Amphibi: chapter 15

chapter 15

Terdapat sebuah jam besar di pusat kota. Terpasang pada sisa sebuah bangunan yang setengah hancur. Terletak di tengah-tengah persimpangan dengan taman kecil yang mengitari. Kilat yang terpantul dari jam dinding besar itu menandakan kalau benda itu sangat terawat. Kubayangkan ada petugas seperti Sadri yang rutin merawatnya setiap hari. Kukitari tempat ini sebentar untuk mencari semacam prasasti. Tak ada lempengan tertulis yang menjelaskan, kecuali sebuah relief yang nampak lebih baru daripada bangunan tempat jam itu terpasang. Sulit mengenali gambar apa yang tercetak disitu di bawah temaram lampu seperti ini. Aku hanya bisa mengenali figur-figur hewan yang terlihat berebut merangkak keluar dari genangan air. 

Sudah berhari-hari aku di Q, namun baru sekarang menyadari kalau ada tempat semacam ini. Aku memasuki taman kecil yang mengitari puing bangunan tersebut. Tetumbuhan yang nampak keemasan di bawah sinar lampu. Aku nyaris kehilangan nafas saat menyadari sebuah pohon yang cukup besar di tengah-tengah. Dalam keremang-remangan ia lebih nampak seperti sebuah tugu yang terbengkalai. Lagne tak pernah sekalipun membicarakan soal adanya pohon raksasa di sekitar sini. Daun-daun kering yang terinjak saat aku mendekat menandakan kalau pohon ini masih hidup. Ia terlihat seperti terpotong tepat di tengah-tengah. Reranting yang lebih baru tumbuh di sekitar lipatan-lipatan batangnya. 

Aku kembali ke penginapan diliputi semangat. Didorong perasaan tertentu yang membuatku nyaris ingin menanyakan perihal pohon itu kepada semua orang.
Sadri yang pertama kali meredupkan semangatku saat jam sarapan. “Kami semua mengira kalau pohon itu sudah lama mati.” 

“Tapi aku melihat ada reranting baru yang muncul.”

“Ya, tentu saja pohon itu memang hidup. Namun sejak kota ini dibangun pohon itu terus terlihat seperti itu. Konon dulu saat tempat ini masih berupa bendungan, ada pulau kecil di tengah-tengah. Pohon itu tumbuh di sana dan orang tua kami mengarang-ngarang cerita kalau pohon itu menghisap habis semua air bendungan dan membuat tempat ini kekeringan.”

“Kedengarannya konyol.”

“Itu cuma dongeng kanak-kanak. Jauh lebih masuk akal kalau tempat ini terbengkalai sesusai Perang Besar. Seperti tempat lainnya.”

“Aku perlu ke sana lagi dan melihatnya saat hari masih terang.”

“Mestinya itu tempat yang pertama kali kamu kunjungi saat datang ke sini,” ujar Sadri. “Belum pernah melihat pepohonan sebelumnya?” Tanyanya tanpa terdengar heran sedikit pun.

“Adakah orang-orang yang seperti itu?”

“Hampir semua orang yang mendatangi tempat ini belum pernah melihat pepohonan sebelumnya. Jauh-jauh datang ke sini untuk melakukan semacam, ‘ziarah’”

Aku menghabiskan sarapanku secepat mungkin. Tak sabar ingin mendengar pendapat Lagne mengenai hal ini. Aku teringat dengan salah satu ilustrasi dalam buku yang sempat ia pinjamkan kepadaku. Gambar sekelompok orang yang menggotong pepohonan besar untuk membangun sebuah menara. Saat hendak meninggalkan penginapan, Sadri memberitahuku kalau dia sudah mendapatkan tempat tinggal baru untukku. Aku bisa melihat-lihat tempat itu sambil mendatangi taman di tengah kota itu nanti. 

Seperti biasa, pintu rumah Lagne tak terkunci. Aku memeriksa gerabah di depan pintu untuk mencari tahu apakah ada surat dari Filo untukku. Gerabah itu masih kosong.

“Apakah kamu masih percaya kalau orang-orang di masa sebelum kita jauh lebih pintar?” Lagne menodongku dengan sebuah pertanyaan begitu memasuki rumahnya.

“Tentu saja,” jawabku. “Mereka punya perpustakaan. Kita cuma hidup dari remah-remah peradaban mereka. Bahkan selembar kertaspun sangat mewah sekarang.”

