Amphibi; chapter 16



Chapter 16

“Semalam saya mengunjungi pusat kota,” kataku pada Lagne. Ia baru saja memberitahuku kalau ia perlu menunda sementara penelitiannya mengenai amphibi. Sepertinya surat dari Filo sangat mempengaruhinya. “Aku baru tahu kalau masih ada sebuah pohon besar yang tumbuh di sekitar sini.”

“Pohon itu menjadi magnet pertama yang membuat orang-orang dulu berdatangan.” ujar Lagne. “pastinya kamu juga sempat melihat prasasti di sana. Benda itu sudah lama di sana sebelum orang-orang gelombang pertama datang kemari.”

“Saya mendatanginya malam hari,” kataku. Di bawah temaram lampu tak banyak yang dapat kulihat. “Menurut Anda apa artinya?”

“Tempat ini pernah menjadi semacam pusat ilmu pengetahuan. Kemungkinan semacam laboratorium.” Kilma menunjuk ruangan tempat tinggalnya. “Kamu pasti sempat melihat jam dinding besar di sana.”
“Ya! Jam itu sangat terawat sekali. Saya tidak mengerti mengapa waktu begitu penting di sini.”
“Di manapun waktu itu penting,” balas Lagne. “Aku tidak tahu apakah kita mempunyai waktu cukup banyak. Suatu hari kamu pun akan diliputi frustasi saat mencoba mencari hubungan antara waktu dan Perang Besar. Sumber pengetahuan yang kita punya sangat sedikit. Semua bahasa yang pernah kita kenal nyaris tak ada yang tersisa. Aku sendiri bahkan tak yakin dengan semua yang telah kuketahui. Kilma dan orang-orangnya membuat segalanya semakin rumit. Aku dapat memahami alasan mereka namun di saat yang sama aku tidak dapat memaafkan mereka.”
Aku membuka kembali surat dari Filo. Mencoba menemukan sesuatu yang baru di sana. “Kalau seandainya mereka menemukan sumber daya listrik lebih dulu dari utusan Kilma, kemungkinan mereka bisa mencuri semua informasi,” kataku.
Lagne tertawa. “Aku menyukai semangatmu. Jika Kilma membiarkan surat itu sampai kepadamu, itu artinya ia mengijinkan hal yang sama terpikirkan olehmu.” Lagne mengetuk-ngetukkan jarinya di atas meja. Membongkar berkas yang menumpuk dan berusaha menemukan sesuatu. “Sudah berapa banyak kota yang sudah kita temukan?”
“Dua puluh tujuh? Jika Jakarta kita ikut sertakan.”

“Yah, sekitar itu. Jika temanmu menemukannya setelah terus bergerak ke timur, kemungkinan kita perlu menyusun ulang nama-nama kota yang sudah ada. Delapan enam sebelumnya sudah berada di bawah kuasa Kilma dan semua sumber daya berada di bawah kendali mereka. Orang-orang yang menemukan semua informasi lebih dulu akan ditawari bekerja oleh Kilma atau berakhir sebagai pupuk untuk lahan pertanian yang segera dibuka. Sebagian cukup berhasil membelot pada Kav, namun sumber yang mereka peroleh cuma sisa-sisa dan kesimpulan yang dapat mereka tarik sangat meragukan.”

“Anda pernah bekerja kepada Kilma dan mendapat akses ke ruang penyimpanannya,” aku mencoba mengingatkan.

“Dan itu artinya aku berada di bawah pengawasan mereka sepanjang waktu. Bahkan percakapan kita saat ini dapat mereka prediksi,” Lagne menghela nafas, “Tidak semua orang cukup beruntung sepertiku. Melepaskan diri dari Kilma dan mencari tahu pengetahuan berdasarkan ketertarikanku sendiri. Mungkin karena kami sudah terlalu tua untuk dicurigai.” Ia berhenti sejenak, seperti menimbang-nimbang apa yang akan ia utarakan kemudian, “sebenarnya surat dari temanmu membuatku mempertimbangkan untuk kembali bekerja kepada Kilma.”

“Begitu?”

“Seperti yang kusampaikan tadi, aku akan menunda penelitianku soal amphibi itu. Mungkin berita baiknya, kamu boleh meneruskannya. Beberapa sumber yang kupunya boleh kamu baca. Jujur saja tidak banyak yang bisa kutemukan, namun yang kudapati mereka itu jenis hewan yang sangat menarik. Kamu akan tersadar kalau kita telah kehilangan banyak sumber pengetahuan.”

<>




Komentar

Postingan populer dari blog ini

10 Film Asia yang Tak Terlupakan

Sandikala

random#9