Amphibi: chapter 9


Chapter 9

Baik Krol maupun Gaba sama sekali tidak terkejut saat aku bergegas memberitahu mereka soal tulisan di langit-langit kamar baruku. 

“Majia kesulitan membersihkan tulisan itu,” ujar Krol. Ada nada malu dalam kata-katanya, karena sebelumnya mengatakan kamar itu telah dibersihkan oleh Majia sampai seekor lalatpun akan sungkan hinggap di sana. Kecuali tulisan di langit-langit kamar, apa yang dikatakannya tidaklah keliru. “Kuharap kamu tidak terganggu dengan tulisan itu sampai Sadri punya waktu untuk membersihkannya.”

“Tidak, saya hanya berpikir kalau tulisan itu mungkin luput dari penyisiran tadi sore.”

Gaba terlihat tersinggung.

“Maaf jika aku membuatmu tidak nyaman di penginapanku,” ujar Krol. “Beberapa hari belakangan situasi di sini memang sedang sulit,” tambahnya. “Aku tidak akan keberatan jika kamu ingin mencari penginapan lain. Aku sendiri yang akan membantumu menemukan tempat yang lebih nyaman.” Krol yang kemarin terlihat cerewet saat mengintrogasiku perihal jam kedatangan kini terlihat jauh lebih muram. Seperti halnya Lagne yang menjelma dari laki-laki tua serius menjadi penyelundup tengil saat membicarakan ruang penyimpanan Kilma. Orang-orang dapat berubah sangat cepat hanya dalam hitungan hari jika sudah berurusan dengan Kilma.

“Anda benar, tempat ini sangat nyaman. Saya bisa mematikan lampu kamar kalau cuma untuk mengatasi gangguan dari tulisan itu,” kataku. 

Saat menaiki tangga ke lantai dua, kulihat pintu kamar India sedikit terbuka. Sekilas aku melihat wajahnya yang tegang sebelum ia cepat-cepat menutup pintu itu. Begitu tiba-tiba hingga menghasilkan suara yang membuat Krol maupun Gaba yang masih duduk di lobi seketika menengok ke arah kamarnya.

Aku mematikan lampu dan berharap tidur secepatnya. Tetap saja kamar ini seperti masih ditempati oleh tamu sebelumnya. Dalam keremang-remangan, tulisan di langit-langit masih terbaca. Siapapun yang pernah menempati kamar ini sepertinya telah melakukan kesalahan serius yang membuat Kilma tidak senang. Tonjolan dari dalam kasur masih menggangguku dan memaksaku tertidur dengan posisi miring agar punggungku terasa lebih nyaman. Akan kuberitahu Majia besok saat sarapan. 

Hingga berkas cahaya yang mulai terang dari luar menerpa langit-langit kamar dan membuat tulisan itu semakin jelas, aku tidak juga bisa memejamkan mata. Pagi sebentar lagi tiba. Berkali-kali membolak-balik tubuhku berusaha tertidur, namun benda padat yang terselip di dalam kasur semakin mengganggu. Aku mencari-cari celah di sisi samping kasur. Mencari jalan untuk memasukkan tanganku dan mengeluarkan benda keparat yang menggangguku semalaman ini. Tak ada bekas sayatan atau apapun yang bisa menjadi jalan untuk mengeluarkannya. Mungkin kasur ini memang rusak dari dulu dan luput dari perhatian Majia ataupun Krol.

Suara pintu-pintu kamar lain terbuka dan langkah-langkah kaki bersahutan dari koridor, pagi sudah tiba dan aku pun menyerah. Aku beranjak ke kamar mandi dan mencuci muka. Mungkin aku akan meminta ijin untuk tidur di rumah Lagne sore nanti. Jika aku ceritakan apa yang terjadi dia pasti akan mengerti. 

Kantin dipenuhi oleh semua tamu meski jam sarapan belum mulai. Semua masih terlihat pucat. Nampaknya semua orang sejak semalam menunggu pagi cepat-cepat datang agar bisa berkumpul bersama di dalam satu ruangan lagi. India masih terlihat sama tegangnya seperti kemarin. Rupanya bukan hanya aku saja yang tak bisa tidur semalaman. Bisik-bisik soal kejadian kemarin berenang di udara. Untuk membicarakannya sekalipun orang-orang masih ketakutan. Terdengar ada yang sudah siap-siap meninggalkan kota Q hari ini juga. Aku memilih sebuah kursi yang masih tersisa dan posisinya cukup jauh dari India. Dia cuma mengangguk pelan dari seberang meja seakan memberi pemahaman kalau kami semua di penginapan ini sedang dihinggapi teror yang sama. 

