Kisah Hidup Kuk


Setiap diri kami pasti pernah punya perasaan itu. Rasa takjub ketika menyadari ada sepasang sayap yang tumbuh di punggung kami. Disusul mimpi-mimpi yang mengganggu. Mimpi tentang terbang tinggi. Mengepakkan sayap seperti elang dan hidup di awan, dan kami akan bertanya-tanya, mengapa ayam-ayam yang dewasa cuma terbang setinggi pagar saja? Tak pernah lebih tinggi dari genting-genting. Tak pernah sampai hinggap di pucuk kelapa.
Lalu ayam yang tua-tua akan memberi tahu kelak kami akan mengerti. Saat kaki kami semakin panjang dan tumbuh lebih cepat dari sayap kami, akhirnya kami pun mengerti. Mimpi adalah mimpi. Kenyataan adalah kenyataan. Dengan menyakitkan dan perlahan, kami berlatih untuk tidur tanpa mimpi. Membuang jauh-jauh mimpi tentang terbang tinggi dan berkokok sebelum pagi. Mengisi hari dengan mencakar-cakar tanah dan mendapat cacing jika beruntung. Sesekali berkelahi, kawin, dan terbang setinggi pagar. Kami pun belajar puas untuk itu. Inilah tepatnya yang dimaksud dengan menjadi ayam yang dewasa. Meski di waktu-waktu tertentu, sisi kekanak-kanakan dalam diri kami menggelitik kami untuk mengepakkannya. Maka kami pun pura-pura bisa terbang. Hinggap di atas pagar dan berkokok lantang seakan seisi dunia takluk di bawah kaki kami. Lalu anak-anak ayam yang baru menetas akan berciap-ciap kagum. Suatu hari mereka ingin terbang lebih tinggi lagi. Lebih hebat dari kami.
Tetapi kelak, mereka pun akan menyadari bahwa kaki mereka akan tumbuh lebih cepat daripada sayap mereka. 
Kemudian datanglah seekor jago bernama Kuk. Rambutnya hitam kemerahan. Tajinya bersisik tajam. Kokoknya yang lantang membuat matahari beringkas terbit lebih cepat. Ia ditempatkan di kandang khusus yang terpisah. Makanannya adalah irisan daging mentah yang membuat ngeri tiap kali matanya mengerling ke arah kami. Jika ia melintas, kami akan cepat-cepat menyingkir. Tak ada yang punya nyali untuk mengganggu Kuk.
Pun sore itu. Langit yang sudah merah membuat pandangan kami tak lagi jelas dan kami menyerah menggaruk-garuk tanah. Kuk yang punya pandangan lebih tajam dari ayam biasanya, masih mengais-ngais di atas sarang semut dan mematuki telur-telur semut itu satu-satu. Ketika ada sepeda yang melintas, tak ada yang punya nyali untuk berteriak mengingatkan Kuk. Andai saja ada satu di antara kami yang cukup berani meneriakinya, mungkin jalan hidupnya akan berbeda. Ban depan sepeda itu menggilas kakinya. Kuk terhempas dan mata kirinya membentur butir batu yang runcing. 
 Sejak sore itu, Kuk bukan lagi jago yang gagah dan menakutkan. Ia menjadi ayam yang pincang dan cerewet. Ia pun kerap menabrak benda-benda di sekitarnya. Tak lagi seram, ia malah menjadi ayam jantan yang menggelikan. Ia tak lagi suka berkeliaran dan lebih suka tidur dan bermimpi. Terus saja ia bicara soal terbang, hidup bebas, dan punya nama.
Bahkan anak-anak ayam pun ikut menertawakannya. Sekarang ini anak ayam lebih cepat dewasa dan mereka lebih lekas belajar untuk melepas impian kosong tentang terbang. Namun Kuk terus saja bicara tentang terbang seperti anak ayam yang baru menetas kemarin sore.
Lalu soal nama, adakah yang lebih menggelikan dari itu? Ia sering memerhatikan bagaimana manusia saling memanggil. Bagaimana orang tertentu menoleh ketika mendengar jenis suara tertentu. Dari situ ia mendapat gagasan untuk memberi kami nama satu-satu. Tapi saat itu kami merasa, pikiran itu muncul karena ia terlalu banyak menganggur. Duduk seperti mahluk tak berguna dan memerhatikan hal-hal yang tak perlu.
Kamu, namamu Kelu!” ia menganggukkan kepalanya ke arahku. Kami semua tertawa. “Dan Kamu, namamu Gok!” lanjutnya, berusaha mengatasi tawa kami. “Kita semua harus punya nama. Kemudian melakukan aksi penyelamatan. Pergi ke hutan. Hidup bebas dan menjadi ayam hutan.”
Kami semua tertawa. Apa pula yang dia maksud dengan hutan? Apakah tempat semacam itu masih benar-benar ada?
