Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2017

Amphibi: chapter 14

Chapter 14
Hanya ada tujuh tamu yang tersisa. Semua duduk di meja sendiri-sendiri dan tak nampak ingin bicara kepada satu sama lain. Menoleh keluar. Menunggu kelompok pembawa makanan tiba. Kejadian kemarin masih membekas pada setiap orang di penginapan ini. Sadri sudah terlihat di pantri mempersiapkan semua peralatan makanan yang dibutuhkan. 
Aku mengingatkan diri untuk meminta Sadri menghapus tulisan di atas tempat tidurku itu nanti. Sebenarnya saat ini tulisan PEMBELOT itu tak terlalu mengganggu lagi. Mungkin karena sudah tahu dalam waktu dekat penginapan ini aman dan tak akan ada kaki-tangan Kilma yang muncul. Kurasa mereka sudah dapat menyimpulkan sendiri kalau kami yang memilih tetap tinggal di sini tak punya agenda macam-macam. Gaba juga tak nampak sejak tadi. 
“Jadi sejak wabah misma, orang-orang di Q tak pernah lagi memasak sendiri makanan mereka?”
Sadri terkejut mendapatiku tiba-tiba mengajaknya bicara. “Tidak persis seperti itu,” jawabnya, meneruskan mengelap peralatan m…

random #7

Yak, hari ini bisa random. Urusan booting untup laptop sudah beres. Karena Sabtu kemarin tidak memposting Amphibi, saya mencoba memposting cerpen sajalah. sekalian menambah tab untuk blog ini. Cerpen ini ditulis tiga tahun lalu. Saya baca-baca lagi, dan rasanya sayang juga kalau cuma dibaca sendiri. Edit sedikit sana dan sini. 

Selamat membaca :)

Kisah Hidup Kuk

Setiap diri kami pasti pernah punya perasaan itu. Rasa takjub ketika menyadari ada sepasang sayap yang tumbuh di punggung kami. Disusul mimpi-mimpi yang mengganggu. Mimpi tentang terbang tinggi. Mengepakkan sayap seperti elang dan hidup di awan, dan kami akan bertanya-tanya, mengapa ayam-ayam yang dewasa cuma terbang setinggi pagar saja? Tak pernah lebih tinggi dari genting-genting. Tak pernah sampai hinggap di pucuk kelapa. Lalu ayam yang tua-tua akan memberi tahu kelak kami akan mengerti. Saat kaki kami semakin panjang dan tumbuh lebih cepat dari sayap kami, akhirnya kami pun mengerti. Mimpi adalah mimpi. Kenyataan adalah kenyataan. Dengan menyakitkan dan perlahan, kami berlatih untuk tidur tanpa mimpi. Membuang jauh-jauh mimpi tentang terbang tinggi dan berkokok sebelum pagi. Mengisi hari dengan mencakar-cakar tanah dan mendapat cacing jika beruntung. Sesekali berkelahi, kawin, dan terbang setinggi pagar. Kami pun belajar puas untuk itu. Inilah tepatnya yang dimaksud dengan menjadi…

random#6

Masih Minggu, tapi ingin ngerandom. Belum tentu besok bisa online. Belakangan ini Laptop sering bermasalah kalau mau booting, makanya Amphibi yang chapter 14 belum diposting. 

segitu saja dulu

Amphibi; chapter 13

chapter 13
Lagne tidak dapat menemukan buku yang ia maksud. Ini membuatnya uring-uringan sepanjang malam dan aku kebingungan menghadapinya. Aku berusaha ikut mencari di antara rak-rak di samping jam dinding besar itu. Kemudian tanpa sengaja menyinggung soal waktu yang nampak sangat penting di Q.
“Ini bukan jenis pengetahuan yang perlu diceritakan. Kamu akan memahaminya sendiri nanti,” balas Lagne masih terdengar jengkel karena usahanya belum berhasil menemukan buku tentang India. Ia sudah kembali duduk di atas sofa dengan selimut tebal yang melindunginya dari dingin.
“Salah satu tamu di penginapan juga sempat melihat kartu pos yang kusebut tadi,” kataku, berusaha mencairkan suasana. “Dia bilang ada yang ganjil pada kartu tersebut. Baik aku dan India tak menyadari sama sekali kalau huruf-huruf yang dipakai di kartu pos itu adalah huruf yang kita pakai sekarang. Yang artinya kartu pos itu dicetak baru-baru ini. Bukan peninggalan dari dunia lama seperti yang kami duga sebelumnya.”
Lagn…