Balam Gerbera




Yanwar sedang mengetik kata desain mozaik di kolom pencarian google ketika terdengar sebuah jeritan histeris. Jerit panjang ketakutan yang direnggut keluar oleh tangan iblis. Semula ia mengira jeritan itu cuma pikiran saja. Ia belum tidur, dan kadang deru mesin mobil terdengar seperti guntur. Namun teriakan histeris itu terdengar lagi. Kali ini Yanwar percaya pada telinganya. Ia bangkit dan menyingkap tirai jendela besar yang menghadap gereja. Jalanan masih sepi. Toko kembang di samping kiri dan kanan masih tutup. Dinding polos pagar gereja pucat kedinginan. Jeritan itu tak terdengar lagi.
Ia kembali melirik ke arah pagar gereja yang bergeming. Putih. Ia tak mendengar bisikan-bisikan hantu di situ. Tak ada bisikan apapun. Padahal selama ini ia selalu mendengar bisikan-bisikan hantu di dinding. Ia yakin setiap bidang dinding menjadi rumah bagi hantu-hantu. Seperti pohon-pohon besar yang disembah. Seperti sebuah tikungan yang diberi sesajen atau danau gelap yang kerap menelan bocah. 

Dinding kosong selalu membuat Yanwar ketakutan. Tiap kali ia diutus ke luar kota untuk mengikuti berbagai pelatihan yang membuatnya menginap di kamar hotel murah berdinding polos, selalu saja ia merasa kekosongan dinding itu menghimpit tubuhnya. Tak mudah baginya untuk tidur. Jika ia matikan lampu, kegelapan akan menekan tubuhnya di dasar kamar seperti danau gelap yang menyekap tubuh bocah-bocah di bawah lapisan lumpur. Jika lampu tetap menyala, bentangan putih tembok akan menerornya. Dengan suara-suara samar atau bisikan-bisikan yang mengutuknya.
Ia hanya bisa tidur setelah menutup wajahnya dengan sehelai handuk. Ini membuatnya terlihat seperti korban suatu kecelakaan. Seorang pemuda yang mati muda di sebuah tikungan. Tubuhnya digotong ke pinggir jalan dan wajahnya ditutupi sehelai handuk. Ia mengenakan jam tangan yang berkilau di bawah terpaan matahari. Tak jauh dari lengan pemuda itu seekor balam mematuk-matuk tanah. Yanwar melihat balam itu melompat hinggap di lengan si pemuda. Mematuk-matuk jam tangannya karena terpesona oleh kilaunya. Seseorang mengusir balam itu pergi.
Yanwar ingat, balam itu terbang ke ranting pohon mahoni. Kemudian terbang lagi hingga matanya tak bisa membedakan mana si balam mana dedaunan yang digoyangkan angin. Sering ia berkhayal balam itu membangun sarang di awan. Belum sampai khayalannya menuntun si balam itu pulang, Yanwar sudah terlelap. Terbangun di alam mimpi dengan bukit-bukit yang ditumbuhi berumpun-rumpun gerbera.

Satu-satunya tempat yang paling nyaman bagi Yanwar untuk tidur adalah rumahnya sendiri. Dinding di rumahnya dipenuhi coretan. Ditempeli sobekan-sobekan gambar dari majalah bergambar kembang. Ia juga membuat jejak-jejak tangan seperti yang dilakukan manusia purba di Gua Leang-leang. Siapapun yang datang ke rumahnya, akan mendapati tempat itu seperti liang gua yang dilukisi jejak tangan, garis-garis berputar dari arang untuk membingungkan para hantu, serta sobekan-sobekan majalah dan poster. Kerap tamunya menganggap dinding rumah Yanwar kelewat kumuh. Terlihat seperti dinding di pinggir kota yang letih ditempelcabuti reklame yang tumpang tindih bersama pilox. Karenanya, Yanwar selalu enggan menerima tamu. Ia lebih suka dinding yang ramai. Dinding seperti itu pula yang ia lalui sepulangperginya ke tempat kerja. Pada gang-gang sempit yang ia susuri, di antara coretan dan tulisan-tulisan mesum dari pilox, bisikan-bisikan hantu itu akan tersesat sendiri. 

