Mimpi Meteor


Sejak rutin mendapat mimpi ini tiap malam, ia seperti menjalani dua kehidupan. Hari itu dia baru saja bertengkar dengan Rukmi, gara-gara ia dipecat lagi. Sudah lima kali ia dipecat dalam setahun. Ibunya, mengabaikan pertengkaran itu, menyarankannya untuk mempersunting gadis saja. Sudah saatnya dia menikah. Kata ibunya, tak usah mengkhawatirkan rizki dari Tuhan. Setiap orang sudah dikasih jatah rizki. Menambahkan satu lagi orang ke rumah ini akan menambah jatah rizki mereka dari Tuhan.
        Tak tega meneriaki ibunya, ia langsung ke kamar tidur. Menghempaskan diri di atas kasur. Berharap jatuh ke alam mimpi secepat mungkin. Saat terbangun, hari sudah cukup siang. Ia mendapati rumahnya sepi. Cepat-cepat ia mandi, takut terlambat. Tapi kemudian ia langsung ingat kalau baru kemarin ia dipecat.
      Tak ada siapa-siapa di rumah. Rukmi mungkin sudah berangkat kerja ke pabrik sepatu. Ibunya mungkin sudah berangkat ke rumah Haji Sunar. Di meja dapur tidak terhidang apa-apa. Ia agak jengkel juga. Rasanya mereka berdua sengaja menyindirnya. Di magicom pun tak ada nasi. Akhirnya ia memutuskan untuk memasak nasi saja sendiri. Mungkin tadi emak memang belum sempat masak, pikirnya. Sementara menunggu nasinya matang, ia memutuskan untuk jalan-jalan sebentar. Sudah berapa bulan ia tak jalan-jalan?
       Jalanan sepi. Tak ada manusia yang lalu-lalang. Saat berbelok di dekat warung angkringan yang tutup, terpikir olehnya untuk mampir ke burjo sebentar dan minum kopi. Mungkin ia juga bisa mampir di warung membeli rokok dan sebutir telur sebagai lauk. Burjo 24 jam langgananya ini ternyata sepi. Tak ada siapa-siapa. Warung-warung tutup. Ia memanggil-manggil si akang yang biasa menjaga burjo, tapi tak ada jawaban. Akhirnya ia pulang lagi. Sepanjang jalan ia mulai menyadari kondisi kota yang benar-benar sepi ini amatlah ganjil. Sudah pukul sembilan, tapi tak seorang pun terlihat beraktifitas. Seolah manusia dilenyapkan dalam semalam dan ia luput dari pelenyapan itu.
         Sesampainya di rumah, nasi yang ia tanak sudah matang. Tapi selera makannya sudah hilang. Ia memanggil-manggil ibunya dan Rukmi, tapi seperti yang ia takutkan, tak seorang pun menjawab. Dengan perasaan ngeri, ia pun berlari ke kamarnya. Bertelungkup dan bersembunyi di balik selimut. “Ini mimpi-ini mimpi-ini mimpi,” teriaknya berulang-ulang seperti menyulut mantra.
        Memang benar itu mimpi. Ia terbangun oleh suara teriakan Rukmi dari kamar mandi. Deru mesin air. Tangis bocah tiga tahun dari rumah sebelah. Aktifitas ibunya di dapur; denting piring yang tengah dicuci, serta pantat wajan yang bergesekan dengan lantai semen. Suara-suara itu membuatnya lega. Tentu kelegaannya itu tak berlangsung lama. Mulai hari itu ia menjadi pengangguran lagi. Ia harus sarapan di bawah tatapan benci kakaknya. Sementara ibunya tak bosan-bosan memintanya segera menikah.
         Pada malam sesudah-sudahnya, ia tak lagi merisaukan mimpi itu. Ia justru mulai menikmatinya. Bahkan kadang merindukannya. Begitu rindunya, ia ingin cepat-cepat tidur dan berlama-lama di alam mimpi. Tiap hari, kehidupan kota yang sepi dalam mimpinya itu ia manfaatkan dengan sebaik-baiknya. Ia mampir ke burjo langganannya dan membuat sendiri kopinya. Ia pun tak perlu membayar karena ia tahu ini alam mimpinya. Lagipula tak ada siapa-siapa yang meminta bayaran.
       Pernah suatu hari dalam mimpinya yang sepi, ia berjalan-jalan ke pusat perbelanjaan. Bermain ke taman bermain dan mandi bola seakan ia belum dewasa. Di hari lain, ia cuma menyusuri saja jalanan yang lengang. Kota yang sepi itu jadi miliknya seorang.
