Ingatan Kabut

Itu kabut, kabut yang pekat. Pada pagi di musim basah ini, orang-orang Siben lebih suka meringkuk di balik selimut. Lampu-lampu mereka masih menyala dan jendela-jendela masih tertutup. Sesekali akan terdengar tangis dari satu ujung jalan. Tangis yang disahut lolong pilu dari anjing-anjing kampung yang masih meringkuk malas menghalau dingin. Tangis ini berasal dari seorang perempuan bernama Mahli. Ia menangis menunggu seorang pemuda yang akan datang menghampirinya.
Pemuda ini hanya datang sekali dalam setahun. Menembus kabut meski yang bisa ia lihat cuma kakinya saja. Ia tak takut akan menabrak pepohonan yang tiba-tiba menyembul di antara kabut. Kakinya memiliki matanya sendiri dan memiliki ingatannya sendiri. Juga tak ada jurang di sekitar sini.
Tentu semakin tahun, pemuda ini semakin tak muda. Sebagaimana Mahli yang kian tahun semakin tua. Namun kata-kata yang dipakai Mahli untuk menyambut pemuda itu selalu saja dalam rangkaian yang sama, dalam tekanan yang sama, dan terlontar dari gelombang kegelisahan yang sama.
Pergi! Mardiana pergi!” tubuh tua Mahli berkeriut menjejaki pagi yang dingin. Ia lalu menangis sambil menyodorkan selembar kertas yang sudah usang.
Pemuda ini sudah hafal kalimat yang tertera di situ, meski diambilnya juga. Dengan matanya yang semakin tua ia menelusuri setiap kata yang tertera di sana.
Mahli menyuruhnya membacakan surat itu untuknya. Namun seperti yang selalu dilakukannya, ia menunda. “Ayo kita ke dalam saja. Di sini terlalu dingin.” Ia menggigil, oleh cuaca serta oleh berita yang akan ia sampaikan.
Mereka berdua berjalan membelah halaman yang ditumbuhi kembang dan sayur. Tanaman itu seperti mahluk-mahluk gaib yang berkemul di dalam kabut. Sulur-sulur kecipir dan kacang panjang menggeliat kedinginan. Rumpun melati yang tak terawat bergelung malas di bawah beranda berselimut embun.
Mahli yang berjalan di depannya menangis. Mengusap air matanya dengan selendang yang sama setiap tahun. Sementara pemuda itu, menunduk, menghapal kata-kata yang hendak ia sampaikan kepada Mahli. Mereka berdua seperti aktor yang terus-menerus melakoni adegan yang sama. Tetapi tangis Mahli bukanlah tangis yang diperan-perankan. Itu adalah tangis yang sebenar-benarnya.
Pemuda itu duduk di kursi panjang yang bersandar di bawah jendela. Mahli tetap berdiri di hadapannya. Kegelisahannya tak mengijinkannya duduk. Laki-laki itu mulai membacakan surat itu untuknya. Kadang ia tak benar-benar membaca. Sebagian kata dalam surat itu sudah tak nampak lagi. Sudah melesak dalam keusangan kertas yang kelewat tua. Ia membaca kata-kata yang bergetar di kepalanya, dengan Mahli yang menangis di hadapannya, dan wajah Mardiana yang tersenyum di dalam benaknya.
Jadi, dia akan pulang lagi?” tanya Mahli begitu surat itu selesai dibacakan. Ia merapatkan selendangnya menghalau dingin yang mencengkam leher.
Laki-laki itu menelan ludah. “Kalau dari surat ini, iya, dia akan pulang satu tahun lagi.”
Berarti betul, dia pasti pulang. Mardiana akan menepati janjinya,” Mahli memaksakan senyum.
Sebelum laki-laki itu selesai berkata ‘tapi’ dan menyampaikan berita yang menjadi alasan ia datang ke rumah ini, kegelisahan Mahli sudah menguap. Dengan senyum terkembang, ia melambaikan selendangnya dan menawarkan teh untuk pemuda itu. “Tapi kamu akan menyusulnya. Aku tahu! Aku bikinkan kamu minuman dulu,” ujarnya dengan suara serak yang masih dijejaki kepedihan.
Dia bukan lagi pemuda canggung yang baru lulus SMA saat datang ke rumah ini bertahun-tahun lalu. Sekarang ia sudah menjadi ayah, dan anak pertamanya itu sedang belajar berdiri. Ia pun menanyai diri mengapa ia terus saja melakukan ini setiap tahun? Setiap kali ia hendak memberitahukan berita yang sebenarnya, selalu saja ia seperti melakukannya untuk kali pertama.
Mahli berlama-lama membikin teh. Masih menghabiskan tangisnya yang sisa di depan tungku. Laki-laki itu terpikir untuk pergi saja sekarang. Berhenti datang. Atau seperti orang-orang yang melintas di depan rumah ini, akan menghindar dan pergi. Menghilang ditelan kabut secepat mereka menyembul dari ujung jalan. Membiarkan Mahli menangis sendiri setiap pagi dengan sebuah surat dalam genggaman. Namun membayangkan kekecewaan saat perempuan tua itu nanti muncul, ia mengurungkan niat. Mungkin Mahli akan meraung seperti perempuan gila. Seperti saat perempuan itu akhirnya mendapat berita dari keliang1, Mahli mengamuk dan memecahkan semua kaca. Jika ia memberitahunya nanti, tentu dia akan mengamuk. Mungkin Mahli akan menyiramkan teh yang masih panas itu ke wajahnya.
