Graha Pustaka, Erich Fromm dan Joseph Freiherr Von Eichendorff


Saya lupa tanggal berapa. Sepertinya tiga hari usai tahun baru, saya mencoba menjalani hari di Jogja seperti turis. Bersepeda lumayan jauh sambil menikmati jalanan yang ramai. Tujuan saya datang ke perpustakaan ditemani maksud lain, yaitu membaca lagi bukunya Erich Fromm.

Saya juga perlu mengambil foto untuk buku-buku yang pernah saya review. Beberapa waktu lalu, saya membuka-buka album picasa dari akun google saya. Foto-foto lama sewaktu di Pare dan sewaktu mengganti laptop rupanya masih ada. Kemudian ada juga sejumlah ilustrasi yang saya kerjakan sewaktu masih bekerja di warnet. Sebagian foto itu saya unduh sementara foto ilustrasi yang terunggah double saya hapus untuk menambah ruang penyimpanan (saya tidak begitu mengerti mengapa ada yang tersimpan lebih dari satu). Sayangnya, ketika menghapus salah satu ilustrasi itu, tahu-tahu seluruh album terhapus. Secara otomatis semua gambar di blog ini pun terhapus.

Akhirnya saya punya pekerjaan ekstra untuk meng-upload foto-foto buku itu lagi.

Untuk ilustrasi yang saya buat sewaktu menjadi OP warnet sebenarnya tidak terlalu masalah, karena gambar fisiknya masih ada. Namun mengambil gambar-gambar itu satu per satu dan me-ngupload-nya kembali adalah pekerjaan lain. Kadang saya jadi lebih terdorong untuk membuat ilustrasi baru untuk postingan tersebut. Saya juga malah terdorong untuk mengedit tulisan-tulisan itu sehingga lebih enak untuk dibaca. Kadang saya tidak tahan dan sedikit heran ada (ya?) yang mau membaca postingan ini dan meninggalkan banyak komentar. Pikiran gila saya mengatakan kalau ada yang mengedit-edit tulisan itu tanpa sepengetahuan saya. Seingat saya tulisan saya dulu sangat asik dan mempesonakan #baiklupakan. Mungkin kalau saya punya waktu yang lebih luang, saya akan mengedit postingan-postingan lama itu lagi supaya lebih mengalir untuk dibaca.

Kembali ke soal perpustakaan. Sudah lama juga saya ingin membuat sebuah postingan tentang Perpustakaan Daerah yang berlokasi di Gedong Kuning ini. Waktu baru dibuka saya terlalu gembira dan masa itu saya masih menjadi mahasiswa ISI. Ada banyak sekali tugas yang merintangi saya untuk aktif di blogsphere. Sudah lama blog ini saya jadikan rumah ke dua. Rumah lain, tempat lari dari kehidupan yang membosankan. Tempat berhenti untuk sekedar membicarakan kegelisahan, atau sekedar membicarakan buku atau film atau apa saja yang saya pikirkan. Begitu saya tak lagi jadi mahasiswa, saya pun punya waktu melimpah. Dengan sendirinya waktu menyeret saya kembali ke ruMah reView ini. Pun mengenai perpustakaan ini. Sudah cukup lama juga saya tak mampir untuk sekedar mengisi waktu seperti seorang wisatawan (mulai sekarang, catat perpustakaan sebagai tempat berwisata).

Ada gedung megah yang baru saja selesai dibangun di sebelah selatan. Sepertinya dalam waktu dekat akan dibuka dan ini berarti akan ada tempat lain untuk sekedar merintang waktu sambil mencari-cari buku yang menarik untuk dibaca.

bangunan baru di sebelah selatan

Waktu itu saya juga sedang mencari sebuah buku berjudul Logoterapi. Yang paling membuat saya tertarik sebenarnya judul yang dipakai (Logoterapi?). Buku ini bercerita tentang seorang survival dari kamp Nazi. Meskipun termasuk buku psikologi, buku ini memiliki unsur kesusasteraan yang kuat. Sampai-sampai saya mengingatkan diri untuk membacanya kembali dan membahasnya lebih jauh di sini. Nah, saat saya mencari buku ini di rak, saya tidak dapat menemukannya. Akhirnya saya mengambil bukunya Erich Fromm dan mencoba memahami apa yang dimaksud dengan Hak Ibu oleh Bachofen dan apa yang membedakannya dengan Freud. Omong-omong, saya suka membaca buku-buku biografi dan ilmu psikologi untuk membantu saya membangun karakter fiksi.

Saya juga mencomot buku Puisi Dunia yang pernah diterbitkan Balai Pustaka tahun 1953. Buku ini merupakan himpunan puisi penyair-penyair dari berbagai belahan dunia. Salah satu yang paling mencuri perhatian adalah puisi dari Joseph Freiherr Von Eichendorff berjudul Anak Rantau. Begitu saja puisi ini melemparkan saya pada masa-masa akhir kuliah saya di UIN. Saat itu saya sedang senang-senangnya menggambar seorang anak laki-laki yang naik perahu untuk mengarungi malam dengan seekor kucing. Perasaan terasing khas mahasiswa semester akhir membuat saya berhayal tiap begadang ada sebuah perahu yang terantuk di balkon depan kamar. Mungkin juga saya sangat suka malam hari gara-gara saat itu saya sedang menggandrungi buku-buku cerpennya Hamsad Rangkuti. Dia banyak membicarakan kemiskinan dan kepedihan rakyat jelata dan juga sangat romantis ketika membicarakan malam hari. Bagaimana gelap-gulita itu sanggup menyembunyikan pemukiman kumuh lalu digantikan silaunya lampu kota. Sekarang pun saya masih anak rantau. Dengan cara tertentu saya masih saja merasa asing dengan kota ini.

Mungkin pada postingan berikutnya saya akan memposting puisi tersebut bersama ilustrasi yang saya buat. Postingan ini semacam intro untuk kembali mengakrabi dunia blog tahun 2019. Sekaligus memberi penjelasan sedikit mengapa banyak postingan di blog ini yang berganti gambar atau tanpa gambar sama sekali.

Erich Fromm dan Sehimpun Puisi Dunia



ruang koleksi






Komentar

  1. Wah ntaps banget tuh perpusnya. bikin iri..huhuhuhuhuhuhuh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Di Surabaya sepertinya ada perpustakaan dengan bangunan gaya indis gitu kan?

      Hapus
  2. salah satu tempat yang recommended untuk nambah wawasan, ngerjain tugas dan santai baca buku. fasilitasnya jg ok, kalo beruntung masih bisa dapet bean bag :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yup, semoga koleksinya ditambah lagi. Terutama koleksi buku-buku seni dan budaya

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sandikala

Film Korea Yang Layak Kamu Tonton

Menulis bebas (Free Association Writing)