Amphibi; chapter 6



chapter 6


Aku urung menunjukkan lembaran itu kepada India karena sampai jam makan siang selesai ia tak juga muncul. Kertas ini kubawa saat pergi ke rumah Profesor Lagne. Kuharap dengan pengetahuannya Lagne bisa memberitahuku apa yang dikatakan tulisan di bawah ilustrasi ini. Selama lebih dari dua tahun sejak kami mendapatkannya, gambar burung yang bertengger di ranting ini sudah menjadi semacam obsesi. Filo dapat dengan mudah melupakannya begitu menemukan sebuah buku penuh sketsa. Ia mendapatkan sebuah tempat untuk ditemukan. Seperti India yang telah menemukan sebuah bangunan untuk dicari.

Pintu rumah Lagne sedikit terbuka saat aku tiba. Ia tengah menunduk menyayat salah satu amphibi berbulu yang kuberikan kemarin. “Aku semakin yakin kalau hewan ini dari jenis mamalia. Selaput di kakinya memang sangat mirip pada kaki-kaki yang dimiliki amphibi. Namun hewan-hewan dari jenis aves yang hidup di lingkungan berair pun setahuku juga punya selaput macam ini,” ujarnya. “Berita baiknya, aku belum pernah melihat hewan jenis ini. Suatu hari saat risetku mengenai amphibi ini selesai aku mungkin akan mendalami lebih jauh soal hewan ini.”

Aku kemudian menanyainya apa saja yang bisa kukerjakan hari itu. Juga menanyakan apakah ada pengantar pesan yang membawa surat dari Filo untukku. 

Lagne memberikan berkas bahan penelitiannya untuk kupelajari terlebih dahulu. Kemudian menunjukkan sebuah tempat dari gerabah yang terletak di dekat pintu. “Pengantar pesan sudah mengenali benda ini. Mereka akan memasukkan benda apa saja yang dikirimkan untukku ke sini dan kamu boleh memeriksa sendiri sebelum masuk,” ujarnya. “Surat-surat yang ditujukan kepadaku bisa kamu letakkan di meja kerjaku.” 

Aku merogoh ke dalam gerabah itu dan menemukan beberapa surat. Semuanya ditujukan kepada Lagne. “Saya punya pertanyaan untuk Anda. Tapi mungkin sebaiknya nanti saat Anda sudah selesai.”

“Ada kaitannya dengan kota ini?”

“Tidak. Ini mengenai sebuah gambar yang kutemukan.”

“Bisa kulihat sekarang?” Lagne melepas kaca mata dan meraih lembaran yang kusodorkan. “Aku tidak begitu yakin, tapi bisa jadi ini salah satu lembaran dalam buku kumpulan cerita untuk anak-anak,” terangnya.

“Menurut Anda siapa yang menuliskannya?”
 “Sepertinya tak tercantum di sini,” Lagne membolak-balik lembaran itu. 
 “Sayang sekali bahasa ini terlihat sangat kuno.”
“Kadang saya berharap bisa bertemu dengan orang yang mengenal bahasa dari dunia lama.”

Lagne mengetuk-ngetukkan ujung penanya di atas meja. “Aku tidak yakin kalau dia masih hidup. Orang-orang yang meneliti naskah kuno harus melakukannya sembunyi-sembunyi. Mungkin kamu pernah mendengar ceritanya.”

“Apapun nampaknya berbahaya kalau berurusan dengan buku. Apalagi benda temuan dari masa lalu.”

“Tidak, yang kumaksud benar-benar sebuah cerita,” Lagne menggeser kursinya. “Di dunia lama manusia terdiri dari berbagai macam ras, kau mungkin sudah tahu itu. Yang mungkin belum kamu tahu adalah bahasa yang digunakan manusia saat itu sangat berlainan satu sama lain. Seseorang dari kota Q belum tentu bisa berkomunikasi dengan seseorang dari kota O,” Lagne bangun dari kursinya dan mendekati sebuah laci di sudut ruangan. Tepat di samping sebuah jam dinding besar yang baru kali ini kusadari keberadaannya. Kemungkinan suara berdenting yang membangunkanku kemarin berasal dari jam dinding itu.

