Email Dari Jogja


Dua bulan setelah mengantarmu ke stasiun dan melihatmu menghilang sambil nyengir melewati petugas jaga stasiun, aku kembali ke stasiun itu. Aku membaca email yang kau kirimkan sebelumnya. Soal keluhanmu dengan kota B yang ternyata jauh lebih semrawut. Lalu jalannya yang masih banyak berlubang. Kalau hujan turun, kau dan orang-orang yang bekerja di sana harus berjalan di atas lumpur. Hanya dalam waktu satu bulan saja kau jadi kebal dengan cuaca. Padahal lima tahun hidup di kota ini, keluar rumah malam hari tanpa kaos kaki saja sudah bisa membuatmu masuk angin. Lalu kau melanjutkan keluhanmu. Di sana, saat hari kering dan tak ada hujan, seisi kota jadi berdebu. Kau bilang, kotamu dalam masa pertumbuhannya. Seperti anak-anak yang sedang giat-giatnya bergerak, bermain dengan lumpur, dekil, dan malas mandi. Berbeda dengan Jogja yang sudah seperti orang dewasa. Sudah matang. Bersih dan pandai menata diri. Kata-katamu itu justru membuatku jadi ingin cepat-cepat pergi dari sini. Surat lamaran kerja yang kusebar tak satupun mendapat balasan. Akhirnya aku cuma melata mengerjakan pekerjaan-pekerjaan kecil di sini sambil menyicil naskahku. 

Lalu kupikir, kenapa aku tak mencoba saja keluar kota? Sekali-kali tak ada salahnya berlibur tanpa tujuan. Minggu itu puisiku dimuat. Setelah mengambil honorku di kantor surat kabar aku pun jalan kaki ke stasiun. Kugunakan honor dari surat kabar harian itu untuk membeli tiket. Aku tak peduli ke mana. Aku hanya ingin naik kereta. Di sepanjang jalan aku memikirkan banyak hal. Termasuk soal kemungkinan suatu hari nanti aku akan menyusulmu ke sana. Kemungkinan pulang kampung adalah kemungkinan yang pertama muncul di benakku dan langsung kubuang jauh-jauh. Sambil menghitung-hitung kemungkinan ke kota mana saja aku bisa pergi, aku membeli limun yang disodorkan penjaja minuman. Paling tidak, satu tahun lagi, aku harus keluar dari kota ini, begitu janjiku pada diri sendiri.

Saat aku kembali dan turun di stasiun, hari sudah sore. Hujan baru saja turun dan aku jatuh cinta lagi kepada kota ini. Aneh sekali selama enam jam di kereta tadi aku memikirkan cara untuk keluar dari Jogja. Sebelum pulang ke kos, aku memilih duduk sebentar di Malioboro. Kawan, saat itu Maliboro tak seramai sekarang ini. Aku teringat dengan suratmu yang mengatakan Jogja seperti kota yang sudah dewasa dan pandai menata diri, dan saat itu aku setuju. Aku ingin tinggal di sini paling tidak lima tahun lagi, janjiku, mengubah janji sebelumnya. Namun kemudian selama lima tahun aku melihat kota ini terus tumbuh. Aku tak tahu apakah ia tumbuh menjadi nenek tua yang buruk rupa, ataukah menjadi gadis muda yang semakin menggoda. Aku melihat kedua-duanya. Kota ini terus tumbuh, semakin tua sekaligus semakin muda.

Kau akan mendapati semakin banyak lampu yang berpijar saat malam. Rumah-rumah tua berganti rupa menjadi cafe dan restoran. Kau akan melihat kedai-kedai minum di tengah sawah. Lampu-lampunya di malam hari membuat kedai-kedai ini terlihat seperti perahu yang mengapung di atas hamparan padi. Pasar berganti pusat belanja dan trotoar beralih menjadi lahan parkir. Tapi masih banyak juga ruas-ruas jalan yang nyaman untuk jalan kaki. Aku kadang sengaja berjalan-jalan di jalan kecil yang mengarah ke kampus kita dulu. Hanya sekedar untuk mengenang. Mengenang saat masa-masa muda dahulu saat pertama kali menjejakkan kaki di kota ini. Berangkat kuliah di hari pertama dengan kemeja putih dan celana hitam. Dengan tas dari kain karung terigu serta kalung dengan kepala bebek tergantung di dada. Kita bahkan dipaksa membawa dua ekor jangkrik betina dalam kantong plastik gorengan.

Aku ingat, pulang dari hari pertama ospek yang terasa amat panjang itu, kau muntah-muntah di kios kecil tukang kunci yang berjejer di tepi jalan. Kios-kios kecil itu sudah tak ada lagi. Sekarang berdiri warnet dan toko pakaian dalam wanita dengan etalasenya yang mengkilat. Saat melangkah, bayanganmu yang muntah-muntah di depan kios itu begitu nyata. Menyergapku, dan langkahku terpaksa terhenti. Dari pantulan etalase aku melihat diri kita yang dulu masih muda. Berjalan pulang di bawah terik, kepanasan. Lalu tiba-tiba kapster wanita yang menjadi penjaga toko menegurku. Menahan senyum karena mendapatiku terpaku di depan manekin yang memakai pakaian dalam wanita.