Di tempat kerjanya, tak ada dinding yang selamat. Selalu ditutupi rak buku atau poster-poster buku yang sedang dipromosi. Dialah yang memberi usul itu kepada manajernya di toko buku. 

Atasannya menyukai idenya, dan hampir selalu menanyai Yanwar setiap kali mereka perlu mengganti interior toko itu. Sering pula ia mengutus Yanwar ke kota-kota lain, mengikuti berbagai pelatihan dengan orang-orang dari toko buku cabang lain, dan ia harus menginap di kamar-kamar hotel murah dengan dinding kosong dan hantu-hantu yang menghimpitnya dengan bisikan-bisikan.
Ketika atasannya memanggilnya, sebelum sebuah surat tugas disodorkan kepadanya, Yanwar sudah setengah memohon berkata, “Saya tidak bersedia dikirim ke luar kota lagi.”
Qori, atasannya, sempat terkejut. “Kali ini bukan training lagi,” jawabnya, sempat ia geli. “Ini surat rekomendasi yang akan saya kirim ke Jakarta. Saya ingin kamu membacanya dulu.”
Yanwar ragu namun ia meraih surat itu juga.
“Cabang baru mau dibuka lagi di jalan S?”
“Di seberang gereja. Lokasinya bagus, kan? Orang-orang yang baru pulang kebaktian pastinya akan langsung mampir. Pasti akan ramai. Terutama hari Minggu.”
“Di antara toko-toko kembang itu?”
Qori tersenyum. Yanwar punya ketertarikan sendiri pada jenis kembang tertentu. Herbras. “Lokasinya tidak jauh dari rumahmu, kan?” tanyanya antusias. Ia teringat rumah Yanwar dengan dindingnya yang ramai oleh goresan-goresan. Unik. Artistik, ia ingin menyebutnya. Ia satu dari sedikit orang yang tak menganggapnya kumuh, namun tak pernah ada alasan yang cukup untuk berkunjung ke rumah Yanwar lagi.

Deretan toko bunga di depan gereja itu, Yanwar hanya melihatnya dari kejauhan selama ini. Ia jarang lewat situ dan kini ia tahu kenapa. Di seberang barisan toko kembang, dinding pagar gereja terbentang putih lengang. Cukup lebar untuk dihuni ribuan hantu. Dalam kekosongan yang teramat luas, segala bentuk kutukan yang dibisikkan hantu-hantu itu berlarian. Menyeberang jalan, menembus lalu-lalang kendaraan dan menyergap Yanwar yang baru saja turun dari mobil.
“Kamu tidak apa-apa?” Qori menghampirinya, khawatir.
Yanwar berjalan doyong ke lahan parkir toko. Ia berpegangan pada sebuah tiang dan mulai muntah. Penjaga toko kembang yang melihatnya langsung mendelik. Menyelamatkan beberapa vas kembang yang berjejer di pinggir trotoar dari semburan muntah. Ia mengangkat satu tangannya untuk menghalau Qori memijat pundaknya. “Tidak apa-apa,” jawabnya. Masih dengan langkah linglung berjalan ke depan pintu toko yang masih tutup. Berdiri membelakangi jalan dan bentangan pagar gereja.
“Tempatnya cukup luas. Balkon di lantai dua nanti bisa dijadikan kafe. Tapi aku mau meminta pendapatmu dulu,” Qori mengeluarkan sebuah kunci. Mendorong salah satu daun pintu bergaya indis itu kemudian masuk ke dalam ruang toko yang gelap. Debu menyergap dan Yanwar langsung mendapat firasat buruk begitu Qori beranjak menekan saklar lampu. Ribuan hantu memekik terkejut begitu ruangan itu disirami cahaya. Yanwar berlari keluar. Meninggalkan tempat itu begitu saja. Qori berdiri di tengah ruangan yang kosong berdebu, kebingungan.

Terakhir kali ia mendengar pekik ketakutan para hantu ketika ia mengendarai sebuah motor. Memboncengi teman masa kecil yang sudah lama tak ia jumpai. Mereka baru saja menghabiskan waktu di tepi danau. Bercakap saja. Namun Yanwar lebih banyak diam karena temannya itu lebih banyak menangis.
“Kamu ingat Odah? Aku berpapasan dengannya Rabu kemarin. Dia sedang hamil tua. Bisa kamu bayangkan sebesar apa Karni sekarang? Mungkin dia juga sedang mengandung anak pertamanya.” Permukaan danau menciptakan riak-riak kecil dihujani air matanya. Yanwar tertegun menatap bayangannya sendiri di danau. Tanah kecoklatan dan sebaran lumut dihiasi gelembung-gelembung udara yang bertaburan seperti manik-manik. Ikan-ikan kecil berlarian di antara pantulan wajahnya. 