Lagne mengangguk mahfum, “Jam ini sudah lebih dulu di sini. Dia telah menjadi bagian dari bangunan ini. Kembali ke soal bahasa tadi,” Lagne mengeluarkan sebuah buku yang tak begitu tebal dari dalam laci. Sampulnya yang berwarna kecoklatan terlihat mewah bergambar menara. “Singkatnya, jauh sebelum itu manusia pernah memiliki bahasa yang sama. Mereka membangun sebuah menara untuk mencapai langit.”

“Untuk apa?”

Lagne terbatuk, “untuk menjumpai Tuhan,” jawabnya cepat. “Sebelum menara itu selesai, Tuhan menghancurkannya dan membuat manusia terpencar. Mereka kemudian hidup dengan bahasa yang berbeda-beda. Sejak itu pula manusia tidak mampu bekerja sama. Perang di kemudian hari kerap disulut oleh permasalahan bahasa ini,” Lagne kembali terbatuk. “Bayangkan kalau suatu hari mereka mampu menyusun kembali bahasa persatuan. Tidak hanya sebagai rangkaian bunyi atau kata untuk mengutarakan pikiran mereka. Bahasa ini benar-benar menyatukan apa yang mereka lihat dan rasakan. Lebih mengerikan lagi, mereka sepertinya sampai pada bentuk komunikasi yang dapat menyatukan keinginan mereka. Manusia tak lebih dari seekor semut dalam suatu koloni.”

“Kedengarannya seperti Kilma dan kelompoknya.”

“Kamu tahu, perkembangan bahasa sangat mirip dengan proses evolusi,” lanjut Lagne. “Kata-kata baru bermunculan menggantikan bentuk-bentuk kata yang lama. Saat ada bahasa baru yang jauh lebih menguntungkan, secara natural bahasa-bahasa lama ditinggalkan dan dibiarkan menjadi fosil. Itu terjadi secara alamiah dan tak ada yang bisa menyangkal hal itu. Namun dalam evolusi selalu ada mutasi. Ada deviasi. Selalu ada sebagian orang yang tidak ingin melepaskan bahasa lama ini. Mereka tidak menolak sepenuhnya bentuk komunikasi yang baru itu, namun mereka menyadari bahayanya jika keterhubungan tersebut menghapus sekat-sekat individu. Selalu ada orang-orang yang ingin mempertahankan bahasa-bahasa lama ini. ”

“Dan kawan Anda ini termasuk kelompok orang itu.”

Lagne menarik nafas panjang, “Tidak. Kami berasal dari generasi yang jauh lebih belakangan. Namun kalau dia hidup di masa itu, aku yakin dia termasuk orang-orang yang disingkirkan atau terdaftar dalam pemusnahan massal.”

“Rasanya saya mulai mengerti mengapa mencari benda-benda di area 12 sangat beresiko.”

“Kamu boleh meminjam buku ini,” ia menyodorkan buku bergambar menara di sampulnya itu. “Ini juga dulunya buku cerita untuk anak-anak. Tidak banyak kalimat yang dipakai. Jadi kamu bisa memahaminya dengan mudah.”

“Kilma tahu Anda menyimpan buku ini?”

Lagne terkekeh, “Gudangnya benar-benar dingin. Kilma menyimpan apa saja seperti menyimpan makanan. Ia mengira suhu nol derajat satu-satunya cara untuk mengawetkan benda berharga. Beberapa bahkan terpaksa kuambil untuk menyelamatkan buku-buku ini.”

“Beberapa,” ulangku. Lagne tiba-tiba menjelma dari seorang laki-laki tua serius menjadi seorang penyelundup.

“Aku juga menyimpan beberapa kamus,” Lagne menempelkan jari telunjuk di depan bibirnya yang kini terkatup.

<>