Amphibi; chapter 13


chapter 13

Lagne tidak dapat menemukan buku yang ia maksud. Ini membuatnya uring-uringan sepanjang malam dan aku kebingungan menghadapinya. Aku berusaha ikut mencari di antara rak-rak di samping jam dinding besar itu. Kemudian tanpa sengaja menyinggung soal waktu yang nampak sangat penting di Q.

“Ini bukan jenis pengetahuan yang perlu diceritakan. Kamu akan memahaminya sendiri nanti,” balas Lagne masih terdengar jengkel karena usahanya belum berhasil menemukan buku tentang India. Ia sudah kembali duduk di atas sofa dengan selimut tebal yang melindunginya dari dingin.

“Salah satu tamu di penginapan juga sempat melihat kartu pos yang kusebut tadi,” kataku, berusaha mencairkan suasana. “Dia bilang ada yang ganjil pada kartu tersebut. Baik aku dan India tak menyadari sama sekali kalau huruf-huruf yang dipakai di kartu pos itu adalah huruf yang kita pakai sekarang. Yang artinya kartu pos itu dicetak baru-baru ini. Bukan peninggalan dari dunia lama seperti yang kami duga sebelumnya.”

Lagne menganguk-angguk. “Sudah berapa lama kamu mengenal gadis itu?” tanya Lagne.

“Kurasa pada hari ke duaku di sini. Saat itu keran di kamar mandiku macet dan aku terpaksa menumpang di kamarnya. Ia tinggal persis di sebelah kamarku. Kenapa?”

“Dia menceritakan tentang asal-usulnya kepadamu?”

“Dia berasal dari K. lahir dan besar di penampungan dan dari India-lah aku mengetahui perempuan bernama Magi itu.”

Lagne tersenyum, menyimpulkan sesuatu. “Kalian membicarakan tentangku?”

“Sedikit,” jawabku ragu. Memperhatikan raut Lagne apakah ia senang mendengarnya atau tidak. “Aku mengatakan kepadanya jika ia ingin tahu lebih banyak mengenai kota ini, ia bisa menanyaimu. Aku berpapasan dengannya sepulangku dari sini.”

“Kamu tahu kenapa sedikit dari kami tetap bertahan hidup? Karena kami tidak mempercayai siapapun,” ujar Lagne. Mengulang perkataannya pada saat pertama kali aku menginap di rumahnya. Bagiku India terlihat seperti gadis baik-baik dan sama seperti anak-anak seusiaku saat ini yang tengah mencari sesuatu untuk dikerjakan. Ia sama beruntungnya dengan Filo yang menemukan sebuah buku kumpulan sketsa dan membuatnya terus bergerak ke timur. Di mana anak itu sekarang? Aku semakin merindukannya.

“Aku tidak menyebut-nyebut soal penelitianmu,” kataku berusaha menenangkan Lagne, namun ia memang tidak terlihat terganggu.

“Biar saja,” jawabnya. “Tidak ada yang berbahaya dari penelitian ini. Aku cuma penasaran dengan wabah yang pernah membuat penduduk pertama di sini musnah. Mudah-mudahan itu dapat menjawab pertanyaan-pertanyaanku yang lain. Kilma sangat terganggu jika sudah membahas soal wabah.”

“Kedengarannya dia selalu terganggu oleh apapun,” ujarku jengah.
Lagne tertawa. “Angin di atas sana sangat kencang. Banyak sekali nyawa yang pergi karena tuduhan yang diada-adakan. Kadang aku sampai percaya kepada hantu. Mereka yang sudah mati kemudian berkumpul menjadi badai.”

Tuduhan yang diada-adakan. Kini aku teringat dengan perempuan gugup yang menumpahkan sendok di kantin pagi tadi.

Lagne menguap, “kamu keberatan jika lampunya kumatikan?”

“Biar aku saja. Aku juga sudah mengantuk,” kataku.

Hujan sepanjang sore tadi membuat serangga malam ini lebih ramai. Berbaring dalam kegelapan membuatku lebih mudah membayangkan kalau pernah dulu tempat ini adalah dasar sebuah bendungan. Andai masih ada satu dua ekor amphibi di sekitar, mungkin suasananya tak akan jauh berbeda dengan malam-malam di area 12. Masa purba terasa jauh lebih dekat dalam kegelapan.


Paginya aku kembali dibangunkan oleh denting dari jam dinding raksasa di dekat rak buku. Lagne terlihat sudah segar kembali. Persis seperti beberapa hari, ia sudah berdiri di luar. Di depan kotak kayu berisi sampel tanah. Andai saja aku memiliki pemahaman mengenai apa yang tengah ia teliti. Bagiku ilmu pengetahuan masih merupakan sesuatu yang membingungkan. Aku belum dapat memahami bagaimana orang-orang di masa dulu menyusun dan membagi-bagi pengetahuan mereka. Antusiasmeku mengais-ngais benda dari dunia lama juga menular dari Filo. Andai aku tak mengenalnya, mungkin bahkan aku sendiri tak tahu apa yang mesti kulakukan.

Percakapan kami semalam membuatku semakin tak sabar untuk bertemu dengan India lagi. Begitu mendapat kesempatan untuk meminta ijin ke penginapan, aku langsung menyampaikannya kepada Lagne. Profesor itu tak berusaha menghalang-halangiku.

“Sebaiknya kamu lebih berhati-hati,” pesannya. “Kilma nampaknya mengendus sesuatu yang mengancamnya di kota ini namun tak yakin apa dan dari siapa. Kamu bisa saja bernasib sama seperti tamu yang kemarin dieksekusi.”