Hanya dengan hidup bebas kita bisa belajar terbang. Jika bisa terbang, kita pun bisa hidup tenang di angkasa. Di awan. Seperti burung-burung lainnya.”
Kami tertawa lebih keras lagi, nyaris seperti tawa menjijikkan dari entok-entok tolol itu. Rupanya hutan saja tidak cukup. Ia ingin hidup di awan seperti Elang.
Sesekali saja kita turun ke bumi mencari makan dengan usaha kita sendiri. Bagaimana mungkin kita terus hidup begini? Diberi makan setiap hari, padahal suatu hari mereka akan menyembelih kita.”
Tawa kami langsung terhenti.
Tapi pertama-tama kita harus punya nama. Lihat manusia itu, mereka semua punya nama. Setiap orang, meski mereka terlihat hampir sama, mereka punya nama. Kalau sudah punya nama, baru kemudian kita bisa kabur dari tempat ini. Kabur ke hutan. Hidup bebas dan belajar terbang.”
Lagi-lagi kami tertawa. Apa hubungannya nama dengan kebebasan? Lagipula, bukankah sudah cukup jika kami saling memanggil, ayam yang ini dan ayam yang itu? Si ini dan si itu?
Manusia Besar keluar dari rumah, melempar biji-biji jagung ke arah kami dan kami pun berhenti tertawa. Berganti keributan berebut jagung. Kuk, satu-satunya ayam yang diam. Ia tak tertarik berebut butiran jagung bersama kami. Kemudian Manusia Besar itu menangkapnya. Membolak-balik tubuhnya, dan berkata, “Yang satu ini sakit,” Ia memegang Kuk pada kakinya, dan kepala Kuk menjuntai di udara. “Yang satu ini sakit,” ia mengangguk-angguk sambil memijit tubuh Kuk di bawah lehernya.
Manusia Besar itu kemudian membawa Kuk masuk ke rumahnya. Kami kembali menyibukkan diri dengan butir-butir jagung yang bertebaran di tanah. Entok-entok bodoh dan kotor itu hanya menonton dari tepi halaman. Hanya beberapa saja dari mereka yang punya nyali untuk ikut berebut butiran jagung bersama kami. Mereka lebih suka mencari makan di lumpur. Menyosor mencari cacing, bermandi lumpur dari tahi mereka sendiri.
Tiba-tiba pintu rumah menjeblak terbuka. Manusia Besar tadi keluar dari rumah membawa sebilah pisau. Di belakangnya ada manusia yang lebih kecil mengapit Kuk di ketiaknya. Sontak kami semua menyebar gelisah. Entok-entok tolol itu berkerumun dan mengeluarkan suara seperti tawa senang. Entah senang, entah gelisah, suara mereka selalu sama. Beberapa temanku berlari melompati pagar. Aku terdesak di sudut halaman. Aku bisa saja mengepakkan sayapku dan melompati pagar yang tak seberapa tinggi itu. Tapi melihat mata Kuk yang terpejam dengan damai membuatku mengurungkan niat.
Si Manusia Besar memegang kepala Kuk. Manusia Kecil memegang tubuhnya. Kuk terlihat tenang. Tak ada pemberontakan sama sekali. Ayam-ayam kecil meriap gelisah dan berlindung di bawah induknya. Entok-entok itu masih saja riuh dengan suara tolol mereka yang mirip seperti lenguhan sesak napas seekor kerbau.
Pisau mulai digesekkan di leher Kuk. Darah tersirap dari tenggorokannya. Sebagian mengalir deras lewat ujung pisau dan menetes mengerikan. Semua suara dari ayam maupun entok lenyap seketika. Kami mematung dicekam ketakutan. Mengambil jarak sejauh mungkin dari tempat Kuk disembelih.
Saat Kuk akhirnya dilepas dan mulai berjalan oleng mengitari halaman, kami semua makin senyap. Merapat ke pagar, merapat ke tubuh satu sama lain. Tak peduli ayam atau entok. Ini adalah hal yang sangat biasa sekaligus paling menakutkan. Setelah ayam atau entok digorok lalu dilepas, selalu ada waktu beberapa saat untuk berjalan sebentar mengitari halaman. Kadang menghampiri tempat minum dan meneguk air dengan leher yang setengah putus. Ini dilakukan dengan begitu tenang seolah tak terjadi apa-apa. Sekalipun darah terus mengalir deras dari tenggorokannya, kami berpura-pura tak menyadarinya. Kami hanya menatap matanya, sesekali mengangguk sebagai penghormatan terakhir. Anggukan yang terlihat sebiasa mungkin, meski sebenarnya di dalam hati kami menggigil dan kengerian mencabik-cabik kami.