Lagne tertawa, “temanmu baru saja berpendapat yang sebaliknya,” Ia menunjukkan sebuah amplop kepadaku. “Maaf aku terpaksa membacanya lebih dulu. Lebih tepatnya, orang-orang Kilma yang membacanya duluan. Dia menyukai temanmu sampai-sampai mereka tidak repot-repot menutup amplop ini kembali.”

Saat menuliskan ini, aku baru saja tiba di sebuah kota bernama Jakarta. Terdapat huruf-huruf kuno yang terukir pada pintu gerbang yang masih utuh. Kami mengetahui arti kata ini karena salah seorang dari kelompok kami mengenali huruf-huruf dari bahasa-bahasa kuno. Aku sampai mengulang-ngulang nama kota ini sepanjang waktu dan merasakan bagaimana bunyi dari bahasa lama ini meluncur keluar dari lipatan lidahku. Apa gerangan artinya?
Kamu mungkin mulai membayangkan semacam potongan dunia dari masa lalu yang masih utuh. Sebuah kota yang benar-benar hidup dengan bangunan-bangunan megah yang lengkap dengan bangunan pemerintahan dan sumber air yang masih cukup bersih. Kecuali gerbang yang menyambut kami, saat sampai yang kami temukan adalah sebuah bangunan yang mencirikan sebuah rumah sakit. Sebuah bangunan tempat orang-orang dulu berkumpul dan menanti seseorang untuk mengobati penyakit mereka. Sama sekali tidak mirip dengan bangsal sekarang. Bangunan ini sangat megah dengan ruangan-ruangan yang dilengkapi sebuah tempat tidur. Mirip seperti gedung penginapan, namun lebih megah. Kami menemukan tabung-tabung oksigen yang masih terisi. Mesin-mesin yang sayangnya tak dapat kami aktifkan karena tak ada sumber daya listrik di sekitar sini. Atau lebih tepatnya, kami belum menemukan sumber daya listrik untuk kota ini. Sebagian bangunan ini sudah terbenam dan kami harus berhati-hati sekali saat menyusuri lorongnya. Ruangan-ruangan yang cukup nyaman di bawah tanah sudah kami jadikan tempat tinggal sementara. Tempat ini nyaris seperti gurun dan jauh lebih nyaman untuk tinggal dalam ruang-ruangan di bawah tanah. Ada sebuah ruangan yang membuatku terhenyak karena mengira tempat itu semacam perpustakaan. Kiron memberitahuku kalau dulunya ruangan ini tempat para ‘dokter’ menyimpan rekam medis orang-orang yang berdatangan. Semua kertas sudah hancur, kecuali map-map plastik. Tentu saja terdapat komputer yang bertengger di setiap meja, namun tak satupun yang bisa dinyalakan. Aku tak bisa membayangkan berapa harganya kalau dijual karena benda-benda ini cukup utuh. Kami semua sepakat untuk menjaga barang-barang ini seperti sedia kala, sampai kami menemukan sumber daya listrik untuk menghidupkan semua mesin yang ada di sini.
Ophir memiliki sangat banyak pengetahuan dan darinyalah kami semua tahu jenis kecerobohan yang pernah terjadi di masa lalu. Mereka sangat-sangat bodoh, kalimat itu terus diulang-ulang dan aku semakin mempercayai kebenarannya. Hampir setiap hari kami memasuki lorong-lorong yang terhubung ke jalan raya di masa lalu. Beberapa jalan berakhir buntu dengan puing-puing bangunan lain atau bebatuan. Sumber air bersih yang kami miliki di sini sangat terbatas dan kami membutuhkan pertolongan secepatnya. Surat ini aku titipkan kepada salah satu petugas yang akan menemui Kilma untuk menceritakan temuan kami. Jika tidak, kami akan berakhir sebagai tengkorak seperti kelompok sebelumnya. Kadang kami dapat begitu putus asa dan berharap mereka tak pernah berperang.

Kilma akan merampas semua barang temuan mereka!”
 
“Kecuali mereka cukup pintar untuk menyimpan sebagian,” balas Lagne. “Seharusnya temanmu tak menceritakan semuanya di sini. Namun kedengarannya mereka semua cukup kompak dan sengaja menceritakannya untuk menarik perhatian Kilma.”

sebuah komputer yang masih utuh nyaris di tiap meja…

Aku tak bisa membayangkan berapa banyak informasi yang bisa mereka dapatkan dari benda itu jika mereka menemukan sumber daya listriknya lebih dulu sebelum bantuan Kilma datang. 

Dan satu lagi, surat ini seperti terpotong.






Postingan populer dari blog ini

10 Film Asia yang Tak Terlupakan

Sandikala

random#9