Perempuan




Judul: Perempuan, Kumpulan Cerita Pendek
Penulis: Mochtar Lubis
Yayasan Pustaka Obor Indonesia
Juni 2010

Pengantar yang ditulis oleh Riris K Toha untuk buku ini dimulai kira-kira dengan pertanyaan semacam ini: Apa yang membuat cerita di masa revolusi menarik untuk dibaca? Atau setidaknya cerita yang bersetting di masa-masa yang tak jauh dari masa perjuangan? Permasalahan manusia di jaman itu tentunya berbeda dengan yang kita hadapi sekarang. 

Mungkin karena penulis masa itu masih diliputi oleh semangat yang meluap tentang menjadi ‘Indonesia’. Mungkin juga karena situasi perjuangandi masa itu membuat individu-individu dalam ceritanya memiliki suatu jenis cita-cita. Kalau-kalau enggan ikut kisruh dengan seteru di media sosial, membaca buku-buku cerita di masa perjuangan kemerdekaan bisa menjadi pilihan. 

Buku ini dibuka dengan cerita pendek berjudul Perempuan. Tentang seorang tentara Jepang bernama Maeda yang jatuh cinta kepada Indonesia. Kadang sikapnya saat memprotes pemerintah Jepang membuat lawan bicaranya yang pribumi menaruh curiga. Maeda sendiri masih termasuk peranakan Indonesia. Lahir dan tumbuh selama dua tahun di Indonesia lalu dibawa ke Jepang oleh orang tuanya. Kemudian saat masa pendudukan Jepang ia datang sebagai tentara. 

Saat Jepang mulai menunjukkan tanda-tanda kekalahan, Maeda mulai mempersiapkan diri untuk melebur bersama masyarakat Indonesia. Membeli peci dan sebuah sarung serta merencanakan untuk tinggal di kampung. Saat itu ia sudah menikahi perempuan pribumi bernama Aisah. Sayangnya pergolakan di masa pribumi itu menyulitkan langkah Maeda. Bersama Aisah ia ikut kembali ke Jepang dan bekerja di pemerintahan sebagai penerjemah. 

Bertahun-tahun kemudian ia bertemu kembali dengan tokoh “aku” yang tengah berkunjung ke Jepang. Kemudian kita akan mengetahui kisah sebenarnya saat si aku berinteraksi dengan Aisah. Tentang hubungan Aisah dengan Maeda yang dingin. Kesepian yang meliputi kehidupan mereka. Keterasingan Maeda di negerinya sendiri dan ketakmampuannya untuk menetap di Indonesia. 

Ada juga cerita berjudul Angin Di Musim Gugur mengenai Hutabarat yang mati di New York. Ini menurutku cerita yang menarik karena kita mengenali Hutabarat melalui tuturan orang lain. Nyaris seperti mengikuti gosip. Dimulai dari percakapan ringan antara aku dan Yunan saat mereka makan siang di restoran. Angin musim gugur yang berhembus membuatnya teringat,“Tepat setahun lalu Hutabarat mati tertembak oleh polisi. Dia ikut merampok sebuah toko.--”

Digerakkan penasaran, si aku mencari tahu lebih banyak mengenai Hutabarat. Mulai dari Jamil, Datuk, Lidya, hingga seorang Sersan yang menembak mati Hutabarat saat merampok. Setiap orang menggambarkan Hutabarat sebagai sosok yang berbeda. Mirip seperti cerita orang-orang buta dan seekor gajah. Hingga cerita berakhir dengan berbagai pertanyaan yang diajukan oleh si aku kepada dirinya sendiri. Tentang betapa rumitnya manusia.
Selain kumpulan cerita ini, menurutku buku dari Mochtar Lubis yang perlu dibaca adalah Jalan Tak Ada Ujung.

Best Quote

“… Mungkin Hutabarat adalah korban dari pusaka yang diterimanya dari manusia generasinya—kebingungan, kekacauan, ketakutan, kegagalan dan kepalsuan yang hendak dibuat menjadi kebenaran,..” 
(halaman 48) 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sandikala

10 Film Asia yang Tak Terlupakan

Review Buku: Bibir Dalam Pispot