    Satu hari saat hujan turun, ia memutuskan untuk melepas semua pakaiannya. Ia mandi hujan dan menari-nari telanjang seperti anak kecil. Bermain hujan ke alun-alun. Bermain hujan di halaman sekolahnya sewaktu TK. Bermain ayunan dan menjerit-jerit girang sendiri saat main prosotan. Jika semua hal dirasa sudah dilakukan, ia akan masuk ke rumah orang-orang. Berlaku seolah-olah itu rumahnya. Mandi di kolam renang mereka. Nonton TV di TV mereka. Makan makanan dari lemari es mereka.
         Ia paling suka mengacak-ngacak rumah Haji Sunar, majikan ibunya. Ia selalu benci Haji Sunar dan tatapan mengejeknya. Ia merasakan kegembiaraan yang sangat saat mengacak-ngacak rumah orang-orang yang dibencinya. Pernah juga ia membakar rumah mantan pacarnya yang sekarang sudah berkeluarga. Ia membawa berliter-liter bensin dan menonton rumah itu terbakar seperti menonton api unggun, sendirian. Itu semua membuatnya bahagia. Meskipun saat terbangun di kehidupan yang ramai, rumah orang-orang yang telah diacak-acaknya itu masih baik-baik saja.
         Jika orang-orang membuatnya jengkel, Rukmi terutama, maka ia melampiaskan kebenciannya itu lewat dunianya yang sepi. Ia akan mengobrak-abrik lemari pakaian kakaknya. Menggunting semua baju kesayangannya. Motor yang dikredit dan dibangga-banggakan oleh saudaranya itu ditenggelamkannya ke telaga. Lalu ia berteriak penuh kemenangan. Bertepuk tangan sendirian. Minum minuman bersoda yang dia curi dari minimarket tempatnya dulu bekerja. Tertawa-tawa sendirian. Namun saat ia bangun keesokan harinya, semua kembali normal dan ia kembali menjadi pengangguran. Maka, jam-jam tidurnya pun menjadi lebih panjang. Ketika tak tidur pun ia lebih suka memejamkan mata. Rukmi memutuskan untuk tak menggubrisnya lagi. Baginya ia hanya salah satu perabot di rumah itu. Ibunya malah mendorong Rukmi mengajaknya menonton kembang api.
       “Malam Minggu! Mungkin ada gadis yang bisa dia lihat nanti di sana. Bawa dia ke alun-alun. Semua pemuda pergi ke alun-alun menonton kembang api.” 
          Dia sudah bukan pemuda lagi. Ia lebih tua dari tua. Anak itu semacam bangkai hidup. Namun akhirnya Rukmi cuma mengatakan, “Kalau dia mau menonton kembang api, biar saja dia pergi sendiri.”
     “Aku bukan anak kecil yang masih girang menonton kembang api,” tahu-tahu ia bersuara. Setelah berminggu-minggu, ini pertama kalinya ia bersuara. “Di sini,” tunjuknya ke kepalanya, “aku bisa melihat hujan meteor,” katanya dengan mata terpejam. 
    Hujan meteor yang ia sebutkan memang lebih menakjubkan dari kembang api mana pun. Tak seperti kembang-kembang cahaya yang meledak di angkasa, hujan meteor dalam dunianya itu melintasi langit dengan kecepatan yang berbeda-beda. Meninggalkan jejak-jejak panjang dengan warna yang beraneka. Meliuk-liuk, kadang menghujam. Melampui keindahan yang digambarkan Van Gogh dalam Starry Night-nya.“Mudah-mudahan salah satu meteor itu mengetok kepalamu dan membuatmu terbangun.”
  Mendengar umpatan Rukmi, ia pun tertawa.
      “Sinting!” 
   Rukmi memutuskan bahwa kata tadi adalah kata terakhir yang ia utarakan langsung padanya.
Andai aku bisa hidup di sini selamanya, batinnya. 
      Andai ia bisa tidur selamanya. Tak perlu bangun karena lapar atau kebelet buang air besar. Tetap di kota yang hening tempat ia bisa melakukan apa saja sekehendak hati. Namun bahkan ketika ia tak merasa lapar atau perlu ke kamar mandi, selalu ada titik di mana dunia mimpinya itu berakhir. Jalan sepi yang ia susuri tiba-tiba saja tertelan alam sadarnya. Selalu ada waktu di mana ia tak bisa melakukan apa-apa agar kembali bisa tidur. Tak peduli seberapa sering ia membolak-balik badannya, mencari posisi yang paling nyaman untuk terlelap, matanya menolak terpejam. Sementara di luar sana, dunia yang ramai seperti mimpi buruk yang kelewat nyata. Ia benci titik ini. Namun kemudian titik-titik inilah yang terus menyebar. Menggerogoti alam mimpinya yang indah dan sepi. Membuatnya gelisah dan terasing dari tidurnya sendiri. 
