Amphibi; chapter 10


chapter 10


Delapan menit terasa menghimpit. Aku mengitari kamar tanpa ide. Saat Krol mulai terdengar menyusuri lorong dan mengetuk setiap pintu kamar, begitu saja aku melemparkan buku itu ke bawah tempat tidur. Krol muncul dan mengatakan sarapan sudah siap. 

Kantin terlihat lebih berantakan dari sebelumnya. Sebagian orang sudah antri mengambil makanan saat dari gerbang terlihat anak buah Kilma mulai berdatangan. Saat itu pula aku tersadar kalau kolong bawah tempat tidur akan menjadi tempat pertama yang mereka periksa. Sambil memikirkan alasan yang akan kukatakan nanti, aku memasuki antrian dan mengambil nampan dan peralatan makan. Kami jauh lebih berisik dari sebelumnya. Beberapa terlihat tetap berdiri bergeming menatap antrian. Ada juga yang terlihat mondar-mandir seakan tengah diburu sesuatu. Di dekat meja panjang tempat makanan disajikan terlihat ceceran makanan dan kuah. Orang-orang menjadi lebih ceroboh dan selalu saja ada benda yang terjatuh.

Seorang perempuan dengan kikuk meminta permisi saat menyerobot antrian. Ia telah mengambil dua sendok sekaligus dan berniat mengganti salah satunya dengan garpu. Saat mengambil garpu ia menumpahkan semua kateleris. Tangisnya pecah dan dengan gugup memungut satu per satu benda yang tercecer di lantai. India kulihat orang pertama yang mendekati perempuan itu yang disusul kemudian oleh orang-orang di sekitarnya. Mereka menuntunnya ke meja dan membiarkan perempuan itu menyelesaikan tangisnya.

Kantin menjadi lebih tenang. Seakan perempuan itu telah menghisap semua ketegangan kami dan meledakkannya dalam satu tangisan. Antrian yang sempat kacau kembali tertib. Aku mengambil makananku secepat mungkin dan menuju sebuah kursi yang masih kosong di meja India. 

“Jadi benda apa yang kamu ‘selamatkan’?” India bertanya ke arah perempuan itu sambil menekan pundaknya. Ketegangan yang dimiliki India sudah tak terlihat kini. 

“Cuma beberapa perhiasan yang kami warisi turun-temurun,” ia terlihat susah payah menelan makanannya. 

“Kamu membawa sikat gigi!” suara India terdengar antara takjub dan heran. Ia menunjuk ke tangan kiriku yang menggenggam sebuah sikat gigi sementara tangan kananku menggenggam sendok. Aku bahkan tidak ingat kapan aku mengambil benda ini di kamar tadi. Sekarang aku tersadar akan kebodohanku. Krol memberi kami delapan menit untuk ‘menyelamatkan’ benda-benda berharga kami, bukan menyembunyikannya. Jika ada tempat yang paling aman untuk buku itu saat ini, tentu saja dengan membawa buku itu di balik pakaianku. Aku tidak mengatakan apa-apa karena tidak tahu harus mengatakan apa-apa. Kembali aku melahap makananku dan memikirkan apa yang akan kukatakan kepada kaki tangan Kilma nanti kalau mereka menemukan buku itu. 

“Kamu pasti membawa kartu pos itu,” ujarku akhirnya menemukan kata-kata. Mencoba menikmati kata ‘kartu pos’ meluncur dari mulutku sendiri.

India mengangguk. “Aku mungkin tak akan kesulitan kalau seandainya mereka menemukannya,” jawabnya. “Tapi untuk benda yang harus kuselamatkan dalam waktu delapan menit, aku tak bisa memikirkan hal lain.”

“Boleh kulihat?” perempuan itu tiba-tiba menyela. Tangannya masih terlihat gemetar saat meletakkan sendok di atas piring. 

India mengeluarkan kartu pos itu dan meletakkannya di atas meja. “Seseorang memberitahuku kalau namaku sama dengan nama tempat ini,” India menggoreskan jarinya di atas tulisan itu. 

Perempuan itu mengambilnya dan meneliti sejenak. “Hmm,” ia bergumam seperti memikirkan sesuatu. “Agak ganjil,” katanya. 

“Ini pertama kalinya aku mendengar seseorang menganggap istana ini ganjil.” 

“Bukan dengan bangunan itu, tapi dengan kartunya. Bangunan itu bernama Taj Mahal. Sejatinya itu sebuah makam,” balasnya masih dengan suara gemetar. “Yang mengherankan adalah huruf yang tertulis di situ menggunakan huruf yang kita pakai sekarang. Itu artinya kartu ini dicetak belum lama.” 

“Aku tidak percaya ini sebuah makam,” tepis India.

“Aku tak mempelajari terlalu banyak soal bangunan-bangunan di dunia lama. Jadi mungkin juga pengetahuanku yang salah,” balas perempuan itu seakan meminta maaf.

