Amphibi; chapter 8


chapter 8
 
Begitu masuk, kami langsung mengerti mengapa Krol terlihat panik. Darah merembes di tangga. Semua orang terlihat pucat dan merapat ke dinding. Terlalu takut untuk mengunci diri di dalam kamar, juga terlalu takut untuk mendekati tangga. India menutup mulutnya dan berlari ke kamar. Suaranya yang tengah muntah terdengar sampai ke lobi. Beberapa saat kemudian tercium bau karbol dari aktifitas Majia mengepel tangga. Perempuan lima puluh tahunan itu terlihat tak terpengaruh sama sekali dengan darah yang mengucur dari kain pel
 
Salah satu utusan dari pemerintah kota muncul sekitar jam empat. Setelah sibuk mencatat semua yang telah ia lihat, utusan itu menyuruh kami semua berkumpul di lobi. Membuat semua orang yang mendengarnya semakin pucat. Meskipun mempunyai alibi, aku tak bisa menyembunyikan kecemasanku. Aku pernah mendengar banyaknya orang-orang yang dihukum untuk kejahatan yang tak mereka lakukan. Bahkan hingga detik ini, kami tidak tahu siapa yang mati di lantai atas. India terlihat paling tegang. Ia berdiri di dekat pintu masuk, di antara dua tamu lain dengan tubuh berciri khas utara yang membuat India lebih tersembunyi di antara mereka. 
 
Sebelum laki-laki utusan pemerintah kota itu selesai menginterogasi, dari gerbang penginapan terlihat seorang laki-laki dengan figur yang sangat mirip dengan Tuan Krol. Kecuali pakainnya yang terlihat jauh lebih licin serta kain yang tersampir melindungi lehernya dari udara dingin kota Q, ia sangat mirip dengan si pemilik penginapan. Ia mendekati utusan itu lebih dulu sebelum mendekati Krol. Terlihat berbisik cukup lama di telinganya, kemudian mengacungkan ibu jari ke arah Krol, lalu berbalik dan pergi. Ia tak melirik sedikit pun ke arah manusia-manusia yang tegang menunggu interogasi di lobi. 
 
“Semuanya sudah jelas,” ujar utusan pemerintah kota itu sambil memasukkan polpennya ke saku kemeja dan mengangguk ke arah Krol. Buku notes yang ia gunakan untuk mencatat dari tadi ia kepitkan di antara ketiaknya. Wajahnya terlihat tak begitu senang, namun akhirnya pergi juga dan meninggalkan kami dalam keadaan lega. Semua orang kembali ke kamar masing-masing tanpa repot-repot menanyakan apa yang terjadi berikutnya. India kulihat bergegas masuk ke kamar. Semua orang tahu, laki-laki yang mirip Krol tadi utusan Kilma. Apapun yang terjadi di lantai atas bukan urusan kami dan sebaiknya tak mempersulit diri dengan bertanya lebih jauh. Aku kembali ke kamar dan merasa hari ini jauh lebih panjang dari biasa. Saat berbaring dan siap-siap tidur, aku tersadar kalau buku yang dipinjamkan Lagne kepadaku masih tersembunyi di balik sweaterku. 
 
Kupastikan pintu kamar sudah terkunci sebelum membuka buku bersampul menara itu. Halaman pertamanya berisi tulisan singkat dari huruf-huruf kuno. Di halaman berikutnya terlihat manusia-manusia dalam berbagai warna kulit tengah merundingkan sesuatu. Di atas sekelompok manusia itu terdapat sebuah bukit dengan awan yang mengitari puncaknya. Di bawah tertera tulisan yang menceritakan apa yang tengah mereka rundingkan. Meski tak mengenali bahasanya, namun dari ekspresi tiap figur yang dibuat oleh si ilustrator, mereka sepertinya mengalami perundingan yang cukup sulit.

Kubuka balik halaman berikutnya yang berisi lebih banyak tulisan dan gambar ilutrasi kecil sekelompok orang tengah menggotong sebatang pohon yang jauh lebih besar dari ukuran mereka. Sulit membayangkan di masa lalu pernah ada pepohonan dalam ukuran itu. 

Sebuah ketukan di pintu kamar membuatku terkesiap. Buku itu kulemparkan ke bawah tempat tidur, dan membuka sedikit pintu. Tuan Krol berdiri menutup semua pemandangan dengan tubuhnya. “Kita perlu berbicara sebentar,” ujarnya.