       Entah di hari ke berapa, karena sudah lama tak lagi melihat kalender, ia terbangun di dunia yang benar-benar berbeda. Bukan dunia nyata yang ramai. Bukan dunia mimpinya yang sepi. Ia terbangun di satu dunia yang tak dihuni apa-apa. Lebih sunyi dari sepi. Setiap gerak tubuhnya menghasilkan suara. Begitu sunyinya dunia itu, ia sampai bisa mendengar detak jantungnya sendiri. Ia bisa mendengar deru nafasnya berlari menyusul detak jantungnya. Suara-suara ini terlalu dekat dan membuat kepalanya pusing. Semakin ia pening, semakin detak jantungnya memacu. 
   Ia berharap kepusingan itu akan membuatnya pingsan, namun ia tak bisa pingsan. Ini adalah tempat di mana kesadaran menemukan jalan buntu. 
      Jauh-jauh dari suara yang memusingkan itu, kadang ia masih bisa mendengar deru mesin yang memompa air, kadang decit besi yang bergesekan dengan lantai, serta hujan meteor yang samar-samar berpendar lalu menghilang. Ia kembali menghirup kekosongan itu lagi, dan mendengar detak jantungnya mulai berlari mengejar deru nafasnya lagi. Kepalanya dicengkeram oleh rasa pening itu lagi. 
        “Dengar! Ini mungkin terakhir kalinya aku mau bicara denganmu,” wajah Rukmi tiba-tiba menyembul dari kekosongan yang melingkupinya. 
         Kali ini ia tersenyum bukan atas dunia mimpinya yang sepi. Untuk pertama kali, ia bahagia melihat wajah cemberut Rukmi menatapnya dari langit-langit dunianya yang kosong.
        Rukmi menarik nafas, “jujur aku sudah memutuskan untuk tak peduli. Tapi aku tak bisa tak peduli. Aku tidak seperti kamu yang—” Rukmi menghela nafas, “aku mau ke kota M, dan tinggal di sana. Kita bisa mencari pekerjaan bersama-sama.” Sisa perkataan Rukmi tidak terdengar jelas. 
    Saat terbangun, Rukmi sudah tak di rumah. Ketika keluar dari kamar, ia dapati rumahnya itu sepi. Sulit membedakan apakah ia tengah terbangun di alam mimpi atau di alam nyata. Andai ibunya tak muncul sambil mengelap keringat di dahinya dan berkata, “Rukmi baru saja ke kota M.” Hanya itu yang dikatakan ibunya, kemudian menghilang ke dapur. 
      "Rukmi menitipkan uang ongkos dan alamat, kalau kamu mau menyusul.” Kata ibunya kemudian.
              “Rukmi dipecat?”
     “Perusahaannya bangkrut,” jawab ibunya lemah. Ia membuka kresek plastik dan mengeluarkan lauk yang ia masak di rumah Haji Sunar. “Dia juga sudah menjual motornya. Padahal cicilannya lunas baru dua bulan ini.”
          “Rukmi dipecat?” tanyanya lagi. Masih belum mau percaya.
   “Sebagian uangnya dia tinggalkan untukku. Padahal dari Haji Sunar aku sudah ada gaji dan lauk kalau cuma buat makan. Bagaimana kalau uangnya kamu pakai buat melamar si Saniah?” bola mata ibunya membesar meminta persetujuan.
              “Saniah sudah menikah.”
       “Kalau begitu buat melamar si Raudah?”
        “Mana uangnya?” sergahnya dengan suara meninggi, sebelum ibunya mengabsen nama semua perempuan di kampung ini.
            Ibunya langsung sibuk merogoh saku dan buntelan di kainnya. Gulungan uang dan kertas lusuh yang teremas itu disodorkan kepadanya. Ia mengambil gulungan uang yang diikat dengan karet. Kertas alamat yang dititipkan Rukmi ia buang begitu saja. Kemudian ia beranjak ke luar. Pergi meninggalkan rumah kecil tempat mimpi sepinya dulu bersarang. Pergi menyongsong dunia luar yang ramai. Mimpi buruknya.


Sewon 2013-2014

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sandikala

10 Film Asia yang Tak Terlupakan

Rumah Mati Di Siberia