“Mungkin dia memang berniat kabur.”
“Dia baru enam tahun. Tidak ada anak enam tahun yang meniatkan kabur,” bantah Yanwar.
“Bisa saja! Aku sering kabur ke rumahmu kalau memecahkan piring atau merusak remote. Aku ingat pernah memarahinya karena menumpahkan sirop ke sofa. Mungkin dia kabur gara-gara itu.”
“Dia tidak kabur!”
Namun sahabatnya Piri tak mengindahkan. Ia terus meratap sampai mulutnya pegal sendiri.
“Aku sering bermimpi suatu hari dia pulang. Kadang aku merasakan jari-jari mungilnya memencet hidungku, sampai aku sulit bernafas. Dan terbangun. Kau tahu, selama beberapa detik, aku mendengarnya tertawa.” Piri bangkit. Ia sangat berbeda dengan yang Yanwar kenal dahulu. Pakaiannya lusuh. Perutnya buncit. Satu-satunya yang berkilau adalah jam tangan di lengan kirinya. Lengan kanannya kini buntung. Dari mulutnya menguar bau ciu. 

Ayo pulang!” Yanwar merebut kunci dari Piri. Ia tak ingin diboncengi Piri seperti tadi. Ia tak ingin kehilangan salah satu lengannya hanya karena diboncengi manusia yang lebih mirip hantu. Piri melempar seikat gerbera ke hamparan air. “Baru sekarang aku bisa memenuhi permintaanmu,” bicaranya pada danau. Kembang itu mengapung seperti perahu. Tersedot dengan cepat ke tengah-tengah seolah ada tangan transparan yang menariknya.
Yanwar menyetir motor dengan pelan saja. Piri masih sesekali meratap. “Mestinya hari itu kita tidak usah mengajaknya ikut.”
“Kita tidak mengajaknya. Karni yang menuntut ikut.”
“Maksudmu, dia yang meminta mati? Tidakkah kamu masih punya hati? Kamu tidak tahu rasanya bangun tidur dan mendapati adikmu hilang begitu saja? Atau, karena tak punya saudara yang membuatmu selalu mementingkan diri sendiri?”
Yanwar tak menimpali. Ia mengencangkan gas dan motor pun melesat. Suara Piri tertelan hingga ia tak lagi bersuara untuk beberapa saat. Hanya rengek mesin motor itu saja yang masih terdengar. Namun suara mesinnya pun semakin ditelan oleh suara angin yang menderu di telinga mereka. Semakin kencang mereka melesat, serasa mereka tengah mengendarai angin. Pepohonan dan hamparan sawah di kiri kanan seperti bentangan hijau yang panjang dan samar. Mereka melesat dalam lorong di mana bentuk dan warna melebur. Yanwar merasakan ada kegembiraan yang ganjil dalam dirinya. Lama setelah Karni meninggal ia tak pernah merasakan jantungnya berdegup seperti ini. Ia kembali mendengar suara Piri di belakangnya, namun suaranya itu dengan cepat dilontarkan angin. Mereka terus melesat. Jalanan dan pepohonan kini menjelma lorong yang meruncing di hadapan mereka. Angin menderu dan mereka terhisap ke satu titik. Hanya satu pekikan saja yang sanggup menghentikannya. 

Pekikan itu menerbangkan jalan dan pepohonan lalu menghempaskan mereka ke satu bentangan putih yang teramat luas. 