Tembok-tembok tua yang dulunya penuh grafiti kini berganti menjadi dinding-dinding kaca yang menyala saat malam hari. Kadang di antara pijar-pijar lampunya aku melihat pantulan tubuhku sendiri yang semakin tua. Semakin kurus. Ruam-ruam hitam mulai muncul di sekitar jariku. Saat itu yang kulihat adalah tubuh yang siap mati. Kalau kita bertemu nanti, kau tak akan mendapatiku lagi. Yang kau dapati hanya tubuh kurus, dan kepala botakku. Aku pun kadang tak yakin apa aku masih berdiam dalam tubuh ini. Mereka bilang aku tak akan bertahan sampai Februari tahun depan. Paling tidak aku bisa melewatkan tahun baru sekali lagi.

Kau mesti lihat bagaimana dokter itu, Sukartono namanya, dengan kerut yang terus ada di wajahnya. Kurasa ia berkerut begitu bukan karena usia. Tapi karena terlalu sering memberi tahu orang-orang kapan mereka akan mati. Aku tanya pada dokter itu apa dia suka sastra? Dia bilang dia tak begitu suka. Ibunya yang suka. Aku tanya apa ibunya yang memberinya nama? Dia bilang, iya. Dan bertanya bagaimana aku bisa tahu? Aku bilang saja, kalau orang yang sebentar lagi mati biasanya memiliki firasat yang tidak dimiliki orang yang hidupnya masih panjang. Mendengar jawabanku ia cuma tersenyum masam, seolah-olah dialah yang sebentar lagi mati.

Sebenarnya aku bertanya soal ibunya dan sastra karena dia bernama Sukartono. Namanya terdengar seakan dia itu tokoh utama dalam novel yang ditulis Armijn Pane. Kau tahu, kan, novel Belenggu yang sempat ditolak oleh Balai Pustaka itu? Entah kebetulan karena diberi nama Sukartono oleh ibunya, ia pun akhirnya menjadi dokter, persis seperti tokoh utama dalam novel itu.

Jadi, dokter yang seperti melompat keluar dari novel lama itu memberiku selembar kertas. Dia tulis dengan tulisan yang hanya bisa dibaca oleh seekor ayam. Kemudian aku ke apotek dan membayar obat yang harus kuminum. Aku juga mesti mendaftar jadwal kemotrapi di resepsionis rumah sakit. Mereka akan mencolokkan jarum berisi cairan tiap minggu. Kelak, jika kau bernasib buruk, semoga saja ini tak akan terjadi padamu, tapi untuk jaga-jaga kusampaikan saja, kalau kau dijangkiti kangker sebaiknya kau menolak kemotrapi. Rasanya seperti menyuntikkan neraka ke dalam tubuhmu.

Satu-satunya yang menyejukkan dari kemotrapi adalah seorang suster yang merawatku. Namanya Linda. Dia baik sekali. Aku bilang padanya kalau pacarku sewaktu SMP dulu namanya juga Linda. Kukira dia akan tersanjung atau sebaliknya. Tapi reaksinya adalah, “ah ya, dan mantan pacarku dulu namanya sama dengan Anda.” Dia mengatakan ini dengan pipi bersemu merah membuat pertemuan kami terasa seperti kebetulan yang indah. Maka, dengan heran aku bertanya, “ah masa? dari mana Anda tahu nama saya?” Saat itu aku belum menyebutkan namaku. Kemudian dia bilang, “tidak, saya belum tahu nama Anda.” terus aku bertanya, “lalu kenapa tadi bilang kalau namaku sama dengan nama mantan pacar Anda?” Dia bilang, “karena saya memang tidak pernah punya pacar. Kalau saya tahu nama Anda, maka nama Anda tak akan sama lagi dengan mantan pacar saya itu. Karena saya memang tak pernah punya.”

Kemudian keheningan panjang merayap di ruang kemotrapi itu. Lalu tawa kami meledak. Dia meringkik malu dan berkata, “Ah, selera humor saya buruk, ya?”. Lalu aku bilang, tidak apa-apa, aku kenal seseorang yang punya selera humor seperti Anda. Kemudian aku menyebutkan namamu. Aku bahkan meyakinkannya kalau kalian sangat cocok satu sama lain. Sisa waktu itu kuhabiskan dengan memujimu setinggi langit. Aku juga memberitahunya kalau kamu bisa masuk angin kalau lupa memakai kaos kaki saat malam. Mendengar ini tawanya meledak, sementara aku melihat ada bulir air di sudut matanya. Entah itu air mata kesedihan atau bahagia. Kubilang kalau minggu ini kau akan datang. Wajahnyapun langsung berseri.

Jadi, kalau kau tak datang minggu ini, percayalah, meski tubuhku sudah kurus tinggal tulang begini, aku akan terbang ke B dan memenggal lehermu.


Yogyakarta, 2013

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sandikala

10 Film Asia yang Tak Terlupakan

Review Buku: Bibir Dalam Pispot