“Oke,” jawabku singkat. Bergegas kembali ke penginapan secepat mungkin. Jika bertemu dengan India, yang pertama-tama akan kusampaikan adalah soal kata-kata perempuan di kantin kemarin. Soal kemungkinan kalau kartu itu dicetak belum lama. Jika benar India menemukan kartu itu di sebuah kamar di kota K, bisa jadi memang sengaja ditinggalkan dan merupakan sebuah pesan.

Penginapan jauh lebih sepi. Aku mulai khawatir India pun sudah pergi. Kuhampiri kamarnya dan gadis itu memang tengah melipat pakaiannya dan memasukkannya ke dalam ransel.

“Oh,” serunya singkat sambil menengok ke arahku. “Jadi kamu memutuskan tinggal di sini.”

“Masih banyak yang perlu kukerjakan,” jawabku. “Ke mana kamu akan pergi setelah ini?”

“Tidak tahu,” jawab India. “Akan kupikirkan saat di perjalanan nanti.” Ia menjejalkan pakaian terakhir ke dalam ranselnya. Kemudian bersandar di ujung tempat tidur. “Kadang aku merasa hidup kita sangat menyedihkan.” Ia mengambil ransel yang berbaring di sampingnya kemudian meletakkannya di pangkuan dan memeluknya. “Aku sudah sering mendengar orang-orang yang dieksekusi, namun baru kali ini aku melihat langsung mereka melakukannya. Pernahkah kamu membayangkan hidup yang jauh lebih baik dari ini?”

“Aku tidak pernah berpikir sampai sejauh itu,” ujarku.

“Orang-orang sepertimu pasti sangat menyenangkan buat Kilma,” ujarnya dengan nafas tersengal. Seperti menahan sesuatu dari dalam dirinya yang ingin meledak. “Kamu bahkan tidak menyadarinya. Apa kamu pernah terganggu oleh sesuatu?”

“Maksudmu?” tanyaku. Tak yakin apakah aku memang benar-benar mengenal India. “Kita semua ketakutan,” kataku akhirnya. “Kilma membuat kita semua ketakutan,” hiburku sebaik mungkin.

India menggeleng. Memeluk ranselnya semakin erat. “Bukan soal itu,” ia nyaris mengumpat. Kembali menggeleng dan terlihat putus asa. “Saat kamu menanyakan apa yang akan kulakukan setelah menemukan India, saat itu aku mengira kamu jenis orang yang berbeda. Belum pernah ada yang menanyaiku pertanyaan itu. Aku bahkan tidak pernah mengajukan pertanyaan itu kepada diriku sendiri. Mungkin dengan cara tertentu aku tahu kalau aku tak akan menemukan tempat itu. Mungkin ada baiknya aku kembali ke K dan belajar sesuatu dari Magi.” Ia membenamkan wajahnya ke dalam ransel. “Aku sangat membenci kota itu.”

“Seandaianya kamu tak pernah menemukan kartu pos itu, apa yang akan kamu lakukan?” tanyaku.

India mengangkat wajahnya, “Aku tahu kartu itu sengaja ditinggalkan di sana untukku,” ujarnya.

“Wow!”

“Satu tahun kemudian saat aku memberanikan diri ke S, kudengar tamu yang pernah meninggalkan kartu itu untukku sudah mati.”

“Sepertinya kamu dalam bahaya,” kataku. Menyadari kini kata-kataku sangat sia-sia dan tak akan menyelamatkannya.

“Aku baru menyadarinya kemarin. Kurasa mereka membunuh perempuan itu gara-gara apa yang diucapkannya soal kartu ini yang dicetak belum lama. Aku bahkan belum pernah memikirkannya sebelumnya. Aku tak pernah mencari tahu penyebab kematian orang yang meninggalkan kartu ini untukku. Selama ini yang kupikirkan cuma menemukan istana ini yang ternyata sebuah makam.” India melepaskan pelukannya pada ransel itu. Kembali bersandar dan sambil menatap langit-langit berkata, “sepertinya aku mesti ke S sambil mencari tahu apa yang menyebabkan kematian tamu yang meninggalkan kartu ini untukku. Mulai sekarang mereka akan terus mengawasiku dan aku akan mencari pekerjaan yang wajar di sana.”

“Kamu mau mendengar sesuatu yang menggembirakan?” tanyaku, tak yakin apakah yang satu ini dapat menghiburnya. “Aku pernah melihat seekor burung hidup-hidup.”

“Burung?”

“Hewan yang dapat terbang itu. Pernah mendengarnya?” aku mencontohkan bagaimana hewan itu terbang dengan kedua tanganku.

“Ooh,” balas India. “Aku tak pernah begitu tertarik soal hewan selama ini. Indahkah?”

“Kuharap suatu hari kamu dapat melihatnya langsung.”

“Ya, kuharap begitu, terima kasih,” jawabnya singkat.

“Kuharap suatu hari kamu menemukan India itu. Bangunan itu. Kamu ingat bagaimana perempuan itu menyebutnya kemarin?”

“Namanya Taj-Mahal,” kata India tersenyum, “terima kasih.” Ia menyampirkan ranselnya. “Aku akan pergi. Jika suatu hari kamu ke kota S, kuharap kita bisa bertemu.”

Aku mengantar India sampai ke gerbang penginapan. Aku cuma mengenalnya beberapa hari namun anehnya aku merasa sangat akrab dengannya saat ini. Perjalanannya ke kota itu di jalur bawah dapat memakan waktu satu tahun. Kecuali jika dia berhasil menumpang salah satu rombongan yang menggunakan kereta milik Kilma. Kadang mereka cukup berbaik hati memberikan satu dua kursi untuk pejalan yang mencari-cari cara memasuki kota tua.

<>