India masih membolak-balik kartu itu tak percaya. “Kamu benar,” katanya kemudian. “Saat menemukan kartu ini pertama kali, aku cuma takjub mendapati tulisan ini sama dengan namaku.” India kembali memasukkan kartu itu ke sakunya dan melahap makanan. Suaranya terdengar kecewa seakan menyadari kebenaran yang sudah lama luput dari perhatiannya. Ia kemudian tak terlihat ingin menjelaskan kepada perempuan di sampingnya bagaimana dia mendapatkan kartu itu. 

Untuk beberapa saat kami menyibukkan diri dengan makanan kami. Sampai kemudian aku merasakan ada tepukan di punggungku. Tuan Krol memberitahu kalau mereka ingin bicara denganku. Makanan di atas meja belum habis. India menunduk. Ia tak mengangkat kepalanya sedikit pun dari atas piring dan saat itu kupikir adalah waktu terakhir kali aku melihatnya. 

“Kamu tak perlu khawatir,” Krol berusaha menghiburku. “Aku sudah menceritakan alasan mengapa kamu menempati kamar itu.”

Di dalam ruangan sudah ada dua orang laki-laki dengan perawakan seperti Gaba.

“Benda apa yang kamu bawa?”

Aku mengangkat sikat gigi yang masih kugenggam dari tadi. “Sikat gigi!” jawabku, seolah-olah mereka tak akan mengenali benda itu. Mereka memintaku meletakkannya di atas meja. Salah seorang memeriksanya sesaat kemudian meletakannya kembali.

“Kenapa?”

“Saya sedang ingin menyikat gigi….”

“Kamu tidak menyimpan benda-benda mencurigakan di kamarmu?”

Seketika aku menggeleng.

“Kami menemukan sebuah benda yang akan membuatmu kesulitan. Kau mau membahasnya?”

“Ada tulisan di atas tempat tidur,” kataku.

“Kami yang menulisnya.”

“Anak ini tidak mengerti,” kawannya berbisik. Mereka kemudian berbicara seolah-olah aku tidak ada di ruangan itu. “Saat yang lain sibuk menyembunyikan barang berharga yang dia pikirkan hanya menyikat gigi.”

“Itu justru mencurigakan.”

Kawannya menunjukkan sebuah berkas sambil menggeleng. 

Laki-laki itu kemudian menangkupkan kedua telapak tangannya di atas meja. 

“Apa yang membawamu ke kota ini?”

“Saya bekerja kepada Profesor Lagne. Tiba di sini pukul empat sore dua hari yang lalu.”

Laki-laki itu mencibir, seakan sudah tahu jawabanku.

“Saya menjual beberapa ekor amphibi yang saya temukan—”

“Kalian anak-anak muda yang kebingungan dengan hidup. Mengais-ngais di area 12 dan menjual bangkai hewan.” ia memeriksa berkas dari kawannya. Membolak-balik halaman seakan sangat bosan. Kemudian dengan satu tepisan, ia menggunakan berkas di tangannya untuk mengusirku keluar dari ruangan.
Aku sudah tak berselera untuk meneruskan makanan yang tadi kutinggalkan di kantin. Keluar dari ruangan itu aku langsung menuju tangga. Begitu masuk ke kamar aku memeriksa barang-barangku dan menyadari tidak ada yang hilang. Benjolan yang semalaman mengganggu sudah tidak terasa. Aku meraba permukaan kasur itu dan menyadari kalau mereka telah mengambilnya. Buku yang dititipkan oleh Lagne juga sudah tidak ada. Mungkin mereka menganggap penghuni sebelumku yang menyembunyikan buku itu.

Sikat gigi itu masih kugenggam. Keran masih menyala dan membuat air di bak luber membasahi lantai di dekat pintu kamar mandi. Aku bergegas mematikan keran dan dikejutkan oleh suara India. 

“Mereka tidak membawamu,” ujarnya lega. Ia kini berdiri di pintu kamar.
Aku masih terlalu bingung untuk menaggapi.

“Dia membawa perempuan itu,” tambahnya.

“Siapa?”

“Perempuan yang menumpahkan semua sendok di lantai kantin. Mereka mencurigainya karena sangat gugup. Aku bahkan belum menanyakan namanya.”

“Mungkin dia akan dibebaskan setelah interogasi,” kataku.

“Mereka langsung membawanya ke halaman belakang penginapan.” India bergerak menuju jendela dan menyingkap tirai. “Kamu akan tetap di kota ini?” tanyanya, menutup kembali tirai itu dalam satu sentakan.

“Aku tidak tahu. Aku perlu menemui Lagne terlebih dahulu.” 

Terdengar tiga buah letusan. 

Kemudian seluruh penginapan menjadi sangat sunyi.