Dalam bentangan itu, bisik-bisik berlarian mengutuk. Lalu bayang-bayang manusia menjalar di atas tubuhnya. Ia melihat tubuh Piri terbaring dengan kepala ditutupi handuk. Seekor Balam melompat hinggap ke lengannya. Mematuk-matuk jam tangannya yang berkilau di bawah terpaan matahari.
Sinar matahari, yang menerobos dari genting kaca di kamar Yanwar terlihat seperti tabung panjang cahaya tempat debu-debu berarak tenang. Jika ia menatapnya cukup lama, ia membayangkan debu-debu itu bintang. Lalu ia mengibaskan tangannya, membuat debu-debu itu berhamburan dan bertabrakan. Ia bayangkan kelak kiamat akan seperti itu. Ia bayangkan di mana tempatnya kelak jika bintang-bintang bertabrakan. Jika kiamat terjadi besok, ia ingin tetap saja berbaring begini di dalam kamarnya. Namun sebuah ketukan di pintu memaksanya bangun. Sebelum membuka pintu kamar tamu, tanpa perlu menyingkap tirai, ia hapal dari bau parfum yang menerobos melalui lubang kunci bahwa tamu itu adalah Qori.
Ia berdiri dengan seikat kembang Gerbera di pelukan.
Dengan gerakan kikuk Yanwar mengambil seikat Gerbera yang disodorkan Qori. “Kamu masih sepucat minggu kemarin,” kata Qori lalu menghempaskan diri di kursi dan debu-debu langsung berterbangan. Ia urung melanjutkan kalimatnya dan kini sibuk menghalau debu yang menyerbunya dari segala arah. Yanwar nampak sibuk mencari tempat untuk meletakkan kembang Gerbera. Akhirnya tamu itulah yang bangkit dan membuka semua jendela. Udara yang masuk membuatnya lebih lega.
“Dindingnya juga masih seperti yang kemarin ya?” Ia mengira Yanwar akan mengganti gambar-gambar yang ditempel di dinding itu secara berkala, namun ruangan itu persis seperti terakhir kali ia datang ke tempat itu. Jejak-jejak tangan yang menyerupai jejak tangan manusia prasejarah di gua purba. Gambar-gambar kuda terbang atau entah burung digambar besar-besar dengan cat akrilik. Dengan cara tertentu ruangan itu terasa lebih gelap, lebih sempit, namun lebih nyaman. Tercium bau debu yang samar-samar tercampur dengan aroma parfumnya. Qori terkenang masa kecilnya, ketika ia kerap bersembunyi di dalam lemari dan merasakan ruang sempit yang gelap dalam lemari memberinya ketenangan, dan rasa aman bersama bau kamper yang tercampur dengan bau parfum ibunya.
“Senin besok saya sudah bisa masuk,” Yanwar muncul membawa baskom yang diisi air. Di atasnya gerbera dari Qori mengambang. Ia meletakkan baskom itu di atas meja dan selama beberapa saat menyaksikan kembang itu berputar pelan. “Ngomong-ngomong bagaimana tokonya? Mestinya hari ini ramai, kan”
“Belum seramai yang diharapkan. Orang yang dari gereja ternyata lebih banyak mampir ke warung steak di ujung utara. Sebaiknya kafe di balkon lantai dua cepat-cepat dibuka. Kenapa tidak ditaruh di dalam vas? Kamu tidak punya vas?”
Yanwar menggeleng. “Saya lebih suka melihatnya begini. Lihat, gelembung-gelembung udaranya. Mereka seperti manik-manik. Kembang ini bernafas di dalam air.” Mata Yanwar membelalak. “Coba lihat tangkainya! Mereka berkeringat, tapi keringat dari udara.” Qori terlihat bingung namun akhirnya ikut memerhatikan. Di sekujur tubuh kembang itu kini seperti tumbuh bulir-bulir udara. Ia sering melihat yang seperti ini namun tak mengerti apa yang istimewa darinya. “Kembang ini akan bernafas selagi dia bisa. Sampai dia tidak mampu lagi bernafas, gelembung-gelembung udara itu akan habis. Kemudian mereka membusuk. Saya sering memerhatikan selama apa mereka bisa bertahan di bawah air.”
Qori mengernyit, “Memangnya berapa lama mereka bisa tetap segar? Dua hari?”
“Kadang beberapa minggu. Kadang sebulan lebih. Padahal manusia kalau tenggelam cuma bisa bertahan beberapa menit sampai air memenuhi paru-parunya.”
“Kemudian mati?”
Yanwar menggeleng. “Pertama-tama mungkin dia pingsan dulu. Tubuhnya akan keram. Jika tidak ada yang menolong juga, akhirnya dia akan mati.”
“Seringkah kamu seperti ini?” tanya Qori heran. “Maksudku, seberapa sering kamu mengamati kembang membusuk di dalam air?”
“Kadang-kadang saja,” jawab Yanwar santai. Kemudian kembali asik menatap gerbera di dalam baskom. Qori tak pernah berhenti heran. Selama ini banyak ide-ide ajaib yang diusulkan Yanwar kepadanya sebagai bawahan di tempat kerja. Namun membayangkan Yanwar memiliki kegemaran menatap kembang membusuk tak pernah ia pikirkan sama sekali. Selama ini ia mengira, setidaknya dengan tatapannya yang seperti menatap kejauhan, Yanwar banyak menghabiskan waktunya memandangi permukaan danau yang tenang. “Anda mau minum kopi atau teh?” tanya Yanwar terkejut. Ia baru sadar belum menawarkan minum kepada tamunya sejak ia datang.
“Tidak, tidak perlu,” jawab Qori tak kalah kaget. Ia sendiri lupa tujuannya datang. “Aku harus balik ke toko. Sebaiknya kamu banyak beristirahat.” Ia cepat-cepat bangkit. “Tadinya aku mau memberikan ini,” ia menyodorkan kunci duplikat. “Jumlahnya ada tiga. Yang satunya lagi aku berikan ke security.”
“Besok saya sudah bisa masuk,” jawab Yanwar mantap. Ia mengantar Qori sampai ke pintu dan melihatnya menghilang di ujung gang. Kunci yang diberikan Qori semakin menetapkan hatinya untuk melaksanakan rencananya malam nanti.

