Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2018

Balam Gerbera

Gambar
Yanwar sedang mengetik kata desain mozaik di kolom pencarian google ketika terdengar jeritan histeris. Jerit panjang ketakutan yang direnggut keluar oleh tangan iblis. Semula ia mengira jeritan itu cuma pikiran saja. Ia belum tidur. Deru mesin mobil kadang terdengar seperti guntur. Namun teriakan histeris itu terdengar lagi. Kali ini Yanwar percaya pada telinganya. Ia bangkit dan menyingkap tirai jendela besar yang menghadap gereja. Jalanan masih sepi. Toko kembang di samping kiri-kanan masih tutup. Dinding polos pagar gereja pucat kedinginan. Jeritan itu tak terdengar lagi.

Yanwar melirik ke arah pagar gereja yang tak bergeming. Putih. Ia tak mendengar bisikan-bisikan hantu di situ. Tak ada bisikan apapun. Padahal selama ini ia selalu mendengar bisikan-bisikan di dinding. Ia yakin setiap bidang dinding menjadi rumah bagi hantu-hantu. Seperti pohon-pohon besar yang disembah. Seperti sebuah tikungan yang diberi sesajen atau danau gelap yang kerap menelan bocah.

Dinding kosong selalu m…

random#9

Lebaran dua hari sudah lewat dan Jogja masih cukup menyenangkan untuk berkendara (jalanan masih sepi). Satu-satunya hal yang belum tercapai adalah mengisi hari raya saya dengan satu scoop ice cream. Oke lupakan.

Dulunya saya menjadwalkan tulisan random diposting pada setiap hari senin. Namun karena hari libur saya bergeser ke hari Rabu dan Minggu, jadi saya pun akan memposting tulisan random pada hari Minggu. Itupun kalau ada hal random yang perlu diposting. Omong-omong saya juga mulai memposting lagi cerita bersambung Amphibi. Kemudian atas saran dari mbak Yenni Hamida, saya mengganti nama pil yang wagu itu, dari limp menjadi manna. Pilihan memakai kata manna sih dari saya sendiri, namun dari dulu nama limp untuk pil itu kurang okay.Supaya lebih bernuansa kitab suci, kamp tempat makan mereka diberi nama Salwa.

Tidak terasa sudah satu tahun berlalu dan anehnya saya masih memikirkan lanjutan cerita ini.


Bagi yang mampir ke sini dan masih merayakan Lebaran, selamat lebaran...


Amphibi; chapter 17

Gambar
chapter 17
Tempat tinggal yang ditunjukkan Sadri adalah sebuah ruangan yang sedikit lebih kecil dari kamar hotel Tuan Krol. “Ini masih tergolong bagus,” ujar Sadri. “Yang lebih buruk dari ini juga masih banyak. Kamar mandinya masih bagus dan jalan ke Salwa tak begitu jauh. Kamu tak akan kesulitan mendapat makanan.”
“Tempat ini sudah sangat bagus. Yang terpenting buatku adalah menemukan jalur tercepat ke rumah Lagne.” Bertahun-tahun tidak menetap membuatku tak terlalu memperhatikan tempat tinggal. “Tapi terima kasih,” kataku cepat-cepat. 
“Sebentar, aku lupa nama tempat kita bisa mendapat makanan.”
“Salwa” jawab Sadri, kemudian aku membiarkannya pergi. 
SALWA adalah satu dari lima titik yang menjadi tempat untuk mendapat makanan. Kota ini lebih mirip barak pengungsian yang sangat besar. Mungkin ada hubungannya dengan kepunahan penghuni pertama. Di kota ini kontrol Kilma juga jauh lebih besar.
Barang-barang telah kupindahkan ke dalam lemari. Berkas yang diberikan Lagne kuperiksa kembal…