Pil Penua


Ada yang menakutkan pada laki-laki itu. Entah senyumnya yang serba tahu, entah usia tuanya yang melampui seratus tahun, atau  pakaiannya yang selalu putih bersih; seolah ia membeli satu setel pakaian baru setiap hari sebelum naik bis. Mungkin juga karena rambutnya yang seputih kapas itu. Ia takut, namun tak bisa tidak, ia selalu mencuri lihat ke arahnya tiap kali naik bis ini.
         Kini kursi di sampingnya kosong dan pria renta itu sudah duduk di sana. Tersenyum. Hanya ada satu gigi yang menggantung. Terkekeh. Merasa terpojok, ia melihat ke luar jendela. Sore itu jalanan ramai seperti biasa. Wajah-wajah pengendara motor yang kelelahan dan kusut di luar semakin membuat tak enak perasaan. Akhirnya ia melihat ke arah atap-atap ruko. Burung-burung terbang melingkar, seorang wanita gemuk mengangkut jemuran yang berjejer di balkon. Papan-papan reklame yang memerah bersama  sore.
     "Selalu saja sama, eh?” kakek itu bersuara.
         Dari berkas pantulan wajahnya di kaca jendela, ia bisa melihat kalau kakek itu masih menyeringai dengan satu giginya yang menggantung. “Tak peduli selama apa kita hidup, pemandangan di luar akan begitu-begitu juga,” kata si kakek. “Tapi kita tak bosan-bosannya hidup.”
  Ia sudah siap-siap memberi tanda kepada sopir agar menepi. Tak ingin menghabiskan satu jam dalam bis sambil mendengar kakek-kakek nyinyir menasihatinya soal kehidupan.
          “Yang kamu butuhkan adalah ini,” kata si kakek membuka telapak tangannya. Terdapat satu pil bening seperti butiran embun di situ. Ia mengamati sang kakek dari ujung rambutnya yang seputih kapas, seringainya yang lebar, setelan pakaiannya yang rapi dan bersih, sampai ke sepatu kulitnya yang disemir. Mungkinkah kakek setua ini seorang sales obat kuat?
        “Ini pil penua,” kata si kakek. “Sekali telan, kamu akan langsung tua.”
Orang ini gila, itu satu-satunya jawaban yang mungkin. “Tidak Kek, saya masih ingin muda,” jawabnya dengan tawa tertahan. Kini ia merasa lebih santai. Satu jam mendengar orang gila mengoceh mungkin bisa menjadi hiburan. Lagipula kakek ini sangat bersih. Tak ada bau mulut yang menguar darinya.
“Mau tidak mau, kamu akan terus menua,” kata si kakek. “Pil ini akan mempercepatnya.”
“Untuk apa saya ingin cepat-cepat tua?” tanyanya, kali ini tak bisa menahan tawa. 
     Tawa lepasnya memenuhi bis. Untungnya sore itu bis kosong. “Kalau kakek perempuan, mungkin saya akan mengambilnya agar kita bisa sama-sama tua, dan saya bisa melamar kakek,” tambahnya, lalu tertawa atas kata-katanya sendiri. Ia tertawa begitu lama, hingga saat tawanya usai, bis itu terasa lebih hening.
         Kakek itu menyeringai, memamerkan satu giginya. “Itu karena kamu belum mendengar hikayat sepasang lalat,” balas si kakek berusaha terdengar misterius.  
         “Hikayat Sepasang Lalat?” ia pura-pura tertarik. Siap-siap mendengar sebuah cerita konyol dari laki-laki tua itu.
  “Sepasang lalat yang bercinta di pohon jambu air.”
Kini dialah yang menyeringai lebar. Ini bakalan lucu, pikirnya.
“Kamu tahu, kan, kalau ada yang namanya Lalat Sehari? Hidup mereka cuma satu hari. Menetas saat pagi, menemukan pasangan sebelum malam turun, lalu kawin, bertelur, dan mati?”
             Ia belum sempat menjawab, si kakek sudah meneruskan, “Nah, dua lalat ini juga dari jenis yang sama. Mereka Lalat Sehari yang menetas di daun jambu yang sama. Tak sampai siang tentu mereka sudah saling menemukan. Bercinta sepuasnya sampai yang betina menelurkan banyak larva. Yang jantan jatuh begitu mereka selesai bercinta. Ia meregang nyawa di atas tanah, sementara sang betina bertarung melawan maut saat bertelur di buah jambu yang mulai masak. Begini saja? Tanya si jantan sementara kehidupan direngut darinya. Sampai di sini saja?