Ia mengandaikan kalau saja dulu ia langsung memberitahu Mahli di hari pertamanya datang, tentu ia tak akan terjebak setiap tahun dalam adegan yang sama ini. Saat itu ia luluh, melihat wajah Mahli yang riang mengandaikan Mardiana akan muncul di TV. Bernyanyi.
Bahkan burung-burung pun tahu keindahan suara Mardiana. Angin yang bersiul di celah pegunungan akan berhenti.
Dia mengiraku tidak setuju kalau dia jadi penyanyi,” Mahli muncul membawa nampan berisi dua cangkir teh. Matanya sembab. Cangkir yang dipakainya selalu saja cangkir yang sama. “Dia pergi diam-diam karena takut aku tidak membolehkannya. Malam apa itu acaranya? Idol-idol?”
Malam Minggu,” jawab laki-laki itu serak.
Padahal, malam minggu juga aku kadang ikut nonton di rumah keliang. Kalau nanti dia bernyanyi di tipi, aku mau ngutang sama Haji Salim. Beli tipi, biar aku bisa nonton sendiri di sini.”
Ia meraih teh yang dibuatkan Mahli untuknya. Teh itu, selalu saja terlalu manis.
Mauku dia selesai dulu sekolah. Tapi katanya sudah selesai. Sudah ujian, sudah lulus. Tapi kenapa kita belum dipanggil ke sekolah? Aku kan ingin melihat dia nyanyi di panggung juga. Sewaktu lulus SMP dulu dia nyanyi di panggung untukku.” Mahli tersenyum.
Ia tersenyum, pahit.
Mauku, dia perginya sama kamu. Masa perempuan pergi sendiri ke Bali? Kalau sama kamu diantar langsung ke Jakarta juga tidak apa-apa. Katanya sudah punya teman di sana. Temannya siapa? Komang? Komang yang mana?” Mahli kembali gelisah. Ia menyeruput tehnya. “Kalian sedang bertengkar, ya?”
Ia menyeruput tehnya. Dibayangkannya kalau dulu dia yang mengantar Mardiana ikut audisi ke Bali, tentu ia juga tak akan duduk di sini. Ia sudah tenggelam. Ditelan Selat Lombok.
Ya…,” jawabnya lemah. Ia tak tahu apakah pertengkaran mereka dahulu patutnya disyukuri atau disesali. Kemudian Mahli menceramahinya dengan ceramah yang sama. Menceritakan betapa keras kepalanya Mardiana. Betapa ia harus sabar menghadapinya jika menjadi suaminya kelak. Juga dengan kata-kata yang nyaris sama.
Ketika ceramah itu selesai, kabut pekat di halaman sudah mulai terurai. Mereka diliputi keheningan. Mahli sudah tak lagi menemukan kata-kata yang mesti diucapkan dan laki-laki itu tahu bahwa kini adalah gilirannya untuk bersuara. Ditimang-timangnya cangkir yang tinggal berisi ampas teh itu.
Saya pulang dulu,” ia malah berpamitan.
Dengan begitu, ia tahu kalau ia harus mendatangi lagi kampung ini tahun depan. Membaca surat yang sama. Meminum teh dari cangkir yang sama. Duduk di beranda dan bergulat dengan kecemasan yang sama. Tahun depan aku harus menyampaikannya. Biar saja dia mengamuk seperti dulu di rumah keliang, batinnya. Namun ini pun sudah ia janjikan pada dirinya di tahun-tahun sebelumnya.
Sementara ia berjalan meninggalkan rumah tua itu, matahari sedang merangkak di punggung timur Rinjani. Udara menghangat dan kabut pun menguap. Mahli dari beranda melambaikan tangan kepadanya. Selendangnya yang masih basah oleh air mata itu berayun-ayun di lengannya. “Aku akan membeli tipi,” teriaknya. Satu tangannya yang lain menggenggam kertas usang itu di dadanya.
Orang-orang di Siben mulai mematikan lampu dan membuka jendela. Udara pengap mengalir keluar. Ia pun menghela nafas dan merasa bebas untuk sementara. Di jalan pulang ia berpapasan dengan anjing kampung yang amat dikenalnya. Betapa tuanya anjing itu sekarang. Sorot matanya yang dulu berbinar tiap kali berlari ke pasar, kini terlihat kuyu. Telah berapa tahun berlalu, dan anjing itu masih saja melakukan ritual yang sama setiap pagi. Berlari ke pasar begitu kabut menguap.
Seketika pemuda itu berbalik. Berjalan setengah berlari menyusuri setapak ke rumah Mahli.
1 Kepala lingkungan

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sandikala

Gairah Untuk Hidup dan Untuk Mati

10 Film Asia yang Tak Terlupakan