Amphibi: chapter 14


Chapter 14

Hanya ada tujuh tamu yang tersisa. Semua duduk di meja sendiri-sendiri dan tak nampak ingin bicara kepada satu sama lain. Menoleh keluar. Menunggu kelompok pembawa makanan tiba. Kejadian kemarin masih membekas pada setiap orang di penginapan ini. Sadri sudah terlihat di pantri mempersiapkan semua peralatan makanan yang dibutuhkan. 

Aku mengingatkan diri untuk meminta Sadri menghapus tulisan di atas tempat tidurku itu nanti. Sebenarnya saat ini tulisan PEMBELOT itu tak terlalu mengganggu lagi. Mungkin karena sudah tahu dalam waktu dekat penginapan ini aman dan tak akan ada kaki-tangan Kilma yang muncul. Kurasa mereka sudah dapat menyimpulkan sendiri kalau kami yang memilih tetap tinggal di sini tak punya agenda macam-macam. Gaba juga tak nampak sejak tadi. 

“Jadi sejak wabah misma, orang-orang di Q tak pernah lagi memasak sendiri makanan mereka?”

Sadri terkejut mendapatiku tiba-tiba mengajaknya bicara. “Tidak persis seperti itu,” jawabnya, meneruskan mengelap peralatan makan. “Sekarang ada juga beberapa yang mencoba bercocok tanam di rumah mereka. Namun beberapa tempat seperti penginapan dan orang-orang yang bekerja di gedung pemerintahan menerima jatah makanan. Tidak ada pilihan lain.”

“Misma itu wabah yang buruk sekali ya?”

“Sangat. Kami semua dibikin terkurung di dalam rumah.”

“Kamu juga?”

“Anak-anak di masaku? Nyaris tidak ada yang tidak. Hari terakhir kami melihat dunia dengan wajar terjadi saat menyelinap ke jalur bawah.” 

“Tidak ada yang lebih menyenangkan dari itu saat masih kanak-kanak.”

“Kami mencoba melihat kereta yang membawa utusan Kilma. Dulu mereka jarang sekali mengunjungi tempat ini. Melihat sebuah kereta muncul termasuk peristiwa langka. Saat kembali ke atas aku sudah bisa merasakan kalau cahaya terasa jauh lebih silau. Meski saat itu kota ini tetap mendung seperti biasa. Kawanku Cholula berhenti di tengah jalan dan menggosok-gosok matanya. Dia bilang kalau ada hewan kecil yang masuk ke situ. Kami semua menertawakannya dan sepakat meninggalkannya. Kemudian tahu-tahu kami semua terbangun di dalam sebuah bangsal. Setelah itu kami sering mengalami halusinasi.” 

“Aku belum pernah mendengar yang seperti itu.”

“Mereka tidak memberitahu kami lebih banyak setelahnya. Saat dinyatakan sembuh, semuanya tampak lebih kabur. Mereka bilang kalau kami semua terkena rabun seperti orang-orang yang sudah lanjut usia. Ada juga yang kukenal mengalami kebutaan.”

“Rasanya aku pernah mendengar nama Cholula.”

“Tentu saja semua orang di kota ini dapat mengingatnya. Terakhir kali kudengar dia diamankan di Area 1 dan tak pernah ada berita apa-apa lagi. ” ia selesai mengelap semua peralatan makanan itu, menghilang sejenak ke pantri, kemudian muncul dengan sebuah rak beroda untuk mengangkut peralatan ke tengah ruangan. 

“Sekarang kalian kelihatannya mengalami hidup yang cukup normal.” ujarku, mengekorinya saat meletakkan peralatan makanan.

Sadri menatapku sebentar, “kami tidak pernah normal setelahnya,” ujarnya. “Kami cuma membiasakan diri dengan halusinasi itu. Aku sudah bisa membedakan mana yang nyata dan mana yang hanya bayangan.”

“Seperti sekarang?”

“Kelompok pembawa makanan sudah tiba,” tunjuk Sadri keluar. “Yang itu nyata,” tambahnya. 

Usai jam makan aku memberitahu Sadri soal tulisan itu. Sambil berusaha mencari tahu lebih jauh soal orang-orang yang pernah mati di situ. Ia nampak tak semangat menanggapi dan sama tak tahunya dengan orang lain. 