Deretan toko kembang dan toko buku di depan gereja itu tutup pukul sembilan malam. Namun baru sekitar pukul sebelas jalan kecil itu benar-benar lengang. Orang-orang di toko kembang kadang tetap sibuk sampai dini hari. Menerima bunga-bunga segar yang baru datang dari luar kota. Hujan deras turun dan ia terpaksa menunggu beberapa lama. Yanwar tak melihat jam ketika hujan akhirnya reda. Cepat-cepat ia memakai jaket, mengantongi sebongkah arang di saku jaketnya kemudian berjalan menyusuri gang yang basah menuju gereja.
Jalanan sepi. Beberapa toko kembang terlihat masih membuka pintu tokonya, namun teras yang menghubungkan toko dan trotoar terlihat lengang. Para pegawai toko ia lihat tengah memotong-motong tangkai kembang dan menyusun sebuah karangan bunga dengan mata mengantuk. Yanwar mengangguk permisi ke arah mereka yang cuma dibalas dengan tolehan sebentar dan kembali sibuk. Ia menyeberangi jalan ke arah gereja. Seekor anjing yang sedang mengendus tumpukan sampah langsung berlari menjauh begitu ia mendekat. Tikus-tikus di selokan yang becek bercericit gelisah dan cepat-cepat bersembunyi ke liangnya.
Pagar gereja itu, membentang dan masih basah oleh hujan. Sinar lampu jalan meleleh keemasan bersama pantulan neon reklame. Dinding basah itu, terlihat seperti bentangan layar tempat cahaya kota mengalir dan bergetar. Seperti wajah danau ketika menatap senja. Bayangan daun yang tumpang tindih sesekali bergerak ditiup angin. Reranting pohon asam yang tumbuh di bawah lampu jalan menciptakan bayangan yang menyerupai tangan-tangan kurus yang menggapai-gapai. Setiap kali angin malam bertiup, ranting-ranting itu bergerak dan ia mendengar suara samar-samar meminta tolong. Mungkin suara angin, mungkin bisikan hantu dinding.
Yanwar mencengkeram arang dalam saku jaketnya. Malam itu dingin namun ada yang meleleh hangat di dalam hatinya. Sebagaimana pantulan lampu kota yang meleleh dan berpendar pada dinding di hadapannya. Angin malam kembali bertiup dan ia mendengar suara kecil Karni.
“Yang di seberang itu gerbera bukan?”
“Bukan! Tak ada gerbera yang tumbuh liar di sini.”
“Memangnya gerbera tumbuh di mana?”
“Di Afrika. Di situ tempatnya.”
“Kalau begitu, di seberang danau itu Afrika?”
Yanwar tak menjawab. Tangannya yang berlumpur memungut sebongkah arang, bekas api unggun orang yang berkemah di pinggir danau semalam. Ia menggambar kuda-kuda bersayap di atas sebuah batu besar, di antara jejak-jejak tangannya yang terbuat dari lumpur.
“Mamanya Odah punya banyak gerbera di taman belakang mereka. Aku juga mau punya Afrika di belakang rumah biar punya gerbera seperti itu.”
“Hhh, Afrika itu benua. Ga mungkin Odah punya benua di belakang rumahnya.”
Karni memberengut. “Oh, gerbera yang seperti itu belum ada di rumahnya Odah. Yanwar aku mau yang itu!”
“Itu bukan gerbera! Lagipula aku sedang menggambar. Minta tolong kakakmu saja.”
“Dia sedang tidur. Kalau tidak, aku akan berenang sendiri!”
Yanwar mendengus. “Coba saja!”
“Tapi aku tidak bisa berenang?”
“Makanya jangan!”

