MONSTER

 
Tanah ini berkapur. Tergenang sisa hujan di balik semak belukar. Tiap kali melangkah telapak kakinya terhisap sesaat. Setiap langkah menghasilkan suara seperti tercekat. Sepatunya hilang entah di mana. Ia sudah menyerah untuk mengingat. Saat ini ia cuma mengikuti naluri. Berjalan membuntuti bekas-bekas samar pada semak belukar. Mungkin bekas hewan liar. Tapi, pikirnya, jalan ini pasti berujung di suatu tempat. 

Saat genangan ini berakhir, tanah lembab yang ia pijak terasa empuk oleh tumpukan daun-daun yang telah membusuk. Ranting-ranting menggores telapak kakinya, namun yang ini pun tak bisa ia rasakan. Kakinya kebas sampai ke mata kaki. Ia mendongak, memeriksa posisi matahari. Saat ini mungkin sekitar pukul sepuluh pagi. Atau pukul tiga sore? Ia tak yakin. Udara lembab di sekitar memberi sedikit ketenangan sementara ia melangkah. 

Ia memeriksa pakaian yang ia kenakan. Celana panjang dengan bekas tumpahan cat di bawah lutut. Yakin masih mengenakan celananya sendiri. Kemudian kaos tanpa lengan berwarna hitam ini, ia yakin bukan pakaiannya. Tas ransel yang menggantung dipundaknya ia periksa dan mendapati sebilah pisau, roti, dan dalam bungkusan terlihat sekuntum bunga, putih, menguarkan aroma yang kembali menenangkan. Menyimpulkan kalau tas ransel ini pun bukan miliknya. 
Tanah yang ia pijak mulai berbatu. Pepohonan terlihat seperti pengulangan dari pohon-pohon yang lain. Ia mencari tanda-tanda adanya batu besar. Mungkin bekas letusan gunung jutaan tahun lalu. Sebuah batu yang cukup tinggi seperti bersandar di salah satu pohon. Ia memanjat batu tersebut dan dari sini, ia bisa melihat batu-batu berikutnya. Tersusun sedemikian rupa membuatnya mulai membayangkan bagaimana dulu lava pijar pernah menggenangi tempat ini. Mungkin dulu tempat ini bahkan sebuah sungai. 

Ia mulai melihat irama yang diciptakan semak belukar itu. Pakis yang berjejer membentuk garis berkelok dan terus tumbuh sementara lantai hutan ini melandai. Bergerak mengikuti tanah yang kini berkerikil dan berpasir. Berharap lajur yang diciptakan tanah berkerikil ini akan membawanya pada sebuah sungai. Dari sana nantinya akan jauh lebih mudah mengikuti aliran air. Ia juga bisa mendapatkan air minum lebih mudah. Membuat rakit atau apa saja yang bisa membawanya semakin dekat ke rumah penduduk. Sekarang ia menyesal tak mengambil genangan air tadi sebagai bekal. Ia tak tahu pasti kapan ia akan bertemu bibir sungai. Sementara terus berjalan, ia mencoba mengingat satu kata. Apa saja yang bisa mengembalikan ingatannya mengapa ia berada di sini. 
Satu-satunya kata yang akhirnya terus mengapung dari lautan gelap ingatannya adalah mati. Kembali ia mencoba mengingat kata lain. Apa saja yang terhubung dengan kata itu. Yang ia ingat kini adalah gerak senter yang memburu dalam gelap. Kemudian tulang-belulang. Lalu deru nafasnya sendiri yang secara otomatis memburu. Tanpa sadar ia kembali berlari. Sekarang ia ingat bagaimana ia keluar dari kegelapan itu. Hujan sedang mengguyur deras dan ia mencoba mencari cara untuk berlari sejauh mungkin. Saat itu salah satu sepatunya terbenam di dalam lumpur. Apakah ia sendirian saat itu? Yang ia ingat ia ketakutan dan sedang berusaha lari dari sesuatu.