“Lima!” ujar perempuan yang duduk kaku di depanku. “Mereka yang dibantai kemarin sore. Mereka berlima,” tambahnya masih dengan suara tegang yang sama. Ia terlihat menelan ludah dengan dagu yang tak bergerak satu inci dari posisinya. Aku menoleh ke kiri dan kanan lalu menyadari kalau perempuan itu bicara langsung kepadaku. Karena termasuk yang terlambat mendatangi tempat ini, mungkin ia merasa perlu memberitahuku apa saja yang luput dari pengetahuanku sejak tadi. “Kilma berubah pikiran dan ia mencegah kita semua keluar dari sini sebelum jam lima,” tambah perempuan itu.

“Dia memang menyukai angka,” sahut laki-laki yang duduk di sampingku. 

“Semuanya berubah sangat cepat,” aku nyaris tak tahu mau mengatakan apa. “Jika mereka yang melakukannya, mengapa mereka masih ingin menahan kita?”
“Mungkin dia sedang mencari kambing hitam. Atau mungkin dia ingin memastikan kita tak terhubung dengan penghuni kamar itu,” perempuan yang duduk di seberang membalas. 

Aku langsung teringat dengan buku yang dipinjamkan Lagne kepadaku. Apa yang akan kukatakan? Itu cuma buku cerita anak-anak yang tak sengaja kutemukan? Aku tak bisa membayangkan seandainya Kilma mengenali kalau buku itu pernah menjadi salah satu benda koleksi di ruang penyimpanannya yang dingin. Aku bersiap bangkit dari kursi, namun decit gesekan yang dihasilkan kaki kursi membuat semua mata menoleh ke arahku. Kuurungkan niat untuk kembali ke kamar dan menyembunyikan buku itu. Menyerahkan semuanya kepada keberuntungan dan berharap mereka tak akan repot-repot menggeledah setiap kamar. Semakin aku berharap demikian, semakin harapanku terasa mustahil. Tentu saja untuk memastikan kami tak terlibat, mereka akan menggeledah setiap kamar sementara kami duduk menunggu sarapan kami tiba di sini. 

Tuan Krol muncul bersama Gaba. “Semuanya saya harap tetap tenang. Makanan pagi ini akan datang tepat waktu. Itu kebiasaan kami yang terkenal di kota ini,” ujar Krol. Seolah-olah kemungkinan makanan datang terlambat pagi ini menjadi satu-satunya sumber ketegangan kami sekarang. Suaranya sendiri tak terdengar tenang. “Bersama pengantar makanan nanti, akan datang beberapa kawan yang akan membantu pekerjaan saya di sini.” Ujar Krol. Ia menoleh sejenak ke arah Gaba yang masih saja terlihat masam seperti kemarin. “Kita semua akan menjalani dua macam,” Krol menghentikan kalimatnya sejenak, “prosedur,” lanjutnya. “Gaba di sini akan meneruskan percakapannya dengan Anda semua. Bagi Anda yang sudah diajak bicara oleh Gaba kemarin bisa beraktifitas seperti biasa, kecuali ada hal-hal yang perlu didalami lebih jauh demi kepentingan penyelidikan.” Beberapa orang terlihat lega mendengarnya. “Prosedur lainnya,” suara Krol meninggi dan kali ini bergetar, “akan dilakukan oleh kawan-kawan kita yang akan datang sebentar lagi bersama sarapan kita pagi ini. Saat mereka datang nanti, Anda semua diharapkan untuk berada di luar kamar sampai mendapat ijin untuk masuk. Anda bisa tetap di kantin, di lobi atau di halaman penginapan. Di mana saja selama berada di area penginapan ini.” Krol memeriksa arlojinya sejenak, “Jika ada barang-barang yang kira-kira Anda perlukan dan masih tertinggal di kamar, Anda punya waktu delapan menit untuk mengambilnya. Sebelum kawan-kawan kita datang.”

Tanpa menunggu Krol menutup pengumumannya semua orang bangkit dari tempat duduk dan nyaris berebutan menuju kamar masing-masing. Membuatku mulai membayangkan kalau setiap tamu penginapan ini menyimpan barang-barang yang akan membuat Kilma murka jika ditemukan. Aku bahkan tak punya waktu untuk menegur India. Satu-satunya yang kupikirkan saat ini adalah menemukan tempat dalam waktu delapan menit untuk menyembunyikan buku bergambar menara itu di sudut yang tak akan terpikirkan oleh kaki-tangan Kilma. 

Jika tidak, aku akan habis seperti penghuni kamar sebelumku. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

10 Film Asia yang Tak Terlupakan

Sandikala

Film Korea Yang Layak Kamu Tonton