“Seingatku mereka datang berkelompok dan jarang keluar dari ruangan itu sendirian. Mereka semua dibunuh di lantai. Cuma menyisakan sedikit bekas di seprai. Krol menyuruh ibuku membakar saja benda-benda itu, namun ia merasa sayang dan masih menyimpannya. Seprai itu juga sudah mulai kami guntingi untuk dijadikan taplak dan sarung untuk bantalan kursi.”

Sadri memiliki tubuh yang cukup tinggi yang memudahkannya menghapus tulisan itu. Aku membantunya menggeser kasur dan meletakkan meja dan sebuah kursi di tengah-tengah ruangan. Matanya mengernyit sambil menghapus tulisan itu dengan lap basah. 

“Jadi, apa yang biasanya kamu lihat?”

“Maksudmu?”

“Saat mengalami halusinasi itu? Bagaimana kamu hidup dengannya? Kamu tak melihat sesuatu sekarang, kan?”

Aku melihat garis bibirnya tertarik. Masih sambil menggosok tulisan itu ia meneruskan, “Ini tidak seperti melihat hantu atau hal-hal semacam itu.” 

“Lalu?”

“Boleh tahu kenapa kamu datang ke sini?” 

“Aku kerja kepada Lagne,” jawabku. 

Ia tak langsung menanggapi. Selama beberapa saat terus menggosok langit-langit dan berusaha membuatnya kembali terlihat bersih. “Kurasa tidak akan bisa bersih seperti semula. Kecuali kalau dicat lagi dan itu artinya harus menunggu sampai akhir tahun nanti.”

“Tidak apa-apa,” jawabku. Ingin menanyakan lebih jauh soal halusinasi yang ia alami, namun Sadri terlihat enggan menceritakannya. “Sebenarnya aku sedang mencari tempat tinggal di luar penginapan. Kamu bisa membantuku?”
Ia tak menjawab. Turun dari meja dan membereskan ember dan lap yang ia gunakan. “Akan kuusahakan. Aku tidak tahu apakah nanti aku punya waktu untuk itu.” 

Saat hampir meninggalkan ruangan, ia memutar tubuhnya dan berkata, “sebaiknya kamu jangan terlalu mempercayai Lagne.” Kemudian ia meneruskan pergi.

“Aneh sekali, karena dia juga mengingatkanku untuk tak mempercayai siapapun,” balasku. Berharap ia tertawa mendengarnya, namun ia sudah menghilang di koridor. 

Malamnya aku memutuskan untuk tak ke rumah Lagne. Tidak ada hubungannya dengan apa yang dikatakan Sadri sore tadi. Selain tidak ada pekerjaan yang begitu mendesak untuk diselesaikan, aku juga baru tersadar kalau selama ini hari-hariku cuma bergerak dari penginapan ke rumah Lagne. 

Sekarang malam hari begini, tidak banyak orang yang lalu lalang. Lampu-lampu jalan yang menyala redup. Q adalah satu dari sedikit kota yang kuketahui menggunakan listrik. Kilma hanya mempercayakan segelintir orang untuk menangani masalah itu. Mereka mengendalikannya dari suatu tempat yang tersembunyi dan harus tutup mulut mengenai pengetahuan yang mereka miliki. Teringat dengan salah satu ceramah dalam pertemuan yang diadakan Kav saat membahas bangkai kapal itu. Mereka cuma perlu menemukan bangkai kapal yang lebih utuh dan sumber daya energi untuk mesinnya. Serta orang-orang yang menguasai cara kerja mesin kapal itu nantinya. Ini pun kalau bangkai kapal yang mereka maksud itu benar-benar ada. Orang-orang Kav juga yakin kalau mereka yang mengerti sebenarnya masih ada namun Kilma membungkam mereka. Sekarang aku mulai terpikir untuk menanyai Lagne soal ini. 

Aku melewati jalan kecil tempatku beberapa waktu lalu berpapasan dengan India. Teringat pada garis-garis besi yang setengah terbenam di tanah yang waktu itu ia ikuti. Kini, garis-garis itu mengkilat memantulkan lampu-lampu jalan yang menjadi satu-satunya sumber cahaya di sekitar sini. Di beberapa tempat besi-besi ini terlihat lebih tebal dan lebih menyerupai bekas sebuah rel kereta di jalur bawah. Namun kalau seandainya tempat ini dulunya dasar sebuah bendungan, mengapa mesti ada kereta bawah tanah yang mengarah ke sini? Satu lagi pertanyaan yang bisa kuajukan ke Lagne nanti. 

<>