Memasang Jaring Di Pohon Asam


Sekitar seminggu sebelum ibu saya meninggal, sebuah pohon asam di sawah kami tumbang karena hujan lebat dan badai. Saya masih di Jogja waktu itu. Saat kembali ke Lombok, saya mendapat cerita dari kakak kalau debum keras saat pohon itu tumbang terdengar sampai ke kampung-kampung sekitar.

Karena rumah kami di Pancor cukup jauh dari sawah (terpisah satu kecamatan), tumbangnya pohon asam itu diketahui keluarga saya esok hari. Ibu saya waktu itu masih cukup sehat untuk mampir dan melihat pohon asam yang tumbang. Batang kayunya seperti raksasa yang terbaring di antara belukar dan pohon-pohon lain yang lebih kecil.

Pohon asam ini sudah melekat dalam ingatan saya sejak masih anak-anak. Seperti pohon dari alam dongeng yang kita ingat sewaktu-waktu saat mendengar sebuah cerita. Pohon itu sudah tak ada di sana, namun dalam alam pikiran saya akan langsung saya ingat tiap kali mendengar kata "pohon asam". Begitu juga dengan kata "cerita", semerta-merta yang saya ingat adalah kamar orang tua saya atau waktu-waktu selepas magribh yang kami habiskan di ruang tamu.

Cerita tentang "pohon asam" mungkin salah satu cerita paling awal yang pernah saya dengar. (Kadang saya mengingatnya lain, sayalah yang berdongeng kepada ibu saya waktu itu). Saat menyusun tugas akhir di perkuliahan (yang tak selesai) cerita yang melibatkan pohon asam dengan cepat menarik perhatian saya. Berikut keputusan Si Katok memasang jaring di pohon asam untuk menangkap seekor ikan.

Bagaimana bisa seseorang memasang jaring di atas pohon untuk menangkap seekor ikan?

Orang dewasa mungkin tak akan mengerti, namun anak kecil akan paham. Dan kalau pun tidak, mereka akan menyusun cerita untuk membuat diri mereka paham. Makanya kehidupan anak kecil tak semembosankan orang dewasa.

Lukisan yang saya ikutkan di pameran ini adalah salah satu episode saat Si Katok terbangun (antara mimpi dan sadar), beranjak memeriksa jaring yang telah dipasangnya. Lukisan ini masih satu seri dengan lukisan yang saya pamerkan di ASP tahun 2016 lalu.

Karya Saya

Pameran Ures (Bangkit) ini akan berlangsung sampai tanggal 10 April 2019. Bersama teman-teman dari Sak-Art.

Palung (Saparul Anwar), sedang menjelaskan
tentang karyanya.

Kapan-kapan cerita rakyat tentang Katok akan saya tuliskan di sini. Supaya kamu tahu, betapa imajinasi itu menggembirakan, dan keserakahan dapat membunuhnya.

Pameran ini dibuka oleh Nufi Wardhana
@nufiwardhanaoffucial

Salam (ber)budaya!


Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sandikala

Film Korea Yang Layak Kamu Tonton

Menulis bebas (Free Association Writing)