Random #2

Agak lupa siapa yang dulu pernah mengatakannya, mungkin salah seorang yang saya kenal, mungkin juga orang tua saya, "kalau menulis huruf 't' kecil" pastikan bentuknya tidak seperti salib. Mungkin saya mengetahui saran ini saat masih belajar menulis. Saat menulis nama saya sendiri ada sebuah huruf t di tengah-tengah dan karena takut 'berdosa' saya memastikan untuk membuat ekor kecil ke depan agar huruf t itu tidak terlihat janggal di tengah nama saya. Apalagi kata pertama dalam nama saya menggunakan Muhammad.

Kemudian saat menulis kata Tuhan, pastikan menggunakan huruf kapital, atau bila perlu gunakan kata Allah. Ini kadang membuat saya cenderung menulis huruf T kapital. Pernah saya mendengar kalau huruf t itu tidak semestinya ada di situ. Huruf t (dari ta' marbutoh) itu sebenarnya untuk nama anak perempuan. Ada juga yang bilang tidak masalah, karena setelah kata Huda ada huruf 'ya' yang tidak terbaca. Karena kemampuan bahasa Arab saya cuma sampai level kaifahaluk, jadi saya cuma manggut-manggut ketika ada yang memprotes atau membenarkan.

Kembali ke masalah salib. Dulu tidak banyak orang non muslim yang saya kenal. Saat memasuki sekolah menengah pertama, orang non muslim di lingkungan saya adalah orang-orang Hindu Bali (dan saya tidak begitu akrab). Namun saat beranjak kelas tiga, saya punya seorang guru pindahan (waktu itu terjadi mutasi guru-guru di kabupaten kami), seorang guru Bahasa Indonesia yang beragama Kristen. Nama beliau Pak Gaspar. Saya tidak terlalu akrab dengannya tapi mungkin beliau orang beragama nasrani pertama yang saya kenal. Saat saya beranjak SMA, beliau meninggal karena kecelakaan di belakang SMP kami (kalau saya tidak salah ingat). Beliau dimakamkan di satu-satunya makam untuk orang beragama nasrani di kota saya (yang saya tahu) yang letaknya persis di samping SMA saya. Makam ini sering saya lalui sepulang dari sekolah ke perpustakaan kota yang waktu itu masih berada di depan sebuah lapangan.

Saya tidak menghadiri acara pemakaman beliau. Namun saya mendengar teman saya bercerita kalau lagu yang dinyanyikan oleh kelompok choir dari gereja membuatnya merinding dan sedih (atau semacam itu). Saya tidak tahu apakah telinga juga mempunyai agama, atau apakah musik juga mempunyai keyakinan, tapi saya sendiri juga kadang menikmati mendengar lagu-lagu gereja. Pada dasarnya saya menikmati mendengar lagu apa saja, atau musik apa saja selama cocok dan enak didengar.   

Saya baru ingat kalau sekarang hari senin.

Komentar

  1. ta' marbuthoh tidak selamanya cewek kug :D
    Mu'awwiyah, Hamzah, Tholhah, dan nama sahabat lainnya juga pake ta' marbuthoh, tapi mereka cowok

    justru kalo di Arab sana, nama Huda ini malah untuk cewek, hehe (jangan kaget yah)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kaget

      Oalah malah gitu Ya? Orang orang yg kukenal selama ini, yg bernama huda juga ya cowok.

      Hapus
    2. Betul. Di Indonesia memang wajarnya Huda itu untuk cowok. Beda tempat, beda kebiasaan.

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

10 Film Asia yang Tak Terlupakan

Sandikala

Film Korea Yang Layak Kamu Tonton