Brainwashing


Judul: Brainwashing, Ilmu tentang Pengendalian Pikiran
Penulis: Kathleen taylor
Penerbit: Pustaka Baca
Cetakan I 2010
637 Halaman

Bapa Francis Luca, adalah salah satu misionaris katolik yang tertarik dengan China, tinggal di China dalam lingkungan yang hanya mengakui satu doktrin bahwa komunis adalah benar. Salah satu kesalahan yang membuatnya kemudian tertangkap adalah karena ia menjalin hubungan dengan Bapa C yang terlibat dalam gerakan anti komunis.

Di dalam tahanan Bapa Luca menempati sel bersama tahanan lain yang diwajibkan untuk “memerangi” Bapa Luca melalui serentetan pertanyaan dan penghakiman. Serta mengkritisi setiap hal yang dilakukan Luca. Selain itu ia juga harus menghadapi interogasi yang disertai siksaan yang memanfaatkan rasa kantuk (ia dilarang tidur), kaki yang dirantai seberat 10 kg dan lengan yang terbelenggu, serta deraan fisik jika jawabannya tak sesuai dengan yang diinginkan oleh para interogator. Ia kemudian bebas dari siksaan semacam ini setelah membuat pernyataan yang berlebih-lebihan dan ketika para penginterogasi menyukai pernyataan Luca, ia pun dibebaskan dari rezim siksaan fisik.

Kemudian berlanjut pada rezim siksaan psikologis, dimana teman-teman satu sel sebelumnya diganti dengan teman-teman baru dan kali ini tugas mereka adalah membantu Luca mencapai “pemurnian” pikiran dengan mengutuk-ngutuk gereja Katolik. Ia bahkan harus menghapus pikiran-pikiran buruk—yang sebelumnya tidak pernah ada—semisal sebentuk pikiran kalau ternyata ia menyukai presiden Amerika, Harry Truman.

Sebelum dibebaskan ia diminta membuat surat pernyataan yang direkam langsung dimana dalam video tersebut ia mengecam semua perbuatannya terdahulu. Setelah dibebaskan ia diliputi perasaan malu dan tidak berdaya. Tiga tahun setelah menjalani ‘reformasi pikiran’ ia menjadi lebih kritis terhadap gereja Katolik namun keyakinan rlijius dasarnya tidaklah berubah. Bapa Luca adalah satu dari sedikit orang yang “beruntung” atau dapat mengambil keuntungan dari proses reformasi pikiran. Lebih sering mereka yang dibebaskan menjadi manusia yang sama sekali lain. Menjadi penganut Komunis yang bahkan jauh lebih taat dan membantah pernah mengalami siksaan selama berada dalam tahanan. Ini mirip seperti Winston dalam novelnya George Orwell yang berbalik menjadi pemuja Bung Besar di akhir cerita.

Tadinya saya pikir kalau cuci otak hanya dapat kita temukan dalam film atau novel fiksi ilmiah. Atau film-film bertema spionase yang bersetting perang dunia II atau perang Vietnam. Kenyataannya, cuci otak memiliki sejarah yang jauh lebih panjang—bahkan sebelum istilah cuci otak sendiri ditemukan. Edward Hunter pertama kali menggunakan istilah ini pada tahun 1950.  Sementara salah satu kasus paling awal yang dibahas di sini adalah cuci otak yang dilakukan

Anyway, buku ini tidak hanya berisi rekaman suram tentang tahanan yang disiksa di dalam penjara. Kathleen Taylor juga membahas bagaimana cuci otak bekerja dari sudut pandang neurosains. Bahasanya masih menggunakan bahasa sains populer, jadi meskipun tak memiliki latar belakang ilmu eksak—atau neurosains, saya tetap dapat memahami apa yang disampaikan Taylor.

Bacaan yang bergizi. Sejenis buku yang akan saya baca lagi.

Best Quote

Sewaktu membaca buku ini, saya tidak menyiapkan diri untuk meresensinya. Untuk quote terbaik, saya pilih dari dua kalimat terakhir saja:

“Kita memiliki kekuatan itu. Kita seharusnya membuat sesuatu yang lebih besar.”


Komentar

  1. "Sementara salah satu kasus paling awal yang dibahas di sini adalah cuci otak yang dilakukan"

    dilakukan siapa?

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

10 Film Asia yang Tak Terlupakan

Sandikala

Rumah Mati Di Siberia