Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2017

chapter 16: Amphibi

Chapter 16
“Semalam saya mengunjungi pusat kota,” kataku pada Lagne. Ia baru saja memberitahuku kalau ia perlu menunda sementara penelitiannya mengenai amphibi. Sepertinya surat dari Filo sangat mempengaruhinya. “Aku baru tahu kalau masih ada sebuah pohon besar yang tumbuh di sekitar sini.”
“Pohon itu menjadi magnet pertama yang membuat orang-orang dulu berdatangan.” ujar Lagne. “pastinya kamu juga sempat melihat prasasti di sana. Benda itu sudah lama di sana sebelum orang-orang gelombang pertama datang kemari.”
“Saya mendatanginya malam hari,” kataku. Di bawah temaram lampu tak banyak yang dapat kulihat. “Menurut Anda apa artinya?”
“Tempat ini pernah menjadi semacam pusat ilmu pengetahuan. Kemungkinan semacam laboratorium.” Kilma menunjuk ruangan tempat tinggalnya. “Kamu pasti sempat melihat jam dinding besar di sana.”
“Ya! Jam itu sangat terawat sekali. Saya tidak mengerti mengapa waktu begitu penting di sini.”
“Di manapun waktu itu penting,” balas Lagne. “Aku tidak tahu apakah kita…

Belit Belukar

Semula ia kira pohon itu pohon dalam mimpi. Dahannya meninggi. Rerantingnya menggapai-gapai daun yang menggeletar dari biru ke hijau, hijau ke biru. Jika ia terus membuka matanya, daun-daun di atas sana seperti terhenti. Tetapi nyeri di punggungnya akan menjalar lari dari pinggang ke pundaknya, sampai ke kepalanya dan ia mulai menjerit. Tak ada suara. Hanya belukar dan pakis yang berbisik bersama angin.  Tangannya meremas tanah. Kemudian terkapa-kapa ia mencari akar kayu agar bisa berdiri. Namun ia tak bisa berdiri. Tulang-tulangnya patah dan ada luka memanjang dari lutut ke pahanya. Tulang kering kaki kirinya mencuat keluar seperti ujung runcing patahan ranting meranti. Ia berhasil bersandar di akar pohon. Menonton darahnya yang mengental di celah luka. Tak jauh dari tempatnya, ada dua tubuh manusia lain yang terbaring. Satunya memeluk senapan dengan kepala berlubang. Satunya lagi telungkup dengan luka menganga di punggung. Kepalanya terteleng, dengan mata yang masih terbuka. Jejak k…

Chapter 15

chapter 15
Terdapat sebuah jam besar di pusat kota. Terpasang pada sisa sebuah bangunan yang setengah hancur. Terletak di tengah-tengah persimpangan dengan taman kecil yang mengitari. Kilat yang terpantul dari jam dinding besar itu menandakan kalau benda itu sangat terawat. Kubayangkan ada petugas seperti Sadri yang rutin merawatnya setiap hari. Kukitari tempat ini sebentar untuk mencari semacam prasasti. Tak ada lempengan tertulis yang menjelaskan, kecuali sebuah relief yang nampak lebih baru daripada bangunan tempat jam itu terpasang. Sulit mengenali gambar apa yang tercetak disitu di bawah temaram lampu seperti ini. Aku hanya bisa mengenali figur-figur hewan yang terlihat berebut merangkak keluar dari genangan air. 
Sudah berhari-hari aku di Q, namun baru sekarang menyadari kalau ada tempat semacam ini. Aku memasuki taman kecil yang mengitari puing bangunan tersebut. Tetumbuhan yang nampak keemasan di bawah sinar lampu. Aku nyaris kehilangan nafas saat menyadari sebuah pohon yang…