Sontak ia melihat ke segala arah. Apapun yang telah memburunya, mungkin kini masih mengintai. Bulu tengkuknya berdiri dan ia berusaha menenangkan diri dengan menghirup nafas dalam-dalam. Angin di dalam hutan seperti berhenti. Air yang dikandung udara justru membuat nafasnya semakin berat. Seingatnya ia tak mengidap asma. Tapi terasa ada tonjokan di dadanya yang membuatnya terpaksa membungkuk dan berhenti berlari. Matanya mulai berkunang-kunang. Dengan gerak merunduk ke depan ia mencoba terus berjalan. Bernafas pelan. Lantai hutan di hadapannya bergerak naik turun. Saat akhirnya ia menubruk sebuah pohon, ia memutuskan untuk berhenti sejenak. Meluruskan kaki dan meyakinkan dirinya kalau tak ada siapa-siapa yang tengah memburunya kali ini. 

Ketika ia mendapatkan nafasnya teratur kembali, pepohonan di sekitarnya tak berputar-putar lagi. Ia bangkit dan mengikuti jalur yang diciptakan kerikil-kerikil dan tanah berpasir itu. Pepohonan mulai meregang. Langit mulai terbuka dan angin yang lebih kencang menerpa tubuhnya. Tidak ada suara air. Cuma suara angin yang menerpa kencang dari depan. Ia sampai di tepi sebuah tebing. 

Setidaknya, dari sini ia bisa melihat atap-atap rumah penduduk. Terlihat berupa petak-petak coklat kemerahan di bawah terik siang. Sambil mempelajari di mana tebing itu melandai, ia kembali duduk dan merogoh isi ranselnya. Mengeluarkan roti yang sudah keras. Pisau itu ia masukkan ke saku celana. Sementara bunga yang ada di dalam ranselnya tak bisa ia pahami mengapa ada di situ. Kelopaknya lebih keras dari yang ia duga. Ia sempat mengira bunga itu bunga sintetis, namun goresan-goresan yang terdapat pada tangkai bunga itu meyakinkannya kalau bunga itu asli. Ia memasukkannya kembali ke dalam ransel dan merasa tenang. Kini ia melihat ada sebuah celah yang menyerupai jalan turun pada tebing itu. Ia beranjak ke sana dan melihat bebatuan dan bongkahan tanah bertindihan. Sepertinya hujan semalam menciptakan jalan turun bagi genangan air melalui celah ini. 

Ia turun dan berpijak pada batu-batu yang licin itu. Berpegangan pada akar-akar belukar yang mencuat di antara tanah berlumpur. Tiba di bawah, yang ia hadapi adalah hutan yang lebih muda. Pepohonan lebih pendek dengan semak rambat yang menjalari dahan-dahannya. Ia mengingat-ingat di mana posisi atap rumah penduduk itu tadi. Sepertinya tak begitu jauh dari sini. Lamat-lamat ia mendengar suara air mengalir. Sebuah jalan setapak menggirangkan hatinya. Dengan langkah yang lebih panjang ia menyusuri setapak itu dan tiba di bibir sebuah sungai yang cukup lebar. Airnya mengalir tenang. Tanpa pikir panjang ia melepas dahaga dengan meneguk air sebanyak mungkin. Di seberang, beberapa kambing tengah merumput. Ia berteriak meminta tolong, namun tak nampak ada siapa-siapa selain kambing itu.

Ia memutuskan untuk menyeberangi sungai. Alirannya yang tenang tak membuatnya khawatir. Berjalan menembus arus dan merasakan dinginnya air sungai itu menjalari tubunya. Saat kakinya tak lagi memijak apa-apa, ia pun mulai teringat kalau ia tak bisa berenang. Dengan sia-sia menggerakkan lengan dan kakinya agar bisa membuatnya bergerak maju. Tangannya cuma menggapai udara kosong. Menciptakan riak di tengah sungai dan buih-buih kecil yang membuat kawanan kambing di tepian mendongak heran sejenak, lalu kembali merumput. Saat tubuhnya semakin lemas, ia terbenam ke dalam. Air itu menyelimutinya dan ia tak berusaha melawan.

