Amphibi; chapter 17






 chapter 17

Tempat tinggal yang ditunjukkan Sadri adalah sebuah ruangan yang sedikit lebih kecil dari kamar hotel Tuan Krol. “Ini masih tergolong bagus,” ujar Sadri. “Yang lebih buruk dari ini juga masih banyak. Kamar mandinya masih bagus dan jalan ke Salwa tak begitu jauh. Kamu tak akan kesulitan mendapat makanan.”

“Tempat ini sudah sangat bagus. Yang terpenting buatku adalah menemukan jalur tercepat ke rumah Lagne.” Bertahun-tahun tidak menetap membuatku tak terlalu memperhatikan tempat tinggal. “Tapi terima kasih,” kataku cepat-cepat. 

“Sebentar, aku lupa nama tempat kita bisa mendapat makanan.”

“Salwa” jawab Sadri, kemudian aku membiarkannya pergi. 

SALWA adalah satu dari lima titik yang menjadi tempat untuk mendapat makanan. Kota ini lebih mirip barak pengungsian yang sangat besar. Mungkin ada hubungannya dengan kepunahan penghuni pertama. Di kota ini kontrol Kilma juga jauh lebih besar.

Barang-barang telah kupindahkan ke dalam lemari. Berkas yang diberikan Lagne kuperiksa kembali. Catatan-catatan awal yang ia tulis bertahun-tahun lalu saat mengumpulkan ratusan ekor amphibi di kota ini. Saat itu anak-anak di kota ini tengah mulai dijangkiti misma. Saat Sadri dan kawan-kawannya mulai dirawat di sebuah bangsal di pusat kota.

Berdasarkan persetujuan Kilma aku mulai menggeser penelitianku pada hewan-hewan amphibi yang dapat kutemukan. Tidak sulit menemukan jenis Apoda yang masih bersembunyi di tempat-tempat terlembab di pinggir kota ini. Sedangkan dari jenis Anura sudah mustahil untuk ditemukan. Beberapa kerangka penghuni pertama yang terawetkan dirawa-rawa kami selamatkan ke laboratorium

Dengan peralatan seadanya kami mencoba melacak jenis makanan yang mereka konsumsi lalu mencari tahu penyebab kepunahan mereka. Tak ada pepohonan yang cukup besar yang dapat digunakan untuk melacak musim pada masa itu. Kecuali sebuah pohon besar di pusat kota yang masih hidup di antara reruntuhan. Pohon itu terlalu berharga untuk ditebangi. Beberapa galian di sekitar rawa sudah mulai menunjukkan tanda-tanda kehidupan yang melimpah di masa lalu. Akhirnya kami memanfaatkan lapisan tanah untuk memahami pergantian musim menjelang kepunahan.

Untuk mengurusi anak-anak yang sedang terserang virus itu kuserahkan sepenuhnya kepada Magi. Ia lebih memahami ilmu jiwa daripadaku dan sudah dipersiapkan untuk menguasainya sejak masih hidup di penampungan kota K. Kami sepakat kalau anak-anak yang terserang virus itu lebih banyak mendapat serangan psikis daripada fisik. Mereka mulai mengalami halusinasi pada waktu-waktu tertentu dan memakasa kami menyesuaikan ritme kerja kami di bangsal dengan di lapangan. Ada beberapa hal dimana aku tak sepakat dengan Magi, terutama saat mengkaitkan antara kepunahan penghuni pertama dengan serangan yang diderita oleh anak-anak ini. Namun kami sama-sama sepakat kalau ada sesuatu mengenai kota ini yang belum dapat terpecahkan. Tak hanya penyebab kepunahan penghuni pertama berikut ekosistemnya. Denting keras dari jam-jam besar di beberapa bangunan dan derik serangga yang menyertai saat malam turun. Berikut lampu-lampu jalan yang otomatis menyala. Saat ini orang-orang Kilma tengah melacak sumber daya untuk lampu-lampu itu dan berusaha mengendalikannya secepat mungkin. Mereka merencanakan untuk menghidupkan lampu-lampu pada rumah-rumah penduduk jika memungkinkan. Sejak jalur kereta menuju kota Q ditemukan, semua orang menjadi bersemangat dan lebih percaya kepada Kilma.

