Amphibi; chapter 7

chapter 7

Aku berpapasan dengan India dalam perjalanan kembali ke penginapan. Gadis itu tengah mengikuti garis besi yang melintang setengah terbenam di tanah. 

“Sudah menemukan petunjuk untuk sampai ke istanamu?” tanyaku.

India mengangkat bahu. “Aku tak terlalu berharap banyak di sini. Istana itu tidak terlihat seperti di dalam sebuah lembah. Coba kamu lihat ini,” dengan kakinya ia mengetuk-ngetuk garis yang terbuat dari besi itu. “Sudah cukup lama aku memperhatikan benda ini.”

“Mungkin ini bekas rangka bangunan,” aku ikut mengetuk garis besi itu. “Dulunya tempat ini bekas bendungan. Setelah dinding penahan airnya runtuh, bisa jadi besi-besi dan material yang lebih padat bertahan lebih lama.”

“Oh ya, tentu saja! Aku bodoh sekali tak terpikirkan sampai ke situ,” India terlihat kecewa. “Aku sudah menghabiskan banyak waktu menyusuri garis-garis ini. Sempat juga mengira kalau garis-garis ini garis yang sama dengan yang kita temukan di jalur bawah tanah.”

“Itu cuma dugaanku. Kalau kamu ingin tahu lebih banyak soal kota ini, kamu bisa bertanya ke Profesor Lagne.”

“Kamu berteman dengan seorang Profesor?”

“Aku baru mengenalnya. Untuk sementara aku akan bekerja kepadanya sampai aku menemukan—”

“Dari jenis yang resmi?”

“Resmi?”

“Kau tahu, jenis orang-orang yang terdaftar. Yang tidak akan membuatmu berurusan dengan Kilma. Bukan jenis penyendiri yang merencanakan sesuatu yang berbahaya.”

“Dia terdengar seperti kedua-duanya,” jawabku. “Tapi aku yakin dia tidak termasuk orang yang merencanakan hal-hal berbahaya. Setahuku dia juga tidak menyukai Kav dan kelompoknya dan dia juga pernah bekerja dengan Kilma, jadi yah, kurasa dia cukup resmi” 

“Akan kupikirkan,” balasnya. Kedua tangannya ia masukkan ke saku jaket. Sepertinya ia tidak membawa kartu bergambar India itu. Kini aku teringat gambar yang kutemukan dengan Filo. Aku terlalu bersemangat dengan buku yang dipinjamkan Lagne kepadaku dan sama sekali lupa kalau kertas itu tertinggal di meja kerja Profesor. Namun menunjukkan buku yang dipercayakan kepadaku oleh Lagne ini juga kurasa sangat berbahaya. 

“Apa yang akan kamu lakukan setelah menemukan India?”

“Tidak tahu,” jawabnya polos. “Mungkin aku akan bahagia,” tambahnya.

“Saat ini kamu tidak bahagia?”

“Lebih bahagia dari saat ini,” jawabnya cepat. “Mungkin aku akan menemukan kartu pos lain, atau gambar lain, atau apa saja yang bisa kucari. Atau mungkin aku akan kembali ke K dan menjadi pengasuh di panti penampungan tempatku dilahirkan dulu. Kamu tidak terlihat seperti lahir di penampungan,” tebaknya.

“Aku punya saudara yang kupanggil Filo. Kadang aku tak begitu yakin dia benar-benar saudaraku, tapi kami saling menganggap begitu. Di penampungan kamu pasti punya lebih banyak teman yang kamu anggap saudara.”

“Seperti keluarga besar! Kami punya ibu pengasuh bernama Magi. Dia menyukai bahasa-bahasa lama dan menamai kami satu-satu dengan nama-nama tempat dari dunia lama. Saudara seusiaku adalah; Kenya, Berlin, Macau, Argentina, Jakarta, dan aku; India!” India membuat lompatan kecil saat menyebutkan namanya. “Orang-orang agak takut kepada Magi. Dia juga menyimpan sebuah buku yang dulu mereka sebut kitab suci. Pada waktu-waktu tertentu ia terdengar berbisik membaca kitab itu di depan jendela.”

“Kamu membuatku ingin segera ke kota K. Jika Magi memang menguasai bahasa dunia lama, dia mungkin bisa membantuku membaca sebuah lembaran yang kutemukan bersama Filo.”

“Sebuah manuskrip? Sebelum kamu menemui Magi, kamu juga perlu tahu kalau dia termasuk orang kepercayaan Kilma di K. Pastikan kalau kamu sudah mempersiapkan jawaban-jawaban untuk semua pertanyaan yang mungkin.”

“Itu Info yang sangat penting sekali, terima kasih. Itukah yang menjadi alasanmu meninggalkan K?”

“Usiaku sudah melewati batas ijin tinggal di penampungan tentunya. Selain itu aku mencoba mencari pekerjaan yang cocok denganku. Pekerjaanku dulu persis seperti Majia, namun penginapan yang kami kelola jauh lebih besar. Sampai aku menemukan kartu pos ini tertinggal di bawah bantal salah seorang pengunjung.”

“Kemudian kamu merasa menemukan sebuah tujuan hidup,” tebakku.

“Kamu belum menceritakan alasanmu kemari,” balasnya.

Kami tiba di gerbang penginapan. Tuan Krol terlihat mondar-mandir gelisah di koridor. Majia mengekori di belakangnya dengan kain pel dan sebuah ember.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

10 Film Asia yang Tak Terlupakan

Sandikala

Film Korea Yang Layak Kamu Tonton