihat saat aku tiba di penginapan. Sempat aku melirik jam dinding saat menuju kamar. Sudah pukul sembilan. Mendung membuat waktu seakan belum beranjak sejak aku mendengar denting keras di rumah profesor. Barang-barangku yang masih tersimpan di dalam kopor kukeluarkan dan kutata di dalam lemari. Keran di kamarku ternyata macet. Membuatku terpaksa mengetuk pintu kamar sebelah. Saat itu Tuan Krol belum juga terlihat. 
“Kalau kamu punya keluhan sebaiknya kamu menuliskannya di papan keluhan. Di dekat meja resepsionis.” Perempuan tetanggaku itu bernama India. Belakangan ia kemudian menjelaskan kalau namanya terkait dengan sebuah anak benua di dunia lama. 
“Aku sedang mencari cara untuk sampai ke lokasi negeri itu dulunya berada.”
“Kamu sudah punya peta untuk tiba di sana?” Setiap kali menyebut kata peta aku tidak bisa menyimpan semangatku. Rasanya selalu ada tempat yang perlu dikunjungi meski pada akhirnya yang kami temukan cuma dataran kering atau kawah berbatu…