Lebih percaya pada Kilma? Aku tidak tahu apa yang akan dikatakan Lagne sekarang mengenainya. Sekalipun ia kembali bekerja kepada Kilma, aku yakin ia melakukannya semata-mata untuk memenuhi rasa ingin tahu dan memecahkan teka-teki yang disisakan oleh Perang Besar. Aku melepas berkas pertama dan mencoba memeriksa gambar-gambar jenis Apoda yang berhasil didokumentasikan Lagne. 
 
Kamu perlu menemukan --, Sebuah tulisan samar menyertai gambar itu. Terlihat berbeda dengan gambar-gambar yang melengkapi gambar seekor hewan yang dinamai salamander tanah. Semacam pesan yang disisipkan oleh seseorang kepada Lagne. 
 
Dalam berkas lain aku menemukan pesan yang sedikit lebih panjang. Dari bentuk tulisannya aku tahu pesan itu masih dari orang yang sama.

Sebenarnya yang kita butuhkan sebuah buku sederhana. Buku-buku bahan ajar di sekolah-sekolah atau mungkin buku catatan salah satu siswa mereka. Sepertinya mereka pernah sampai pada suatu tingkatan yang membuat semua bangunan ilmu pengetahuan dunia lama berantakan. Kilma sedang mengutus sejumlah orang untuk menuju area yang baru saja kami temukan di peta. Kami menomorinya sebagai area 12. Kemungkinan besar area itu menjadi lautan terakhir tempat – memusnahkan para ilmuwan dan mengubur mereka hidup-hidup bersama bahan penelitian mereka.

Aku membaca kembali pesan itu berulang-ulang. Menyadari kalau pernah dulu, Kilma menjadi semacam pahlawan yang memimpin semua orang untuk membangun kembali peradaban. Belum ada catatan mengenai Kav dalam berkas ini. Kecuali kelompok-kelompok kecil yang oleh sahabat Lagne disebut pembangkang.

Mereka para pembangkang itu, hanya menginginkan barang temuan untuk diri mereka sendiri. Menciptakan tahayul dan saling bertukar barang di pasar gelap. Beberapa benda dari temuan mereka dapat benar-benar bekerja dan aku harus membayar mahal untuk mendapatkan sebuah mesin pendingin ruangan. Mesin semacam itu tak akan berguna untuk kota selembab Q. Tidak ada yang istimewa dari cara kerja mesin ini.
 
Berkas-berkas itu kurapikan kembali. Di luar sudah mulai gelap namun belum ada denting keras terdengar seperti yang terdengar di rumah Lagne. Profesor itu sempat membahas soal beberapa bangunan yang memiliki Jam dinding besar dan denting keras yang berbunyi di waktu-waktu tertentu. Seakan kota ini memiliki tugasnya tersendiri sebelum Perang Besar.

Aku mengambil pakaian yang lebih tebal dan mencari jalan menuju Salwa. Masih seperti hari-hari pertamaku di kota ini. Angin memberat menjelang malam. Derik serangga meramaikan pergantian waktu. Jendela-jendela mulai ditutup. Satu dua orang kudapati bergegas masuk.

Sebuah tanda tertempel di sebuah tikungan. Dengan lampu redup sisa Perang Besar, tulisan SALWA pada plakat itu nyaris tak terbaca. Sadri benar, menemukan jalan menuju gudang besar tempat makanan tidaklah sulit. Sebuah denting keras terdengar begitu aku memasuki bangunan itu. 

<>

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Belah Diri

Sandikala

10 Film Asia yang Tak Terlupakan