Amphibi; chapter 11

chapter 11

Hingga sore orang-orang di penginapan malas berbicara. Kalaupun terlihat sibuk mengemas barang, mereka melakukannya tanpa banyak berkata-kata. Beberapa tamu sudah mulai menyerahkan kunci kepada Krol tanpa basa-basi kemudian meninggalkan penginapan. Dalam perjalananku ke rumah Profesor, udara kota Q terasa jauh lebih dingin. Mendung yang menggantung di langit lebih pekat dan terasa akan ada badai. Terdengar juga bisik-bisik orang sekitar kalau ini ada hubungannya dengan tiga manusia yang mati di penginapan pagi tadi. 
 
Sebelum masuk aku menyempatkan diri memeriksa sebuah gerabah besar di dekat pintu. Tak ada surat atau benda kiriman apapun. Pintu depan rumah Lagne tidak terkunci. Aku mengetuk beberapa kali sampai kudengar ia berdehem dari dalam dan mempersilahkanku masuk. Kali ini Lagne bersandar di atas sofa yang membelakangi meja kerja. Tubuhnya terlihat lebih ringkih dibalut selimut. 
 
Kamu masih hidup,” suaranya merambat di dalam ruangan yang hangat. “Tutup pintunya!”

Setelah menutup pintu aku mulai memperhatikan kalau di atas meja terdapat setumpuk buku.

“Mereka mengambil buku itu,” aku langsung teringat dengan buku yang ia percayakan kepadaku kemarin.

Lagne cuma menggeleng. “Tolong tutup jendela-jendelanya,” tambahnya. 

Jendela-jendela itu sebenarnya sudah tertutup. Namun mungkin Lagne ingin aku memastikan daun-daun jendela itu sudah terkunci. Kudekati jendela-jendela itu dan kali ini yakin kalau sejak pagi tak pernah dibuka. Di luar, kotak kayu tempat Lagne menyimpan sampel tanah mulai dihujani gerimis. 

“Mereka keliru membunuh seseorang,” suara Lagne kini nyaris tenggelam di antara suara hujan yang mulai turun. “Ini sudah terlalu sering terjadi. Aku belum menemukan bahasa yang digunakan pada lembaran yang kamu temukan itu. Tapi aku menemukan alamat Skith,” Lagne menjulurkan tangannya dari balik selimut. Meraba-raba di antara buku dan mengeluarkan sebuah amplop. “Kuharap dia masih hidup. Kalau ingin berkirim surat dengannya, kita harus melakukannya dengan hati-hati. Kamu pernah menunjukkan kertas ini kepada orang lain selain aku dan temanmu itu?”

“Kami pernah mencoba menukarnya di pasar gelap sebelum kami ke area 12.”

Aku ingat raut wajah pedagang itu saat kami menyodorkan kertas ini. Ia tidak memasang wajah mencibir atau meremehkan untuk menegaskan apa yang tengah kami coba tukar tidaklah berharga. Namun dia juga menolak menukarnya dengan perbekalan. Satu tahun sebelumnya, saat menukar bangkai sebuah komputer, pedagang itu menyambut kami dengan cara yang jauh lebih baik.

“Jika mereka menolaknya bisa jadi kertas ini aman. Atau kita bisa membicarakan hal itu di dalam surat yang akan kita kirim nanti. Katakan saja para pedagang di pasar gelap menggunakannya sebagai pembungkus bohlam lampu tua yang kau tukar dengan sekotak korek api. Intinya kita tahu lembaran ini tidak berguna tapi tetap saja kita penasaran.”

“Akan kucoba,” kataku. “Apakah Kilma memang membaca setiap surat yang keluar-masuk di kota ini?”

“Mereka memperkerjakan sekelompok orang untuk melakukan hal itu. Saat seusiamu, Skith pernah ditugaskan bersama mereka. Dia yang paling tahu bagaimana caranya menyampaikan apa yang ingin kamu sampaikan tanpa ketahuan," Lagne berhenti sejenak, "Atau bilang saja aku merindukannya. Aku sedang menata ulang barang-barangku dan tak sengaja menemukan alamat rumahnya. Ceritakan kalau otakku yang mulai pikun tak ingat apa-apa lagi yang tertulis di lembaran ini. Tapi aku ingat kalau ini salah satu cerita yang dulu sering kami baca saat masih anak-anak di penampungan. Jauh sebelum gadis bernama Magi itu muncul dengan gigi kelincinya.” Lagne tersenyum saat menyebut nama yang terakhir. Aku mengambil lembaran kertas yang sudah disiapkan Lagne di atas meja. Menatap kertas kosong itu dan tak tahu mesti memulai dari mana. Suara lancang dalam kepalaku bertanya mengapa bukan Lagne saja sendiri yang menulis untuk teman lamanya itu.

“Gadis bernama Magi yang Anda sebut ini sama dengan ibu pengasuh di rumah penampungan kota K?”

“Kamu mengenalnya? Ya, ya, ya kurasa tidak sedikit yang mengenalnya sekarang. Dia pun menguasai beberapa bahasa kuno, tapi tidak ada apa-apanya jika dibanding Skith.”

Saya harap Skith masih hidup,” sahutku.

“Kita harus mencari tahu, kita harus mencari tahu,” ujar Lagne berulang. Di luar hujan mulai deras. Profesor itu menarik selimut yang membungkus tubuhnya sedemikian rupa hingga ia terlihat seperti berlindung di dalam sebuah kepompong.

