Amphibi; chapter 5


Chapter 5


Tuan Krol tidak terlihat saat aku tiba di penginapan. Sempat aku melirik jam dinding saat menuju kamar. Sudah pukul sembilan. Mendung membuat waktu seakan belum beranjak sejak aku mendengar denting keras di rumah profesor. Barang-barangku yang masih tersimpan di dalam kopor kukeluarkan dan kutata di dalam lemari. Keran di kamarku ternyata macet. Membuatku terpaksa mengetuk pintu kamar sebelah. Saat itu Tuan Krol belum juga terlihat. 

“Kalau kamu punya keluhan sebaiknya kamu menuliskannya di papan keluhan. Di dekat meja resepsionis.” Perempuan tetanggaku itu bernama India. Belakangan ia kemudian menjelaskan kalau namanya terkait dengan sebuah anak benua di dunia lama. 

“Aku sedang mencari cara untuk sampai ke lokasi negeri itu dulunya berada.”

“Kamu sudah punya peta untuk tiba di sana?” Setiap kali menyebut kata peta aku tidak bisa menyimpan semangatku. Rasanya selalu ada tempat yang perlu dikunjungi meski pada akhirnya yang kami temukan cuma dataran kering atau kawah berbatu. Aku bahkan sudah siap meninggalkan Profesor Lagne untuk sebuah petualangan. 

India menggeleng. “Aku punya sebuah kartu pos!” 

Aku menahan diri untuk menanyakan apa yang ia maksud dengan kartu pos sampai India merogoh ke bawah bantal. Mengeluarkan sebuah lembaran bergambar bangunan serba putih. Terdapat tulisan INDIA dalam huruf kapital di tengah-tengah. “Bayangkan kalau kamu bisa menemukan bangunan ini!”

“Terlihat seperti istana.”

“Menurutku juga begitu.” India membalik foto itu dan menunjukkan tulisan yang ada di belakangnya. Tercetak tulisan berwarna abu-abu yang menjelaskan mengapa India menyebutnya kartu pos. Terdapat tulisan tangan dari bahasa dunia lama. Nampaknya dulu orang-orang saling bertukar foto semacam ini. Sebagian tulisan itu sudah terhapus dan hanya dapat dibaca beberapa kalimat.

“Ini jelas-jelas sebuah alamat,” kataku.

“Benar! Si pengirim sedang berada di istana ini. Mengambil foto kemudian mengirimkannya kepada si penerima kartu pos.” 

“Kemudian kamu diberi nama berdasarkan tulisan di kartu pos ini?” Mulai sekarang aku harus membiasakan diri menyebut kata ‘kartu pos’ . 

“Perawat di penampungan yang menamaiku,” jawabnya singkat. Ia kembali menyelipkan kartu pos itu ke bawah bantal. “Saat akhirnya aku menemukan kartu pos ini, apakah menurutmu semuanya cuma kebetulan?” kedua pupilnya membesar. 

“Kamu beruntung,” kataku. 

Tuan Krol muncul saat aku baru saja selesai menulis keluhanku di papan keluhan. Selain Tuan Krol, ada Majia, seorang perempuan di usia akhir lima puluhan yang bertugas membersihkan ruangan setiap pagi dan sore. 

“Kalau ada urusan yang mendesak untuk diselesaikan, kamu juga bisa hubungi Majia. Ia tinggal tepat di belakang penginapan ini. Putranya juga bekerja paruh waktu di sini. Kamu bisa menemuinya saat jam makan.” 

Perempuan itu menunduk patuh. “Anda bisa bertemu Sadri saat jam makan siang nanti,” ujar Majia sebelum mengundurkan diri. 

“Sebaiknya sebelum jam lima kamu sudah mengisi bak mandi sampai penuh. Di atas jam enam seisi kota menyalakan keran serentak. Sulit mendapatkan air pada jam-jam itu,” terang Tuan Krol. “Juga untuk jaga-jaga saat pemerintah kota menghemat air. Mereka akan menghentikan pengiriman air secara total selama berhari-hari. Jadi pastikan bak air di kamar mandimu selalu penuh.”

“Untuk kota yang lembab seperti Q, ternyata kelangkaan air bisa terjadi.”

“Tentu saja. Di hari-hari seperti itu kami akan menjalani hidup seperti orang-orang di kota S,” Krol meluruskan kedua telunjuknya kemudian menggoreskannya di depan mata. “Kalau perlu makan kamu bisa ke kantin di sebelah barat bangunan ini.” 

Keran yang telah diperbaiki itu segera kunyalakan untuk memastikan aku tak akan mengalami kelangkaan air seperti yang dikatakan Krol. Sambil menunggu bak itu penuh, aku mencari-cari di antara barang-barangku kertas bergambar burung yang dulu kutemukan bersama Filo. Benda-benda berharga kami simpan dalam kotak kedap udara. Sebagian dibawa oleh Filo bersama buku catatan penuh sketsa yang ia temukan. Sebagian lagi kubawa ke sini.

Lembaran itu masih dalam kondisi baik. Aku mematikan keran di kamar mandi kemudian beranjak ke kantin. Karena India sudah menunjukkan kartu pos itu, aku pikir tidak ada salahnya aku menunjukkan gambar yang kutemukan bersama Filo ini kepadanya. Kantin terlihat sepi. Hanya ada seorang laki-laki yang tengah menyiapkan peralatan makanan. Ia pasti Sadri anak laki-laki Majia yang diceritakan Krol. 

“Makanan akan datang jam dua belas,” ujar Sadri saat aku mendekat. 

“Aku tidak tahu kalau ada jadwal untuk itu.”

“Semua jadwal sudah tertulis di papan dekat meja resepsionis,” balasnya masam. 

Aku memilih salah satu kursi yang terletak di pojok ruangan dan menunggu sampai jam makan tiba. “Kukira kalian membuatnya sendiri.”

“Sejak wabah misma tidak ada lagi orang yang membuat makananya sendiri,” terang Sadri. Kali ini suaranya terdengar lebih ramah. “Kamu benar-benar baru tiba di kota ini, ya?” 

“Aku baru tiba kemarin. Tidak banyak yang kuketahui selain wabah yang disebabkan amphibi itu.”

Sadri selesai menjejerkan piring makanan di atas bangku. “Ini tidak sama seperti wabah itu,” jawabnya sambil menghilang di balik pantri. Ia muncul kembali membawa kain pel dan mulai mengepel lantai dari ujung ruangan. “Wabah yang itu telah membuat semua penghuni pertama menjadi pupuk,” lanjutnya. “Wabah misma datang lebih belakangan. Membuat semua anak yang terlahir di masa itu menderita rabun dan sensitif terhadap cahaya.”

“Setidaknya di sini selalu mendung,” balasku.

“Namun itu membuat kami tak bisa keluar dari kota ini,” sahut Sadri. Ia melihat keluar dan terpaku sejenak. Sekelompok orang terlihat memasuki halaman penginapan. “Makanan sudah datang,” ujarnya, lalu kembali menunduk mengepel lantai.