Sekarang ia mulai teringat, bagaimana ia jatuh dalam kegelapan di tengah hutan. Ada dua orang lain bersamanya saat itu. Yang satu diterjang sosok gelap dari belakang sementara ia bergerak menari. Ia ingat bagaimana tubuh itu lenyap di kedalaman gua. Yang satunya lagi berlari sejauh mungkin dan menghilang di antara rimbun rimba. Sosok gelap itu menatapnya, ia terpaku dengan tubuh sedingin es. Saat yang gelap itu melompat menerjangnya, ia merasakan cengkeraman di pundaknya. 

Yang dilihatnya kemudian adalah berkas cahaya yang masuk melalui sebuah jendela besar. Langit di luar sana terlihat mendung kemerahan. Beberapa orang terlihat berdiri dengan raut khawatir. Sesekali memeriksa ke arahnya, sesekali melempar tatapan was-was ke arah hutan. Dalam keremang-remangan, bahkan para penduduk itu terlihat seperti sosok-sosok gelap yang menakutkan.

Dia sudah siuman,” ia mendengar suara seorang laki-laki.

Biarkan dia beristirahat,” sahut seorang perempuan.

Sekarang sekujur tubuhnya seperti mendapat kesadaran kembali. Nyeri menjalar ke seluruh persendiannya. Sementara di luar sana langit kian gelap, ia melihat laron-laron menyerbu masuk pada lampu-lampu yang berpendar di teras. Seperti ingatannya yang mulai menyerbu masuk ke dalam kepalanya. Terbang berputar-putar dan membuatnya mual.


Jalan setapak di tengah hutan itu berputar-putar. Tidak peduli jika ia memilih persimpangan lain, ia selalu sampai pada titik yang sama. Sampai kemudian ia mendengar suara dua orang saling bersahutan.

Jadi ini cuma jejalin tahayul,” ujar seorang berperawakan kurus. Menenteng sebuah ransel gempal yang menyamai berat tubuhnya.

Kita baru tahu kalau sudah sampai ke gua itu,” Sahut yang satunya.

Wi, sebaiknya kamu lebih memilah apa yang kamu konsumsi.”

Ayolah, ini juga cuma untuk senang—,” kalimat laki-laki yang dipanggil Wi itu terhenti begitu melihatnya. Langkah mereka berdua pun terhenti.

Dari mana kalian datang tadi?”

Laki-laki yang berperawakan kurus itu menoleh ke belakang, “dari belakang,” ia terkekeh.

Serius Sum,” Wi mendorong Sum sampai terjengkang.

Aku sudah berhari-hari di dalam sini.”

Wi dan Sum menatapnya prihatin. “Kami punya makanan,” ujar Sum. Mengeluarkan roti dari ranselnya dan menyodorkan roti itu padanya. Wi menyodorkan sebotol air minum.

Rumah penduduk tidak jauh dari sini?”

Dekat kok, masnya ikut saja jalan ini. Kami juga baru masuk hutan ini.”

Ia menghela nafas. Lega. Mengembalikan botol minuman dari Wi dan menepuk pundak mereka. “Jangan sampai tersesat,” ujarnya sungguh-sungguh. Namun dua orang itu malah tertawa mendengarnya.

Ia melanjutkan langkah dengan perasaan yang lebih enteng. Tidak ada lagi persimpangan yang perlu membuatnya bingung. Sementara pepohonan menjadi kian renggang, ia mulai bersiul. Jalan setapak itu mulai menikung turun, dan “Loh!” terdengar suara kaget dari balik punggungnya.

Wi dan Sum terbelalak heran mendapatinya berjalan di depan.

Sial, kalian juga kena.”

Kena apa mas?”

Entah. Jalan ini tidak punya ujung.” Ia memutar badannya kembali, menghadap jalan yang menikung turun dan terlihat sebuah lubang menganga di tengah sana. Kawanan kelelawar terbang berputar di atasnya. “Tapi yang ini belum pernah kulihat. Sepertinya kita semakin masuk ke dalam,” ujarnya letih.

Ranselmu keliatannya berat. Biar bawa punyaku saja.” Wi melepas ranselnya. Tanpa protes ia melepas ransel yang memberati pundaknya selama berhari-hari ini. Ransel dari Wi nyaris tak terasa sama sekali di pundaknya.