“Sedikit saja,” suara orang lain terdengar dari balik Tuan Krol. Saat pintu itu kubuka lebih lebar, aku mendapati laki-laki utusan pemerintah itu berdiri di belakang Krol. Tangannya terlipat di dada dan masih memegang notes yang ia gunakan untuk mencatat keterangan saat introgasi tadi. “Aku tidak akan mengintrogasimu, karena aku tahu kamu seharian di rumah Lagne,” ujar laki-laki itu. Di balik lengannya yang terlipat di depan dada tertera nama dari seragam resmi yang masih ia kenakan; Gaba. Namanya terdengar seperti orang-orang dari kota S. Aku mempersilahkannya masuk dan membiarkannya menyisiri ruangan sejenak. “Menurutku ruangan ini yang paling pas,” ujarnya. Bukan ke arahku, melainkan ke arah Krol yang masih berdiri di pintu. 
 
“Aku harap kamu tidak keberatan untuk memberikan kamar ini kepada Gaba,” Tuan Krol berbicara langsung kepadaku.

“Maaf?”

“Sebagai gantinya kamu menempati kamar di lantai atas. Majia sudah membersihkan semuanya. Seekor lalat pun tak akan tahu kalau pernah ada yang mati di situ,” Krol tertawa dingin, berusaha bercanda di balik ketegangannya. 

“Saya kira tadi semuanya sudah jelas.” 

Gaba terlihat tak senang mendengar kata-kataku. “Yang tadi memang sudah jelas. Namun aku akan tinggal di sini beberapa hari untuk membantu Tuan pemilik penginapan ini,” balasnya dengan kalimat yang berusaha terdengar sopan. 

Aku merasa tak ada gunanya berdebat ketika aku hanya tamu yang baru menempati kota ini beberapa hari saja. Mungkin Krol ingin memata-matai setiap tamunya untuk memastikan bisnisnya aman. “Saya mungkin butuh beberapa menit untuk membereskan barang-barang saya dulu,” kataku akhirnya. Untungnya mereka berdua mengerti dan meninggalkanku sendirian selama beberapa saat. Tidak dibutuhkan banyak waktu untuk menyiapkan semuanya dan pindah ke lantai atas. Ke kamar yang menjadi tempat pembunuhan. Kamar yang lain sudah terisi dan mungkin menjadi satu-satunya penyebab mengapa Krol menyediakan kamar ini sebagai ganti kamarku. 
 
Aroma pembersih lantai menguar begitu aku memasuki ruangan. Semuanya terlihat terlalu rapi dan terlalu bersih. Seprai yang dipasangkan Majia jauh lebih putih. Setiap debu seakan telah disingkirkan dari ruangan ini. Aku memasuki kamar mandi dan menyalakan keran. Masih dihantui ketegangan kalau di salah satu tempat di dalam ruangan ini kaki tangan Kilma telah menghabisi seseorang. Di mana letak jasadnya? Aku berusaha menepis bayangan itu, namun setiap sudut terlihat sebagai tempat yang mungkin di mana sebuah tubuh pernah terbaring bersimbah darah. Berapa banyak yang dihabisi hingga darahnya merembes sampai ke tangga?
 
Rasa lelahku seharian ini menguap begitu saja. Seleraku untuk membuka kembali buku dari Lagne menghilang. Saat berbaring, ada dua hal yang menggangguku. Pertama, sebuah tulisan yang sepertinya luput dari pemeriksaan Gaba. Kedua, aku merasakan ada sesuatu yang mengganjal dari dalam kasur. Seakan ada benda yang cukup keras diselipkan ke dalamnya. Mestinya Majia menyadarinya saat membereskan kamar ini. Mungkin juga setelah memasang seprai, ia tak repot-repot berbaring untuk menguji apakah kasur ini cukup nyaman atau tidak. Aku menarik seprai sampai terbuka dan mendapati kain penutup kasur yang kusam. Tak ada jejak darah yang menunjukkan kalau ia dibunuh di atas tempat tidur. Sementara tulisan hitam yang ada di langit-langit sepertinya dibuat menggunakan arang. Hanya terdiri atas satu kata: PEMBELOT.