Aku mencobac mulai menulis perkenalan singkat mengenai aku yang sedang bekerja kepada Lagne. Menulis bahwa saat ini kawannya itu dalam kondisi yang cukup baik dan tengah melakukan penelitian terhadap amphibi.

Lagne memintaku membacakan paragraf pertama yang telah kutulis, kemudian sesudahnya meneruskan dengan bercerita sendiri seakan-akan aku adalah Skith yang tengah duduk satu ruangan dengannya. Aku harus mengikuti kata-katanya yang mengalir cepat karena begitu ia mulai membicarakan tentang wabah misma, ia lupa kalau aku tengah menulis setiap kata yang ia ucapkan. 

“Anda yakin Kilma tak akan mempersoalkan bagian ini?” 

“Sampai di mana aku tadi?” Lagne seperti terbangun dari tidur.

“Tentang pasien bernama Cholula yang membuat Anda memutuskan berhenti bekerja kepada Kilma.”

Lagne melihat ke luar sejenak. Hujan masih deras. “Tidak, jangan. Kamu sudah menuliskan namanya?”

“Saya sudah berhenti menulis sejak lima menit yang lalu,” kataku, memperhatikan kembali surat yang telah kutulis. Huruf-huruf yang berkejaran untuk mengimbangi cerita Lagne malah terlihat sulit dibaca.

“Kalau begitu kita langsung saja bicara soal kertas yang kamu temukan ini. Jangan lupa untuk menuliskan kalau aku menemukannya saat membereskan barang-barangku. Kamu juga perlu menulis ulang huruf-huruf  dalam manuskrip sepersis mungkin agar Skith dapat mengenali dan membacanya.”

Sementara Lagne membaca apa yang telah kutuliskan aku menyalin kembali huruf-huruf kuno itu. Mencoba sebisaku menyalin gambar burung yang menyertainya. Serta bulatan-bulatan kecil yang menyimbolkan musik. Aku teringat akan seekor burung yang hinggap di batu karang di gurun. Sekarang ingatan itu rasanya cuma halusinasi saja, seperti yang pernah dikatakan Filo. Mungkin karena hari-hari yang melelahkan belakangan ini. Mungkin karena apa yang terjadi di penginapan pagi tadi membuat pengalamanku melihat langsung hewan anggun itu kini terasa cuma mimpi. 

Lagne masih terlihat terlalu lelah untuk kuceritakan. Meski saat berbicara tentang Skith dan wabah misma membuatnya semangat kembali. Hari ini nampaknya ia memilih untuk tidak bekerja. Berlindung di balik selimut sambil memeriksa tumpukan buku-buku berdebu yang sudah lama tersembunyi di suatu tempat di ruangan ini.

“Berapa besar kemungkinan hewan-hewan yang sudah dianggap punah ini  ternyata masih hidup?”

Ia mengangkat kepalanya sejenak dari buku-buku itu. Diam sesaat untuk berpikir, “Tidak terlalu banyak,” katanya. Seperti mengingat sesuatu ia pun meneruskan, “pengalamanku bekerja kepada Kilma memberitahuku kalau banyak sekali yang mereka sembunyikan. Bahkan ketika aku hanya beberapa langkah untuk mencapai Kilma. Ada hewan-hewan liar yang justru dapat hidup bebas di wilayah-wilayah perbatasan. Di masa perang wilayah ini menjadi tempat yang paling rentan. Namun di masa damai yang panjang, saat dua kekuasaan saling menunggu untuk menyerang, wilayah demarkasi militer ini menjadi tempat yang nyaman untuk hewan-hewan ini hidup. Area 12 yang pernah kalian kunjungi itu, kamu mungkin sudah tahu kalau sebelum perang besar area itu dulunya lautan luas yang menjadi zona nyaman untuk berbagai spesies laut hidup. Di masa belakangan saat laut itu surut dan menjadi kawah berisi genangan, area itu menjadi tempat favorit penguasa untuk melenyapkan manusia.”

“Pantas saja tempat itu penuh tulang-belulang. Sekelompok orang kulihat mulai bermukim di tepian area itu. Mereka mulai bercocok tanam seperti yang dilakukan orang-orang gelombang ke dua di sini.”

“Area itu memang dibuka untuk dijadikan kota seperti Q. Kemungkinan Kilma akan membentuk semacam pemerintah kota seperti di sini sebagai barang mainan. Seperti apa langitnya di sana?”

“Terik, seperti di gurun. Beberapa wilayah malah tidak boleh disentuh karena belum aman. Hanya orang-orang Kilma yang diijinkan memasuki tempat-tempat itu.”

Lagne mengangguk seperti memahami sesuatu. “Kilma sepertinya berusaha mencari jalur menuju kota-kota yang tertimbun. Dia sudah menyerah menemukan O."

"O?"

"Peta-peta yang kalian temukan dengan harga murah itu sengaja disebarkan Kilma dengan perubahan di sana sini. Dia menjaga kemungkinan di antara para pencari seperti kalian ada yang akhirnya menemukan kota itu.”

Denting dari jam dinding di ujung ruangan menutup percakapan kami. Di luar hujan sudah mulai berhenti. Aku bangkit dari tempat duduk dan menyalakan lampu.