              Dilihatnya yang betina mulai jatuh. Terhempas di sebelahnya. Kaki-kaki betina yang cantik itu gemetaran mempertahankan nyawa. Saat sore tiba, manusia pemilik rumah menyapu halaman. Daun-daun jambu yang sudah kuning dan coklat. Jambu-jambu busuk yang dihuni ulat-ulat. Semuanya ditumpuk di sudut halaman. Dua ekor lalat ini masih saja sekarat. Yang betina berada di atas tumpukan, di antara daun-daun kering dan plastik bungkus jajan.”
                “Yang jantan?”
     “Yang jantan sekarat di bawah tumpukan. Tertimbun pasir dan daun lembab. Manusia itu menyiramkan bensin dan membakar sampah. Yang betina hangus di puncak tumpukan. Si jantan melihatnya menjadi asap, memanjat ke langit, menyatu dengan awan. Hingga apinya padam, si jantan masih di bawah tumpukan. Tak tersentuh lidah api.”
        Bis itu semakin hening. Derak mesinnya terdengar lembut, disambut bunyi nafas teratur mereka berdua. “Si jantan membusuk bersama sisa sampah lain. Lalu mencelus menjadi hara. Merayap masuk ke serabut akar pohon yang lembut. Dengan sabar memanjat dalam pembuluh batang pohon. Hingga saat harinya tiba, ia terbangun sebagai seli hijau muda di pucuk dedaunan. Sebagai daun yang masih muda, ia terus melihat ke langit. Jika hujan turun, daun itu membuka pelukannya lebar-lebar. Berharap satu dari milyaran butiran hujan itu adalah pasangannya dahulu. Tapi tak satupun dari butiran hujan itu yang bisa dikenalinya. Mungkinkah ia sudah jatuh di pelukan daun lain? Ataukah jatuh di hujan yang kemarin-kemarin?” 
    Bis itu berhenti. Kakek itu mengehentikan ceritanya dan menepuk pundaknya, kemudian turun. Meninggalkannya yang masih terpana. 
               Dari jendela bis, ia melihat si kakek berjalan bungkuk dengan satu tongkat. Tangan yang satunya menenteng tas berwarna hitam mengkilat. Mungkin tas itu berisi lusinan pil penua. Bis berderak menyalakan mesin. Kakek itu kini berjalan ke arah gang yang menanjak. Tertatih-tatih, ia mendaki jalan yang naik. Sosoknya pun menghilang begitu bis itu berbelok. Yang ia lihat kini adalah dereten rumah-rumah yang mulai menyalakan lampu menyambut petang yang mulai turun.
         Sore esoknya, ia menunggu bis dengan hati berdebar. Untuk pertama kali ia berharap berada dalam bis yang sama dengan si kakek. Dari tempatnya berdiri, ia bisa melihat siapa saja penumpang bis tanpa harus naik. Jika tak ada sosok renta dengan rambut seputih kapas, ia menolak untuk naik. Hingga satu bis yang sama dengan yang dinaikinya kemarin melintas. Si kakek berambut kapas itu melambaikan tangan dari jendela. Menyeringai seperti biasa, seakan sudah tahu pasti mereka akan naik lagi dalam bis yang sama.
          “Sebagaimana harusnya, daun itu pun menua,” lanjut si kakek, begitu ia duduk di sampingnya. Dari nada suaranya si kakek seperti tahu ia sudah menantikan lanjutan ceritanya sejak kemarin.
          “Menjadi kuning. Sudah banyak sekali hujan yang jatuh, namun tak satu pun dari butiran hujan yang menimpanya adalah pasangannya yang dulu.” Kakek itu terkekeh.
           “Kadang ada juga badai. Banyak daun yang rontok. Daun-daun yang bahkan jauh lebih muda. Tapi tidak dengan daun yang satu ini. Meski terus menguning, pegangannya tetap kuat pada ranting. Dulu ia pernah berada di pucuk, kini ia menjadi daun tua paling keras kepala di pangkal ranting. Menatap penuh harap pada tiap gumpalan awan yang melintas. Membuka pelukan lebar-lebar tiap kali hujan turun. Sampai kemudian, satu daun dari ranting lain, yang sedikit lebih tua darinya, luruh dan terhempas ke atas tanah.
