Dosa Kita Semua



Judul: Dosa Kita Semua
Penulis: Motinggo Busye
Penerbit: Balai Pustaka
Cetakan VI 2001


Cerita ini dibuka saat Wahab masih berada di atas kapal. Sambil menunggu ijin merapat dari syahbandar, Wahab sempat berbincang dengan sang kapten kapal, Berek Kandilla. Begitu tahu kalau Wahab telah meninggalkan rumahnya tanpa kabar selama dua tahun, sang kapten menasihatkan begini, 

“Kalau kau akan berangkat meninggalkan istri, janganlah terlalu lama. Kalau lebih dari 40 hari, taruhlah abu di sekeliling tempat tidurnya.”
 
Kata-kata dari Berek Kandila sempat membuat Wahab khawatir, “tetapi istri saya perempuan yang setia,” balas Wahab. Saat kapal itu merapat, Wahab langsung menuju rumahnya di balik Gunung Kunyit dan menemukan pada gerbang rumahnya terpasang rumah ini dijual.

Akhirnya ia terpaksa menginap di hotel dan lagi-lagi bertemu dengan Berek Kandilla. Kapten yang telah melaut selama dua puluh tahun, dan sambil meramal sendiri kondisi kapalnya, ia mengatakan kalau kapalnya rusak banyak, dan Wahab mendapat teman mengobrol cukup lama selama di hotel.
Terbit pertama kali pada tahun 1986. Bercerita tentang kehancuran sebuah keluarga, yang sesuai dengan judulnya, tak satupun dari tiap mereka yang suci. Yang menarik menurut saya bukan pada drama atau kejadian yang dilebih-lebihkan, namun pada individu dalam cerita ini dan bagaimana ego setiap individu membangun cerita. Tidak ada paragraf yang panjang-panjang. Penulisnya tidak boros dalam berkata-kata, namun di saat yang sama saya juga membayangkan ceritanya akan lebih mudah dipahami (oleh pembaca awam seperti saya) jika ceritanya lebih panjang.

Saya membayangkan kalau seandainya Suramah, putri pertama Romlah mendapat porsi lebih banyak, tentu ceritanya lebih menarik.


Best Quote

"Sugiku terbang."

(Seorang nenek tua kepada Romlah, halaman 43) 


Komentar

  1. Hmmmm

    Udah lama banget aku nggak baca-baca buku dengan genre ini
    Terakhir pas kuliah S1, di Perpustakaan daerah

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sandikala

Gairah Untuk Hidup dan Untuk Mati

10 Film Asia yang Tak Terlupakan