Busyet, masnya bawa apa saja ini?”

Tadinya aku mau nggambar,” sahutnya. Wi dan Sum saling melihat satu sama lain.

Kami tidak tersesat,” kata Sum. “Kami memang mencari gua ini. Lebih tepatnya Wi yang nyari. Dia sedang terobsesi dengan kembang.”

Wi menunduk malu. “Cuma iseng saja kok. Masnya pernah dengar monster gua yang tinggal di sini?” Matanya menelusuri kaus merah yang ia kenakan. “Oh sial, kaos merah.”

Cuma tahayul. Sama seperti baju hijau kalau kita ke Parangtritis,” sergah Sum.

Mereka tiba di bibir gua dan melihat kegelapan di bawah sana tak berdasar. “Kalian yakin mau masuk ke sini?” tanyanya heran.

Wi menatap kosong ke dalam, menelan ludah, “Enggaklah. Kita ambil foto saja dan pulang.”

Sum terkikik. “Coba kamu nyanyikan mantra yang kamu bilang itu.” Sum melepas kaos tanpa lengannya, “mas sini kita tukeran kaos saja.”


“Kenapa?”


“Monster yang mendiami gua ini paranoid sama warna merah.”


“Dia paranoid pada apa saja yang bergerak,” sahut Wi tinggi. Ia melihat tanda-tanda kalau kedua anak laki-laki itu akan berdebat, akhirnya ia membuka kaosnya cepat-cepat dan memakai kaos tanpa lengan dari Sum di badannya. Dengan kaos merah, Sum menari di bibir gua. Wi bergerak menjauh. Sum tertawa.

Sesosok gelap menerjang. Tubuh kurus Sum lenyap dalam kegelapan gua. Wi berlari dan lenyap di antara semak belukar. Sosok gelap itu kini menatapnya dan sekujur tubuhnya serasa diguyur es. Saat monster itu menerjangnya, ia merasakan ada cengkeraman di pundaknya.


Dia mengigau lagi,” terdengar suara seorang laki-laki.

Biarkan dia istirahat, Rustam!”

Rukiyah, sebaiknya kamu buatkan dia minuman hangat,” ujar laki-laki itu.

Perempuan yang dipanggil Rukiyah beranjak ke dapur dan meraih sebuah termos.

Kadang, aku senang dengan adanya tahayul ini,” Laki-laki itu terkekeh. Menyulut rokok dan asap yang mengepul menutup separuh wajahnya. “Mereka urung merusak hutan,” asap rokok itu perlahan terurai dan sinar lampu yang temaram jatuh di wajahnya. 

“Sekarang, cuma malam-malam saja kita bisa mendengar suara serangga seperti ini, dengar!” ia meletakkan telapak tangannya di balik daun telinga. “Indah, kan?”

Ia cuma membalas dengan anggukan.

Saat siang hari, yang ada cuma suara monster,” tambahnya. Kemudian ia mulai menirukan suara gergaji mesin. Dengan lengannya ia menirukan gerak pepohonan yang bertumbangan. 

“Kamu lihat di situ,” ia menunjuk ke arah kegelapan di luar. 

“Kalau siang, kamu akan melihat monster-monster itu. Cuma malam seperti ini aku bisa membayangkan semuanya tetap sama.”

Biarkan dia istirahat!” Rukiyah kembali muncul membawa teh hangat.

Rustam memadamkan rokoknya di asbak. Kemudian bangkit dan pamit pergi. Bayangan Rustam yang gelap merayap di dinding rumah membuatnya menggigil. “Aku mau mencari mereka dulu,” ujarnya sebelum terlihat menghilang di kegelapan malam.

Dia semakin kesulitan menemukan mereka. Padahal Rustam mengenal jalan-jalan di hutan ini seperti urat nadinya sendiri,” kata Rukiyah khawatir.

Ia tak menjawab apa-apa. Cuma menatap ke luar. Pada gelap yang menyembunyikan monster-monster di luar sana. 
 

<>

Komentar

Postingan populer dari blog ini

10 Film Asia yang Tak Terlupakan

Sandikala

random#9