“Pak?” sebuah suara mengagetkan Yanwar. Seorang perempuan dalam pakaian tidur, mengenakan sweater gelap dan kedua tangannya ia sembunyikan dari dingin ke dalam sakunya. Berdiri terengah-engah di gerbang gereja. “Anda bicara dengan siapa?” tanyanya di sela sengalnya.
Butuh beberapa waktu bagi Yanwar untuk mengumpulkan kembali kesadarannya. “Ah, saya dari sana,” tunjuknya ke toko buku dengan gugup. “Mau pulang,” tambahnya malu. Berharap Suster itu tak lagi membahas soal kegilaannya berbicara sendiri barusan.
“Saya lihat tadi Bapak berdiri menghadap dinding ini lama sekali. Tadinya, saya kira anak-anak liar yang biasanya mencoret pagar dengan kata-kata kotor.” Ia membuat tanda salib dengan tangannya. 

“Sudah berkali-kali dinding ini dicat ulang. Anak-anak seminari sampai bosan ditugasi mengecat.”
Yanwar mengangguk-ngangguk. “Ya, ya. Tidak pantaslah pagar tempat ibadah begini dicoret-coret,” tanggapnya.
“Ya! Mengganggu sekali! Orang-orang yang hendak berdoa disuguhi kata-kata tak senonoh sebelum masuk gereja,” ujar suster geram. “Sebenarnya,” imbuh suster dalam nada yang tiba-tiba serius, “sudah lama diusulkan kalau pagar ini digambari mozaik. Seperti pagar gereja di kota B. Digambar dengan kutipan kejadian dari Alkitab.”
“Lha, kenapa tidak begitu saja?” Yanwar hampir-hampir memprotes.
“Yah, alasan klasik,” keluhnya. “Belum cukup dana. Kami baru mengganti beberapa alat musik dan servis organ satu-satunya yang kami punya semester ini. Itu pun sudah mendapat potongan sana-sini, berkat kemurahhatian jemaat.”
“Kekurangan dana…” ulang Yanwar nyaris berbisik kepada dirinya sendiri. Ia mulai melihat titik terang. “Rasanya saya bisa membantu untuk itu.”
“Membantu?”
“Ya! Saya dari toko buku di seberang,” tunjuknya kali ini dengan tunjukan mantap. “Kami masih punya dana CSR. Siapa tahu bisa menambah dana untuk membuat mozaik.”
“Puji Tuhan!” suster itu kembali membuat tanda salib. “Saya yakin romo akan senang mendengar ini.” 

Wajah lelahnya terlihat berseri di bawah siraman lampu.

“Maaf suster, saya belum tahu nama Anda. Mungkin besok pagi saya akan datang lagi ke sini membawa proposalnya?”

“Sintje!” jawabnya sambil tersenyum.
Yanwar mengeluarkan tangannya dari saku jaket dan mengajak Sintje berjabat. Ragu-ragu, Sintje mengulurkan tangannya dan menjabat tangan Yanwar. “Sebenarnya bukan saya yang memutuskan. Sebaiknya Bapak datang kembali besok,” ujar Sintje. Cepat-cepat ia menarik kembali tangannya dari jabatan tangan Yanwar yang terasa kasar. Ada gelenyar aneh yang ia rasakan dalam dirinya dan membuatnya tersadar bahwa ia sudah terlalu lama berdiri di luar, tengah malam, berbicara dengan laki-laki asing. Sintje bergegas menutup gerbang, sementara Yanwar berbalik dan terlihat berjalan ke arah toko buku. 