          Ia mengenali daun itu. Mereka pernah bersama menjadi hara yang mengantri di serabut akar. Memanjati dahan dengan sabar hingga dalam waktu yang hampir bersamaan, mereka terbangun sebagai seli.”
          Si kakek menarik nafas sejenak. “Lalu, manusia yang dulu menyapunya saat menjadi lalat muncul dan menyapu daun itu. Daun yang dikenalinya itu, ditumpuk di sudut halaman. Ia berada di tumpukan paling atas, dan hangus menjadi asap. Memanjat ke langit seperti pasangannya dahulu memanjat ke langit.”
              “Menyatu dengan awan?”
          Kakek itu mengangguk. “Kini ia sadar, betapa bodohnya ia selama ini. Tentu jika ia gugur, ada kesempatan ia akan disapu. Ada kesempatan ia berada di atas tumpukan. Ada kemungkinan ia ikut hangus terbakar, menjadi asap, memanjati langit dan menjadi awan.”
      “Tapi itu tak menjamin mereka bisa bertemu, kan?”
      “Memang tidak. Mungkin saja si manusia yang punya rumah itu pergi dan tak menyapu halaman rumahnya sampai daun-daun di sana membusuk sendiri. Mungkin juga ia tersapu, namun seperti dulu, berada di bawah tumpukan dan tak tersentuh api. Dan ia akhirnya mesti membusuk, menjadi hara lagi. Mengantri kembali di akar pohon. Memulai semuanya dari awal lagi. Tapi itu jauh lebih baik daripada cuma menjadi daun keras kepala yang menunggu hujan, kan?”
         “Tapi katakanlah dia ikut terbakar, memanjat langit sebagai asap dan menyatu dengan awan, itu belum tentu awan yang sama tempat pasangannya dulu menyatu,” sanggahnya.
         “Benar. Menjadi apapun mereka, tak akan menjamin mereka akan bertemu lagi.” Kakek itu kembali membuka telapak tangannya. Pil penua itu ada di sana. 
    Ia menggeleng. “Saya tidak menginginkan pil itu,” ujarnya. Setelah apa yang didengarnya, ia justru semakin tak ingin tua. Untuk apa cepat-cepat tua?
      “Kamu masih belum menginginkannya? Kamu belum mengerti juga?”
         “Justru karena saya mengerti. Lagipula yang tadi itu cuma hikayat.”
          Kakek itu menatapnya dingin. Wajah keriputnya yang biasa tersenyum lebar itu kini mengeras.
         “Saya bukan lalat yang menetas hanya untuk mencari pasangan kawin untuk kemudian mati,” ia tertawa, menyadari betapa konyolnya ia mau menyimak cerita tersebut dari kemarin.
          Di luar dugaan, kakek itu pun ikut tertawa sampai menepuk-nepuk pahanya. “Itulah yang kumaksud,” katanya. “Kamu tidak sebodoh yang kukira,” ia tertawa puas. “Percaya tidak, semua orang sebelum kamu pasti mengambil pil ini, menelannya dan berharap mereka tiba-tiba menjadi tua. Mati secepatnya, dan mendapat kehidupan yang lain, kesempatan yang lain,” ia terbahak lagi dan menepuk-nepuk pahanya lebih keras.
          Bis yang biasanya dingin menjadi lebih hangat oleh tawa mereka. Ia kini menyadari bahwa ia benar-benar menyukai laki-laki tua yang dulu membuatnya takut  ini.
         “Dan bagaimana reaksi mereka setelah menelan pilnya?” tanyanya di sela tawa.
         Si kakek kembali menyodorkan pilnya, “coba saja sendiri,” katanya sambil tertawa.
           Ia pun meraih pil itu dan menelannya sebagai pelengkap lelucon mereka berdua. Ia melihat ada kilat puas pada bola mata si tua. Sontak ia merasa telah masuk perangkap, tapi pil itu sudah menjalar turun di kerongkongannya. Bis itu dirasanya perlahan berhenti berderak. Wajah kakek itu kembali menyeringai, memamerkan giginya yang tinggal satu.
           “Kek sudah sampai,” sopir bis yang sudah hapal tempat turunnya menepuk pundaknya. Namun ia masih saja menyeringai, pada pantulan wajahnya di kaca jendela. “Kek..” si sopir kembali menepuk pundaknya, berusaha sesopan mungkin pada penumpang satu-satunya itu.


Sewon, 2014

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sandikala

10 Film Asia yang Tak Terlupakan

Rumah Mati Di Siberia