Kuk berjalan oleng, nyaris tanpa melirik siapapun. Ia melompat ke atas kandang dan mengepak-ngepakkan sayap. Hinggap di atas pagar dan mulai berkokok. “Kuuuk...” suaranya tercekat. Darah dari lehernya bercipratan. “Kuuk...” ia tercekat lagi. Manusia Kecil yang tadi memegang tubuhnya kini tertawa sambil duduk di teras. Entok-entok itu ikut tertawa dan suasana kembali riuh. Ayam-ayam lain berkokok menyemangati Kuk. Namun Kuk tak mencoba berkokok lagi. Ia melompat dari pagar. Disaksikan semua ayam, terutama mereka yang sudah berada di luar pagar, Kuk terbang.
Kuk, seekor ayam, terbang!
Pertama-tama ia terbang rendah saja. Saat aku melompat ke pagar, kulihat ia sempat hinggap di dahan pohon di tepi jalan. Lalu ia melompat sekali lagi, mengepakkan sayap. Terbang di atas hamparan padi. Ia melayang di udara cukup lama. Sangat lama. Jauh lebih lama dari yang bisa dilakukan ayam manapun! Kemudian terlihat tubuhnya perlahan rebah ke hamparan padi. Lalu menghilang. Angin berhembus membelai sawah. Aku berharap melihatnya menyembul lagi dan terbang lagi. Namun sampai saat si Manusia Kecil berlari ke arah tempat ia jatuh, tak ada tanda-tanda si Kuk terbang lagi.
Hari-hari setelah itu adalah hari-hari tentang Kuk. Semua ayam membicarakannya. Kurasa, entok-entok bodoh itu pun juga akan membicarakan Kuk dengan kagum—seandainya mereka punya bahasa dengan sesama mereka selain kwek kwek kwek bodoh mereka itu.
Tadinya, kami menduga Kuk akan ditemukan sebelum malam. Ia tak mungkin bisa bertahan dengan leher nyaris putus begitu. Namun hingga esok harinya kami tak menemukan tumpukan bulunya di tempat sampah, tempat kami biasanya mengais-ngais makanan dan belatung. Tak ada sehelai bulu ayam pun. Kalaupun ada, itu hanyalah bulu-bulu tua dari kami yang rontok. Kami akan mengenal dengan baik bulu-bulu Kuk yang hitam kemerah-merahan itu.
Baik hari itu dan hari-hari sesudahnya, tak ada tumpukan bulu dan sisik kakinya. Ini pertanda Kuk memang tak ditemukan. Mungkin ia mati tanpa ditemukan. Mungkin ia berhasil mencapai hutan. Mungkin juga, ia berhasil terbang. Tinggal di awan bersama elang.
Kini tiap ayam kecil yang baru menetas akan kami beri nama. Kepada mereka, kami ceritakan kisah hidup Kuk. Berharap mereka senantiasa memelihara mimpi tentang terbang dan hidup di awan. Mungkin sudah waktunya ayam-ayam generasi baru ini untuk terbang melampaui pagar. Melampaui kami. Melampaui pendahulu-pendahulu kami dan mereka.
Satu per satu dari kami disembelih oleh si Manusia Besar dan si Manusia Kecil. Sebagian yang lain mati terlindas dan gepeng di jalan. Sebagian yang lain, mati karena kedinginan saat hujan lebat. Mereka yang disembelih akan melakukan apa yang telah di lakukan Kuk. Ini telah menjadi ritual terakhir kami menjelang kematian. Mengitari halaman dengan kepala yang nyaris putus. Melompat ke pagar sambil mengepakkan sayap dengan darah yang bercipratan seperti hujan. Berkokok sampai tercekat.
Kemudian terbang. 






 

Komentar

  1. Tak peduli ayam atau entok. Ini adalah hal yang sangat (luar) biasa sekaligus paling menakutkan.

    itu kayaknya harusnya luar biasa bukan sih?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Memang maksudnya 'biasa'. Mereka terbiasa melihat ayam atau entok lain yang baru disembelih sempat berjalan joleng beberapa saat. Namun tetap saja melihat kejadian tersebut mengerikan dan meneror mereka.

      Hapus
    2. oh gitu, kalo gitu bukannya harusnya dikasih kata yang mempertentangkan ya? Misalnya namun atau tapi gitu?

      Hapus
    3. menurutku dua hal itu tak perlu dipertentangkan. Bayangkan ketika kamu menghadapi teror yang sama terus menerus, melihat kawanmu (hewan lain) disembelih. Kamu terbiasa namun tetap saja merasakan teror yang sama. Itu sesuatu yang biasa terjadi namun tetap saja menakutkan.

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

10 Film Asia yang Tak Terlupakan

Sandikala

Film Korea Yang Layak Kamu Tonton