Di ruang kantornya, ketika Yanwar melepas jaket dan hendak duduk menyalakan komputer, bubuk hitam berhamburan dari sakunya. Ia telah meremas arang itu sampai lebur saat berbicara sendiri. Telapak tangan kanannya pun legam seperti tangan setan. Sementara di seberang, Sintje berjalan tergopoh-gopoh kembali ke kamarnya. Berharap tak ada yang mengetahuinya keluar tengah malam begini dan berbicara dengan laki-laki asing. Tadinya, ia berniat keluar sebentar saja dan meneriaki laki-laki liar yang dikiranya hendak mencoreti pagar.
Ia bergegas mematikan lampu kecil di meja belajar samping jendela kamarnya. Alkitab dan buku-bukunya masih terbuka. Begitu lampu dimatikan, cahaya dari luar merayap masuk. Lampu di toko buku seberang masih menyala dan terlihat siluet Yanwar tengah sibuk. Sesaat, Sintje terpaku melihat Yanwar yang terlihat mondar-mandir. Namun kemudian ia langsung menarik tirai dalam satu sentakan. Tak menyadari noda hitam yang berjejak pada tirai putih itu. Diliriknya jam, sudah pukul 3 pagi. Ia akan tidur barang dua atau tiga jam, pikirnya.
Ia tak menyadari noda hitam pada ujung selimut ketika ia menariknya. Atau pada rosario yang ia gengggam sebelum tidur. Ketika ia tidur dengan telapak tangan mengalasi pipinya, ia masih belum menyadari telapak tanganya legam sehitam tangan setan. Ia berusaha terlelap dengan mengusir ingatannya akan jabatan Yanwar yang terasa kasar. Semakin ia berusaha, semakin ingatan itu menghantuinya. Bahkan ia merasa ada tangan-tangan gelap yang menggerayangi pipinya. Ia merasa bersalah atas rasa hangat yang menggeliat gelisah di dadanya tiap kali ia mengingat jabatan Yanwar. 
 
Ketika pagi tiba, Sintje bangkit dan berjalan terhuyung ke kamar mandi dengan sisa mimpi buruk yang masih tersuruk di setengah sadarnya. Ketika menatap bayangannya di cermin, Sintje mendapati jejak tangan hitam di pipi kananya yang berkeringat. Memanjang hitam sampai ke sudut mata. Jejak hitam di leher baju tidurnya. Incubus! Seketika ia merasa ada tangan gelap yang merangkak memasuki kerongkongannya. Tangan itu mencengkeram ketakutannya yang tersengal. Merengut keluar sebuah jeritan memekik yang membangunkan semua penghuni gereja. Jeritan yang menderap keluar dan menyeberangi jalan yang masih lengang pagi itu. Sebuah pekikan yang menyergap Yanwar yang separuh mengantuk, menyiapkan lampiran terakhir untuk proposalnya. Ia tengah mengetik kata desain mozaik di kolom pencarian google.



Sewon, Juni-Agustus 2014

Komentar

  1. Wahaha saya suka alur keseluruhan ceritanya :D
    tapi masih ada beberapa lompatan yang kadang bikin ceritanya agak susah dipahami, atau mungkin cuma aku aja sih hehe

    oiya saya pengen tanya, gerbera itu bukan tanaman air kan? bagaimana cara dia bisa mengambang dalam baskom?

    dan aku sempat membaca Karni sebagai 'kami' gara-gara fontnya hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe makasih sudah baca. Paragrafnya agak kacau karena saya copas dari Libre ke draft. Agak susah merapikannya. Usulmu untuk makai notepad belum bisa saya coba. Ga ada notepad.

      Saya membayangkannya begini: bunga Gerbera yang dibeli oleh Qori adalah bunga potong (apa ada istilah lain?) Yang biasanya siap diletakkan ke dalam vas. Tapi Yanwar tidak memiliki vas dan menaruhnya begitu saja ke dalam baskom. Dalam bayangan saya bunga itu akan mengambang.

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sandikala

Gairah Untuk Hidup dan Untuk Mati

10 Film Asia yang Tak Terlupakan